Tanpa berkata apapun lagi Intan mengajak Mitzi masuk walau sebenarnya menatap wanita itumasih merasa kurang nyaman, tetapi saran Richard sangat tepat. "Bibi bantu menyimpan di vas ya? Supaya kelopak nya tetap cantik." Mitzi mengangguk, kedua tangan mungilnya masih setia memeluk buket mawar. Mereka berjalan masuk sementara Richard terus mengamati sikap Mars yang terkesan sangat santai, bahkan wanita paruh baya itu berjalan kesana-kemari melihat-lihat koleksi miniatur kota Berlin di dalam ruangan tersebut. "Hm… Kau memiliki selera yang bagus Tuan muda." Mars menyentuh dengan ujung jari telunjuk sebuah lukisan wajah cantik. "Ini… Pasti Nyonya besar Divano, kapan tepatnya dia bosan mengurusmu?" "Sudah lama, belasan tahun lalu." jawab Richard sebenarnya muak akan perkataa

