1

625 Words
Buku-buku tipis murahan itu terhampar atas karpet. Areta tersengal. Apa yang baru saja dibacanya begitu mendebarkan. Pipinya merah merona. Kisah CEO dengan Pegawainya yang panas bukanlah bacaan yang pantas untuk gadis seusianya. Begitupun kisah Serigala Alfa yang berusaha menandai Luna-nya. "hhh.. hh..." udara menderu dari kerongkongannya. Matanya menghadap langit-langit. Areta menumpuk kakinya, mencoba menekan bagian bawahnya yang berkedut. "Aduh.. " erangnya. Bagaimana ya rasanya? Ujar Areta didalam hati. Dia masih melamun. Rambutnya tergerai basah. Lama ia menatap plafon putih nan hampa itu. Bermula saat beberapa bulan lalu, Areta menempati kos-kosan ini. Karena kedua orangtuanya telah tiada, dia terpaksa hidup sendiri dan melanjutkan sekolahnya. Sebelumnya dia sempat menginap beberapa minggu dirumah Bibi dan Pamannya. Sampai suatu malam Areta mengintip Pamannya sedang mendindih Bibinya, dia yang kaget langsung mengurung diri dikamar ketakutan. Bahkan hingga demam. Tapi pemandangan yang dilihatnya itu tak bisa hilang dari kepalanya. Hal itu membuatnya canggung saat bertemu Bibinya, apalagi Pamannya itu. Usia mereka hanya terpaut sepuluh tahun, karena jarak usia Mama dan Bibinya cukup jauh. Maka dengan alasan agar bisa sampai sekolah lebih cepat, Areta memutuskan untuk tinggal di kosan Putri tak jauh dari SMP nya. Awalnya Bibinya menolak. Bibi yang tak tau apa yang telah disaksikan ponakannya itu bingung, kenapa Areta ngotot pindah. "Bibi ada salah apa sama kamu sayang?" Ujarnya lembut, sebab meski usianya tidak jauh, ia begitu menyayangi Areta. Ia telah ikut mengasuh Areta sejak dia masih bayi. "Gak ada salah apa-apa Bi. Jarak rumah Bibi ke sekolahku sekitar 45 menit dengan motor, 1 jam 10 menit jika aku naik kereta. Itu kalau lancar, kalau macet tentu beda lagi ceritanya. Aku rasanya tidak punya banyak waktu untuk beristirahat, karna habis dijalan...."Areta beralasan. "Kan ada Paman yang antar. Kamu tidak perlu khawatir Areta." Ucap Pamannya. Areta menatap Pamannya canggung. Sekeras mungkin ia menahan matanya agar tidak menatap area diantara selangkangan Paman. Tempat dimana dia melihat batang kekar dan besar itu tersimpan. Untuk pertama kali dia melihat ukuran sebesar itu dalam hidupnya. "JANGAN PAMAN!" Areta berteriak. Kaget, karena dia justru berusaha menghindari Pamannya dari imajinasi liar yang sudah beberapa hari menguasai kepalanya. Paman dan Bibi kompak tersentak. Mereka menatap Areta penuh tanda tanya. "Kantor Paman kan sebenarnya di Selatan. Sangat lelah jika setiap hari harus berangkat lebih pagi hanya untuk mengantarku dulu yang arahnya ke Utara. Tidak efisien. Aku sudah menemukan kosan khusus Putri yang aman. Pemilik kosannya sepasang Ibu dan Bapak tua yang tinggal dilantai bawah. Aku yakin disana aman untukku, Bi..." Areta menjelaskan. Bibi pun luluh. Alasannya memang masuk akal. Semenjak Areta tinggal bersama mereka, Bibi memang harus bangun 3 jam lebih awal untuk menyiapkan sarapan dan keberangkatan kedua orang tersayangnya itu. Sebenarnya Bibi merasa senang karena akhirnya keluarga mereka terasa lengkap seperti keluarga pada umumnya. Kebetulan Paman dan Bibi memang belum dikaruniai momongan. Tapi melihat suaminya harus mengantar jemput Areta dengan arah sekolah yang lumayan jauh, membuat ia merasa kasihan juga. "Baiklah, kalau begitu, Bibi dan Paman harus ikut mengantarmu. Bibi harus tau dimana lokasinya, dan juga kontak pemiliknya agar bisa dihubungi dalam keadaan darurat. Oke?" Ujar Bibi. "Oke Bi. Terima kasih banyak ya.." Areta memeluk Bibinya itu. Paman tak banyak bicara, sebab Areta memang ponakan isterinya dan dia merasa apapun keputusan mereka itu yang terbaik. Jadi dia ikut saja. "Sebenarnya Paman tidak keberatan dengan rutinitas baru ini. Tapi, jika itu memang demi kebaikanmu, Paman akan mendukung. Kamu memang butuh waktu untuk belajar dan istirahat lebih banyak, daripada membuangnya dijalan." Tutup Paman. Sore itu mereka mengepak barang-barang Areta. Bibi sibuk didapur menyiapkan bekal dan beberapa lauk kering yang akan diberikannya untuk bekal Areta. Paman menyusun kardus-kardus yang berisi berbagai barang seperti buku, sepatu, tas, pakaian dan boneka-boneka. Areta diam saja sepanjang mereka berdua di kamar. Dia takut rasa nervousnya itu akan membuat lidahnya tergelincir lagi. Paman mendekatinya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD