Bab 19 : Garis Tipis Antara Rahasia dan Kebenaran

1114 Words
Malam menjelang keberangkatan Bima ke Jerman, benar-benar menggambarkan momen yang penuh perasaan, seakan menjadi babak akhir dari film panjang yang belum pernah mendapatkan penyutradaraan yang tepat. Di Bandara Soekarno-Hatta, yang biasanya dipenuhi oleh hiruk-pikuk keramaian dan suara riuh rendah, kini seperti sebuah panggung yang kosong saat dini hari, tepat pukul 3 pagi — suasana yang hanya dihiasi oleh gema langkah-langkah pelan, pengumuman terakhir tentang keberangkatan, serta suara hati yang berdegup kencang dan tak beraturan. Bima berdiri sendirian di area drop-off dengan koper besar di sampingnya, tas ransel menggantung di bahunya, serta jaket tebal dari Bochum II yang dikirim mellaui ekspedisi membungkus tubuhnya yang masih terbiasa dengan hangatnya suhu di Jakarta. Di depan Bima, Clara berdiri mengenakan hoodie berwarna hitam, dan memasukkan tangannya dalam saku sambil berusaha mengangkat senyumnya, meskipun matanya kini berkaca-kaca. Di malam yang seharusnya menjadi sebuah pertemuan penting, tak ada Aiden yang mendampingi — ia tengah menghadiri webinar akhir dari WHO di hotel, suatu alasan yang diutarakan Clara untuk menghindari ketidaknyamanan saat pertemuan dilakukan oleh mereka bertiga di ruang publik. “Kamu yakin nggak mau aku anter sampe gate?” tanya Clara, suaranya lirih nyaris tertelan oleh gema suara mesin pesawat yang terdengar samar di kejauhan. Bima menggeleng pelan, menegaskan penolakannya. “Kalau kamu anter sampe gate, aku takut aku balik lagi. Ini udah susah, Clar.” Clara menatap koper itu, lalu kedua matanya memandang ke dalam mata Bima, mencari sesuatu yang dapat memberinya ketenangan. “Kamu bawa semua yang aku kasih, kan? termasuk buku taktik yang kamu bilang ‘terlalu berat’?” Dengan senyuman kecil di wajahnya, Bima menepuk-nepuk ranselnya. “Semua ada. Termasuk foto kita bertiga yang kamu selipin di koper. Kamu licik sayang.” Tawa ringan meluncur keluar dari bibir Clara, namun cepat memudar karena kenyataan yang mereka hadapi. “Biar kamu inget, Bim. Jangan sampe kamu ilang di sana, lupain akar dan aku.” Mengambil langkah lebih dekat, Bima mengurangi jarak di antara mereka hingga tinggal satu napas yang bisa dirasakan. “Akar aku di sini, Clar. Di depan mataku sekarang.” Ia meraih tangan Clara dengan pelan, jarinya menyusuri punggung tangannya seakan membaca huruf braille. Kendati tidak menolak, mata Clara gelisah memandang sekeliling — rasa takut menghinggapinya, takut akan pengawasan kamera CCTV, takut mata-mata tak dikenal yang bisa menyaksikan momen ini. “Jangan di sini,” bisiknya dengan nada takut. “Banyak kamera.” Bima perlahan menarik tangannya menjauh, tapi tatapannya tak beranjak dari wajah Clara. “Ini malam terakhir kita di Jakarta. Besok aku di Frankfurt, kamu di kamar sendirian mikirin PhD. Aku cuma minta satu menit.” Kepala Clara mengangguk, seakan tidak bisa melawan ancaman perpisahan. Bibirnya gemetar, berusaha mengatakan, “Satu menit.” Mereka bergegas menuju sudut yang lebih gelap, tersembunyi di balik pilar besar. Pada saat itu, dunia luar seperti terlupakan. Bima dengan lembut memegang wajah Clara dengan kedua tangan, menghapus air mata yang jatuh tanpa suara. “Aku cinta kamu, Clar,” ucapnya pelan namun tegas, memantapkan hubungan mereka. “Dan aku janji, di sana aku bakal buktiin. Aku nggak cuma striker yang lari ke depan—aku bakal jadi orang yang balik lagi buat kamu.” Clara menutup mata, mengeluarkan napas yang tersengal. “Bim… jangan pernah janji yang kamu sendiri nggak bisa tepatin. Aku takut suatu hari kamu ketemu orang di sana, yang lebih cocok, yang nggak bawa beban rahasia.” Bima menggeleng dengan cepat, seolah mencoba menyangkal kemungkinan itu. “Orang di sana nggak akan pernah sama kayak kamu. Kamu yang bikin aku percaya lagi sama bola setelah cedera. Kamu yang bikin aku ngerasa rumah bukan cuma tempat, tapi orang.” Mata Clara terbuka, penuh rasa rindu dan bersalah. “Aku juga cinta kamu. Tapi setiap hari aku chat dengan Aiden, aku ngerasa kayak lagi nyakitin dua orang sekaligus. Dia baik banget, Bim. Dia nunggu aku, dia sabar, dia… sempurna.” Dengan senyum miris, Bima meresponsnya. “Dia sempurna buat kamu, tapi kamu nggak sempurna buat dia. Karena hati kamu udah aku tempati duluan.” Clara terisak pelan, menempelkan kepala di d**a Bima. “Aku benci diri aku. Aku benci karena aku pengen semua ini gak pernah ada, tapi juga pengen ini selamanya.” Memeluk erat tubuh Clara, Bima mencium keningnya dan bibirnya dengan lembut dan lama. “Kita nggak salah, Clar. Yang salah timing-nya. Dan suatu hari, kita akan jujur ke dia. Tapi sekarang… kita tetap bertahan dengan keadaan seperti ini.” Pengumuman terakhir bergema dan mengisi kekosongan: “Penumpang atas nama Bima Prasetya, tolong segera menuju gerbang keberangkatan...” Bima melepaskan pelukannya perlahan, menatap Clara untuk terakhir kali. “Janji kamu chat aku tiap hari. Janji kamu cerita semua, meski cuma hal kecil. Janji kamu jangan lupain aku.” Clara mengangguk cepat, menyatukan janji bolak-balik di antara mereka. “Janji. Dan kamu janji jangan ilang di sana Dalam ciuman singkat yang penuh arti, janji, dan air mata, Bima menarik kopernya, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Clara berdiri mematung, menyaksikan sosoknya perlahan hilang di balik pintu keberangkatan. Di pesawat, Bima duduk di kursi dekat jendela, menatap Jakarta yang mengecil dari pandangan. Ponselnya bergetar — pesan dari Clara: Clara: “Selamat jalan, strikerku. Aku tunggu gol pertamamu.” Ia tersenyum, meski perasaannya membanjiri hatinya. Pesan dari Clara adalah dorongannya untuk terus berjuang meski hati sedang tidak baik-baik saja. Di kamar Clara, suara getaran ponsel kembali hadir — kali ini dari Aiden: Aiden: “Bima udah berangkat? Aku baru selesai webinar. Mau mampir bawa makanan nih, kamu pasti belum makan.” Clara melihat dua pesan itu bergantian, jari-jarinya ragu di atas keyboard. Keberatan terasa jelas tetapi Clara tetap membalas Aiden terlebih dahulu: Clara: “Iya, dia udah pergi. Mampir aja, gue laper.” Pesan berikutnya untuk Bima baru ia tuliskan: Clara: “Aiden mau mampir. Aku janji akan ceritain besok pagi.” Di dalam pesawat, Bima membaca pesan Clara, tersenyum getir. “Selamat bertahan, Clar.” Rahasia mereka masih terkunci rapat, membentang di antara dua benua yang perlahan-lahan mulai memisahkan mereka. Malam itu, untuk kali pertama sejak rahasia ini dimulai, retakan kecil mulai terlihat — bukan disebabkan oleh Aiden atau waktu, tetapi oleh hati yang mulai lelah menjalankan sandiwara. Di Jakarta, Clara membuka pintu apartemennya. Aiden masuk membawa tas berisi makanan panas, senyum lebarnya menghiasi suasana. “Si striker udah aman di langit?” Clara mengangguk, memasang senyum yang dilekatkan secara paksa. “Udah. Sekarang giliran gue yang terbang.” Aiden meletakkan makanan di atas meja, senyumnya konsisten. “Dan aku yang nunggu kamu pulang.” Kalimat yang diucapkan Aiden terlihat polos dan sederhana, tetapi bagi Clara kalimat tersebut menusuk seperti duri tajam yang tak kasat mata. Ia tersenyum lagi, namun di balik senyuman tersebut, rahasia yang mereka jaga mulai terasa berat seperti bangunan rapuh yang kapan saja bisa runtuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD