Bab 17 : Batas Bayangan

1965 Words
Gemuruh suara manusia memenuhi Stadion Madya Senayan malam itu. Sorak-sorai yang menggema seolah-olah menyatu dengan suara dentuman musik keras yang menggema dari pengeras suara, sementara lampu-lampu sorot putih yang sangat terang memancarkan kilauan mereka ke seluruh sudut. Di bagian atas, di sepanjang tribun, terpasang spanduk besar yang berbunyi, "Pertandingan Amal: ‘Kick for Hope’", melambangkan semangat dan harapan malam itu. Di tengah lapangan yang masih basah dan hampir licin akibat hujan deras yang turun pada sore sebelumnya, berdiri Bima. Dengan tubuh tegap dengan penuh percaya diri, ia mengenakan seragam dari tim Indonesia Charity, sementara bola berada dalam genggamannya, siap menjadi pusat perhatian. Ribuan pasang mata, yang menciptakan gelombang rasa penasaran dan antusiasme, memusatkan pandangan mereka padanya, dan beberapa orang di antara kerumunan itu bahkan sempat meneriakkan namanya dengan semangat membara. Dari bangku yang berada di area VIP, Clara pun ikut bangkit berdiri. Bukan hadir sebagai penonton biasa, ia berada di sana berkat undangan khusus dari pihak panitia yang mengenalnya sebagai psikolog yang berperan aktif dalam mendampingi proyek sosial dari acara ini. Namun di tengah profesionalitas dan tampilan formalnya, tersimpan rahasia detak jantung yang tak beraturan setiap kali pandangannya bertemu, bahkan sekadar singgah, pada sosok Bima di tengah lapangan. Clara menatap pria tersebut dari jarak jauh, mencoba membaca pola langkah yang diambil, hingga cara Bima mengatur napas dengan tenang sebelum melancarkan tendangan pertamanya. Pada momen yang sangat singkat, mata mereka sempat bertemu, hanya terjadi dalam sepersekian detik. Namun, pertemuan pandang yang singkat itu saja sudah cukup untuk mengguncang dan membongkar semua logika dan alasan rasional yang dengan susah payah mereka bangun bersama selama ini. Suara pengumuman yang tiba-tiba menggema melalui mikrofon, menembus kebisingan dan memecah konsentrasi Clara: “Nomor 17: Bima Prasetya, dari Bochum II Jerman, striker tamu kita malam ini!” Pada saat pengumuman tersebut disampaikan, sorak penonton meledak begitu saja, memenuhi stadion dengan semangat membara yang berkobar-kobar. Clara secara refleks turut memberikan tepuk tangan, namun hatinya diliputi perasaan yang berbeda. Jantungnya berdebar liar, bukan sepenuhnya dipicu oleh rasa bangga, melainkan rasa cemas yang tak kunjung reda. *** Di ruang istirahat, setengah jam sebelum pertandingan dimulai, Bima duduk dengan tubuh sedikit membungkuk di atas bangkunya. Pelatih Amal, Pak Darus, mendekatinya dan menepuk bahunya dengan lembut. “Ngapain ngelamun? Ini bukan lagi liga Eropa, santai aja,” katanya seakan mencoba mencairkan ketegangan. Bima mencoba memberikan senyuman, meski sedikit terpaksa. “Iya, Pak. Cuma merasa agak tegang. Sudah lama nggak main di depan publik." "Main di hadapan publik sendiri membawa rasa yang berbeda," pelatih menambahkan. "Ingat, sorotan malam ini bukan hanya tertuju pada permainan di lapangan. Terlebih, ada media dan pejabat penting, juga keluargamu yang menonton.” Ucapan terakhir tersebut seperti tusukan. Bima segera memalingkan kepala dan menoleh ke belakang melalui kaca satu arah yang ada di ruangan itu. Ia menyadari bahwa Clara duduk di tribun, tepat dua baris dari depan — pada kursi yang sama, tempat di mana mereka sepakat untuk menjaga jarak agar tidak terlihat terlalu dekat. Ia kemudian membiarkan dirinya menatap pantulan di kaca, seolah berusaha mencari ketenangan dalam bayangan dirinya sendiri. "Kalau ketahuan sekarang, semua akan berakhir," gumamnya pelan, hanya untuk dirinya sendiri. Suasana berubah ketika pintu ruang ganti terbuka lebar, dan Aiden, dengan kemeja kasual serta jaket hitam, masuk dengan santai. Sebagai tamu kehormatan yang baru saja tiba dari sebuah konferensi, medali acara tergantung dengan menawan di lehernya. "Bima!" serunya dengan antusias. "Gila, lo beneran turun lapangan lagi." Bima berdiri, memberikan senyuman lega namun penuh dengan rasa gugup. "Den! Lo beneran dateng." Aiden menepuknya dengan ringan di bahu. “Mana mungkin gue nggak dateng. Gue janji mau support lo sebelum lo ke Jerman. Dan lagi… katanya Clara juga hadir.” Bima berusaha keras agar senyumnya tidak berubah kaku. “Iya, dia diundang sebagai psikolog oleh NGO untuk acara amal. Kebetulan saja.” Aiden duduk di bangku sebelahnya, memandang ke arah lapangan melalui pintu yang terbuka. "Gue udah ngobrol sama dia sebelumnya. Kami sempat diskusi tentang Belanda dan banyak hal lain. Dia terdengar lega sekarang akhirnya lo dan dia bisa lebih fokus pada bidang masing-masing. Baru sadar… selama ini gue berlebihan dalam khawatir." Bima dengan cepat menunduk, berpura-pura mengatur kausnya. “Iya, Den. Lo orang yang cerdas namun kadang berpikir berlebihan.” “Heh, jelaslah,” Aiden terkekeh. “Sebagai orang AI, kebanyakan simulasi. Tapi kali ini gue memutuskan untuk percaya pada intuisi: Clara adalah sahabat baik lo, dan bukan ada rahasia besar yang gue bayangkan." Pernyataannya memiliki kekuatan seperti sebuah tamparan lembut. Bima mencoba tertawa, tapi dalam hati jantungnya berdetak makin cepat. "Iya... benar, bro. Nggak ada rahasia di antara kita." Aiden berdiri kembali, menepuk tanah dengan sepatunya. “Good. Gue keluar dulu sebentar. Mau menjenguk Clara di tribun, mungkin memberikan bunga. Katanya dia sekarang jadi fans berat bola.” Ketika Aiden pergi, Bima tanpa sadar memukul dinding dengan ringan. “Kau semakin jenius tapi bisa seceroboh itu juga, Den,” bisiknya getir. *** Di tribun, lampu-lampu sorot memantulkan cahaya ke wajah Clara. Ia duduk dengan postur tegak, berusaha mempertahankan senyuman ketika Aiden mendekatinya dengan membawa rangkaian bunga sederhana. Kamera media sempat menyoroti keakraban mereka — dua tamu spesial dari program sosial berbeda yang terlihat sangat akrab satu dengan yang lainnya. Aiden berhenti satu langkah di depan Clara. “Ini untukmu,” katanya sembari menyerahkan bunga. Clara menerimanya, sempat kaku sejenak sebelum berkata, “Terima kasih, Den. Seharusnya ini bukan untuk gue, tetapi buat pemainnya.” Aiden dengan senyum merespon, “Tanpa kehadiran kamu, pemain tidak cukup memiliki semangat. Jadi, fair.” Ada nuansa samar dalam ucapannya, dan Clara memahaminya: Aiden masih sepenuhnya belum bisa mengikis perasaannya. Namun, di pentas publik seperti ini, ia hanya bisa membalasnya dengan tertawa sopan. “Lo tau, Den, semua orang di sini melihat kita seolah-olah ini adalah dua orang penting di acara ini. Mereka tak menyadari betapa absurdnya hidup kita sebenarnya,” ujar Clara sedikit bercanda. “Keabsurdan itu bagiku adalah konsekuensi dari keputusan baik yang terlambat,” jawab Aiden santai. “Percayalah semuanya akan kembali lurus pada waktunya.” Ia kemudian melihat ke arah lapangan. “Termasuk kalian berdua. Dengan risetmu, dan Bima dengan sepakbolanya. Kalian adalah versi terbaik dari impian yang mungkin tidak pernah bisa aku kejar.” Clara pun ikut melihat ke arah lapangan. Waktu serasa melambat saat dia melihat sosok Bima berdiri tegap di tengah lapangan. Meski Aiden berbicara tanpa maksud menekan, mendengar semua itu membuat perutnya melilit. "Kalau elo tahu yang sebenarnya ..." pikirnya, namun kata-kata tersebut tak pernah terucap keluar. *** Peluit panjang tanda usainya babak pertama berbunyi nyaring di seluruh penjuru stadion. Pada malam yang penuh adrenalin tersebut, Bima bermain dengan sangat apik — berhasil memberi dua assist dan mencetak satu gol sundulan yang membuat stadion bergemuruh. Setiap kali kamera menyorot wajahnya, energi dan semangat terpancar jelas dari ekspresinya. Namun di dalam hatinya, hanya ada dua orang di tengah ribuan orang yang tahu persis bahwa gemuruh sorak sorai ribuan orang tidak mampu menandingi beban berat dari pandangan rahasia yang datang dari tribun penonton. Setelah babak pertama selesai, Bima berjalan menuju tepi lapangan untuk mengambil minuman. Dari kejauhan pandangannya menangkap sebuah pemandangan yang menghantam hatinya seperti hantaman keras bola ke dadanya: Aiden berdiri di ujung tribun, berbicara dengan hangat kepada Clara. Bahkan kamera TV lokal sempat menangkap momen tersebut — Aiden menunjukkan sesuatu di ponselnya, Clara tertawa ringan lalu tanpa sengaja menepuk pundaknya dengan lembut. “Clara…” Bima berbisik pelan hampir tak terdengar. Botol air mineral yang ia genggam bergetar dalam genggamannya. Marco, rekannya sesama pemain dari Bochum, mendekat dan menepuk bahunya. “Apa lo lagi lihat hantu, Bim?” “Lebih kurang seperti itu,” jawabnya cepat. “Hantu dari masa depan.” *** Selesai pertandingan, mereka semua berkumpul bersama untuk makan malam di ballroom hotel yang terletak tidak jauh dari stadion. Semua pihak hadir di sana, mulai dari media, sponsor, para pemain, hingga staf teknis. Walaupun suasana ramai, ada rasa pelik dan tak nyaman yang terasa di antara tiga orang itu. Aiden duduk seberang meja dari Bima dan Clara. Sesekali dia mengangkat gelas, bersulang dengan mereka, bibirnya selalu membawa senyum ringan dan hangat. Namun, tatapan matanya tajam setiap kali mereka berdua terlalu sering bertukar pandang dalam diam. Percakapan pun mengalir — berbicara tentang topik olahraga, beasiswa, hingga riset WHO. Saat jarum jam hampir menunjukkan waktu tengah malam, Aiden meneguk sisa minumannya, lalu bersuara. “Ada sesuatu yang ingin gue katakan,” katanya dengan nada formal dan serius yang membuat seisi meja seketika terdiam. “Apa tuh?” tanya Bima dengan santai, meski tenggorokannya terasa kering. Aiden menatap Clara. “Aku merasa bersyukur melihat kamu bisa tertawa lagi. Ketika di Eropa setiap kali aku ajak video call, kamu selalu terlihat... berat, Clar. Tapi malam ini rasanya berbeda. Aku gak tahu karena siapa, tapi terima kasih sudah menjadi diri kamu yang sekarang.” Clara menunduk, senyumnya hambar namun penuh makna. “Terima kasih, Den. Lo juga udah banyak membantu, tidak hanya mendengarkan, tetapi juga… ya, cukup memberikan ketenangan.” Aiden menarik napas pelan sebelum mengubah pandangannya ke arah Bima. “Dan lo,” katanya pelan. “Lo sahabat paling gila dan unik yang pernah gue miliki. Kadang gue kepikiran, kalau bukan karena lo, gue nggak punya arah waktu segala kekacauan riset itu muncul. Tapi serius, gue merasa sangat bangga bisa melihat lo seperti saat ini.” Bima menanggapi dengan setengah bercanda. “Gila, Den, lo ini lagi ngasih pidato perpisahan atau mau buka startup bersama kita bertiga?” Aiden tertawa lepas. “Nggak. Tapi malam ini gue merasa segalanya seimbang, Bim. Seolah-olah semua jalan yang dulunya berantakan akhirnya bertemu di titik yang pas — gue dengan kerjaan gue, lo di lapangan, dan Clara di jalannya sendiri. Gue cuma minta satu hal…” Ia berhenti sebentar, menatap keduanya secara bergantian. “…tolong jangan ada lagi rahasia di antara kita, oke? Gue lelah jadi orang terakhir yang harus tahu.” Saat itu juga dunia seakan berhenti bergerak; waktu terasa terhenti. Clara hampir meletakkan gelasnya, sementara Bima menatap meja, merasakan nadi berdetak cepat di lehernya. Namun Aiden tidak sadar bahwa kalimatnya hampir saja menjadi kunci untuk membuka peti kebenaran yang mereka sembunyikan dalam-dalam. Clara berusaha menegakkan punggung, menjawab dengan tenang. “Tentu, Den. Kita tidak menyimpan apa-apa.” Bima menambahkan dengan cepat, meski senyumnya terasa agak dipaksakan. “Ya lah, bro. Gue terlalu sibuk berlari di lapangan buat punya rahasia.” Aiden melihat mereka berdua dengan tatapan yang lama, tapi akhirnya tersenyum dan tertawa kecil. “Baiklah. Gue percaya.” *** Malam itu berakhir dengan tepukan tangan dan tertawa lepas dari semua yang hadir. Namun begitu semua orang perlahan beranjak pulang, Clara berdiri sebentar di pelataran hotel, memandang hujan yang kembali turun dari langit. Dari sana Bima datang mendekat dari arah belakang, dengan mendekap sebuah payung di tangannya. “Kita masih aman,” katanya dengan suara pelan dan menenangkan. Clara mengangguk kecil, memandangi refleksi hujan di lantai yang berkilauan. “Iya. Tapi, Aiden sudah semakin dekat. Aku takut tidak lama lagi, apa yang kita anggap aman ini akan berubah menjadi jebakan.” Bima memandang jauh ke arah mobil Aiden yang perlahan menghilang di ujung tikungan jalan. “Jika rahasia ini akhirnya pecah, Clar, bisa jadi bukan karena dia yang mencurigai, tapi bisa jadi karena kita sendiri yang akhirnya lelah berpura-pura.” Mereka berdua berdiri diam di bawah naungan payung yang sama, seperti dua insan yang punya sebuah rahasia besar; bersandar pada keberanian setipis naungan kain yang menaungi kepala mereka dari segala badai. Dan di balik tabir hujan tersebut, dari dalam mobil hitamnya, Aiden menatap mereka melalui bayangan kaca. Ia melihat dua sosok itu berdiri sangat dekat, lalu berkata pada dirinya sendiri dengan suara yang hampir berbisik, “Gue salah atau mata gue yang menipu?” Cerita ini menutup dengan gemuruh di d**a ketiga orang tersebut — satu menggenggam keyakinan rahasia yang sudah terkubur dalam, satu mulai ragu pada hatinya sendiri, dan yang lainnya mulai menyadari bahwa tidak semuanya dapat mereka kendalikan selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD