Bab 15 : Bayangan di Balik Janji

3493 Words
Sore di Jakarta kali ini diselimuti langit yang tidak terlalu cerah—sebuah nuansa kelabu memenuhi cakrawala, dengan awan-awan menggantung berat seakan-akan menahan sekumpulan rahasia di cakrawala. Udara di sekitarnya terasa pengap dan lembab, menambah kesan berat yang tersimpan di permukaannya, membangkitkan perasaan tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah. Di sebuah apartemen modern yang terletak di daerah Tebet, seorang pria bernama Bima berdiri terdiam di balkon, menatap kosong ke arah jalanan yang ramai di bawahnya. Kepalanya dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang berkecamuk, berpadu dengan suasana sore itu. Seminggu telah berlalu sejak ia menandatangani kontrak dengan klub sepakbola asal Jerman bernama Bochum II, namun bukan euforia yang memenuhi hatinya—malah, tekanan baru yang muncul akibat keputusan besar itu, membuat malam-malamnya penuh dengan kegelisahan dan kesulitan untuk terlelap. Di dalam apartemen, suasana tidak jauh berbeda. Clara duduk di ruang tamu yang bernuansa hangat, menatap layar laptopnya yang menampilkan jadwal orientasi program PhD di Utrecht. Di mejanya terletak secangkir teh jahe yang sudah dingin, dan sebuah boarding pass yang sudah dipersiapkannya: 'Jakarta – Amsterdam – Utrecht, 22 Januari.' Tiket tersebut, yang sebelumnya terasa sebagai sebuah pencapaian besar, kini berubah menjadi simbol akhir dari segala momen yang terjadi antara dirinya dan Bima, seolah menjadi penghapus bagi setiap kenangan indah yang pernah mereka ukir bersama. Setelah keheningan yang terasa terlalu lama, suara Clara pecah dalam ruangan. "Aku nggak ngerti, Bim," ujarnya, memecah kebekuan suasana. "Kita cuma punya waktu tiga minggu sebelum dua negara memisah kita. Kamu tanda tangan kontrak, aku udah pasti ke Belanda. Tapi aku ngerasa malah makin berat, bukan lega." Tatapan Bima beralih ke arahnya, penuh dengan perhatian. “Karena kita sembunyiin semuanya dari Aiden.” Clara menunduk, tidak mampu membantah pernyataan itu. “Setiap kali dia chat, nanya ‘Kabar kalian baik?’ aku ngerasa pengen jujur. Tapi kalau kita jujur sekarang, dia kehilangan dua orang sekaligus. Dia lagi di puncak, Den. Kamu kasih dia tekanan kayak gitu sekarang, itu kejam.” Bima mengusap wajahnya dengan kesedihan yang mendalam, sebelum akhirnya duduk di depan Clara. “Aku juga ngerasa bersalah, Clar. Aiden udah kaya saudara buatku. Tapi tiap kali aku liat kamu, semua teori moralku hilang. Aku nggak ngerti lagi cara rasional buat sepenuhnya ‘bener’.” Clara menutup laptopnya, menatap Bima dengan pandangan yang lembut namun tegas. “Kita udah nggak bisa mikir soal ‘bener’. Kita udah jalan di wilayah abu-abu ini sejak di Pulau Seribu waktu itu. Sekarang tinggal gimana kita jaga supaya garis abu-abu ini nggak berubah jadi hitam kelam begitu Aiden balik ke Jakarta.” Bima mengangguk pelan. “Dia udah bilang bakal pulang, kan?” "Iya," jawab Clara dengan nada yang hampir tidak terdengar. “Berarti waktu kita mepet banget.” Bima bangkit berdiri, langkahnya menuju meja makan, di mana ada dua paspor yang terbuka tergeletak—paspor miliknya dengan visa kerja Jerman yang baru ia dapatkan kemarin, dan paspor Clara yang lengkap dengan visa pelajar Schengen untuk perjalanannya ke Belanda. Dua buku hijau itu, meski mirip, menunjukkan rute berbeda yang akan mereka tempuh—namun perasaan yang mengikat tetaplah sama. “Kamu sadar kan, Clar, kita udah nggak punya waktu buat nyari solusi yang aman?" “Kita nggak butuh solusi,” jawab Clara lirih, dengan suara yang menggambarkan kepasrahan. “Kita cuma butuh keberanian buat tetap bersikap seperti sekarang, tanpa ngerusak dia.” Bima menatapnya tak percaya. “Keberanian? Clar, gimana caranya kamu nyembunyiin hubungan ini begitu dia pulang? Kamu pikir Aiden nggak peka?” Clara berdiri, mendekati Bima dengan langkah pasti. “Dia akan sibuk. Riset, proyeknya, keynote itu... Lagian, aku akan berangkat lebih dulu dari kamu. Saat dia nyampe Jakarta, aku udah nggak di sini.” Bima menghela napas berat, seolah mencoba menepis kecamuk dalam kepalanya. “Itu malah bikin semuanya aneh. Kalau dia tahu dari orang lain—kalau dia lihat foto kita, atau nyambung dari potongan cerita—dia bakal ngerasa kita nganggap dia bodoh.” Clara menatap lantai. “Kamu pernah dengar istilah di psikologi trauma tentang ‘delayed honesty’? Kadang kejujuran yang ditunda lebih bisa diterima karena emosi yang udah turun.” Bima hampir tertawa getir. “Kamu psikolog, tapi yang kamu lakuin sekarang bisa jadi eksperimen moral yang gagal total.” Clara menatap tajam, penuh dengan tekad. “Aku nggak minta kamu buat jadi moral superior, Bim. Aku cuma pengen kita selamat.” Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Aku cinta kamu. Tapi aku juga masih sayang sama Aiden—bukan kayak dulu, tapi lebih kayak keluarga. Aku nggak mau kehilangan dia. Jadi satu-satunya jalan adalah bikin dia percaya semuanya masih kayak dulu, sampe kamu sama aku sama-sama stabil di Eropa.” Bima berjalan mendekat, menatap mata Clara dalam-dalam, lalu memegang bahunya, memastikan ia mendengarnya dengan baik. “Aku ngerti, Clar. Tapi kalau semua ini meledak nanti... Kamu siap kehilangan dua-duanya?” Jawab Clara cepat, seperti ingin meyakinkan dirinya sendiri, “Nggak akan meledak.” Namun, seolah takdir ingin menguji keyakinan mereka, seketika itu juga, suara ponsel berbunyi di meja, mengejutkan keduanya. Mereka terpaku, melihat layar yang menunjukkan 'Aiden – Incoming Video Call.' Suasana yang tadinya tegang berubah menjadi mencekam. Bima secara refleks bergeser mundur, mengambil posisi di belakang sofa, sementara Clara dengan cepat menarik napas dalam-dalam, berusaha menstabilkan ekspresi wajahnya yang sempat goyah. "Angkat aja," ujar Bima dengan pelan. "Kalau nggak, malah curiga." Clara mengangguk, memaksakan senyum untuk muncul di wajahnya saat ia menggeser ikon hijau. "Hey, Den!" Di layar, wajah Aiden tampak bersemangat, dikelilingi suasana hangat dari ruangan konferensi NeurIPS di Paris, dengan badge peserta tergantung di lehernya. “Clar! Bim! Gue baru kelar sesi keynote! Proyek gue resmi dapat grant dari WHO. Gue teriak nama kalian di panggung barusan, lho!” Bima berusaha tersenyum dari belakang sofa, mencoba mendukung temannya. “Gila, Den! Hebat banget!” Clara ikut menimpali, suaranya lebih lembut dari biasanya, berusaha menunjukkan kehangatan. “Lo beneran jadi orang besar sekarang.” Aiden tertawa, suaranya penuh dengan antusiasme. “Belum, Clar. Tapi bentar lagi. Gue mau balik Jakarta abis touring riset. Kita ketemu, makan bertiga kayak dulu. Gue kangen banget sama kalian.” Mereka saling melirik, dipenuhi perasaan cemas yang mendalam. Dalam diam, seolah merasa terbebani sebagai aktor yang harus menjaga agar panggung tidak runtuh. “Pasti, Den,” kata Bima akhirnya dengan penuh keyakinan. “Jakarta nunggu lo. Eh, Clar juga bentar lagi berangkat tuh. Jadi lo masih sempet ketemu sebelum dia ke Belanda.” Aiden mengangguk, matanya menyipit seolah tengah memikirkan sesuatu. “Oh iya, gue denger lo udah tanda tangan kontrak sama Bochum, Bim. Congrats! Gila, kalian berdua sukses semua, tinggal gue yang jomblo di antara dua pemimpi.” Clara tertawa hambar, terasa datar. “Lo nggak mungkin jombloan lama, Den. Cewek mana yang nolak ilmuwan AI tampan yang bisa main bola?” Aiden memberikan senyuman tipis, memainkan alisnya dengan kenakalannya yang khas. “Kalau lo nanya gitu, berarti lo nggak tahu aja seberapa clueless gue soal hubungan.” Kalimat itu membuat Clara refleks menunduk, menyembunyikan perasaannya yang bergolak. Aiden memperhatikan ekspresi itu, lalu beralih menatap Bima di belakang. Kecanggungan merayap di antara mereka, membuat jarak yang tadinya samar menjadi nyata. “Anyway,” kata Aiden mencoba mencairkan suasana yang tegang, “gue berangkat dari Paris ke Zurich lusa. Minggu depan mulai roadshow Jakarta. Kalian please jangan kabur dulu, gue mau ketemu kalian berdua.” Clara hampir tergoda untuk berbohong—ingin bilang tiketnya lebih cepat—tapi Bima yang bijak menyenggol kakinya dari belakang dengan isyarat agar ia tetap diam. “Iya, Den,” akhirnya ia berkata. “Kita nunggu.” Aiden tersenyum puas, merasa perbincangan ini menenangkan hatinya. “Sip. Udah ah, kalian makin keliatan capek. Gue tutup dulu ya. Proud of you both.” Ia melambaikan tangan dengan semangat. “Sampai ketemu di Jakarta!” Begitu panggilan terputus, ruangan kembali jatuh ke dalam keheningan yang berat dan suram. Clara merosot ke sofa, menundukkan wajahnya yang sudah lelah. “Dia pasti curiga, Bim. Kamu liat, matanya tajam banget pas terakhir video call.” Bima mengusap wajah dengan tangan, berusaha menenangkan dirinya, kemudian berjalan ke arah jendela untuk menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang menghimpit. “Iya, tapi selama dia nggak punya bukti, kita aman. Kita cuma harus... hati-hati banget mulai sekarang.” Clara mendengus pelan, suaranya nyaris pecah. “Hati-hati? Kita udah kayak narapidana emosi yang nunggu pengadilan Tuhan.” Bima berbalik dan mendekatinya, dengan lembut menangkup wajah Clara dengan kedua tangannya. “Clar... satu falsafah hidup yang gue pelajari di lapangan bola—selama kamu belum tertangkap offside, kamu masih bebas bermain.” Clara menatapnya lama, mencoba mencari jejak keteguhan dalam tatapannya. Akhirnya, ia tersenyum pahit. “Tapi beda, Bim. Di hidup — offside nggak selalu kelihatan sama wasit, tapi selalu bikin hati kita takut tiap kali bola geser sedikit ke depan.” *** Malam semakin larut, keheningan melingkupi ruangan itu dan menyelimuti hati yang diliputi keraguan dan kecemasan. Di luar, hujan mulai turun perlahan, menambah rasa melankolis yang mengisi udara di sekitarnya. Rahasia mereka masih tersimpan rapi, seolah terbungkus dalam lebatnya tirai hujan—tak terlihat oleh dunia luar, namun samar terdengar bagi mereka yang cukup dekat untuk mendengarnya. Di suatu tempat yang jauh, tertutup oleh batas samudera dan daratan, Aiden menatap ponselnya dengan pandangan yang merenung. Ia mencoba membaca ulang setiap ekspresi di wajah dua orang yang ia anggap paling bisa dipercaya. Namun di dalam hatinya, sebuah firasat perlahan muncul dan tumbuh: bahwa ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan, sesuatu yang penting. Meski demikian, hingga saat ini, tidak ada yang berani mengatakan apa pun. Rahasia itu masih tetap aman terjaga—meski hanya untuk sekarang. Dalam diam, ketiga hati kini saling terhubung oleh ikatan yang rumit dan rapuh, berdansa di antara batas-batas kebenaran dan kebohongan, menanti kapan saatnya semua ini harus terungkap. Namun untuk saat ini, mereka melanjutkan peran mereka, berdiri di atas panggung kehidupan yang tidak sepenuhnya mereka kendalikan. Rahasia itu, seperti waktu, menanti saatnya untuk terbongkar. *** Pesawat Lufthansa yang membawa Aiden dari Zurich ke Jakarta akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Soekarno–Hatta tepat pada pukul 22.45 malam. Saat Aiden menapakkan kakinya pertama kali di landasan, udara tropis yang begitu khas langsung menyambut wajahnya yang terlihat cukup pucat setelah menghabiskan dua belas jam penuh dalam ruangan kabin yang tertutup rapat. Keringat pertama yang menetes perlahan di pelipisnya pun membuatnya tersenyum kecil seakan merasakan kembali sebuah perasaan akrab yang selama ini menghilang dari kehidupannya—“rumah,” ia membatin sambil menghirup dalam-dalam udara yang terasa lembab, meskipun dalam hati kecilnya, kerinduannya ini lebih spesifik tertuju kepada dua orang yang sangat berarti baginya: Bima dan Clara. Secepat mungkin, Aiden berjalan melalui jalur imigrasi dengan langkah tergesa karena tidak sabar untuk segera melanjutkan perjalanannya. Matanya yang tajam tetap fokus pada layar ponsel di genggamannya. Ketika layarnya menyala, ada sebuah notifikasi pesan dari Clara yang muncul. Clara: “Welcome home, Den. Maaf banget kalau gue nggak bisa jemput. Lagi bantu ibu Bima masak untuk syukuran kecil besok.” Aiden membaca pesan singkat itu berulang kali, memastikan setiap kata benar-benar melekat dalam benaknya. “Dia sekarang ada di rumah Bima lagi?” gumamnya pelan, sedikit kebingungan sambil mengernyitkan alisnya. Ia kemudian segera mengetik balasan dengan cepat, berusaha untuk tetap menjaga suasana. Aiden: “Nggak masalah sama sekali. Selama nanti ada makanan buat gue juga.” Clara: “Selalu ada tempat buat lo, Den.” Ada sesuatu dalam kalimat terakhir itu yang membuat napas Aiden jadi sedikit tercekat. “Selalu ada tempat buat lo...” — meskipun sederhana dan terdengar biasa, namun kedengarannya terlalu akrab, seperti sebuah kode rahasia yang secara misterius memaksa hatinya untuk merasakan kehangatan yang lebih dalam dari yang seharusnya. *** Keesokan paginya, suasana rumah keluarga Bima begitu ramai dan meriah. Meja makan yang luas penuh dengan beragam jenis makanan, ibu Bima terlihat sibuk di dapur dengan penuh semangat, sementara tetangga-tetangga dan kerabat berdatangan untuk memberikan ucapan selamat atas pencapaian kontrak internasional untuk putra kebanggaan mereka. Aiden datang dengan memakai kemeja putih yang rapi, membawa cahaya senyuman yang cerah, dan sebuket bunga sebagai ucapan selamat untuk Bima. Sesaat setelah memasuki ruang tengah yang penuh sesak, ia terdiam terpaku, memperhatikan Clara yang sedang sibuk menata piring dengan penuh ketelatenan. Rambutnya diikat dengan acak, tetapi senyumnya tetap mempesona seperti biasa—senyum yang mematikan dalam kesederhanaannya. Di sisi lain ruangan, Bima sedang asyik berbincang dengan beberapa tamu yang hadir di sana. “Den!” seru Clara sambil menoleh. Matanya berbinar meskipun sedikit kikuk, tetapi tetap tulus dan jujur. “Lo dateng juga!” “Gue pasti dateng. Gue udah janji nggak bakal absen,” jawab Aiden sambil tersenyum lebar, lantas meletakkan bunga di atas meja. “Kalian kelihatan sangat sibuk. Ini lebih mirip acara pernikahan daripada sekedar syukuran kontrak.” Clara tertawa kecil, sedikit canggung. “Iya nih. Ibu Bima sengaja bikin heboh. Katanya ini acara bersejarah yang nggak boleh dilewatkan.” Secara spontan, Aiden melirik ke arah Bima, yang dengan santai melambaikan tangan dari kejauhan, senyumnya datar tetapi hangat. “Den! Udah lama nggak ngelihat lo. Gokil, lo makin keliatan seperti orang Jerman.” Bima mendekat dengan langkah yakin, menepuk bahu Aiden dengan keras, layaknya seorang kawan akrab. “Lo kelihatan kurus, Den. Kurang makan karena sibuk coding ya?” “Ngoding terus bukan berarti lupa makan. Tapi ya, gara-gara stres kemarin ngurus project WHO,” jawab Aiden, berusaha menjaga nada suara agar terdengar santai dan lepas. Namun, ketika Aiden akhirnya duduk di meja makan bersama mereka, ada sebuah perasaan aneh yang perlahan menyelinap di antara mereka. Tatapan Clara sering kali terlalu cepat beralih setiap Aiden menatapnya, seakan menghindar dari sesuatu. Di lain pihak, Bima terlihat sering menunduk, berpura-pura sibuk dengan memainkan sendok nasi meski belum mulai makan. Setelah ibu Bima bergabung, pembicaraan di meja makan mulai sedikit mencair. Namun, perhatian Aiden tidak bisa lepas dari satu hal penting: saat piring yang dipegang Clara hampir jatuh dari genggamannya, secara refleks Bima langsung meraih tangan Clara untuk menahannya agar tidak terjatuh. Gerakan itu begitu alami, tetapi sayangnya terlalu cepat—sebuah refleks yang hanya dimiliki oleh seseorang yang sangat akrab dengan sentuhan orang lain. Aiden menatap kejadian itu dengan lama, senyumnya pudar sesaat, tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihan di wajahnya. Setelah makan besar, acara itu berangsur-angsur selesai. Ibu Bima lalu pamit ke dapur untuk merapikan peralatan yang telah digunakan. Di sisi lain, Clara memilih duduk di taman belakang, menghidupkan sebatang lilin aromaterapi kecil yang diletakkan di atas meja. Melihat itu, Aiden mendekat dengan langkah berhati-hati. “Lo masih suka wangi lavender, ya,” katanya pelan. Clara tersenyum samar, mengangguk perlahan. “Masih. Wanginya bisa membantu menenangkan pikiran. Lo sendiri masih suka hujan?” “Selalu. Tapi kali ini gue ingin hujan cepat datang, supaya suasana seperti dulu ketika kita masih di kampus. Kita berdua, ngobrol tanpa terganggu orang lain,” jawab Aiden, mencoba menghidupkan kembali kenangan lama. Clara pun tertawa kecil, suaranya terdengar ringan. “Masih aja lo puitis. Tapi gue seneng banget lo sudah balik, Den.” Aiden lalu melihat ke dalam mata Clara dengan dalam. “Clar… waktu kita video call kemarin, tentang apa yang gue bilang—gue serius soal itu.” Detik berikutnya, Clara tampak kaku sesaat. “Soal apa…?” “Soal nikah,” jawab Aiden, kali ini suaranya turun tapi terdengar penuh ketegasan. “Gue bukan asal ngomong. Semua ini sudah gue pikirkan dengan matang. Gue nggak peduli dengan jarak sekalipun. Kalau lo ke Belanda, gue siap bolak-balik. Gue lebih dari siap untuk menjadi seseorang yang menunggu, bukan cuma jadi penonton dari jauh.” Clara mendengar itu langsung merasa gugup, menatap sekeliling dengan gelisah. “Den, jangan ngomong kayak gini di sini…” “Kenapa nggak boleh?” tanya Aiden sambil mendekatkan tubuh lebih ke arah Clara. “Gue cuma minta lo ingat satu hal. Masih ingat nggak yang lo bilang waktu itu, ketika gue di NeurIPS? Kalau suatu hari, lo akan jujur tentang apa yang lo rasakan?” Sejenak suasana menjadi hening. Rintik-rintik hujan mulai turun dengan perlahan, menjatuhkan titik-titik air di atas meja taman. Aiden melanjutkan, “Sekarang adalah waktunya, Clar. Sekarang gue di sini, bukan hanya sekedar di balik layar. Kalau lo masih ada ragu, katakanlah ragu. Tapi kalau lo sedikit saja punya perasaan untuk gue, tolong jangan diam.” Clara menggigit bibirnya, terdiam beberapa saat mencari kata yang tepat. “Den… lo selalu jadi orang baik, yang paling baik malah. Namun saat ini hidup gue lagi ribet. Fokus gue sekarang ke Belanda. Gue nggak mau ngasih lo janji yang mungkin nanti gue sendiri nggak bisa tepati.” Aiden hanya bisa tersenyum getir mendengar jawaban Clara. “Jadi, ini sama aja artinya dengan ‘nggak,’ ya?” Clara menunduk, menjawab pelan. “Ini artinya gue belum siap. Dan yang lebih penting, gue nggak mau lo nunggu meskipun lo bilang sanggup.” Aiden menatap langit yang mulai diguyur hujan dengan ekpresi yang sulit diterka. “Gue cuma minta satu kesempatan yang benar-benar nyata, Clar. Hanya satu kesempatan untuk menunjukkan kalau niat gue ini bukan cuma impulsif. Gue bukan seperti Bima yang bertindak spontan melakukan keputusan gila demi passion. Gue ini kayak AI: selalu hitung probabilitas, tapi kalau gue bilang gue siap, itu artinya gue sudah simulasi semua skenario terlebih dahulu dalam kepala gue.” Mendengar Bima disebut, Clara langsung menegakkan badan. “Kenapa lo nyebut nama Bima?” Aiden menatap balik dengan senyum samar. “Karena kita sudah kenal terlalu lama, Clar. Dan… belakangan ini, gue ngerasa menangkap getaran yang aneh di antara kalian. Gue bukanlah orang yang b**o, Clar.” Seketika rona wajah Clara berubah, tetapi ia berusaha keras menutupi kegugupan tersebut. “Gue sama Bima kan sahabat lama, wajar kami sering bareng lagi sekarang setelah lo lama di Eropa. Gue bantu dia mikirin banyak keputusan besar. Itu aja kok.” Aiden terdiam sesaat, mencoba merenung. “Gue ingin percaya pada penjelasan lo. Tapi sayangnya, firasat gue jarang sekali salah. Sama seperti waktu gue prediksi server kita akan kecolongan sebelum terjadi crash dua tahun yang lalu.” Clara pun akhirnya mengalihkan pandangannya, suara Aiden yang terdengar serius membuat hatinya gundah. “Den, tolong. Jangan overthinking.” Aiden menatapnya tajam, lalu mendadak melunak, suaranya serak tetapi tetap jelas. “Mungkin gue overthinking, Clara, tapi gue melakukan ini karena rasa sayang. Karena gue cuma ingin tahu, sebelum semuanya berantakan, apakah masih ada ruang sedikit saja buat gue di semesta lo.” Clara menatap wajah Aiden yang kini terasa lebih dekat. Hujan turun semakin deras, rambut mereka pun perlahan basah, tetapi keduanya tetap diam tak bergerak. Di bawah naungan suara tetes air yang terus mengalir, terdapat sebuah keheningan yang jauh lebih dalam dari suara derasnya hujan yang menimpa bumi. “Den...” ucap Clara pada akhirnya, menghela napas panjang penuh perasaan. “Lo selalu punya tempat, selalu ada ruang buat lo di hidup gue. Tapi kalau ruang itu belum tentu kosong…” Aiden pun menatapnya, napas terasa sesak di d**a. Kalimat itu tepat mengenai perasaannya—seperti badai yang datang dengan sapuan lembut, namun membawa makna pengakuan yang tak terucap, prediksi bahaya yang tersembunyi namun nyata adanya. “Maksud lo… ada seseorang yang menempati ruang itu sekarang?” tanyanya pelan, hampir berbisik. Clara menunduk, suaranya kembali lirih. “Gue nggak bisa beri jawaban itu sekarang.” Aiden terkekeh kecil, terdengar getir di setiap tawanya. “Gue ngerti. Klasik banget ya: waktu yang salah, orang yang salah, tapi yang salah ini juga nggak mau selesai.” Dengan perlahan, ia bangkit berdiri, menatap Clara terakhir kali. “Oke, Clar. Gue nggak bakal maksa lo. Tapi mulai malam ini, lo tahu ada orang yang benar-benar berani berbicara duluan, bukan cuma menunggu giliran.” Clara juga ikut berdiri, suaranya bergetar lirih. “Den, gue cuma takut kalau ini malah menghancurkan kita bertiga kalau semua ini terus diungkit. Kadang, rahasia tuh bukan untuk disembunyikan selamanya, namun untuk bisa ditunda hingga waktunya benar-benar aman.” Aiden menatapnya lama, kemudian mengalihkan badan dan melangkah pergi di bawah gerimis tanpa payung. “Masalahnya, Clar,” katanya lirih tanpa menoleh sedikit pun, “kalau rahasia lo ini buat gue berhenti percaya sama lo, kapan waktunya akan aman?” Clara hanya bisa mematung di tempat. Setelah itu, hanya suara hujan yang menjadi saksi dari keheningan yang semakin berlarut. *** Dalam perjalanan pulang menuju penginapannya, Aiden duduk di kursi belakang mobil sewaan, matanya kosong memandang ke luar jendela yang terhalang tetesan air hujan. Tiba-tiba, ponselnya bergetar—sebuah pesan dari Bima baru saja masuk. Bima: “Bro, terima kasih banget sudah datang tadi. Maaf kita nggak sempat ngobrol banyak. Besok luangin waktu buat ketemu berdua aja? Ada hal penting yang harus gue omongin.” Aiden menatap pesan itu lama, bibirnya mengepal. Aiden: “Besok pagi di taman kota. Gue juga perlu ngomong sesuatu.” Mobil pun terus melaju di atas jalan yang basah kuyup, cahaya lampu kota memantul di permukaannya bagaikan serpihan rahasia yang menunggu untuk pecah kapan saja. Di sudut kota Jakarta yang luas ini, terdapat tiga orang—masing-masing membawa cinta, kebohongan, dan persimpangan pilihan yang mereka buat—terus bergerak menuju satu pertemuan yang perlahan namun pasti, akan membeberkan semua kebenaran yang selama ini mereka simpan terlalu lama di balik hati mereka yang terdalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD