Bab 11 : Benang Merah yang Terjalin

3211 Words
Jakarta menyambut Bima dengan pelukan lembab musim hujan yang khas—sebuah permulaan yang langsung memaparkan betapa ramainya ibukota dengan kemacetan yang hampir tak kunjung reda tak terkecuali di jalan tol. Keaslian kota mulai menetap dalam dirinya, terlihat jelas dari aroma soto betawi yang tercium kuat sepanjang pinggir jalan dan suara klakson yang tak pernah benar-benar terdiam. Kehidupan kota kini menjadi bagian dari keseharian Bima sejak seminggu lalu, ketika ia memutuskan untuk pulang atas permintaan ibunda tercinta. Menghabiskan waktu di rumah keluarga di pinggiran selatan Jakarta, ia mendapati lututnya telah 90% pulih dari cedera. Di sisi akademis, gelar master Teknik Sipil pun telah resmi dalam genggamannya. Namun, di balik pencapaian itu, pikirannya bergumul hebat: antara menerima tawaran kontrak dari liga 2 Jerman, tepatnya bersama Bochum II, atau melanjutkan studi doktoral di Universitas Indonesia dengan kesempatan untuk menjadi dosen muda. Bagaikan dua dunia yang tarik-menarik, keputusan ini mempertemukan gaya hidup yang seolah tak pernah bisa berdamai satu sama lain. Pada pagi yang tenang itu, Bima duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi tubruk yang baru saja diseduh, sementara ponsel di tangannya menunjukkan notifikasi pesan masuk. Sebuah chat dari Clara, sahabat lama yang kembali hadir di hidupnya, tertulis: "Bim, lo di mana? Gue free total abis wisuda S2 kemarin. Mau nongkrong? Kopi di Senayan yuk, ada yang baru." Bima tak kuasa menahan senyum lebar terukir di wajahnya, jari-jarinya cepat membalas tanya Clara. "Siap! Jam 11? Gue dijemput pake ojek aja, biar ngga ngerepotin." Clara membalas dengan emoji tawa: "Gue jemput lo. Siapin cerita Bochum vs UI." Tersembul tawa kecil dari Bima. Kehadiran Clara sejak kedatangannya kembali ke Jakarta seolah menjadi "penyelamat" dari hari-hari yang dipenuhi kebimbangan dan pertimbangan. Clara baru saja menyelesaikan kuliah S2, sementara tawaran beasiswa S3 ke Belanda juga menunggu kepastian akhir, membuat jadwalnya kini lebih longgar. Mereka bertemu hampir setiap hari, menghidupkan kembali kedekatan yang telah lama tertaut. Mulai dari makan siang di warteg dekat kampus mereka saat kuliah S1 bersama-sama, jalan-jalan sore di Ancol, bahkan hingga membantu ibu Bima memasak rendang di dapur rumah. Kedekatan lama mereka pun bangkit lagi, tidak lagi dalam naungan cinta remaja yang penuh drama, namun kian dewasa menjadi ikatan sahabat yang saling mengerti dan paham akan jurang hati masing-masing. Jam 11 tepat, Clara datang di depan rumah dengan mobil pinjaman dari kakaknya, rambutnya diikat ponytail sederhana. Penampilannya dengan kaos oversized dan celana jeans menggambarkan kesederhanaan. "Hop in, striker bimbang!" serunya sambil membuka pintu mobil dengan antusias. Bima naik ke dalam mobil, bercanda dengan mencium tangan penuh sopan. "Psikolog free time! Lo makin glowing abis wisuda ya. Pengaruh lolos beasiswa ." Clara mengemudi perlahan, menghindari genangan air yang masih tergenang di jalan akibat hujan. "Masih nunggu surat resmi. Kalau lolos, Agustus terbang. Tapi Jakarta ini... susah ditinggal. Apalagi sekarang ada lo yang pulang bikin rame." Mereka tiba di sebuah kafe di Senayan yang cozy, dengan pemandangan taman hijau yang menenangkan. Di tempat ini, mereka memesan iced latte yang segar dan pisang goreng hangat yang menggugah selera. Meja kayu kecil di depan mereka kini menjadi panggung curahan hati yang panjang. Di hadapan Clara, Bima membuka amplop berisi kontrak dari Bochum II. "Lihat nih. Kontrak satu tahun, starter potensial. Bayarannya €3k per bulan, apartemen juga disediakan. Coach bilang gue cocok dengan gaya mereka: hold-up play dan visi bagus. Tapi umur 23... kalau cedera lagi, karier pro ini bisa habis." Clara membaca kontrak dengan seksama sambil mengangguk. "Serius, ini tawaran yang gila. Lo punya kesempatan untuk membuktikan ke dunia sepakbola Indonesia yang skeptis terhadap pemain Asia. Tapi risiko jatuh ke jurang juga ada: Eropa yang dingin, jauh dari keluarga, dan tentu saja doktor di UI menawarkan posisi dosen sambil mengerjakan riset tentang jembatan hijau. Nyokap lo pasti lebih memilih yang aman." Bima menggeleng kepala, tatapannya dalam tertuju ke arah Clara. "Itu dia masalahnya. Hati gue bilang bola—adrenalin bermain di lapangan, sorak-sorai dari fans, pembuktian diri di level profesional. Tapi otak bilang akademik: stabil, penuh hormat, dan bisa jadi cara gue untuk membantu membangun infrastruktur Indonesia. Lo sebagai psikolog, saranin apa?" Clara menggenggam tangan Bima dengan lembut, suaranya lembut seakan sedang berada dalam sesi konseling. "Bim, ini bukan keputusan yang bisa gue ambil untuk lo, itu harus lo sendiri yang tentukan. Bayangin lima tahun ke depan: lo bisa jadi profesor sipil yang sukses di umur 28 tahun, atau malah justru seorang striker profesional yang harus pensiun dini. Atau... mungkin lo bisa gabungkan keduanya? Main pro sambil kuliah jarak jauh?" Bima tertawa getir, menyadari beratnya pilihan yang harus diambilnya. "Gabung? Fisik gue aja struggle waktu semi-pro. Tapi lo benar. Kemarin gue latihan kecil sama anak kampung, rasanya hidup lagi. Lo sendiri gimana? Kalau lo ke Belanda artinya ninggalin klinik volunteer, pasien-pasien yang udah terlanjur butuh lo." Clara menarik napas dalam-dalam, menatap secangkir latte di hadapannya. "Gue juga bimbang, Bim. S3 di sana itu mimpi besar: bisa riset trauma dengan teknologi Eropa, dan publikasi di Nature. Tapi Jakarta punya cerita trauma banjir, gempa bumi, yang gue paham betul akar-akarnya. Belum lagi... kalau ninggalin lo dan Aiden lagi? Kita baru mulai reuni ini." Kesunyian sempat menyelimuti mereka, namun dengan segera digantikan oleh gelak tawa ketika seorang pelayan mengantarkan pisang goreng yang baru saja digoreng. Bima mendorong lengan Clara ringan. "Eh, ingat nggak dulu kita pacaran diam-diam? Lo selalu bilang fokus kuliah, gue malah gol-gol-an." Clara menyikut lengan Bima erat. "Iya! Lo striker egois waktu itu. Sekarang lo sudah lebih dewasa—mikir masa depan. Makanya gue seneng ketemu lo tiap hari. Jakarta jadi obat rindu Amerika lo yang jauh di sana." Sore hari, mereka melanjutkan perjalanan ke Ancol. Berjalan santai di sepanjang pantai dengan angin laut yang berhembus lembut bercampur aroma jagung bakar yang mengundang selera. Bima membeli dua tongkat, menawarkan salah satunya kepada Clara. "Coba main bola pantai yuk. Tes kecepatan pulihnya lutut gue." Clara melemparkan bola dengan perlahan. "Hati-hati! Gue nggak mau lo cedera lagi gara-gara gue." Bima melakukan dribble ringan, mengumpan bola kepada Clara yang gagal menangkapnya. Mereka tertawa sambil berlarian, jatuh di atas pasir yang halus. Dengan napas tersengal, Bima menatap Clara dari jarak dekat. "Clar... makasih ya. Lo bikin bimbang gue lebih ringan. Kayak... lo anchor gue di Jakarta ini." Clara mengusap pasir dari pipi Bima, mata mereka saling bertaut lama. "Lo juga, Bim. Kedekatan kita ini... bikin gue mikir ulang Belanda. Mungkin gue tunda setahun?" Bima menggelengkan kepala. "Jangan. Kejar mimpi lo. Gue juga harus pilih. Besok gue meeting UI dan agen Bochum via Zoom. Doain ya." Malam hari, di rumah, Bima mengirim chat ke Clara: "Hari ini seru banget. Besok mau jemput lagi?" Clara membalas: "Siap. Kita tim, Bim. Apa pun pilihan lo, gue dukung." Bima berbaring, menatap plafon kamar lamanya. Perasaan kedekatan dengan Clara telah bangkit kembali—bukan lagi sebatas hubungan pacaran, namun lebih dalam: sahabat, penasihat, atau mungkin... lebih dari itu? Namun, di hadapannya masih membentang jurang pilihan: apakah Bochum atau UI yang akan dipilihnya? Clara juga dihadapkan pada pilihan: Belanda atau tetap tinggal di Jakarta? Di kota yang hangat ini, Bima kini menemukan titik istirahat, namun di ujung sana, takdir reuni menunggu keputusannya dalam melangkah ke masa depan yang tak pasti. *** Minggu ketiga Bima di Jakarta terasa bagai sebuah déjà vu yang manis dan penuh kenangan, seolah-olah waktu mengulang dirinya sendiri dengan cara yang menyenangkan. Mereka bertemu kembali di warteg sederhana yang terletak di dekat rumah Clara. Di sana, mereka memesan nasi uduk dan ayam goreng sambil terlibat dalam percakapan panjang yang penuh dengan curahan hati. Kedekatan di antara mereka pun semakin erat, mirip benang merah yang sebelumnya putus kini terajut kembali dengan ikatan yang lebih kuat dan bermakna dalam. Bima mulai bercerita dengan rinci mengenai kontraknya dengan Bochum II, sementara Clara membagi tips psikologis yang membantunya mengatasi kebimbangan dan keraguan yang mungkin muncul. Seraya berbicara, tatapan mata mereka sering kali bertemu jauh lebih lama dari yang biasanya, dan tangan mereka tak sengaja bersentuhan saat hendak mengambil sambal pedas. Dalam hati Bima, muncul suatu pikiran: "Jika Clara menjadi pasangan hidupk gue, pilihan antara Bochum atau UI akan menjadi lebih mudah—karena ke mana pun gue pergi, asal bersamanya, semuanya terasa tepat." Pada malam itu, setelah menikmati makan malam bersama di rumah Bima—ibu yang diam-diam mulai curiga, "Kenapa Clara sering sekali datang kemari?"—mereka duduk santai di teras, menikmati kehangatan minuman wedang jahe. Hujan rintik mulai turun, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan angin malam Jakarta yang lembut. Bima menatap Clara dengan serius dan memegang tangannya pelan. "Clar... akhir-akhir ini gue merasa kita bukan cuma sahabat lagi. Lo bikin Jakarta ini terasa benar-benar seperti rumah buat gue. Gue berpikir... kalau kita lanjut dengan hubungan yang serius, masa depan gue nggak akan bimbang lagi. Pergi ke Bochum bersama elo, atau memilih UI bersama elo—dalam kedua pilihan itu ada kejelasan." Clara tersipu malu, namun matanya yang coklat tetap menyiratkan kehangatan yang mendalam. "Bim... gue juga merasa begitu. Beasiswa dari Belanda sedang menunggu konfirmasi, tapi jika ada lo, gue rela untuk menundanya. Lo adalah sosok dewasa buat qgue sekarang. Namun... bagaimana dengan Aiden? Mungkin kita rahasiakan dulu hubungan ini untuk menghindari keribetan." Bima mengangguk dengan mantap. "Deal. Ini rahasia kita. Aiden lagi sibuk dengan proyek AI-nya. Besok... mau liburan berdua yuk? Pulau Seribu bisa jadi pilihan menarik. Gue sudah pesan speedboat ke Pulau Ayer, dua hari satu malam. Romantis, tanpa gangguan, sambil kita putuskan masa depan di sana." Clara tersenyum lebar dan memeluk Bima dengan lembut. "Seru! Gue akan packing bikini dan buku psikologi gue, haha. Tapi kita janji tidak cerita ke Aiden." Pagi berikutnya, tepat pukul 6 pagi, mereka berangkat dari Dermaga Ancol dengan speedboat pribadi yang Bima pesan melalui agen sepakbola milik temannya. Angin laut yang segar menyapa, menggoyangkan perahu di antara ombak kecil, Jakarta perlahan mengecil di belakang mereka. Clara mengenakan topi lebar dan dress yang mengalir lembut, sementara Bima mengenakan kaos polo dan celana pendek, tangan mereka saling menggenggam erat menguatkan rasa. "Romantis banget ini!" seru Clara sambil mengabadikan momen dengan selfie. "Rasanya seperti adegan film, mantan sahabat yang kini menjadi kekasih." Bima mencium pipi Clara dengan perasaan mendalam. "Lebih dari sekadar film. Di sini kita putuskan: apakah aku ke Jerman dan kamu ikut, atau kita membangun hidup di Jakarta bersama-sama." Ketika mereka tiba di Pulau Ayer siang hari, mereka disambut oleh sebuah resor kecil yang eksklusif: cottage di atas air dengan pemandangan laut biru yang jernih, hammock yang bergoyang oleh angin lembut, dan kolam renang infinity yang seolah menyatu dengan cakrawala. Setelah check-in, mereka langsung pergi snorkeling. Di bawah air, ikan-ikan warna-warni berenang bebas, dan tangan mereka saling menggenggam erat, sementara gelembung udara naik perlahan ke permukaan. Siang itu, di hammock cottage, Clara rebahan dengan kepala di d**a Bima. "Bim, kalau kita pacaran resmi, pilihan kamu gimana? Aku dukung kamu pergi ke Bochum—aku bisa cari kerja sebagai psikolog di Jerman, sambil lanjut S3 online." Bima mengusap rambut Clara dengan penuh kasih. "Aku memikirkan hal yang sama. Lututku sudah menjadi lebih kuat, dan Bochum memberikan tawaran kontrak yang bagus. Kita bisa mulai dengan menyewa apartemen kecil di Bochum, kamu bisa jadi konselor untuk warga Indonesia di sana. Tapi kalau UI, kita bisa menikah cepat dan bangun rumah di Jakarta Selatan." Clara duduk sembari menatap mata Bima penuh pengertian. "Nikah? Kamu cepat banget memutuskannya!" Namun, senyumnya menggoda. "Aku suka. Tapi kita coba tes dulu—malam ini kita lakukan dinner romantis, dilanjutkan dengan berdansa di pantai." Ketika sore mulai menjelang malam, matahari terbenam di Pulau Seribu menghadirkan pemandangan magis: langit berwarna jingga-merah menyala, dengan ombak yang berbisik pelan. Mereka berjalan bergandeng tangan di sepanjang pantai berpasir putih. Makan malam di meja yang diterangi cahaya lilin: lobster dan ikan bakar yang menggugah selera, dengan wine mocktail yang menyegarkan. Diiringi musik dangdut akustik dari resor, menciptakan suasana yang hangat dan intim. Bima mengangkat gelasnya. "Toast untuk kita. Dari sahabat yang bimbang menjadi... calon pasangan?" Clara menyambut dengan mengangkat gelasnya juga. "Cheers! Tapi kita janji untuk menjaga rahasia ini dari Aiden. Dia pasti akan merasa cemburu atau bingung." Di malam hari, mereka berdansa lambat di pantai, tubuh mereka berdekatan, angin laut berbisik lembut dalam malam yang penuh romansa. Bima berbisik pelan: "Clar, aku memilih kamu. Bochum atau UI, asalkan kamu bareng aku." Clara membalas bisikan itu: "Aku juga. Ini rahasia kita, sampai keputusan final." Setelah kembali ke cottage, malam romantis berlanjut dengan ciuman panjang di balkon overwater, ditemani suara ombak yang menjadi latar belakang harmoni. Pada pagi kedua, mereka kembali snorkeling, diikuti dengan sarapan santai di hammock, sementara percakapan tentang masa depan terus mengalir: "Kalau anak pertama kita lahir, namanya Bima Jr., striker sehebat ayahnya." Liburan diakhiri dengan perjalanan pulang menggunakan speedboat, tangan mereka tetap saling menggenggam, menjaga rahasia yang amat berharga. Sebuah pesan masuk dari Aiden: "Guys, gue lagi meeting. Update dong?" Bima dan Clara saling berpandangan, tersenyum penuh rahasia. Bima mengetik balasan: "Biasa aja, nongkrong di Jakarta. Lo gimana sama proyek AI lo?" Clara menambahkan: "Kita free time nih. Nanti cerita ya." Kini kedekatan mereka telah resmi—berpacaran dengan senyap, dan rencana untuk masa depan mulai terjalin dengan lebih nyata. Namun, ada satu orang yang belum mengetahui kisah ini, sehingga jurang rahasia baru saja terbuka. Akankah ini waktunya untuk mengungkapkan segalanya? Ataukah rahasia ini akan pecah dengan sendirinya di saat mereka tidak menduganya? *** Di dalam laboratorium riset berteknologi tinggi di Jerman yang terkenal karena suasananya yang dingin, steril dan hampir seperti dunia lain, seorang ilmuwan muda bernama Aiden duduk dengan tekun di depan tiga monitor komputer berukuran besar. Jemari tangannya yang lincah menari dengan gesit di atas papan ketik mekanis, bunyinya menciptakan simfoni teknologi yang ritmis. Jam dinding menunjukkan pukul 22:00 WIB, yang berarti ini sudah larut malam di Jakarta, sementara di lokasi Aiden, hari masih sore. Baru saja, dia mencapai sebuah pencapaian yang luar biasa: berhasil menyelesaikan integrasi teknologi blockchain ke dalam model kecerdasan buatan prediktif yang telah ia kembangkan. Inovasi tersebut membuat sistem ini menjadi seolah-olah tidak tertembus oleh upaya peretasan data privasi. Dampak dari kemajuan ini sangat signifikan bagi perusahaannya yang bergerak di bidang teknologi; dengan kontrak kerja yang meningkat, timnya kini terdiri dari delapan anggota, dan gajinya melonjak tajam hingga €70.000 per tahun. Tidak hanya itu, undangan untuk menjadi pembicara di konferensi bergengsi NeurIPS Paris sudah ada di tangannya—sebuah puncak karir yang istimewa. Namun, jauh di dalam hatinya, tersimpan kenangan akan rumput hijau yang gemulai tertiup angin, di mana ia pernah menyimpan rahasia sebagai playmaker selama latihan malam yang dilakukan diam-diam di gimnasium kampus. Tiba-tiba, ponselnya bergetar, menandakan ada pesan baru di obrolan grup dengan dua sahabat karibnya, Bima dan Clara. Bima mengirim foto dirinya sedang bersantai di sebuah warung tenda di Jakarta, sementara Clara menambahkan cerita pendek tentang indahnya matahari terbenam di Ancol. "Guys rame banget di sana. Gue kangen Jakarta," ketik Aiden dengan cepat, menyalurkan rindu yang menyesakkan dadanya. Balasan datang segera dari Bima: "Dateng sini dong, Den! Gue lagi mikir Bochum vs UI. Clara nemenin gue curhat." Clara menyusul dengan sapaan hangat: "Iya! Free time nih. Lo join call besok?" Aiden tersenyum memikirkan tawaran tersebut, namun hati kecilnya merasa ada yang aneh, seperti tusukan kecil di d**a—mereka sering bertemu dan bercerita, namun tidak pernah sampai merinci yang terlalu dalam. "Rahasia mereka kali ya," pikirnya, kenangan lalu tentang masa muda mereka bertiga muncul di benaknya. Ia segera membalas: "Besok meeting pagi. Nanti malam call ya. Proyek gue hot—launch beta bulan depan." Aiden tidak menyadari bahwa kenyataannya, Bima dan Clara menyimpan sebuah rahasia besar. Pulau Seribu yang romantis, ciuman yang penuh arti, dan janji pacaran yang masih bersifat diam-diam. Rahasia di antara Bima-Clara terjaga dengan rapi, setangguh enkripsi kode yang diciptakan Aiden. Keadaan pagi itu mengalir cepat, dimulai dengan pertemuan hybrid yang dihadiri semua anggota tim melalui layar virtual. Aiden menjadi pemimpin presentasi, membawakan demonstrasi langsung dari model AI yang secara cerdas melakukan pemindaian data dari perangkat wearable, dan berhasil memprediksi kemungkinan burnout karyawan dengan akurasi mencapai angka 97 persen. Tim menyambutnya dengan tepuk tangan meriah. Lead engineer-nya, dengan penuh apresiasi menyatakan, "Boss, ini revolusioner! Sistem ini benar-benar GDPR-proof. Tapi, gue lihat lo agak kelelahan. Lagi kangen Indonesia ya?" Aiden hanya tertawa kecil, menanggapi dengan santai, "Sedikit. Sahabat gue lagi reunian di Jakarta. Gue jadi mikir... mungkin libur musim panas kapan-kapan ke sana, sekalian main bola, hobi lama." Engineer-nya menggoda, "Bola? Lo kan orang AI. Jangan sampe fokus lo terbagi, nanti." Aiden hanya menggeleng, meskipun dalam hati dia yakin bahwa, "Playmaker gue aman. Latihan malam tadi umpan presisi 90 persen. Rahasia tetap tersimpan." Siang itu saat semua orang sibuk dengan urusannya, Aiden menyelinap ke lapangan gym kampus—latihan lagi sendirian seperti biasanya. Ia berlatih dribble mengelilingi cone, melatih pass panjang melalui pantulan dinding, dan simulasi penguasaan ball sebagai seorang gelandang tengah. "Bayangin umpan ke Bima sebagai striker, ritme gue sendiri yang atur," bisiknya, sambil merasakan keringat mengalir deras membasahi wajahnya. Tidak seorang pun menyadari aktivitas ini, rahasianya tetap terjaga, persis seperti rahasia Bima dan Clara. Sore hari, panggilan dari Prof. Elena membangunkan pikirannya, "Aiden, NeurIPS Paris mengundangmu sebagai keynote speaker junior. Topiknya tentang 'AI Etis di Era Quantum'. Siap?" "Siap, Prof! Ini benar-benar puncak prestasi," jawab Aiden dengan semangat, merasa antusias oleh kesempatan besar ini. Saat malam tiba di Jakarta, yang juga berarti sore di Jerman, panggilan video grup dimulai. Bima dan Clara muncul bersama di layar mereka dari teras rumah Bima, wajah segar dan penuh rahasia, mata mereka bersinar bahagia. Aiden tidak curiga sedikitpun, walau mereka tampak duduk sangat dekat, bahu hampir menyentuh satu sama lain. Aiden membuka percakapan dengan penuh semangat, "Guys! Proyek gue beta launch bulan depan. NeurIPS Paris juga awaits. Kalian gimana? Bima, Bochum udah fix?" Bima: "Masih mikir. Clara bantuin ngasih analisis psikologis, haha. Lo sendiri? Kangen main bola nggak?" Clara menambahkan dengan simpatik: "Iya, Den. Lo keliatan sehat. Beasiswa gue tinggal nunggu konfirmasi dari Belanda." Aiden sejenak tersentak—rahasia playmaker-nya hampir terbongkar. "Nggak lah, gue fokus AI kok. Tapi... kalau musim panas jadi ke Jakarta, kita wajib main bola. Gue pengen coba posisi midfielder." Mata Bima menyipit, penasaran: "Midfielder? Lo mau jadi playmaker? Serius?" Aiden buru-buru menjawab sambil tertawa, "Haha, bercanda. Striker aja kayak dulu. Itu udah enak." Clara tertawa lepas, seperti biasa, "Oke, reuni bola harus jadi! Reuni kita bertiga." Namun, Aiden tidak mengetahui bahwa "reuni kita bertiga" memiliki lapisan tersembunyi lainnya—perihal cinta Bima-Clara, momen indah di Pulau Seribu, serta rencana masa depan bersama yang mereka rajut. Ia menutup panggilan video dengan perasaan puas, "Mereka dekat lagi, persis seperti dahulu. Nyaman." Malamnya, ketika ketenangan menyelimuti, Aiden kembali ke latihan bolanya—membuat umpan jauh yang akurat, dribble yang ahli dengan kelincahan tinggi. "Nanti musim panas di Jakarta, uji coba jadi playmaker sungguhan. Tapi rahasia gue tetap aman." Sedangkan di Jakarta, setelah panggilan video berakhir, Bima dan Clara saling berpelukan erat dan berciuman, diam-diam menyembunyikan duka di balik tawa. "Aiden tidak curiga. Rahasia bersama kita masih aman," bisik Bima penuh kelegaan. Clara menjawab dengan lembut, "Iya. Tapi suatu saat, kita harus memberitahunya. Sekarang, mari kita menikmati saat ini dulu." Aiden tertidur pulas malam itu, dilingkupi mimpi tentang memberikan umpan sempurna kepada Bima. Sama-sama menyimpan rahasia; Aiden dengan mimpi playmaker-nya yang tak terungkap, sementara Bima dan Clara memelihara kecintaan yang dalam satu sama lainnya. Bebang merah kehidupan mereka terjalin erat, namun setiap simpul yang dibentuk siap untuk terurai kapan saja. NeurIPS Paris mungkin menjadi puncak bagi perjalanan karir Aiden, namun reuni masa depan di Jakarta bisa jadi mengantar pada ledakan rahasia yang selama ini mereka sembunyikan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD