Bab 13 : Rahasia yang Mulai Retak

2570 Words
Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras seolah langit menumpahkan seluruh kesedihannya, membentuk tirai air yang lebat dan dingin, memisahkan kota yang sibuk dan hingar bingar dari dunia kecil yang tenang di dalam kabin mobil Clara. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam berdebat dengan penuh gairah dan harapan di sebuah kafe yang terletak di kawasan Tebet, mereka memutuskan untuk pulang. Topik perdebatan pun tidak main-main, mengenai karir masa depan: antara kompromi dengan kontrak untuk klub sepak bola Bochum II yang datang sebagai pilihan terbaik bagi Bima, atau memilih jalan akademik dengan melanjutkan studi doktoral di Universitas Indonesia. Sementara itu, Clara juga dihadapkan pada pilihan yang sama sulitnya: mengambil kesempatan beasiswa untuk studi di Belanda atau bertahan dan mengabdikan diri di sebuah klinik lokal. Udara di dalam mobil Clara terasa pengap dan lembab, AC dibiarkan mati karena kaca depan mobil telah tertutup embun akibat napas mereka yang resah. Clara menggenggam erat setir mobil, meskipun mobil tidak bisa melaju kemana-mana; terjebak dalam kemacetan parah di sepanjang Jalan Sudirman. Macet ini seolah mencerminkan kebuntuan yang dirasakan mereka dalam membuat keputusan penting dalam hidup masing-masing. Di kursi penumpang, Bima menyeka jendela yang basah oleh uap, berupaya untuk mengintip keindahan lampu-lampu kota yang berkedip samar di tengah hujan lebat. "Hujan deras banget. Rasanya seperti ikutan nyiram pikiranku yang lagi kacau balau," ucapnya sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana dengan selingan candaan. Clara hanya menanggapinya dengan senyuman tipis, meski hatinya tidak sepenuhnya tenang. Pandangannya tetap tertuju pada layar ponsel yang menampilkan email beasiswa yang ia terima sore tadi—dengan judul yang mencengangkan, "CONGRATULATIONS: Full Scholarship Awarded". "Bima, aku juga lagi galau. Beasiswa itu akhirnya lolos. Agustus ini aku bakal ke Utrecht untuk riset tentang trauma komunitas bersama NGO di Eropa. Tapi… rasanya semua ini bakal hampa kalau kamu nggak ada di sini memberikan semangat." Bima kemudian memutar tubuhnya, menatap Clara dengan penuh kesungguhan. "Iya, aku tahu. Tapi, baru tadi siang pihak Bochum II nelepon—mereka minta aku bikin keputusan cepat, ngejar deadline untuk tanda tangan kontrak minggu depan, atau posisi aku bakalan diisi orang lain. Pelatih terus muji aku, katanya aku ini bintang sepak bola Indonesia yang mereka butuhkan, bahkan memujiku dengan menyebut ‘You’re our Indonesian Haaland, but smarter’. Bahkan gaji €3,500 per bulan plus gratis tempat tinggal. Ini bukan sekadar main bola, ini sebuah keseriusan, langkah besar untuk nunjukin bahwa talent sepak bola Indonesia bisa bersaing di dunia." Mendengar deskripsi tentang hal ini, Clara mengangguk perlahan, tangan kirinya menyentuh hangat tangan Bima, memberikan dukungan moral yang tidak ternilai. "Kamu layak mendapatkannya, Bim. Kondisi lututmu sudah sembuh total, visi bermainmu kian matang. Di sisi lain, UI menawarkan posisi tetap sebagai dosen dengan fokus riset jembatan anti-gempa. Aku juga tahu, ibumu pasti akan sangat bangga jika itu terjadi, dan… yang terpenting, aku juga. Bayangkan, kita sudah resmi pacaran sekarang, aku bersedia menunda keberangkatan ke Belanda satu tahun ke depan. Aku bisa cari pekerjaan sebagai psikolog di Jerman, jadi kita bisa saling support." Bima menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang resah sambil mengusap punggung tangan Clara. "Clara… aku juga memikirkan hal itu. Membayangkan kamu duduk di tribun Bochum dengan scarf biru, sambil menonton aku mencetak gol dan kemudian langsung berlari ke arahmu. Atau jika kita tetap di Jakarta, paginya aku mengajar, kamu memberikan konseling sore harinya, lalu malamnya kita bisa masak bersama. Tapi jujur aku bilang takut—takut kalau nantinya buat keputusan salah dan salah satu dari kita akan menyesal. Kamu kan tahu, tidak mau jadi ‘penghalang’ untuk mimpi-mimpiku, dan juga aku tidak ingin kamu jadi ‘korban’”. Hening sesaat melingkupi kabin mobil yang mulai dingin; hanya ada suara menggesek kaca wiper melintasi cipratan air hujan di luar sana. Clara mendekatkan wajahnya, nyaris bersentuhan dengan Bima. "Janji kita di Pulau Seribu masih berlaku, kan? Kita pacaran diam-diam, saling mendukung apa adanya tanpa harus memaksakan kehendak." Bima mengangguk pelan sebelum kemudian bibirnya mendekati Clara, memberikan ciuman lembut penuh janji dan harapan. "Janji. Tapi malam ini… kita rayakan dulu. Beasiswa kamu lolos, kontrak pun sudah di depan mata. Yuk, mampir ke rumah aku? Ibuku sedang memasak opor ayam spesial.” Dengan senang Clara tersenyum, menyalakan mobil dengan perlahan ketika arus lalu lintas mulai bergerak. "Oke, tapi kita harus pintar sembunyiin ini dari Aiden ya? Dia kan sedang di Jerman, biarkan tetap seperti itu." Saat mereka tiba di rumah Bima, aroma khas opor ayam dan sambal goreng ati segar menyambut kehangatan yang membuat suasana ramai. Ibu Bima memeluk Clara erat seolah melepas rasa kangen yang tertahan lama. "Clara! Lama banget nggak ketemu. Duduk sini, makan yang banyak. Bima ceritakan kalau kamu sedang berjuang kejar S3 di luar negeri?" "Oh iya, Tante. Aku baru saja dapat kabar dari beasiswa Belanda," sahut Clara sopan sambil duduk di kursi meja makan yang sudah disiapkan. Ibu Bima mendengar hal itu dengan mata berbinar penuh kebanggaan. "Keren, Hebat! Bima pun harus belajar dari Clara ini, jangan bola terus yang dipikirin. Doktor UI juga bagus lho, nak." Bima mencubit sedikit opor dengan ekspresi serius. "Iya, Bu, Bochum II minta aku buat pertimbangin dengan cepat buat kontrak profesional. Aku lagi pikir-pikir itu." Ibu Bima pun mengerutkan dahi dengan penuh perhatian dan ketulusan. "Bima, olahraga itu sementara, Nak. Coba lihat Clara, dia lebih memilih ilmu. Kamu harus seperti dia." Melihat hubungan ini, Clara buru-buru angkat bicara, mencoba menyelamatkan suasana yang hangat ini. "Tante, sejatinya Bima sangat hebat di bidang sepak bola. Dia bisa gabung—main di klub profesional sambil kuliah secara jarak jauh. Aku pun mendukung penuh." Ibu Bima tersenyum, tetapi tatapan ke Bima masih mengisyaratkan kekhawatiran seorang ibu. "Kalian cocok sekali, ya. Sejak kecil sudah akrab, kalian berdua… jangan-jangan..." Bima dan Clara saling berpandangan, kemudian tertawa dengan rasa malu. "Kami cuma teman aja, kok, Bu," Bima menjawab dengan cepat dan santai. Pertemuan hangat dan panjang itu pun berlanjut hingga ke teras belakang rumah Bima. Hujan yang tadinya deras mulai mereda, menyisakan rintik gerimis lembut seperti menyelimuti mereka dalam perlindungan malam. Mereka duduk berdampingan di ayunan kayu yang terbuat dari bambu, berbagi selimut tebal demi kehangatan bersama. Clara menyandarkan kepalanya di bahu Bima. "Besok aku ada rapat bersama NGO Jakarta, mengenai klinik volunteer nanti. Kamu sendiri, ada meeting juga sama agen Bochum pakai Zoom?" "Iya, ada. Jam 4 sore. Kamu doain, ya?" ujar Bima, sambil memeluk Clara dengan erat. Clara menatap penuh cinta pada Bima. "Tentu selalu, Bim. Tapi, kalau kamu beneran tanda tangan kontrak dengan Bochum, janji ya aku bisa berkunjung ke Jerman? Aku sudah membayangkan kita jalan-jalan ke area Black Forest, dengerin kamu cerita taktik bola, dan aku cerita tentang pasien.” Bima mendaratkan kecupan lembut di dahi dan bibir Clara. "Janji. Kalau kamu mulai di Belanda, aku akan ke sana. Kita ramaikan suasana, bikin Eropa menjadi rumah kedua kita." Di momen tersebut, ponsel Bima bergetar—tanda ada video call dari Aiden, teman baik mereka. Keduanya menyiapkan diri dengan cepat, Clara segera bersembunyi dari pandangan kamera, dan Bima mengangkat tangan sebagai tanda kesendirian sementara ia menekan tombol jawab. "Halo, Den! Gue lagi santai malam nih," sapa Bima ramah. Dalam layar, wajah Aiden terlihat lelah namun penuh kebahagiaan. "Elo belum tidur? Gue di sini abis latihan sepak bola di gym kampus. Bagus deh proyek AI gue lolos audit final semalam!" Benar-benar kejutan yang menggembirakan! Bima menyerukan kegirangan kecil. "Gila, hebat banget! Gue lagi di rumah. Hujan gini enaknya sama Clara... eh, cuma mampir bentar tadi, sekarang udah pulang." Clara mengacungkan jempol sembari tersenyum dari balik layar. Seolah Aiden tidak curiga sama sekali. "Cool, baiklah. Btw, gue mau kasih update, gue sudah beli tiket musim panas ke Jakarta. Kita main bola bareng—bantu gue jadi playmaker!" Bima tertawa lepas. "Siap! Umpannya dari gue, gol dari elo." Selesai berbincang tentang itu, Bima mematikan call dan Clara kembali muncul, memberikan pelukan hangat dan ciuman dibibir secara bertubi-tubi pada Bima. "Aman. Rahasia kita aman." Namun seiring Clara pulang, Bima berdiri dan melihat langit malam yang gelap dengan penuh rasa bimbang. "Kontrak itu atau pilih doktor? Clara tetap di sini atau pergi jauh? Rahasia kencan ini sampai kapan akan disimpan?" Keesokan harinya adalah hari yang cerah, agensi Bochum kembali menghubunginya lewat Zoom: "Bima, ini waktu yang tepat untuk tanda tangan. Tim sudah menunggu." Bima memerhatikan foto Clara di ponselnya sebagai sumber inspirasi. "Tunggu sebentar. Aku butuh satu hari lagi." Cerita ini menutup dengan Bima memainkan bola di lapangan futsal kampung, menendang ke arah gawang yang kosong. Rahasia hubungan mereka tetap aman untuk sekarang, tetapi titik balik pilihan sebenarnya semakin dekat—akankah dia memilih Bochum atau Jakarta? Apakah Clara akan ke Belanda atau tetap disini? Aiden akan datang menyapa pada musim panas, bisakah rahasia tetap tersembunyi dengan aman? *** Pagi di Jerman terasa lebih dingin dari biasanya, suhu yang menusuk disebabkan oleh angin musim dingin yang berhasil menembus jaket tebal yang dikenakan Aiden. Langkah cepatnya menuju laboratorium riset tak mengurangi udara dingin yang menusuk kulit, sementara salju tipis menempel di sepatunya, meninggalkan jejak basah di lantai lobi kampus yang megah dan penuh dengan nuansa akademis. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat tas laptop yang berisi slide terbaru untuk demo internal perusahaan, sebuah tanggung jawab besar yang perlu ia persiapkan dengan matang. Sedangkan di tangan kirinya, Aiden mengangkat botol kopi hitam yang masih panas, yang panasnya terasa semakin berkurang seiring waktu berlalu di hari yang dingin ini. Namun, pikiran Aiden tak sepenuhnya terfokus pada kode AI canggih yang akan ia presentasikan dalam pertemuan penting hari ini—perasaannya digelitik oleh firasat aneh yang tak bisa diabaikan sejak semalam, diakibatkan oleh sebuah video call dengan Bima yang tampak... terlalu santai dan sedikit mengganggu. Saat ia naik lift, Aiden bergumam pelan, menganalisis pelan-pelan, "Kenapa mereka berdua kelihatan deket banget akhir-akhir ini?" Dia teringat foto-foto dalam grup chat mereka: gambar Bima dan Clara di kafe yang hangat, berjalan ria di Ancol yang penuh dengan kebahagiaan, bahkan bersantai di teras rumah Bima yang nyaman. "Teman lama reunian, wajar aja," batinnya mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri, meskipun sulit untuk mengenyampingkan ketidaknyamanan yang seolah mengintip dari sudut pikirannya. Namun, rahasia untuk menjadi playmaker yang ia simpan membuatnya lebih peka terhadap "sesuatu yang disembunyikan" di balik selembar tirai hubungan mereka yang nampak. Setibanya di lab, ia mendapati timnya sudah berkumpul dengan semangat tinggi. Lead engineer, Hans, menyambut Aiden dengan senyum lebar, penuh dengan optimisme. "Aiden, demo hari ini krusial! Direktur dan CEO datang dari Berlin. Model federated learning lo bisa bikin kita menang tender rumah sakit nasional." Aiden mengangguk sambil membuka laptopnya dengan sigap dan penuh persiapan. "Siap. Akurasi mencapai 97%, dan metode zero-knowledge proof untuk privasi total telah kita terapkan untuk keamanan data. Hari ini kita akan mendemonstrasikan bagaimana prediksi burnout secara real-time dapat dilakukan dari data simulasi 10.000 karyawan." Demo berjalan dengan lancar dan memukau semua yang hadir. Layar besar menampilkan grafik hijau yang menanjak, di samping heatmap risiko mental health yang komprehensif, serta rekomendasi personalisasi: "Rekomendasi: cuti selama 3 hari ditambah konseling." CEO bertepuk tangan dengan kekaguman yang terlihat jelas. "Excellent, Aiden. Tender ini akan jadi milik kita. Bonus kamu tahun ini akan didobel." Tim merayakan kesuksesan dengan menikmati kopi hangat dan kue strudel manis—simbol kelegaan dan pencapaian. Namun, hati Aiden masih gelisah. Saat istirahat, ia pun memutuskan untuk mengirim pesan di grup chat: "Guys, proyek gue baru menang tender besar! Lo berdua lagi apa? Kangen Jakarta parah." Bima dengan respons cepat membalas: "Mantap Den! Gue lagi latihan futsal di kampung. Clara... eh, dia lagi meeting NGO." Clara juga menanggapi: "Selamat! Gue bakal free sore ini. Nanti kita call ya?" Aiden menatap layar chat itu lama, berpikir dengan dalam. "Latihan futsal... Clara free... anehnya seperti alasan yang dibuat-buat?" Firasatnya menguat, membuat pikirannya berputar tanpa henti. Siang hari itu, Aiden memutuskan untuk pergi ke lapangan gym kampus—bagian dari rutinitas latihan rahasia untuk menjadi playmaker seperti biasanya. Sebuah kegiatan dimana ia dapat menyalurkan segala energi dan kegelisahan. Ia menggiring bola melalui cone, mengirim umpan panjang ke target kosong, melakukan simulasi kontrol midfield yang sempurna dalam pikirannya. "Bayangkan Bima sebagai striker, Clara mendukung dari tribun... tunggu, kenapa Clara di tribun Bochum?" Ia menggelengkan kepala, mencoba untuk kembali fokus, sebelum menendang bola dengan keras. "Fokus, Den. Rahasia lo aja susah dijaga." Sore harinya, ia menghadiri meeting dengan Prof. Elena. "Aiden, NeurIPS Paris confirmed. Keynote kamu tentang 'Ethical AI in Mental Health: The Indonesian Perspective' sangat mengesankan. Aku bangga!" "Terima kasih banyak, Prof. Tapi... saat ini saya sedang berpikir untuk libur musim panas ke Jakarta. Bertemu dengan sahabat lama, bermain bola, dan melepas rindu." Prof. Elena mengangkat alisnya, menunjukkan sedikit kejutan pada rencana tersebut. "Bola? Kamu kan AI specialist. Tapi oke, balance hidup memang penting. Jangan sampai seperti Bima temanmu yang cedera gara-gara overtrain." Aiden kaget mendengar itu. "Prof kenal dengan Bima?" Prof. Elena tertawa kecil. "Saya selalu update medsos kamu kan? Saya lihat story latihan dia. Jadi kalian trio legendaris di kampus dulu ya? Playmaker, striker, konselor." Aiden hanya bisa tersenyum getir menanggapi pernyataan itu. "Iya. Tapi sekarang... sepertinya ada yang berubah." Saat malam WIB (yang merupakan siang di Jerman), video call grup mereka dimulai. Bima dan Clara terlihat dalam layar—berada di dalam mobil Clara, berlatar belakang pemandangan malam Jakarta yang sibuk. "Halo Den!" sapa Bima dengan suara bersemangat dan penuh energi. Aiden mencatat dengan jeli: Clara sedang mengemudi, dan Bima duduk bersisian, tangan mereka hampir bersentuhan pada tuas gigi. "Halo guys! Kalian berdua lagi di mobil? Sedang pergi kemana?" Clara menjawab dengan terburu-buru: "Eh, gue pulang abis makan malam di luar. Jakarta macet nih." Bima juga menjelaskan: "Iya, biasa Jakarta. Bagaimana dengan tender di sana?" Aiden menceritakan demo suksesnya, serta kesempatan emas untuk NeurIPS, meskipun firasatnya tak berhenti membisikkan kecurigaan. "Eh, Bima, Bochum sudah fix belum? Bagaimana dengan beasiswa Clara?" Bima ragu sejenak sebelum menjawab: "Gue masih mikirin itu. Kalo Clara udah lolos ke Belanda." Clara membuat notifikasi tambahan: "Iya. Agustus gue akan terbang." Aiden memutuskan untuk bertanya langsung: "Kalian berdua sering banget ketemu ya akhir-akhir ini. Seperti... lebih dari sekedar sahabat?" Sebuah hening tegang melampaui tiga detik, terasa begitu panjang. Sampai akhirnya, Bima tertawa gugup: "Haha, elo curiga apa? Kami cuma teman lama yang lagi reunian." Clara segera menambahkan: "Iya Den. Elo jangan mikir macem-macem. Fokus aja dengan NeurIPS." Aiden memberikan senyuman secara terpaksa, mencoba mengangkat suasana. "Oke, oke. Cuma firasat saja. Musim panas gue ke Jakarta, kita main bola ya. Gue umpan sebagai playmaker, elo cetak gol Bima." Bima mengangguk dengan antusias: "Deal! Clara jadi wasit." Call berakhir. Aiden menatap layar yang kini gelap, dengan jantung berdegup kencang. "Mereka bohong. Ada apa sebenarnya? Punya rahasia seperti gue juga?" Malam itu, Aiden membuka i********: story lama: foto Bima dan Clara di Pulau Seribu yang sudah dihapus dengan cepat, tangan mereka terlihat samar bersentuhan, dengan caption ambigu "Reuni spesial". Firasatnya kini beralih menjadi keyakinan yang kuat. Kemudian ia mengirim pesan pribadi kepada Bima: "Bro, jujur saja. Elo dan Clara pacaran bukan? Gue nggak marah, cuma... kaget." Bima yang membaca dan tak segera membalas. Clara yang online juga tak memberikan chat. Aiden meletakkan tubuhnya di atas ranjang, menatap plafon kamar. "Rahasia gue sebagai playmaker aman terkendali, tapi rahasia mereka seperti retak. Reuni di Jakarta musim panas... Bagaimana ledakan besar akan terjadi?" Di Jakarta, Bima dan Clara panik membaca chat Aiden. "Sial, dia curiga!" seru Bima dengan keringat dingin. Clara mencoba menenangkan: "Rahasia kita mulai retak. Pada musim panas, semuanya mungkin terungkap." Cerita ini berakhir dengan Aiden yang berada di lab yang gelap, kode AI berkedip di layar, tetapi pikirannya melayang dan memikirkan rerumputan hijau serta rahasia sahabatnya. Firasat yang sebelumnya samar sekarang telah menjadi kenyataan—rahasia mulai terpecah, dan reuni semakin mendekat ke arah yang pasti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD