JANGAN MENCARI MASALAH DENGAN IBLIS

1025 Words
Mobil mereka telah sampai di markas. Suasana tempat itu begitu mencekam. Begitu gelap. Hanya sedikit pencahayaan yang membuat mereka bisa mengenali satu sama lain. "Tempat macam apa ini? Apa kita berada di kandang babi?" Malia menggerutu sembari menatap ke sekeliling tempat itu. "Jaga bicaramu. Ini markas kami. Jangan mengotorinya dengan mulut Sampahmu," Mike mendesiskan kalimat itu padanya. "Markas? Ini lebih cocok dijadikan tempat eksekusi." Sontak ucapan Malia membuat Darko menyeringai. "Gadis pintar. Ini memang tempat kami biasa mengeksekusi para musuh. Dan musuh kami saat ini adalah ayahmu." "Jadi itu alasan kalian menculik ku? Sebab ayahku adalah musuh kalian, begitu?" Malia menatap mereka secara bergantian. "Benar." "Oh, kalau begitu terimakasih." "Apa?" Mike dan Darko saling menatap. Dengan santainya Malia justru duduk disana. Seolah penculikan itu bukanlah perkara yang mengerikan baginya. "Ya. Terimakasih sudah menculikku. Kalau saja kalian tidak menculikku, mungkin saat ini aku sudah menikah dengan lelaki pilihan ayahku." "Apa kau tidak takut pada kami, huh? Apa kau tidak tahu siapa kami?" Meski wajah Mike tidak setampan Darko, namun Malia tidak ada rasa takut sedikitpun pada Mike. Malah menanggapinya dengan santai. "Kenapa harus takut? Aku sudah biasa melihat preman seperti kalian. Kemudian ayahku menyingkirkannya seperti debu." Malia mengibaskan tangannya. Hal itu semakin membuat Darko dan Mike terkekeh. "Bagaimana jika yang menjadi debu itu adalah ayahmu? Hem." Kali ini Darko yang bersuara. "Asalkan bukan kau. Aku rasa tidak masalah," saut Malia dengan wajah polosnya. Menatap Darko penuh arti. Tentu saja hal itu membuat Darko merasa tidak nyaman. Apalagi saat Malia tersenyum manis padanya. Ah sial! Wanita ini sepertinya memang sudah gila. "Hahahah. Sudahlah, berhenti bicara dengan gadis ini. Dia hanya membuat kepala kita bertambah pusing. Lebih baik kita hubungi ayahnya sekarang juga. Dan memintanya untuk melepaskan anak buah kita," ucap Mike yang langsung disetujui oleh Darko. *** On Phone Call "Holla, Mr. Komisaris yang terhormat." Darko berucap dengan nada sinis. "Siapa ini?" "Siapa lagi? Aku adalah orang yang kau incar. Kau sangat berambisi ingin menghancurkanku. Tapi hal itu tidak akan terjadi. Coba tebak apa yang aku lakukan pada putri kesayanganmu...?" "b******n sialan! Jadi kau yang telah menculik Malia?!" "Anda benar. Selamat Mr. Komisaris. Sekarang aku akan melakukan tugasku yang selanjutnya. Kau paham bagaimana caraku dalam menghabisi seseorang, bukan? Berhubung yang satu ini adalah wanita, jadi aku tidak akan membunuhnya secara sadis. Hanya sedikit luka robekan namun jeritannya bisa kau dengar sampai kesana. Hahahah..." "Jangan pernah menyentuh putriku walau seujung kuku sekalipun. Kau k*****t busuk! Apa yang kau inginkan?!" Terdengar geraman amarah dari sang Komisaris. Dan hal itu membuat nada bicara Darko berubah dingin. "Kau tau apa yang aku inginkan. Lepaskan anak buahku, maka aku akan mengembalikan putrimu dengan selamat. Setelah itu jangan pernah mengusikku lagi. Jika tidak, maka aku akan menghancurkanmu dan juga keluargamu. Sampai tak tersisa." Terdengar u*****n kesal dari Komisaris. Namun Darko segera mematikan ponselnya. Off Phone Call Tangannya masih terkepal kuat. Namun saat tatapannya tertuju pada Malia yang juga sedang menatapnya. Entan mengapa emosinya jadi mengendur. Darko segera membuang pandangannya. Menyebalkan! Kenapa matanya membuatku terperangkap. Seorang Darko tidak akan pernah luluh hanya karena seorang wanita. Tidak akan ada cinta. Cinta hanya pembodohan. Cinta akan membuat siapapun menjadi lemah. Persetan dengan cinta. Sekarang aku harus mengembalikan gadis ini. Setelah ketua Komisaris itu setuju untuk melepaskan anak buah Darko. Sekarang giliran Darko dan Mike mengembalikan Malia. "Kita akan kemana lagi?" "Mengantarmu pulang," saut Darko begitu dingin. Bahkan tanpa menatap Malia sedikitpun. "Tapi aku belum ingin pulang. Tolong jangan pulang sekarang." Malia memelas. Dan hal itu membuat Mike terkekeh. Kemudian menepuk pundak Darko yang kini sedang memijit pelan pangkal hidungnya. "Kau urus saja gadis ini. Biar aku yang menemui anak buah kita," ucap Mike melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. "Hei, Mike! Kau-" Belum sempat Darko menghentikan Mike. Lelaki itu sudah melangkah pergi dengan cepat. Seolah membiarkan mereka berdua menghabiskan waktu bersama. **** "Apa kalian menggunakan senjata ini untuk membunuh?" Malia memegang sebuah senapan panjang dengan bentuk sedikit unik. "Jangan sentuh benda itu." Malia mematuhinya dengan segera meletakkan benda itu. Namun perhatiannya tertuju pada sebuah koper kecil yang aneh. Digagang koper itu terdapat sebuah pelatuk seperti pistol. "Bagaimana dengan yang ini?" DORRRR Darko terkejut melihat Malia menyentuh senjata andalan mereka. Dan ketika ia ingin mencegahnya, Tiba-tiba saja Malia tidak sengaja menarik pelatuknya hingga membunyikan suara tembakan keras. Tepat pada saat itu, anak buah Darko beserta Mike tiba disana. Beruntung tembakan Malia tidak mengenai mereka. Meski hal itu nyaris. "Hey! Apa kau mau membunuh kami?!" Mike sedikit membentaknya. Malia sendiri syok dengan apa yang baru saja dia lakukan. "A-aku tidak sengaja," ucap Malia tersungut. Darko menghela nafas beratnya. Sebelum akhirnya kembali memperingati Malia. "Sudah kukatakan jangan sentuh benda disini. Apa kau tuli!!" "Maaf...," cicitnya. "Sudahlah. Lebih baik kita pulangkan gadis ini. Akan bahaya jika dia terlalu lama di markas kita. Bisa-bisa markas kita meledak karena ulahnya." Mendengar hal itu, membuat Malia mencebik kesal. "Dasar tukang pemarah!" **** Malia duduk disebelah Darko yang sedang sibuk mengemudi. Sementara Mike beserta anak buah lainnya duduk di belakang. Sepanjang perjalanan Malia merasa gelisah. Dia takut pernikahannya masih digelar. "Em, Darko. Bisakah kita mengulur waktu sedikit lagi?" "Tidak," saut Darko dengan nada dingin. Hingga membuat Malia berdecak. "Tapi aku-" CIIITTTTT Mobil mereka tiba-tiba berhenti. Hingga membuat Malia dan yang lainnya tersentak. "b*****h! Siapa yang berani menghadang mobilku?!" Darko mengumpat kesal. Mobil mereka telah dihadang oleh sekelompok geng mafia. Ketika salah seorang dari mereka keluar dari mobilnya. Darko segera mendekati mereka. Diikuti oleh Mike beserta anak buahnya. Sementara Malia masih didalam mobil. "Apa yang membuat kalian menghentikan mobil kami? Ingin mencari masalah, huh!!" Mike berucap sinis. Berbeda dengan Darko dengan sikap yang sedikit santai, hingga lawan sulit memprediksi keahliannya. Ketua mafia itu bernama Salvatore. Dia membuka kaca mata hitamnya dan menatap Mike tidak kalah sinis. Bahkan terlihat jelas raut wajahnya yang sengaja mengejek mereka. "Untuk saat ini, aku tidak punya waktu untuk mencari masalah dengan kalian. Hanya saja aku ingin menyampaikan satu peringatan. Tetaplah pada posisi masing-masing. Jangan mencampuri urusanku. Jika kalian berani melawanku, maka akan aku pastikan aku akan membunuh kalian satu persatu layaknya hewan!" Setelah mengatakan hal itu, Salvatore segera pergi. Bersama dengan anak buahnya yang begitu banyak. Sangat berbanding balik dengan Darko yang hanya memiliki anak buah tidak lebih dari sepuluh orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD