Bab 13

1274 Words
Arifa duduk di depan cermin untuk merias wajah cantiknya. Ia tengah bersiap berangkat ke kampus untuk mengajar. Menjadi seorang dosen yang banyak berinteraksi baik dengan mahasiswa yang jumlahnya cukup banyak juga bertemu rekan sejawat membuatnya harus selalu tampil sempurna terlebih ia dosen muda yang banyak dikagumi. Selama merias wajahnya ingatannya kembali tertuju pada pertemuan kemarin dengan Shahnaz dan Roni yang berujung dengan kesepakatan pernikahan dirinya dengan Roni. Ini memang gila, demi perasaan cintanya ia rela mengikuti permainan pasutri itu. Sebenarnya ia ragu melanjutkan pernikahan dengan sahabatnya itu. Khawatir akan berakhir seperti cerita sinetron. Ia tak mau menderita. Sayangnya, Arifa tak memiliki pilihan selain maju. Maju kena mundur kena, jadi ia memutuskan maju saja. Kabar pernikahannya sudah merebak di kampus, namun tak ada yang tahu jika calon suaminya itu telah beristri. Ia bisa kena hujat semua kaum hawa penentang poligami jika mereka tahu siapa Roni Syahputra. Tok Tok Tok Suara Bu Diah membuyarkan lamunan Arifa. "Ifa, udah siap belum?" Terdengar suara ibunya memanggil. Arifa terlalu lama berdandan. "Iya, sebentar Ma, Ifa lagi nyisir rambut dulu." Arifa memperceat kegiatannya. "Cepetan ya, Papa sudah menunggu." Bu Diah tak ingin suaminya terlambat ke kantor hanya karena menunggu anak gadisnya yang selalu lama berdandan. Arifa mempercepat gerakannya. Setelah memastikan make upnya sempurna ia meraih tas kerjanya dan segera turun ke bawah menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Sebenarnya ia tak terlalu lapar namun harus mengisi perutnya agar tak masuk angin dan terhindar dari penyakit lambung. "Kamu ngapain saja, tumben lama banget turunnya?" Pak Cahya merasa aneh. "Dandan biasa saja, kok Pa." Arifa tersenyum. "Papa pikir kamu kenapa-napa. Tolong jaga kesehatan kamu ya! Pernikahan kamu tinggal menghitung hari." Bu Diah mengingatkan. Tentu saja, Arifa tak akan lupa, karena ia mencatatnya di dinding. Usai sarapan, ia pun bersiap pergi bersama ayahnya. Ia tampak anggun dengan blazer warna cokelat muda. Arifa selalu modis setiap saat. *** Sepulang dari kampusnya, Arifa sengaja mampir ke rumah calon mertuanya. "Assalamualaikum." Ia mengucapkan salam. "Waalaikumsalam." Bu Elma mengantikan, usapannya Arifa tak ragu keluar masuk rumah keluarga Roni. Semua penghuni yang lain, mengenalnya. "Kamu apa kabar?" Bu Elma menyambut kedatangan calon menantunya. "Alhamdulillah, Baik Bund. Bunda sudah sehat?" Arifa melihat calon mertuanya itu sangat bersemangat, tak terlihat sedikit pun jika ia belum lama keluar dari rumah sakit. "Alhamdulillah," Bu Elma tersenyum ramah. "Kamu pulang dari kampus?" Bu Elma memperhatikan calon menantunya dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Iya, Bund." Shahnaz mengangguk. "Jangan terlalu cape, sebentar lagi kalian kan akan menikah jadi lebih baik segera minta cuti." Bu Elma memberikan nasihat. Namanya pengantin harus pingitan selain untuk menjaga stamina juga untuk menghindari hal yang tak diinginkan. "Lusa, Ifa baru cuti." Arifa sengaja mengambil cuti panjangnya setelah menikah. Meskipun ia tak yakin akan ada yang namanya bulan madu. "Roni ga pulang ke sini." Arifa menanyakan calon suaminya. Di luar tak terlihat mobil dan motornya. "Dia menginap di rumah Shahnaz." Bu Elma memberikan informasi tentang putranya yang tak lagi tidur di rumah sejak dirinya pulang dari rumah sakit. Bu Elma tak memaksanya. Ia memberikannya waktu bersama Shahnaz. Setelah kehadiran Arifa ia tak akan leluasa bersama istri pertamanya di sana. Rasa sesak memenuhi d**a Arifa. Ia cemburu karena ia memiliki rasa cinta kepada Roni. Belum apa-apa hatinya sudah sakit apa kabar nanti. Ia tak yakin akan baik-baik saja setelah menikah nanti dan berujung perceraian sesuai kesepakatan. "Ifa jahat ya Bund?" Arifa menatap calon ibu mertuanya dengan wajah sedihnya. "Kenapa kamu bilang seperti itu, Sayang? Kamu tidak jahat. Kamu menantu kesayangan Bunda." Bu Elma memeluk Arifa. Gadis cantik yang dipeluknya itu sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri. Sudah sejak laama ia menginginkan perjodohan ini terjadi, sayangnya waktu itu Arifa tinggal di Jerman. "Ifa merusak pernikahan mereka." Gadis cantik bermata bulat itu tampak berkaca-kaca. "Sstt, jangan bilang begitu. Seandainya Shahnaz tidak hamil mungkin meraka tak akan pernah menikah. Bunda dan Mama kamu sudah sejak lama ingin menjodohkan kalian berdua. Maka dari itu tolong ya kamu tenang." Bu Elma menenangkan Arifa. "Bunda jamin Roni akan bertanggung jawab dan tak akan meninggalkan kamu selamanya. Bunda akan selalu melindungi kamu." Bu Elma seolah memberikan garansi. Arifa terdiam. Masa depan dalam bayangannya nampak surat, mengingat perjanjian yang telah ditandatanganinya. Terbesit dipikirannya untuk membocorkan masalah itu, namun ia kembali berpikir jika itu hanya akan membuat hubungan dirinya dengan Roni semakin renggang. "Terima kasih banyak ya Bund, Bunda sudah mau mendukung Ifa. Ifa sayang sama Bunda." Arifa mencium pipi kiri calon ibu mertuanya. "Bunda juga sayang sama Ifa. Maafkan Roni ya yang sudah menyakiti perasaan kamu" Bu Elma tetap menganggap putranya bersalah. "Sudahlah Bund. Bunda tidak perlu meminta maaf segala." Di mata Arifa, Bu Elma sama sekali tak bersalah. semua itu takdir Allah. Ia hanya bisa pasrah atas apa yang menimpa dirinya. *** "Kamu ini gimana sih, Ron. Seharusnya kamu menyempatkan diri untuk pulang ke sini. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan." Bu Elma tampak kesal dengan sikap putranya yang tak memperdulikan semua rencana pernikahannya. "Maaf, Bun kebetulan Roni sedang sibuk. " Pemuda tampan itu memberikan alasannya. "Sibuk mengurus istri kamu yang manja? Dulu waktu bunda hamil kamu, Bunda juga ga manja. Ga pernah merepotkan ayah." Bu Elma memuji dirinya sendiri. Sekuat tenaga Roni memahan amarah di dadanya saat mendengar ucapan ibunya. "Roni harap Bunda tidak terlalu menekan Roni. Roni sudah bersedia menikahi Ifa. Jadi tolong mengerti posisi Roni saat ini dan hargai perasaan Shahnaz yang saat ini tidak baik-baik saja." Roni menatap ibunya penuh permohonan. Ia tak mau kehidupan rumah tangganya. "Sebagai sesama wanita seharusnya Bunda bisa menempatkan diri. Coba bayangkan jika Bunda menjadi Shahnaz. Bagaimana kalau Ayah mau menikah lagi?" Roni ingin melihat reaksi ibunya. Mendengar ucapan Roni tentu saja Bu Elma tersinggung. Putranya itu sungguh berani sekali memberikan tudahan yang menyakitkan. "Pasti Bunda tidak mau, atau jangan-jangan Bunda juga merebut Ayah dari wanita lain." Roni memberikan tuduhannya. Tentu saja sang bunda tak terima. "Kamu ngomong apa sih Ron?" Bu Elma menatap tajam putranya yang berani mengatakan hal yang bukan-bukan. Tak disangka putranya akan bicara tak sopan terhadapnya. Wanita berusia empat puluh enam tahun itu tak merasa telah berbuat curang di masa lalunya. Ia bukan pelakor seperti yang dituduhkan oleh putranya. "Roni hanya ingin melihat reaksi Bunda saja dan ternyata Bunda belum bisa berlaku adil." Roni berkata dengan entengnya. Bu Elma tak ingin memperpanjang percakapan dengan putranya yang semakin ngawur dan kini mencoba jarak dengan ia dan keluarganya ia memilih untuk mencari kesibukan lain "Sebentar ya, Bunda mau nelpon dulu." Bu Elma meraih ponselnya lalu menekan nomor seseorang. Ia berdiri di pojok kamar. Roni sendiri meninggalkan ibunya dan menuju ke kamar miliknya. Ia berjalan gontai. Ruangan kamarnya tetap rapi seperti biasa. Meskipun ia tak pernah membereskannya, Bu Elma atau ARTnya yang selalu menjaga kerapiannya. Kamar ini masih terlihat seperti kamar bujangan. Shahnaz belum pernah menginap di sini. Roni berdoa semoga usahanya berhasil. Harapan terbesarnya adalah, Arifa tak membocorkan apapun terkait kesepakatan mereka bertiga. Pemuda berkulit hitam manis itu lantas menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Ia ingin memejamkan matanya sejenak, agar hilang segala kepenatannya. Sayangnya niatnya tak berjalan mulus karena tiba-tiba nama calon istri keduanya muncul di layar ponsel. "Ada apa Ifa?" Roni terpaksa mengangkatnya. "Kamu bisa ke sini ga?" Arifa mencoba membujuk Roni. "Maaf aku ga bisa, sibuk!" Roni beralasan. Ia tak akan kemana-mana . "Ya sudah, aku saja yang menemui kamu." Arifa ingin berbincang dengan Roni. "Terserah kamu saja." Roni pasrah. Sejak kecil gadis itu selalu saja menggangunya. Roni menghela nafas panjang berharap semuanya akan segera berakhir dan kembali normal. Ia tengah memikirkan rencana pernikahan resminya dengan Shahnaz nanti. Sesuai kesepakatan bersama, sebulan setelah menikah dengan Arifa, Roni akan menikahi Shahnaz secara resmi, membahagiakannya. Memberinya status yang jelas, sah dimata hukum agama dan negara. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD