"Nggak usah ditutupin pakai tangan gitu, Niel. Kamu juga sama-sama punya, kok. Bedanya punya Om
lebih gede."
Om Dave tertawa sembari memakai celana dalam. Terlihat tonjolan itu sudah tertutup, tetapi masih terlihat besar.
Aku cuma nyengir, sudah terbiasa sebenarnya pemandangan seperti ini. Namun, semakin hari rasa risih menjalar. Aku sudah memasuki umur delapan belas tahun. Rasa malu melihat atau memperlihatkan barang pribadi mulai muncul.
"Cepet dong, Om. Kayaknya Daniel udah telat nih!"
"Iya. Ini Om juga mau selesai. Kamu turun aja dulu, Niel. Sarapan nasi goreng, kayaknya Bi Inem udah masak tadi."
"Oke, Om. Daniel turun dulu."
**********
Perkenalkan namaku Daniel Angkasa Putra Sanjaya. Sebenarnya cuma Daniel Angkasa, tetapi nama Putra Sanjaya diambil dari nama Om Dave. Om Dave yang selama ini mengasuhku sejak Papah dan Mamah meninggal. Kebetulan Om Dave adalah saudara jauh dari Papah yang belum menikah dan sudah mapan. Bahkan Om Dave satu-satunya dari keluarga Papah yang mengajukan untuk mengasuhku.
"Bi Inem udah masak nasi goreng ya?" tanyaku kepada wanita paruh baya itu yang sedang mengelap piring.
"Udah, Den. Bibi udah masak nasi goreng dan Ayam goreng kesukaan Aden."
"Wah, mantap. Makasih Bi!"
Aku mengacungkan kedua jempol tangan. Masakan Bi Inem memang terbaik.
"Tuan Besar belum turun, Den?" tanya Bi Inem.
"Belum. Kayaknya masih siap-siap, Bi."
"Bibi bisa minta tolong, Den? Itu sarapan Tuan Besar bawa ke kamar biar nggak telat. Bibi mau siap-siap ke pasar, Den."
"Oke deh."
Aku kembali ke kamar Om Dave dengan membawa sarapan. Baru di depan pintu, suara Om Dave mengerang terdengar jelas. Aku menaruh sarapan di atas meja dan mengintip sedikit dari pintu.
Terlihat Om Dave sedang menaik turunkan benda pada penisnya. Om Dave terlihat merasa kenikmatan. Aku yang belum pernah melihat sebelumnya merasa penasaran. Sedikit kulebarkan pintu, tetapi tiba-tiba pintu itu terbuka karena aku terlalu keras mendorong nya.
Om Dave terlihat terkejut. Aku pun sama terkejutnya. Kami sama-sama diam.
"Punya kamu juga bisa buat mainan, Niel," Ujar Om Dave memecah keheningan.
Om Dave bangkit dan membiarkan penisnya berdiri tegak. Aku merasa deg-degan ketika melihat p***s Om Dave berdiri keras. Om Dave menarik ku dan membuka celanaku. Tangannya memainkan penisku sampai-sampai berdiri tegak.
"Mau coba, Niel?"
Aku terdiam. Om Daniel mengambil benda itu dan memasukkan penisku ke dalamnya. Tangan Om Dave menaik turunkan. Membuat desir darah dalam tubuhku memuncak drastis. Ada geli-geli nikmat yang menjalar.
Perlahan aku menikmati permainan ini, belum sampai puncak. Om Dave melepas benda itu dari penisku.
"Enak kan?"
Aku mengangguk pelan.
"Mau yang lebih enak, Niel? Kamu bisa bantu Om kan?"
"Bantu apa Om?"
"Kamu bisa jilatin p***s Om? Om udah nggak tahan nih. Dari tadi Om pengen keluarin."
Aku yang merasa kasihan menuruti permintaan Om Dave. Aku menjilat p***s Om Dave. Mengulum pelan sampai Om Dave merasa kenikmatan. Erangan kecil dari mulut Om Dave membuatmu semangat untuk melakukan. Baru tiga menit Om Dave menyuruh ku berhenti lantaran penisnya mulai bereaksi.
"Sudah, Niel. Lepasin!"
Aku buru-buru melepas p***s Om Dave dari mulutku.
"Argghh ... Ahh!"
Semprotan cairan putih dari p***s Om Dave meluncur ke lantai. Om Dave terlihat senang dan duduk lagi di ranjang.
"Kamu kok bisa jago ngulum, Niel. Om sampe keenakan."
Aku tertawa, karena aku juga sering melihat video di hp.
Om Dave menarik ku dan mencium bibirku dengan semangat.
"Makasih, Anak baik. Uang jajannya ntar Om tambah."
Bersambung .......