Andine menggeliat dalam tidurnya. Tangannya meraba kesamping dan tak merasakan keberadaan sang suami. Mata yang semula masih berat untuk terbuka, kini terbuka lebar ketika matanya benar-benar tidak menangkap keberadaan suaminya.
Dengan segera Andine bangkit dari tidurannya, dan membungkus tubuh polosnya dengan selimut. Melangkahkan kaki untuk memasuki kamar mandi, bisa saja kan Mario ada didalam. Tapi nihil, ketika Andine tak menemukan Mario didalam kamar mandi. Bahkan ruang walk in closet pun sudah Andine masuki, tapi tetap saja sosok Mario tidak ia temukan.
Andine meraih ponselnya yang terletak diatas nakas, melihat jam yang terpampang jelas dilayar ponselnya. Betapa terkejutnya Andine ketika melihat jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Dan tiba-tiba rasa khawatir menyeruak didalam hatinya. Ia takut Mario kenapa-kenapa, lagipula kemana Mario tenaga malam begini?
Mencoba mendial nomer Mario. Dan segera mengarahkan ponsel tepat ditelinganya, namun hanya suara operator yang terdengar dan itu membuat Andine menekuk wajahnya.
"Dimana Mario? Aku sungguh mengkhawatirkannya, apa mungkin dia sedang dibawah? Aku akan menghampirinya." ucap Andine entah pada siapa.
Sebelum memutuskan keluar kamar untuk mencari Mario, Andine berjanji kearah walk in closet untuk mengenakan pakaian.
*****
Jika di mansion, Andine sedang mengkhawatirkan Mario. Berbeda halnya dengan Mario, saat ini Mario sedang merasakan kenikmatan dunia yang tengah diberikan Sella malam ini, khusus untuknya. Meskipun dalam kondisi hamil, itu tak membuat Sella berhenti melakukan seks. Kegiatan panas itu berlangsung cukup lama, sehingga membuat keduanya lupa akan apa yang terjadi sebelumnya.
Flashback on
Mario menatap layar ponselnya dengan gusar. Pesan yang baru saja dikirimkan Sella membuat pikirannya kemana-mana. Ia sungguh tidak ingin Andine mengetahui apa yang telah terjadi, Andine tidak boleh mengetahui jika Sella sedang hamil anaknya. Darah dagingnya!
Dengan segera Mario berjalan menuju walk in closet, ia mengambil kaos polos berwarna putih dan memakainya dengan cepat. Tak lupa ia menyambar kunci mobil yang berada didekat sana. Sebelum keluar dari kamar, Mario menyempatkan mendekati Andine yang tengah tertidur pulas. Mario mendekat, dan langsung mengecup kening dan bibir Andine dengan cepat, sebelum pergi meninggalkan kamar.
Mario harus segera menyelesaikan masalah Sella.
Mario menuruni anak tangga dengan sedikit berlari, ia membuka pintu mansion dengan sangat pelan dan kembali menutupnya. Tanpa menunda lagi, Mario berjalan menuju mobilnya. Ia masuk dan mengendarainya keluar dari gerbang mansion.
Beruntung penjaga mansion berjaga dua puluh empat jam. Jadi, Mario tak perlu bersusah payah untuk membuka gerbangnya.
Mobil dikendarai dengan kecepatan diatas rata-rata. Karena hari sudah tengah malam, jadi jalanan di negara Prancis ini sepi, tanpa ada satupun kendaraan yang berlalu lalang.
Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, Mario sudah sampai ditempat dimana Sella tinggal. Mario memarkirkan mobilnya sembarangan dan keluar dengan raut wajah tidak enak untuk dipandang.
Ia sedikit berlari demi menuju kediaman Sella. Belum sempat memencet bel, pintu sudah terbuka dan nampak lah Sella dengan balutan lingerie tipis. Sedetik Mario menelan ludahnya susah payah, ia berfikir kenapa Sella memakai pakaian seperti ini? Apa yang akan dilakukan wanita didepannya ini?
"Silahkan masuk Mario." seperti anjing yang patuh pada pemiliknya, Mario mengangguk dan mengikuti Sella masuk.
Setelah pintu tertutup, Sella berjalan didepan Mario. Sepertinya Sella sengaja berjalan berlenggok-lenggok, dan itu sungguh membuat Mario membulatkan mata ketika melihatnya.
"Langsung saja Sella, apa yang kau inginkan." ucap Mario langsung pada intinya.
"Aku meminta kau menikahi ku, aku mengandung anakmu Mario. Jika kau lari dari tanggung jawab ini, maka akan aku pastikan Andine mengetahui semuanya." ancam Sella kepada Mario. Entah kenapa Mario merasa takut akan ancaman Sella.
"Aku akan membiayai hidupmu dan anak yang kau kandung, tapi tidak dengan menikahi mu. Aku tidak bisa!"
Sella yang mendengarnya menggeram kesal. Ia benar-benar membenci Andine sekarang!
"Mario. Aku tahu kau masih mencintaiku, aku yakin kau akan menikahi ku jika saja kau tidak menuruti wasiat orang tua mu. Mario, kenapa kau memikirkan wasiat itu. Ketika kau menjalankan wasiat itu, aku tahu hatimu tidak rela. Pikirkan dirimu sendiri, sebelum kau memikirkan perasaan orang tua mu yang sudah tiada. Kau jangan egois dengan dirimu sendiri, kau tidak mencintai Andine dan kau tidak menginginkan pernikahan itu kan." papar Sella menggebu-gebu. Apa yang baru saja Sella katakan, membuat Mario terdiam. Ada benarnya juga, kenapa ia memikirkan perasaan orang tuanya. Lagipula orang tuannya sudah tiada. Akibat ia menjalankan wasiat itu, ia mengabaikan perasaannya sendiri, dan menekannya dalam-dalam ketika ia menikahi Andine.
'Apa yang dikatakan Sella benar. Aku tidak boleh egois dengan diriku sendiri. Sebelum memikirkan perasaan orang lain, seharusnya aku memikirkan perasaan ku lebih dulu. Baiklah, ini saatnya aku mengutamakan perasaanku, lagipula Andine tidak akan tahu jika aku bermain dibelakangnya. Iya, jika masih bisa bersama dengan orang yang dicintai kenapa tidak? Meskipun harus mengorbankan perasaan Andine, jika Andine mengetahui semuanya. Sudah cukup, aku egois terhadap perasaan ku sendiri.' batin Mario berbicara.
Setelah itu tanpa Sella duga, Mario langsung mencium bibirnya. Ciuman itu semakin panas dan berakhir di ranjang dengan melakukan apa yang sebelumnya pernah mereka lakukan.
Ternyata, apa yang Sella bayangkan, menjadi kenyataan. Ia kembali b******a dengan Mario. Mungkin, Mario akan kembali dengannya meskipun dalam artian kata, selingkuh dengannya.