14. Last Day in France

826 Words
Hari sudah menjelang sore, kini Andine sedang bersiap-siap didalam kamar. Besok pagi, ia akan kembali ke indonesia dan tentunya tanpa Mario. Mungkin suaminya itu akan kembali seminggu lagi atau dua minggu lagi. Mengingat pekerjaan yang menumpuk dan menuntut untuk segera diselesaikan. "Sayang sudah selesai semua?" tanya Mario yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Ia keluar hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya. "Sebentar lagi selesai." jawab Andine dan kembali berkutik pada kegiatannya, yang sedang berkemas. "Aku akan sangat merindukan mu by, cepat pulang ya." pinta Andine. Ia menutup kopernya dan berjalan mendekati Mario. "Tentu, setelah pekerjaan ku disini selesai aku akan segera pulang sayang." tangan Mario memegang pipi Andine, ia mengelusnya sebentar. "Aku sayang sama kamu Andine." itulah kata yang terucap dari bibir Mario. Mario sendiri tidak tahu, kalimat yang baru saja ia ucapkan itu kalimat tulus atau hanya ucapan semata. "By, sebelum aku kembali ke indonesia, aku mau jalan-jalan sama kamu by. Bisa kan?" Mario mengulas senyum manis, ia mengangguk mengiyakan ajakan sang istri. Ia ingin memberikan kesan baik, sebelum istrinya itu kembali ke indonesia. Sebenarnya, Mario tidak tega membiarkan Andine kembali tanpa ditemani oleh dirinya. Tapi apa boleh buat, ia disini juga memiliki kewajiban yang sangat penting dari pada menemani Andine pulang. Baginya, menemani Sella dan calon buah hatinya itu lebih penting ketimbang kembali ke indonesia besama Andine. "Ya sudah sekarang saja by, aku sudah selesai beres-beres." Andine berdiri dan menarik tangan Mario. Mario pasrah dan ikut berdiri, ia mengikuti langkah Andine dari belakang. Andine berhenti telat didepan mobil milik Mario. "Ke menara eiffel ya by." Mario mengangguk sebagai jawaban. Ia membukakan pintu mobil untuk Andine, dan setelahnya langsung mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi. Mario menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa ia ingin berlama-lama dengan Andine. Tak membutuhkan waktu satu jam. Akhirnya mobil yang dikendarai Mario sampai dikawasan menara eiffel. Sebelumnya Mario sudah memikirkan mobilnya di tempat parkir, dan keluar dari mobil. Ia langsung membukakan pintu untuk Andine. "Terima kasih by." ucap Andine tulus. "Sama-sama." Mereka berdua berjalan bergandengan menuju ke tempat dimana menara eiffle berdiri dengan kokohnya. Mario tidak berniat mengajak Andine untuk naik keatas menara eiffle, lagi pula itu cukup membutuhkan waktu lama untuk mengantri sampai keatas. "Bagaiman jika kita makan dulu, kamu belum makan kan siang tadi." Andine mengiyakan usulan Mario. Mereka berdua akhirnya tiba di restauran yang berada disekitar sini. Mario memesankan Andine makanan begitupun dengan dirinya sendiri. Selagi menunggu pesanannya sampai, Andine mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru restauran. Tapi matanya seketika membola melihat siapa orang yang sedang berjalan ke arahnya. Iya, berjalan ke arahnya. "Sella." gumam Andine begitu lirih, sampai-sampai Mario tidak bisa mendengar nya. Seakan terhipnotis akan kehadiran Sella, Andine sampai tidak menyadari jika Sella sudah berada didepannya tepat. "Hai Andine, kita bertemu lagi." Sontak saja Andine gelagapan, begitupun dengan Mario. "Boleh aku gabung?" belum sempat mendapat persetujuan Andine, Sella langsung mengambil tempat duduk disamping Mario. Kebetulan kursi disana ada empat dan Andine duduk berhadapan dengan Mario. Hati Andine memanas ditambah lagi dengan Sella yang semakin merapatkan duduknya, mendekati Mario. "Hmm Mario apa kabar dengan mu?" tanya Sella berbasa-basi. "Baik, bagaimana dengan mu dan..." Mario tidak melanjutkan ucapannya, ia melirik sekilas kearah perut Sella. "Semua baik-baik saja Mario." Mario mengulas senyumnya, dan tanpa Mario ataupun Sella sadari. Andine memperhatikan semuanya, termasuk saat Mario melirik perut Sella. 'Kenapa aku merasa ada yang tidak beres.' Batin Andine. Ingin sekali Andine menanyakan kenapa Mario menatap perut Sella saat menanyakan kabar, sungguh apakah ada sesuatu yang disembunyikan. Itulah yang sekarang ini Andine pikirkan. "Pelayan." panggil Sella kepada salah satu pelayan lelaki. Sella memesan makanan, tapi ada yang aneh setelahnya. Ketika Sella memesan makanan yang berbau pedas, sontak saja Mario menyuruhnya mengganti pesanannya. Andine mengerutkan keningnya, kenapa semakin lama ia semakin dibuat penasaran, dengan Mario dan Sella. Apa ada hubungan lagi antara Mario dan Sella? "Hmm aku ke toilet sebentar Andine." pamit Mario membuyarkan lamunan Andine. "Iya by." Beberapa menit setelah kepergian Mario, Sella juga pamit pergi. Katanya ingin menelfon seseorang. Sebenarnya Andine sedikit tidak percaya, tapi apa boleh buat. Ia tidak akan ikut campur urusan Sella. ●●●●● Mario bernafas lega ketika ia berhasil buang air kecil. Mario langsung keluar dari dalam kamar mandi, tapi ia dibuat terkejut dengan kedatangan Sella yang tiba-tiba. Wanita itu kembali mendorong Mario untuk masuk kedalam kamar mandi. Beruntung sekali, kamar mandi pria tidak ada orang, jadi tidak akan ada yang curiga jika Sella masuk kedalam nya. "Hey ada apa Sella?" "Tidak apa apa, aku hanya merindukan mu." ucap Sella dengan manjanya. Ia mengalungkan tangannya ke leher Mario. "Kau tahu, aku dan bayi ku ini sangat membutuhkanmu. Cepat suruh istri mu itu untuk pulang, aku sudah tidak sabar Mario." keluh Sella yang membuat Mario tersenyum gemas. "Besok pagi dia akan kembali ke indonesia. Sabar calon mommy." balas Mario. Ia memajukan wajahnya dan mencium bibir Sella. Lama kelamaan ciuman itu semakin menuntut, Sella menikmatinya begitupun dengan Mario. Mereka dalam kenikmatan yang amat sangat menyenangkan, sampai melupakan siapa yang sedang menunggunya diluar sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD