Bab 7 Melamar

1071 Words
Hari itu, untuk pertama kalinya Embun datang ke rumah sang kakek. Dia disambut dengan ramah di sana, bahkan pelukan tak henti-hentinya dia dapat dari seluruh anggota keluarga papinya itu. Melihat rumah itu masih sama seperti enam tahun yang lalu, Embun pun serasa bernostalgia. Dia duduk di meja makan bersama Lydia sang nenek. Bercerita banyak tentang dirinya dan juga Sky sang adik. Hingga Lydia menawarinya buah strawberry dan Embun menggeleng seolah takut dengan buah itu. “Jangan bilang …. “ Lydia menutup mulut, dia menebak bahwa sang cucu memiliki intoleran makanan seperti Rea. “Tapi kata dokter reaksi alergi buah strawberry yang terjadi padaku hanya akan muncul, saat aku dalam kondisi lelah saja Nek,” ucap Embun. “Tapi untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, aku memilih untuk tidak memakan saja buah itu, aku menghindarinya,” imbuhnya dengan senyuman lebar. “Kenapa harus menurun padamu?” Ucapan sang nenek cukup membuat Embun tersentak, tanpa bertanya dia sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa tandanya Bening tidak memiliki masalah dengan buah berawarna merah dengan biji diluar itu seperti dirinya. “Oh … ya, apa kamu sudah bertemu dengan mamamu? mama Rea?” Embun menggeleng, dia memilih memasukkan potongan buah apel ke dalam mulutnya dan mengomentari rasanya ketimbang menjawab pertanyaan sang nenek. _ _ Malam itu, Embun dipaksa menginap di rumah sang kakek. Untuk melegakan hati orangtua dari papi dan maminya dia pun mengiyakan. Semua orang sepertinya sudah terlelap, tapi tidak dengannya. Embun masih bergelut dengan beberapa data yang harus dia periksa, dan sebuah ulasan buruk tentang hotelnya dari pria berinsial ARP. Embun tersenyum saat ulasan itu berisi tentang kekesalan orang berinisial ARP itu saat menyewa salah satu tempat di B hotel untuk berpesta. Ia yakin ARP adalah singkatan dari Aksara Rain Prawira. Dengan akun managemen hotel, Embun pun mengungkapkan rasa penyesalan dan meminta maaf, ia juga menjelaskan bahwa waktu yang disepakati untuk memakai tempat itu sudah habis, sehingga hotel memilih mengambil tindakan tegas. Usai membalas ulasan dari orang yang dia yakini adalah Rain. Embun mencoba membuka website perusahaan tempat Rain menjabat sebagai direktur di sana. Kening Embun seketika membentuk guratan tipis melihat lowongan pekerjaan yang terpampang di halaman depan yang baru saja diunggah. Matanya membaca setiap tulisan di sana dan lama-kelamaan bibirnya membentuk lengkungan indah. “Sekretaris? Direktur pemasaran? Sekretaris Rain?” ucapnya dengan senyum yang semakin merekah. Entah apa yang ada dalam pikiran Embun sekarang, dia mulai membuat satu folder penyimpanan dan mulai mengumpulkan daftar riwayat hidup dan semua persyaratan yang tertera pada informasi lowongan pekerjaan itu. “Rain, aku tidak peduli hujan badai, angin ribut, halilintar. Aku akan berusaha kembali dekat denganmu, aku akan kembali mengejarmu, setidaknya aku ingin memberitahu perasaanku, bahwa aku dulu terpaksa meninggalkanmu. Entah bagaimana perasaanmu padaku, yang pasti aku ingin bisa kembali menjalin hubungan yang baik denganmu,” Embun bermonolog sembari menulis surat lamaran pekerjaan. Malam itu dia lembur untuk memenuhi semua persyaratan agar bisa melamar menjadi sekretaris Rain. 💦💦💦 “Total ada tiga ratus pelamar yang ingin menjadi sekretaris Anda, dan kami sudah memilah dari CV sehingga tersisa seratusan pelamar. Kami akan mengadakan tes tertulis sebelum tes wawancara,” ucap Beni memberi penjelasan pada Rain Pagi itu. “Untuk tes tertulis bisakah aku meminta sesuatu.” “Katakan saja Pak!” “Eliminasi semua yang mendapat nilai di bawah sembilan puluh,” ujar Rain dengan tegas. “Aku ingin sekretaris yang pintar.” Beni mengangguk paham, dia memberikan tablet berisi biodata seratusan pelamar yang masuk, siapa tahu Rain ingin melihat-lihatnya dulu. “Bawa saja! aku tidak ingin terlibat dalam pemilihan ini agar sifatnya tetap obyektif.” _ _ Embun yang sedang bekerja di B hotel terlihat menatap pesan yang ada di layar laptopnya. Ia memijat kening mendapat pemberitahuan bahwa dia lolos seleksi berkas dan wajib mengikuti tes tertulis untuk bisa sampai di tahap selanjutnya. Menyandarkan punggung di kursi empuknya, Embun berpikir bagaimana caranya membagi waktu jika sampai dia diterima menjadi sekretaris Rain. “Tidak! aku tidak boleh mundur, ini satu-satunya cara dekat dengan Rain, setidaknya aku bisa mengundurkan diri setelah mendapat maaf darinya. Aku akan mengakhiri perasaanku saat Rain berkata bahwa dia sudah memaafkanku,” gumam Embun. Tangannya lantas menari lincah untuk membalas pesan itu. Kini dia hanya menunggu waktu tes dan berharap bisa lolos sampai ke tahap wawancara. 💦💦💦 Bening memotong daging steak di piringnya dengan sesekali menatap ke arah pria di depannya. Siang itu, dia dan Rain bertemu untuk membicarakan rencana perjodohan mereka. “Apa makanannya enak?” tanya Bening mencoba membuka perbincangan. “Hem.” Sepert malas-malasan Rain menjawab, membuat Bening menunduk dan lama-kelamaan melepaskan alat makannya. “Rain, apa kamu sadar bahwa gadis yang menemuimu di rooftop B hotel di pestamu adalah Embun?” tanya Bening yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya. “Kenapa?” Bening memalingkan muka, selama enam tahun ini meski bersikap biasa tapi sikap Rain cenderung dingin kepadanya. “Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu?” “Biasa saja,” jawab Rain. Ia letakkan garpu dan pisau kemudian menyambar serbet untuk membersihkan bekas saus di bibirnya. “Rain kamu tahu ‘kan untuk apa orang tua kita meminta kita makan siang bersama?” Bening mencoba memastikan, dia tidak ingin gede rasa dan berakhir kecewa seperti dulu. “Tahu, mereka ingin menjodohkan kita.” “Lalu bagaimana pendapatmu? Apa kamu akan menerimanya? Bagiku pernikahan …. “ Kalimat Bening menggantung karena Rain sudah menatapnya dengan sorot mata tajam, dia bahkan sampai berhenti bernapas untuk sesaat karena tatapan dingin cinta pertamanya itu. “Aku masih belum memutuskan, tapi jika kamu merasa bisa menemukan pria yang jauh lebih baik dariku maka tolak saja permintaan mamamu.” Rain berdiri dari kursi dan meninggalkan makan siang itu begitu saja. Sementara itu, saat masih mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bening dikagetkan karena Rain tanpa menoleh berbicara kembali. “Untuk ke depannya, jangan pernah membicarakan dia di depanku, dan katakan kita masih sama-sama memikirkan dan belum mengambil keputusan jika nanti mamamu bertanya soal pertemuan ini.” Bening berdiri, dia menolehkan badan dan berbicara meskipun Rain memunggunginya. “Apa kamu akan terus bersikap dingin seperti ini ke semua orang? Rain, aku tahu kamu membenciku karena aku lah penyebab Embun pergi, tapi apa kamu tahu bagaimana usahaku agar bisa menghubunginya lagi. Bagaimana menyesalnya aku sudah menyakiti hatinya? Apa kamu pikir hanya kamu saja yang menderita selama ini?” cecar Bening dengan ekspresi pilu. “Semua itu seharusnya kamu katakan padanya bukan padaku, lagi pula kamu juga sudah tahu kalau dia berada di Indonesia, tidak sulit bagimu untuk menemuinya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD