"Aku ke kantin kampus saja untuk sarapan. Aku butuh udara segar. Aku berangkat lebih dulu, Rena."
"Baiklah, hati-hati di jalan. Aku akan menyusul dalam satu jam." Rena menggeser secangkir teh itu sedikit ke samping meja. Ia mengambil sebuah kotak pil plastik putih, memastikan Zane tidak melihat isinya. Sebuah suplemen harian, mungkin?
"Oh, ya!" Rena memanggil, tepat ketika tangan Zane menyentuh kenop pintu.
Zane menoleh.
Rena bersandar sedikit ke depan.
"Setelah mimpi buruk yang mengerikan itu, aku harap malam ini kamu bisa tidur nyenyak, Zane."
Zane sampai membatu sejenak. Ia hanya menatap Rena, membiarkan kebimbangan itu menguasai dirinya.
"Aku pergi, Rena," katanya datar, tanpa membalas tatapan tulus Rena. Ia menutup dirinya di balik pintu kayu itu setelah memutar kenop pintu.
Dia duduk di kursi besi dingin yang baru menyentuh embun pagi dan berjalan ke taman belakang asrama tanpa tujuan. Dia melihat matahari terbit perlahan. Siklus itu mungkin akan berulang malam nanti.
Zane menenangkan kepala, benar-benar ingin berhenti memikirkan hal ini. Ia membutuhkan sesuatu yang dapat ia rasakan, cium, dan kecap. Setidaknya cukup untuk menghapus bayangan itu.
Saat tiba di kantin, dia berdiri sebentar sebelum bergerak menuju keramaian.
Rasanya seperti berada di surga kecil bagi para foodie. Terletak di jantung kota, universitas ini menawarkan kursus kuliner otentik Thailand, dan para juru masaknya merupakan yang terbaik di antara yang terbaik. Aroma serai, lengkuas, dan daun jeruk purut tercium di segala penjuru.
Zane berdiri di ambang pintu. Bukan hanya satu atau dua warung, tapi ada lebih banyak kios yang ada di sana, malah hampir tampak seperti pasar daripada kantin universitas. Ia mendekati kios pertama. Sebuah papan besar bertuliskan "The Golden Noodle: Khao Soi Khun Mae" menarik perhatiannya. Khao Soi, mie kari khas Thailand.
"Satu mangkuk Khao Soi, yang paling pedas," pesan Zane.
Nenek penjual itu tersenyum, matanya menyipit. "Kamu dari luar? Biasanya anak-anak muda takut pedas."
"Cuma mau mencoba, Nek."
Zane memperhatikan cara penyajian itu untuk pertama kali. Mie telur yang direbus tenggelam dalam kuah kari kaya santan, dihias dengan segenggam mie goreng renyah. Tercium tajam aroma dari kunyit, cabai, dan rasa asam dari acar sawi.
Zane menyeruput kuahnya. Pedasnya membakar, tapi bukan rasa sakit. Seperti kejutan listrik yang membersihkan otaknya. Dia fokus pada tekstur mie yang lembut berpadu dengan mie yang renyah. Setiap suapan adalah penangkal racun bagi ketakutan.
Setelah api Khao Soi padam, rasanya menjadi lebih manis dan perlu diseimbangkan. Sasaran berikutnya sebuah kios makanan penutup yang unik di sudut kantin. Makanan penutup sederhana yang dikenal sebagai Khao Niao Mamuang, juga dikenal sebagai Makanan Penutup Berlapis Manggis.
"Satu porsi, dengan banyak santan kelapa," katanya.
Irisan mangga matang yang ranum diletakkan di atas nasi ketan yang dikukus dengan santan manis. Zane merasakan aroma manis-asin saat santan kental ditambahkan. Untuk meredakan rasa panas sebelumnya, rasa dingin dari mangga, nasi ketan yang lembut, dan santan yang lembut memang sangat cocok.
Kantin mulai penuh. Zane berjalan menuju toko salad pepaya yang paling banyak dilewati setelah menyantap menu tadi.
"Satu Som Tum, tanpa kepiting, dengan dua potong udang kering, dan gai."
Menggabungkan semua bahan dalam lesung batu cukup menarik. Tumbukan bawang putih, kacang panjang, pepaya mentah, dan cabai membuat musik yang berbeda.
Ia menggigit saus manis-pedas pada ayam panggang, lalu menyeruput kuah Som Tum yang baru. Untuk sementara, mimpi buruk yang mengerikan itu hilang dari pikiran.
Ia melihat arlojinya. Hampir satu jam berlalu. Rena mungkin sebentar lagi datang.
Apa yang harus kucoba berikutnya? Zane berpikir sambil melirik kios sup mie yang mengepul. Mungkin Tom Yum Goong.
Dua hari berlalu. Kemudian empat hari. Pola yang Zane alami berputar-putar, terulang tanpa bisa dia kendalikan.
Ia selalu terbangun sekitar pukul 03.40 pagi. Selalu dengan sensasi lembap, dingin, dan bau aneh yang bercampur antara aroma parfum musk yang terlalu manis dan sesuatu yang tidak pernah dia hirup sebelumnya. Dia menganggap ini sebagai serangan diam-diam yang berhasil membawanya kembali ke bus sekolah itu, meskipun tidak ada bukti yang bisa dia temukan.
Malam berikutnya, ia yakin sekali melihat bekas jari yang kabur di kulit lengannya. Malam berikutnya lagi, ia merasa ada bekas goresan kecil di bagian dalam pahanya.
Setiap kali ia terbangun, keadaan Rena selalu sama. Deeply asleep. Tidak bergerak. Terbungkus rapi di dalam selimut di sisi batasnya. Bahkan nafas Rena pun tampak diatur. Dan setiap pagi, Rena akan bangun sedikit sebelum Zane, tampak segar, fokus, dan siap kuliah.
Zaine menyadari bahwa dia tidak dapat bergantung pada Ibu Kos, yang memiliki keluhannya . Ia menyadari bahwa ia tidak dapat membuktikan apa-apa, apalagi menuduh Rena . Garis hitam tebal itu sepertinya sudah dianggap sebagai lelucon. Saat Zane tertidur lelap, Rena mungkin melompatinya atau melakukan apa pun yang dia mau.
Dia mencoba menghilangkan segala sesuatu yang dapat mempengaruhi pikirannya karena tidak sanggup melakukan apa pun untuk membuktikan bahwa dia benar. Zane menyusun semua perlengkapan tempat tidurnya, termasuk sarung bantal, sprei, dan sarung guling, ke dalam satu tempat. Karena kainnya basah, perutnya menjadi mual.
Dia keluar dari kamar dan pergi ke ruang cuci bersama di lantai bawah, di mana dia memasukkan semua kain kotor ke dalam mesin cuci. Setidaknya harus menunggu minimal satu jam. Ia harus menunggu dengan mata yang bengkak, kepala yang berdebar-debar, atau suara pintu yang tiba-tiba terbuka serta mesin cuci yang mendesis.
Kemudian, ia akan kembali sebelum pukul 05.00, sebelum Rena biasanya bangun. Seprai basah harus diganti dengan yang bersih dari laci pribadinya, atau ia akan menjemurnya seadanya di teras luar.
Ia mulai membeli seprai baru karena ia merasa tidak aman menggunakan seprai yang telah disentuh, atau dia yakin telah disentuh Rena. Cukup membuat boncos pengeluarannya.
Mau tidak mau dia juga harus menanggung konsekuensi dari kejadian ini. Di kampus, Zane mulai terlalu lelah untuk menyerap informasi, terlalu waspada untuk bersosialisasi, dan terlalu terkuras untuk fokus pada apa pun yang tidak melibatkan pertahanan dirinya. Terlihat lingkaran hitam di matanya yang sudah lama tidak merasakan tidur yang berkualitas. Untuk bisa berkonsentrasi saja rasanya hampir mustahil.
"Kamu terlihat seperti kehabisan energi," ujar Prae, teman sekelasnya, suatu siang saat mereka makan di kantin.
Zane mengaduk nasi dengan sendok, tidak benar-benar merasa lapar. "Ya, aku kurang tidur."
"Kamu harus jaga kesehatan. Di sini banyak tes dadakan," kata Prae, kemudian kembali fokus pada makanan pedasnya.
Dr. Arun, profesor studi Budaya Asia Tenggara, lebih terus terang. Ia menahan Zane di pintu setelah kelas.
"Zane," panggil Dr. Arun. "Kamu salah memasukkan format di Tugas III."
Zane menggenggam tali tas punggungnya erat-erat. Jari-jarinya terasa mati rasa karena cengkeraman yang kuat.
"Maaf. Saya sedang mencoba mengatur jadwal tidur." Zane beralasan. Dia tidak akan pernah berani mengakui bahwa mentalnya telah habis hanya karena berprasangka buruk pada teman sekamarnya.
"Jangan jadikan itu sebagai kambing hitam. Atau kamu tidak akan mampu menoleransi tuntutan akademis yang keras di sini." Dr. Arun menghela napas. "Lihat dirimu. Kurus sekali. Jangan ragu pergi ke dokter."
Rasa malu membanjiri Zane. Ia merasa kotor, lemah, dan tidak becus. Dia mulai merindukan Indonesia, bukan karena keramaiannya, tetapi karena ada Rendi serta kamarnya yang aman. Rasanya dia ingin sekali mengurung diri di kamar lagi, tidak melihat dunia luar. Sepertinya pilihan itu tidak selalu buruk.
Rena tentu saja menyadari kondisi Zane. Dia memperhatikan kebiasaan Zane akhir-akhir ini. Namun, alih-alih curiga pada aktivitas Zane yang mencuci seprai setiap pagi, Rena justru mengaitkannya pada depresi, persis seperti Dr. Arun.
Rena memanfaatkan itu untuk semakin peduli pada Zane. Dia tidak berharap Zane akan luluh dan mulai berubah pikiran terhadapnya. Dia hanya bersikap layaknya teman yang dia kira tidak ada salahnya. Itu normal.
Suatu malam, saat Rena baru kembali dari sesi kelas, ia melihat Zane duduk kaku di ranjangnya, memandangi langit-langit seolah mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi padanya semalam.
"Kamu harus makan ini," kata Rena, meletakkan semangkuk sup yang mengepul di meja Zane, tepat di samping garis hitam. Rena tidak melanggar batas, tetapi jarak itu terlalu dekat untuk Zane.
"Aku sudah makan," ucap Zane yang tentu saja bohong.
"Aku tahu kamu berbohong. Kamu tampak lesu. Jangan sampai sakit. Jika kamu sakit, siapa yang akan menjagamu?" Rena bersandar sedikit ke kusen pintu.
Jika aku sakit, kamulah yang akan menjadi alasan di balik sakit itu.
"Aku baik-baik saja," jawab Zane, menahan dirinya untuk tidak membentak. "Aku hanya… butuh waktu sendirian."
"Tentu. Kamu tahu aku menghormati garis batasmu," Rena tersenyum, melirik ke garis lakban hitam. "Tetapi garis ini juga bisa menjadi penjara, lho. Jangan mengurung diri. Aku ada di sini. Kita teman sekamar. Jangan terlalu menjaga jarak."
"Aku akan mengurus diriku sendiri," kata Zane, mendorong sup itu sedikit menjauh. Bau kaldu hangat itu membuat perutnya bergejolak, antara rasa lapar atau justru karena merasa mual.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksa." Rena mengalah. Ia mundur sedikit, menuju ranjangnya. Ia kemudian membuka kotak plastik kecil di nakas, mengambil pil kecil putih. Zane melihatnya. Bukan lagi kapsul besar, tetapi pil yang jauh lebih kecil, diletakkan bersamaan dengan tiga tablet vitamin.
"Kamu minum obat apa?" tanya Zane refleks.
Rena menutup kotak itu dengan santai. "Oh, ini? Hanya suplemen zat besi. Maew menyarankan agar aku rutin meminumnya agar tetap kuat, karena aku sering sekali menghabiskan energiku di kampus." Rena menelan pil itu dengan segelas air mineral. "Kamu juga harus mulai minum vitamin, Zane. Wajahmu pucat."