27

1407 Words
Di kafe, Daffa yang mulai disibukkan dengan laporan-laporan bulanan kini tampak semakin pusing dan tak dapat konsentrasi. Padahal sudah berbagai macam cara dia lakukan agar bisa fokus. Tapi, hasilnya sama. Matanya ke laptop tapi hati dan pikirannya ke tempat lain. Apalagi kalau bukan karena Jasmine. Semenjak Daffa mengetahui jika Jasmine tak lagi bekerja di kafenya melainkan bekerja di tempat Roy. Hati Daffa semakin kacau dan tak bisa berpikir dengan tenang. Semua tertuju pada gadis manis itu. Daffa mengusap wajahnya kasar dan menyugar rambutnya hingga tertarik semua ke belakang. Menghempaskan tubuh kekar itu kasar ke sandaran kursi miliknya. Menengadah dengan mata yang tertutup. Berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Hingga beberapa menit berlalu Daffa masih bertahan dalam posisinya. Berpikir cara apa yang harus dia lakukan untuk bisa bertemu lagi dengan Jasmine dan mengutarakan isi hatinya. Tak lama kemudian, Daffa membuka matanya dan membenarkan posisi duduknya. "Seperti gue tahu apa yang harus gue lakukan." gumam Daffa tersenyum senang. Menatap jam di tangannya. Pukul tujuh lebih dua puluh menit. Masih ada waktu untuk bicara dengan Roy. Merogoh ponselnya dari dalam saku celana dan mulai mengotak-atik layar tipis itu. Beberapa detik kemudian Daffa menempelkan ponselnya ke telinga. Menunggu beberapa saat hingga panggilan tersebut tersambung. Namun, tak kunjung di angkat oleh Roy. Entah sengaja tak mau mengangkat atau karena masih sibuk. Memang jam segini adalah waktu paling sibuk bagi seorang pembisnis seperti Roy. Satu kali, Dua kali, Tiga kali, Masih sama, panggilan itu tak kunjung mendapat jawaban. Daffa hampir menyerah dan memutuskan untuk kembali menyimpan ponselnya. Namun, tepat saat dia hendak meletakkan ponsel itu di atas meja, ponsel itu berdering. tertera nama 'ROY' disana. Ya, Roy menghubunginya. Dan tanpa menunggu lagi, Daffa segera mengangkatnya. “Halo.” Ucap Daffa setelah ponsel itu berada di samping telinganya. “Halo, ada apa?” jawab Roy di sebrang sana. “Loe sibuk?” tanya Daffa. Takut jika dia mengusik hari Roy, meskipun mereka teman baik tapi Daffa memilih menjaga jarak aman dengan Roy. Bagaimana pun juga, Roy bukan orang sembarangan yang mudah membaur dengan siapa saja. “Hmm..” jawab Roy. Daffa tahu maksud jawaban itu. Tiada hari tanpa sibuk buat Roy. Daffa menghela nafas, berpikir jika kemungkinan besar harapannya untuk kembali mendekati Jasmine akan sulit. “Oh.. Sorry, lain waktu aja kalau begitu.” Ucap Daffa. “Bicara aja.” Sahut Roy. “Hmm... gini, gue Cuma mau minta izin dari loe buat nyuruh Jasmine kembali kerja di kafe seminggu sebelum pembukaan kafe baru dua minggu lagi. Ya, bagaimana pun juga Jasmine karyawan terbaik gue dan dia yang paling tahu tentang kafe gue.” Ucap Daffa mengungkapkan isi hatinya. Hingga beberapa menit kemudian, tak ada sahutam dari Roy. Tak ada suara apa pun yang terdengar dari balik telepon itu. Hingga beberapa kali Daffa mengecek ponselnya. Apa batreinya habis atau sambungannya memang di putus oleh Roy. Namun, dia salah. Sambungan itu masih terhubung dengan di tandai menitan di layar ponselnya masih bergerak dan semakin bertambah. “Ok, terserah loe kalau memang benar-benar membutuhkan gadis itu untuk membantu loe dalam urusan kafe.” Jawab Roy kemudian. Daffa terkejut mendengar jawaban Roy. Tak menyangka jika Roy akan mengizinkan Jasmine kembali ke kafenya seminggu sebelum pembukaan kafe. Daffa tampak tersenyum senang mendengar jawaban Roy. Sungguh, jalannya untuk kembali mendekati Jasmine kini sudah kembali terang. Daffa bertekad, tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia harus segera mengatur strategi untuk mendekati Jasmine dan mengutarakan perasaannya sebelum di dahului oleh Roy. “Ehem..” Terdengar suara deheman dari ponselnya membuat Daffa tersadar jika sambungan teleponnya masih terhubung dengan Roy. “Hmm... baik Roy. Terima kasih ya.” Ucap Daffa. “Hmm.” Jawab Roy. Tutt.... Sambungan itu akhirnya terputus. Membuat Daffa lega dan kembali mengingat tentang kesempatan yang di berikan oleh Roy kepadanya untuk kembali mendekati Jasmine. Senyum manis penuh kebahagiaan tampak terukir indah di bibir pria tampan itu. Kembali menatap ke layar laptopnya, kini konsentrasinya mulai terkumpul setelah mendapat kabar baik itu. Tangannya pun lincah menari-nari di atas keyboard hitam itu. Wajahnya pun tampak segar tak seperti tadi yang lecek tak bersemangat sama sekali. Sementara itu, Jerry yang baru saja kembali mengantarkan pesanan pengunjung, tampak menekuk wajahnya. Berjalan melewati meja kasir tanpa menyapa seseorang yang memang bertugas di sana. Membuat orang itu heran. “Jer?!” panggil Reva menghe tikan langkah Jerry yang hendak kembali ke belakang. Jerry menoleh, kemudian tersenyum tipis yang tampak di paksakan. Menghela nafas berat lalu melangkah mendekat ke arah Vera yang makin memperdalam kerutan di keningnya. “Yah..” jawab Jerry saat mereka berdua sudah berhadapan. “Loe kenapa sih? Dari tadi muka loe lecek banget. Di putusin pacar? Atau gebetan loe di tikung?” tanya Vera mengungkapkan unek-uneknya. “Huufftt... enggak kok. Gue masih jomblo dan gebetan gue masih sendiri nggak ada yang nikung.” Jawab Jerry sedikit merubah raut wajahnya. “Teruus? Kenapa?” tanya Vera. Jerry kembali menghela nafas, “Jasmine.” Jawab Jerry. “Jasmine kenapa?!” sahut Vera panik. “Dia sakit? Dia nggak papa ‘kan?” tanya Vera beruntun dengan wajah paniknya. “Jasmine udah nggak kerja lagi di sini.” Jawab Jerry membuat kedua mata Vero membola. “Maksud loe? Bukannya dia izin beberapa hari karena harus nemenin ibunya di rumah sakit?” sahut Vera. “Awalnya gitu. Tapi, tadi pagi pas gue telpon buat ngajak berangkat bareng. Dia bilang kalau dia udah nggak kerja di kafe ini lagi.” Jawab Jerry kembali sedih. “Hahh...!!” pekik Vera. “Hmmm...” balas Jerry lesu. “Jadi, kita nggak bisa ketemu lagi dong sama Jasmine. Pasti bakal kangen banget sama dia.” Ucap Vera ikutan sedih. “Entahlah,” sahut Jerry. Tanpa mereka sadari, semua obrolan sedih mereka justru membuat seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat mereka tampak tersenyum senang. Bagaimana tidak hal inilah yang sedari dulu dia harapkan. Jasmine keluar dari kafe ini untuk selamanya. “Akhirnya, dia pergi juga dari sini.” Batinnya senang. Tiba-tiba, Kring!! Telepon yang berada di meja kasir berbunyi. Membuat Vera dan Jerry sontak menoleh, detik kemudian Vera mengangkat panggilan dari sang bos itu. “Halo, Pak.” Ucap Vera. “Reva, tolong buatkan minuman buat saya dan antar ke ruangan saya.” Ucap Daffa. “Baik, Pak.” Jawab Vera. “Yang dingin ya.” Ucap Daffa lagi. “Siap, Pak.” Jawab Vera. “Ok. Terima kasih.” “Sama-sama, Pak.” Tut.. “Kenapa?” tanya Jerry setelah ganggang telepon itu kembali ke tempatnya. “Pak Daffa minta di buatkan minuman yang dingin.” Jawab Vera. Mendengar itu Jerry terkikik, “Pasti karena ngebut ke pikiran Jasmine yang sudah tidak bekerja di sini.” Sindir Jerry membuar Vera ikut terkikik. “Mungkin. Hihi..” balas Vera. “Udah sono bikinin.” Usir Vera mendorong pelan bahu Jerry. “Siap komandan.” Jawab Jerry mengangkat tangannya hormat ke arah Vera yang tambah terkikik melihat tingkah Jerry. Jerry langsung menuju pantri untuk membuatkan minum bosnya. Jus alpukat dengan lelehan sussu coklat di pinggirnya. tiga menit kemudian, jus segar itu pun akhirnya sudah jadi. Jerry menaruh gelas berisi jus pesanan Daffa ke atas nampan dan bersiap untuk mengantarkannya keruangan si bos. "Jerry!" panggil Tia dari arah belakang. Jerry menoleh dengan kening berkerut, entah perasaannya atau memang benara adanya. Tia seperti habis dari kamar mandi dan sedikit mengoles make up di wajahnya. Meskipun sangat tipis tapi Jerry masih bisa melihat make up itu dengan jelas. "Mau di antar kemana?" tanya Tia menatap nampan berisi jus di tangan Jerry. "Ke ruangan si bos." jawab Jerry. "Hmm.. biar gue aja yang antar. Loe kan harus standby di depan buat ngontrol anak-anak." sahut Tia. Jerry terdiam, benar juga yang di katakan oleh Tia. Dia yang bertanggung jawab atas kinerja teman-temannya. Dia harus samtay di depan untuk mengawasi dan membantu rekan-rekan yang lain. "Hem.. oke. Loe antar gih." ucap Jerry memberikan nampan tersebut kepada Tia dan langsung di terima oleh gadis cantik itu. "Oke.." jawab Tia. "Gue ke depan dulu." pamit Jerry. "Oke." jawab Tia. Jerry pun berjalan ke depan tepatnya kembali ke tempatnya yaitu dekat meja kasir. Bukan untuk mendekati Vera, tapi memang dia di surih oleh Daffa stay di sana. Karena dari tempat itu semua ruangan di kafe dapat terlihat dengan jelas. Sementara itu, Tia dengan wajah berbinar kini berjalan menuju ruangan sang bos membawa pesanan bos tampannya itu. Ini adalah kesempatan terbaik untuknya buat kembali mendekati Daffa. Dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. "Gue yakin, selagi Jasmine tak ada di sini, gue bisa mendapatkan hati pak Daffa." ucap Tia percaya diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD