36

1517 Words
“Gimana? Apa yang loe dapat soal Roy?” tanya Giana setelah mobil yang mereka kendarai sudah meninggalkan area kafe milik Daffa. Zava menghela nafas sejenak kemudian menatap ke arah Giana, “Gue denger kalau Roy memperkerjakan salah satu karyawan kafe tadi untuk kerja di tempatnya. Karyawan yang menjadi paling berpengaruh. Dan juga di taksir sama pemilik kafe. Namun, karena dia membuat masalah dengan Roy. Makanya Roy meminta Jasmine buat kerja di tempatnya sebagai hukuman.” Jawab Zava. “Jasmine?” tanya Giana. “Iya.. nama karyawan itu, Jasmine.” Jawab Zava. “Trus??” “Gue akan cari tahu siapa Jasmine itu dan apa hubungannya dengan Roy.” Giana terkejut, “Maksud loe?” “Gue bakal nyari info sedetail mungkin tentang hubungan mereka berdua. Biar gue bisa tahu apa yang harus gue lakukan selanjutnya.” Menghela nafas berat, Apa yang di takutkannya kini akan terjadi. Zava yang sudah lama memendam sifat ambisiusnya kini tampak akan mengeluarkan sifat itu lagi. Semua karena rasa cintanya yang terlalu besar untuk Roy. Tanpa mau berkomentar lagi, Giana memilih untuk menatap keluar jendela. Ada rasa khawatir saat mendengar jika Zava ingin mencari tahu tentang gadis yang kini tengah dekat Roy. Dia tahu, siapa pun tak akan pernah lepas dari sosok Roy jika dia mengusik kehidupannya. Apalagi sudah sangat jelas jika Roy sangat membenci ke ambisiusan Zava. * * Di restoran, Roy dan Reno tengah membaca beberapa berkas kerja sama mereka dengan salah satu arsitek termuda dan terbaik di kota ini. Viona Rasti anak dari Yohan Pratama, seorang arsitek dengan hasil design yang sangat memuaskan. Hasilnya benar-benar sangat baik dan sesuai harapan clien. “Bagaimana, Pak?” tanya Vio kepada Roy dan Reno. Reno menatap ke arah Roy yang masih fokus pada berkas di tangannya, “Semuanya bagus dan sesuai dengan harapan.” Ucap Reno di angguki oleh Roy. Vio tersenyum senang, akhirnya kerja kerasnya sepanjang malam kini membuahkan hasil yang sangat memuaskan untuknya dan cliennya. Apalagi cliennya kali ini bukan orang sembarangan tapi orang nomor satu di dunia bisnis. Menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi Vio karena berhasil mendapatkan kepercayaan dari Roy. Yohan, papanya yang dua tahun lalu meninggal. Pernah bilang kalau dia sangat mengagumi sosok Roy dan sangat ingin di beri kepercayaan agar bisa menjalin kerja sama dengannya. Namun, belum sempat terjadi. Papanya sudah duluan pergi. Dan kini dengan bangga dan senang hati Vio mewujudkan cita-cita sang papa yang belum sempat tercapai. “Okey. Saya setuju.” Ucap Roy membuat senyum Vio semakin melebar. “Alhamdulillah...” ucap Vio senang. “Silahkan tanda tangannya, Pak.” Sambung Vio menyodorkan map yang berisi surat perjanjian kerja sama itu untuk di tanda tangani kedua belah pihak. Roy menerimanya dan membubuhkan tanda tangannya di tempat yang sudah di sediakan. Kemudian Reno ikut menandatangani di tempat miliknya sebagai sanksi. Setelah beres gantian Vio yang memberikan tanda tangannya. Setelah semua beres, Vio pamit undur diri karena masih banyak kerjaan yang harus dia kerjakan. “Sekali lagi, terima kasih untuk kepercayaan yang bapak kasihkan ke saya. Dan semoga kerja sama ini sama-sama menguntungkan dan sukses.” Ucap Vio ramah. “Iya.” Jawab Reno dan dibalas anggukan oleh Roy. “Kalau begitu, Saya permisi.” Pamit Vio kemudian beranjak dari duduknya. “Silahkan.” Jawab Reno mempersilahkan Vio untuk pergi. Vio mengangguk kemudian berlalu meninggalkan kedua pria tampan yang menjadi idola bagi semua remaja itu. Tak terkecuali Vio yang memang mempunyai rasa kagum terhadap Roy dan Reno. Pria tampan, dengan bisnis yang sangat maju. Walau terkenal dengan sifat dingin dan tak berperasaannya. Tapi, itu sama sekali tak menyurutkan rasa kagum Vio terhadap keduanya. Vio sadar dengan kasta yang jauh berbeda antara dia dan Roy membuat Vio memutuskan untuk sekedar mengagumi bukan mencintai. Apalagi mengingat jika saat ini statusnya masih pacar seorang pemilik kafe yang tak jauh dari tempatnya mengadakan pertemuan dengan Roy dan asistennya. Dan setelah pertemuannya dengan Roy, Vio akan berkunjung ke kafe milik pacarnya itu untuk memberinya kejutan. “Maaf, Bos. Setelah ini kita langsung kembali ke kantor atau berkunjung ke kantor cabang dekat sini.?” Tanya Reno.. “Berkunjung dulu saja. Nanti sekitar jam dua kita berangkat kr kafe milik Daffa untuk menjemput Jas— ... Emm.. Jasmine.” Sahut Roy yang nampak ragu saat menyebutkan nama Jasmine. “Jasmine?” tanya Reno memastikan pendengarannya. “Iya, Jasmine. Gadis yang membuat masalah di awal pertemuan kita dan gadis yang sudah membuat keributan di kantor waktu itu.” Jawab Roy mengingatkan awal pertemuannya dengan Jasmine. “Dan saat ini, dia bekerja dengan saya karena saya sudah membantu membayarkan semua biaya pengobatan ibunya di rumah sakit.” Imbuh Roy. “Hmm... maaf, Bos. Maksud anda menjemput dia di Kafe pak Daffa. Bagaimana ya?” tanya Reno yang masih belum paham dengan maksud Roy. “Ya... Mulai hari ini, Jasmine akan bekerja kembali di kafe milik Daffa sampai pembukaan kafe barunya terlaksana. Tapi, sesuai perjanjian yang sudah dia dan saya tanda tangani, dia hanya bekerja di sana dua sampai tiga jam saja.” Jawab Roy. Bingung harus memberi respon apa karena ini bukan urusannya lagi. Walau sebenarnya ada tanda besar yang mengusiknya sejak pertama kali Jasmine masuk ke kehidupan Roy dan merubah sikap dingin dan tak peduli Roy kepada sesama. Segera dia membereskan berkas-berkas di atas meja. Setelah itu mempersilahkan sang Bos untuk berjalan terlebih dahulu meninggalkan tempat tersebut. Tujuannya kali ini adalah berkunjung ke salah satu kantor cabang yang terletak tak jauh dari restoran tempat dia mengadakan pertemuan dengan arsitek handal tadi. Sesampainya di tempat tujuan. Roy dan Reno di sambut oleh ketua manajer yang bertanggung jawab atas cabang perusahaan ini. Menunduk hormat dan mempersilahkan Roy untuk masuk dan mengecek kinerja karyawan di bawah tanggung jawabnya. Sebenarnya Roy sudah tahu jika kantor cabang ini lebih banyak kemajuan ketimbang kantor cabang lain. Roy pun jarang mengunjungi tempat ini, palingan satu sampai dua kali dalam setahun. Sedangkan cabang lain, setidaknya dia sendiri datang dua kali dan Reno tiga sampai empat kali. “Ada yang perlu di laporkan?” tanya Roy menatap sekeliling gedung itu. “Iya, Pak. Bulan kemaren kami berhasil bekerja sama dengan perusahaan ‘Pratama Group’ dan mereka menyetujui untuk menanam saham di sini.” Ucap Alex sang ketua manajer. Roy mengangguk, “Bagus... tingkatkan.” Jawab Roy. “Baik, Pak.” Mereka melanjutkan langkah mengelilingi setiap gedung untuk memastikan semua karyawan bekerja dengan baik. Mereka tampak fokus ke pekerjaan masing-masing tanpa peduli dengan kedatangan sang BIG BOS yang memang jarang datang ke tempat ini. Bukannya tak menganggap kedatangan Roy. Namun, sebagian dari mereka memang belum mengenal Roy. Mereka hanya tahu jika sang big bos adalah pria dingin dengan sejuta pesona yang tersembunyi di balik sifat dingin dan acuhnya. Setelah puas berkeliling dan mengamati semua yang bekerja di kantornya. Roy dan Reno memutuskan untuk kembali ke kantor utama karena jam sudah menunjukkan pukul satu lebih dua puluh lima menit. Dia harus segera kembali dan memastikan jika Jasmine pulang tepat waktu. "Ren, mampir ke butik langganan mama saya ya." ucap Roy setelah mobil yang mereka tumpangi berjalan keluar dari halaman kantor cabang miliknya. "Baik, Pak." jawab Reno. Setelah menempuh waktu sekitar lima belas menit, mobil hitam mewah itu telah sampai di salah satu butik ternama yang menjadi langganan sang mama. Tanpa buang waktu Roy segera turun dan masuk ke dalam. Sementara Reno memilih untuk menunggu di dalam mobil. "Kenapa bos masuk ke dalam butik ini?. Hmm... apa mungkin untuk membelikan hadiah untuk nona Zava. Tapi itu nggak mungkin 'kan." gumam Reno yang benar-benar tak tahu apa yang terjadi dengan sang bos. Di dalam sana. Roy di sambut oleh sang pemilik butik, "Loh.. Roy??" sapa Sonya. "Iya, tante." jawab Roy. "Tumben ke sini. sama mama?" tanya Sonya menatap ke belakang Roy namun tak ada orang lain yang ikut dengannya. "Enggak tante. saya sendiri." jawab Roy. "Ooh... ada apa?" "Saya ingin pakaian terbaik yang tante punya. Untuk gadis ini." ucap Roy mempetlihatkan foto Jasmine yang ada di layar ponselnya. Sonya tersenyum dan mengangguk, "Okay. Kebetulan tante ada design terbaru dan terbaik." ymucap Sonya. Roy mengangguk. "Kamu tunggu di sana dulu ya.. tante siapkan bajunya." ucap Sonya. "Baik, Tante." Roy berbalik dan duduk di sofa set yang tak jauh dari tempatnya berdiri. pikirannya sekarang bagaimana di bilang ke Jasmine tentang rencananya kali ini. dan Apa yang akan dia lakukan jika Jasmine menolak, atau malah marah dan tak mau lagi bekerja dengannya. "Gue harus berpikir keras lagi hari ini." gumam Roy memijit pangkal hidungnya. "Wanita adalah makhluk terribet yang sangat pantas di hindari." sambungnya. Namun, bibir dan hati Roy tak pernah bisa bersatu jika menyangkut Jasmine. wanita yang berhasil masuk dan memenuhi ruang di hatinya. Hingga tanpa sadar Roy sudah terlihat bucin bahkan dengan tanpa sadar mulai berkorban demi gadis manis nan imut itu. Roy berniat untuk segera mengutarakan perasaannya terhadap Jasmine. Roy takut jika dia terlambat dan akan menyesal di kemudian hari karena Daffa lebih dulu menembak Jasmine. Roy tak mau itu terjadi walau dia sadar cinta tak pernah bisa di paksakan. Tapi, Roy akan terus berusaha untuk meyakinkan hatinya dan membuat Jasmine percaya jika dia benar-benar sayang kepadanya. Bukan karena ingin mengalahkan Roy atau pun karena ingin memperlihatkan kepada Zava jika dia bisa menemukan wanita yang dia cari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD