13

1355 Words
WARNING: 18+   Ternyata benar bahwa kebanyakan manusia adalah munafik. Apa yang mereka katakan, selalu berbeda dengan apa yang mereka rasakan dan inginkan. Itu adalah apa yang Sue rasakan sekarang. Dia bisa dengan tegas berkata bahawa dia tidak menginginkan lagi berhubungan seks dengan Zac. Namun kenyataannya, ia begitu merindukan Zac. Pria itu pergi tanpa pesan setelah Sue mengatakan hal itu. Padahal Sue tahu itu adalah jadwal libur Zac. Seharusnya Zac di rumah bersamanya. Seharusnya mereka bisa bercinta sepanjang hari. Seharusnya… Kau yang mendorong pria itu pergi! Sue tahu ini memang salahnya. Padahal seharusnya mereka bisa membicarakan itu. Tidak bisa dipungkiri, daya tarik seks mereka berdua sangat kuat. Dan menjalin hubungan yang dibatasi sekedar pada ketertarikan fisik bukanlah hal baru di New York. Seharusnya mereka bisa seperti itu juga. Namun Sue takut. Ia takut jika dirinya akan jatuh cinta lagi pada Zac. Zac adalah cinta pertamanya. Ia tidak ingin merasakan hal itu lagi karena Sue tahu mereka berdua adalah orang dengan hati yang rusak. Akan sulit menjalin hubungan di antara mereka. Zac masih mencintai mantan istrinya dan Sue tidak ingin memiliki satu hubungan serius lagi. Sue mendesah dan memandang kamar besar itu. Kadang, jika ia merindukan Zac, dan juga hubungan seks mereka, Sue akan masuk dan berbaring di kamar Zac lalu memuaskan diri dengan kekasih berbaterainya. Itu memang konyol, tetapi hanya itu yang bisa Sue lakukan untuk menghilangkan dahaganya akan sebuah seks yang panas. Tidak. Ia salah. Bahkan meskipun ia mengalami o*****e berkali-kali dengan kekasih berbaterainya, ia tidak merasa puas karena ia tahu apa yang ia inginkan. Hatinya tahu siapa yang ia inginkan untuk membuatnya puas. Dan sekarang, juga mungkin selamanya, ia hanya bisa membayangkan itu. Sue meraih vibratornya dan mulai memanjakan dirinya sendiri. Ia memejamkan mata, membayangkan bahwa itu adalah Zac yang memanjakan miliknya. Kenyataan bahwa aroma Zac masih tertinggal di kamar ini, membuat Sue tersenyum. Itu membuatnya mudah membayangkan Zac menciumi sekujur tubuhnya dengan jari-jarinya keluar masuk di milik Sue. Percintaannya dengan Zac adalah yang terbaik yang pernah ia rasakan. Percintaan yang pernah ia lakukan dengan David bahkan tidak mendekati separuhnya. David selalu bercinta dengan gaya konvensial dan tenang. Pria itu tidak pernah memanjakannya seperti yang Zac lakukan. Dan Sue pikir dulu itu cukup. Namun semakin ia dewasa, semakin ia tahu bahwa ia membutuhkan lebih dari sekedar gaya man on top. Napas Sue semakin berat dan ia tahu dirinya sudah sangat dekat. Akan tetapi ia masih belum ingin selesai. Ini terlalu cepat. Sudah berapa lama ia menahan ini? Sejak Zac pergi? Ya, tentu saja sudah lebih dari satu minggu sejak Zac pergi dan sudah empat hari berlalu sejak ia memanjakan diri terakhir kalinya setelah kepergian Zac. Ia menginginkan Zac dengan keinginan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sue juga tidak pernah menyangka bahwa ia akan ketagihan seks seperti anak remaja berusia belasan. Namun memang itulah kenyataannya. Zac telah membangkitkan sisi liar dalam dirinya. Sue mendesah dan memainkan vibratornya semakin cepat. Getara kenikmatan menjalari punggungnya dan ia tahu Sue dirinya sudah sangat dekat. Ia ingin berteriak kencang dan memanggil nama pria itu. Ia ingin Zac ada di sini bersamanya. Ia ingin… Gelombang itu datang, bergulung-gulung, dan Sue tidak berpikir lagi. Ia sudah sangat dekat, begitu dekat, hampir dekat, dan …sial, vibratornya tiba-tiba direnggut paksa dan ia membuka mata lalu dihadapkan pada sepasang mata hijau yang begitu ia rindukan. ****           Sudah satu minggu Zac berada di Sault dania tahu jika ia harus pulang. Ia harus mulai bekerja lagi besok dan seragam pilotnya ada di apartemen. Mau tidak mau, ia harus pulang. Jika beruntung, ia bisa pulang diam-diam dan pergi juga secara diam-diam seperti yang biasa ia lakukan. Seperti seorang pengecut.           Dia tahu seharusnya pria tidak seperti itu. Seharusnya ia berani menghadapi Sue dan bersikap seolah tidak ada apa-apa seperti sebelumnya. Namun ia tidak bisa. Bahkan setelah satu minggu berpisah, Zac tahu dirinya begitu mendambakan Sue. Ia sangat ingin memeluk tubuh hangat Sue dan memasuki gadis itu. Ia ingin mengubur dirinya di dalam celah Sue yang sangat sempit.           Sial! Tubuh Zac mengeras dan panas setiap kali ia memikirkan hal itu. Karena itulah, ia berusaha, dengan sekuat tenaga, untuk hanya memikirkan Sue saat malam-malamnya yang sepi di Sault. Walaupun itu juga sangat sulit. Gadis itu pastilah sudah menyihirnya. Begitu sampai di rumah, ia harus membicarakan ini dengan Sue. Mereka harus memiliki kesepakatan tentang seks karena ia tahu Sue pasti juga merasakan hal yang sama dengannya. Ya, itu yang akan ia lakukan begitu ia sampai di rumah. Bicara. Akan tetapi, rencananya itu hancur berantakan ketika Zac mendapati rumahnya sangat sepi. Sue pasti ada di studio dan Zac merasakan kekecewaan memenuhi dadanya. Ia meletakkan koper di lorong dan beranjak ke dapur untuk mengambil minum. Seperti biasa, ia mendapati kulkasnya penuh. Semenjak ada Sue, kulkasnya selalu penuh dengan buah, sayur, dan daging beku. Gadis itu suka sekali makan, tetapi Zac tidak merasa keberatan sama sekali. Itu jauh lebih baik daripada Sue berdiet seperti kebanyakan gadis lain. Gadis itu akan selalu langsing meskipun ia makan berkilo-kilo daging. Zac tersenyum dan berjalan keluar dapur. Ia sangat lelah. Ia ingin mandi dan beristirahat sebelum berangkat besok pagi-pagi. Namun, langkah Zac terhenti saat ia mendengar suara desahan tertahan itu. Itu suara Sue, ia yakin itu. Dengan siapa Sue sedang berhubungan seks? Kemarahan menyeruak ke d**a Zac karena gadis itu bahkan berani mengajak pria lain ke rumahnya saat ia tidak ada. Sialan! Jadi benar bahwa ia tidak berarti apa-apa bagi Sue.           Zac berderap ke kamarnya, berharap ia bisa melupakan desahan itu dan mengeluarkan dari kepalanya. Namun lagi-lagi langkah kakinya terhenti saat ia melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Ia tidak pernah meninggalkan kamarnya dalam keadaan terbuka. Apa Sue masuk ke kamarnya? Apa gadis itu berhubungan seks di kamarnya??           Zac meraih kenop dan bersiap menyemburkan amarahnya saat ia melihat pemandangan erotis itu. Sue sedang berbaring di tengah ranjangnya, kedua kakinya terbuka dengan lutut yang tertekuk dan sedang memanjakan dirinya sendiri dengan sebuah vibrator. Gadis itu mendesah, dan anehnya, Zac berharap Sue akan memanggil namanya.           Sue memanjakan dirinya dengan perlahan, dan itu justru membuat sekujur tubuh Zac mengeras. Seumur hidupnya, ia tidak pernah menyaksikan secara langsung, seorang gadis memanjakan dirinya. Kenapa Sue melakukan itu di kamar Zac? Apa gadis itu juga merindukannya seperti ia merindukan Sue? Apa yang pernah Sue katakan padanya hanyalah sebuah kebohongan?           Sue kembali mendesah dan kini menggerakkan benda itu semakin cepat. Zac tahu apa artinya itu. Sue sudah semakin dekat. Gadis itu akan mencapai klimaksnya dan Zac merasa dirinya tidak rela. Tidak. Sue tidak boleh datang tanpa dirinya. Gadis itu hanya boleh klimaks dengan dirinya ada di dalam tubuh Sue.           Zac masuk ke kamar dan berjalan mendekati Sue. Gadis itu memejamkan matanya. Rambut Sue tersebar di bantal Zac dan itu semakin membuat Zac b*******h. Gadis ini adalah keindahan yang nyata. Sue mendesah semakin tak terkendali dan Zac menunduk. Ia merebut vibrator Sue dan gadis itu membuka matanya dengan cepat. Mereka bertatapan. Dua pasang mata hijau yang saling membutuhkan.           “Zac!” Gadis itu terengah. “Apa aku sedang bermimpi?” Tangan Sue terulur untuk menyentuh rahang Zac.           Zac meraih tangan itu dan mencium telapak tangan Sue dengan lembut. “Kau merindukanku?”           Sue mengangguk. “Aku menginginkanmu hingga sekujur tubuhku terasa sakit.”           Zac tersenyum. “Aku tahu bagian mana yang paling sakit.” Tangan Zac menangkup milik Sue yang sudah sangat basah dan ia menyelipkan satu jarinya. “Ini yang paling sakit kan?”           Sue mengangguk dan Zac memejamkan matanya saat ia memanjakan gadis itu. Sue sudah sangat basah dan siap. Zac tidak tahu akan berapa lama ia bisa bertahan. Sudah satu minggu ia menahannya dan Zac tidak ingin menundanya lebih lama lagi.           “Zac!” Sue berteriak dan mengerang.           Zac membuka matanya. “Ya, sebut namaku, Sayang.” Ia menambahkan satu jari lagi dan gadis itu menggeliat dengan liar.           Zac tahu jika Sue sudah sangat dekat. Ia sendiri sudah merasakan kesakitan itu di pangkal pahanya. Zac menarik tangannya keluar dan ia mendengar erangan protes Sue. Zac terkekeh. Ia melepas celana panjangnya dan membuka laci untuk meraih kondom.           “Sabar sedikit, gadis nakal! Aku harus melepas celanaku jika ingin membuatmu puas.”           Sue menyeringai saat Zac memakai kondomnya. Gadis itu menyapukan jarinya ke perut rata Zac dan Zac bergidik. Ia tidak akan bisa bertahan lama. Ia tahu itu. Zac meraih tubuh Sue dengan lembut dan memasuki gadis itu. Mereka bergerak berirama, mendesah, saling membisikkan nama mereka, dan akhirnya jatuh dalam gairah mereka masing-masing.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD