Malam itu sangat dingin. Tentu saja sangat dingin karena hujan masih turun dengan derasnya di luar. Ditambah suara petir yang bersahutan, membuat Sue sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Mary sudah tertidur dengan nyenyak sejak beberapa jam yang lalu dan sama sekali tidak terusik dengan badai yang menghajar. Sejak tadi, yang bisa Sue lakukan hanyalah berbaring dengan gelisah di kasurnya. Seharusnya gerakan itu cukup untuk membuat Mary terbangun, tetapi nyatanya gadis itu sama sekali tidak terusik. Air mengetuk-ngetuk jendela dan menimbulkan suara yang, menurut Sue, mengerikan. Ketuka itu tampak seperti jari-jari maut yang mengintai. Siap untuk mengambil nyawa siapa saja yang ingin diambilnya. Menyerah untuk mencoba tidur, Sue membuka selimut dan bangkit dari ranjang. Suasana ruma

