Setelah pulang dari pasar, Bu Tatang menyempatkan diri pergi ke wartel untuk menghubungi anak-anaknya. Dengan diantar motor Pak Tatang, Bu Tatang tiba di wartel. “Biasa, Mak?” tanya penjaga wartel. Ia sudah kenal Bu Tatang, karena memang sudah beberapa kali datang ke wartelnya. “Iya, Mang,” “Langsung saja, Mak. Kosong kok!” Bu Tatang pun langsung masuk ke dalam bilik, sedangkan Pak Tatang menunggu di depan sambil duduk di sebuah sofa yang disediakan pemilik wartel. Tak lama setelah nomor di tekan, sambungan terhubung. Seseorang mengangkat telefon dari ujung sana. “Mba Ipah, ini Emak, pada di rumah?” sapa Bu Tatang sudah sangat akrab dengan pembantunya Imam. “Eh, Emak, ada Mak. Mau langsung Ipah panggilkan?” “Boleh, Mba, kalau tidak merepotkan.” “Tidak repot, Mak. Sebentar ya…”

