Pagi-pagi sekali anak-anak sudah bangun, mungkin masih terbawa hawa Ramadhan, bangu subuh untuk makan sahur. Prita sudah asyik dengan boneka barunya, sedangkan Prihatini sudah duduk di depan TV. TV baru yang dibeli saat THR Pak Sumitro cair. “Mak, boleh pinjam sisir?” tiba-tiba terasa ada seseorang yang menggoyang-goyangkan tepi tunik. “Buat apa, Neng?” Bu Aan menoleh ke bawah, ternyata Prita. “Buat ini...” Prita menunjukkan boneka Barbienya. “Oh, tunggu sebentar ya, Emak cari dulu,” kemudian Bu Aan pergi menuju lemari di kamar, ternyata sisir ketika Si Kembar masih bayi masih disimpan. “Ini...” Bu Aan menyerahkan sisirnya pada Prita, ia terlihat sangat senang. Prita berjalan menuju teras rumah, dan duduk di atas sebuah kursi rotan, ia anteng merapikan rambut Sang Barbie. Melihat itu

