Sebuah Paket

1189 Words

“Mau sampai kapan, Mah, kucing-kucingan dengan Ceu Sum seperti ini?” ucap Kang Yayat pada istrinya siang itu. Teh Tari seperti maling tertangkap tangan, hanya mampu menunduk di pojok kursi ruang tamu. Entah ia menyesal, atau memikirkan hal lainnya. “Memang Mamah gak capek, gak bisa ke sana kemari hanya takut mendengar cibiran orang, atau udah gak mau lagi belanja di pasar karena takut bertemu Ceu Sum?” sambungnya lagi. “Tuh lihat toko udah hampir ramatan (ditumbuhi sarang laba-laba), gara-gara tutup terus,” “Iya, Pah, tapi Mamah gak salah!” tiba-tiba terdengar suara Teh Tari yang lirih. “Gak salah gimana? Kalau merasa gak salah, datang dan temui Ceu Sum dan Ibunya, bukan malah menghindar-menghindar seperti ini!” Kang Yayat sudah bingung harus menasihati apa lagi. “Datang dan minta ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD