“Iya, Mas. Aku juga sampai kaget tidak percaya, Mas,” “Teh Tari ngapain ikut-ikutan antri sembako? Hidupnya berkecukupan begitu?” sambung Pak Sumitro. “Justru itu, Mas. Omong-omong aku perlu ikut ajakan Teh Tari tidak, Mas?” “Nggak!!!” jawab Pak Sumitro tanpa pikir panjang. “Ngapain?! Seandainya kita hidup serba kekurangan juga, buat aku antri sembako macam itu jalan pilihan terakhir kalau tidak ada pilihan lain, daripada mati kelaparan!” sambungnya. “Mas gengsi ya, gara-gara takut aku di cap istri juru tulis desa antri bansos Haji Kosim?” canda Bu Aan. “Hadeh, Mas Sum ini gak sedangkal itu kali, Neng. Di atas gengsi itu ada harga diri, emang mau diri kamu dihargai sekeresek bansos? Ya iya lain soal kalau emang kita bener-bener jadi fakir miskin, malah harus menerima bantuan jangan

