Noval bersama mama dan papa nya sudah berada di rumah sakit tempat mama Rehan dirawat. sehari setelah kejadian Noval sudah sembuh dan mengetahui tentang kondisi retno dari Dea sendiri. selama itu mamanya belum juga siuman. Dea menangis terus.
"gimana keadaan tante, De?" tanya Noval mendekat ke arah retno yang diinfus dan memakai selang oksigen di hidungnya.
"mama masih belum siuman, val," wajah Dea sembab. Noval memeluk Dea menenangkannya. Noval ikut menangis karena dia menganggap retno sudah seperti mama kedua baginya.
"kita berdo'a sama sama yah De, semoga tante segera siuman," ucap Noval melepaskan pelukan dea.
"udah jangan nangis terus, Dea udah makan Nak? ini tante bawakan ayam geprek kesukaan Dea,"ucap lastri.
dea melirik Noval, pasti tante tau kesukaannya dari Noval. tapi, dia merasa gak semangat dan selera untuk makan.
"udah jangan banyak mikir, ayo kita makan bareng2. ntar kalo mama udah siuman liat kamu jelek, kurus gini malah mama jadi lebih khawatir," celoteh Noval.
Dea pun tersenyum menanggapi guyonan Noval. Mereka pun makan bersama.
"oya... Nak Rehan kemana Nak dea?" tanya burhan.
"hari ini abang sidang om, padahal ini yang paling dinanti abang agar mama dan dea menghadiri sidang abang, tapi..." dea tidak jadi melanjutkan.
"om yakin Nak Rehan bisa menyelesaikan sidangnya dengan baik, apalagi sesuai dengan bidang yang digelutinya di perusahaan,"ucap burhan menengkan.
Noval mengangguk. dia berdo'a dalam hati agar semuanya berjalan dengan baik dan musibah ini segera berlalu.
pada sore hari Rehan dan Aldo datang ke rumah sakit. Noval berdebar. Begitu juga dengan Dea karena melihat Aldo. malah wajahnya sembab lagi. Aldo pria berkulit sawo matang, kelihatan sepadan dengan bang Rehan yang sedikit lebih putih. mereka seperti cover boy. suster yang hadir di sana juga melirik-lirik menggoda Rehan dan Aldo membuat Noval dan Dea cemburu dan kesal.
"gimana sidangnya Nak Rehan?"tanya burhan bangga.
"alhamdulillah sukses om, Rehan dapat nilai A. Oya kenalin om ini sekretaris Rehan, Aldo juga ikut sidang tadi."
"o... iya... iya... kita pernah ketemu yah waktu investor datang. sekretaris kamu ini cekatan sekali," ucap burhan memuji.
"bapak terlalu memuji,"ucap Aldo tersenyum.
"gimana kondisi mama, dek?" tanya Rehan pada Dea dan melirik serta tersenyum pada Noval, membuat Noval ge-er dan menunduk.
"masih belum siuman bang,"jawab Dea.
"Kamu udah makan siang? Noval sudah sehat Dek?" tanya Rehan menatap Noval yang menunduk malu.
"dea udah makan tadi kak sama Noval, om dan tante, bang," ucap Dea. "Ye... Dea jawab malah dicuekin." dea tersenyum jahil karena Rehan malah ngobrol sama Noval.
"alhamdulillah... udah sehat bang," jawab Noval masih menunduk membuat Rehan gemas ingin segera melamar Noval di sini. itu sudah tekadnya selesai sidang. jantung Noval berdebar kencang begitu juga dengan Dea. Noval mengembalikan ponsel rehan.
"tangan mama bergerak," tunjuk dea ke arah mamanya yang berbaring. semua teralihkan ke retno. Aldo dengan sigap memanggil suster dan dokter.
perlahan mata retno terbuka dan menatap mereka satu per satu.
"mama di mana?" tanya retno pada dea.
"di rumah sakit ma, alhamdulillah mama sudah sehat," dea menangis haru.
dokter burhan segera datang dan memeriksa retno diikuti dokter Roby.
"alhamdulillah... kondisi ibu sudah stabil. tapi tolong jangan ditanya yang mengganggu pikirannya. khawatir trauma di kepalanya."
"baik dokter," ucap mereka kompak.
"makasih om... dokter..."
"eh... noval sudah sehat?" tanya dokter roby.
"sudah om," jawab Noval
suasana menjadi lebih bahagia saat tau kondisi Retno sehat.
cahaya indah kembali menenangkan mereka.