Dengan terburu-buru, seorang gadis yang masih mengenakan seragam SMU terlihat turun dari angkot dan langsung berlari menuju meja resepsionis di sebuah Rumah Sakit A. Wajahnya terlihat tegang, keringat mengucur di keningnya.
Siang itu, saat pelajaran Bahasa oleh bu Meta baru saja dimulai, tiba-tiba dari bagian tata usaha ada yang mengabarkan kepada bu Meta bahwa ada telepon penting untuk Asha. Kemudian Asha diminta untuk mengikuti pak Darmo menuju ruang tata usaha. Mamanya mengabarkan bahwa papanya mengalami musibah dan Asha diminta untuk segera datang ke Rumah Sakit A.
Di sinilah Asha, menatap papanya dari balik kaca jendela di ruangan ICU. Tatapan matanya kosong. Papanya yang sangat disayanginya terlihat begitu tenang di dalam sana.
"Asha ...," tegur mamanya.
Tanpa berbicara, Asha langsung menghamburkan tubuhnya memeluk mamanya dan menangis tersedu.
"Doakan papa ya, Sayang," hibur mamanya seraya membalas pelukan Asha. Asha hanya menganggukan kepalanya.
"Papa kenapa, Ma?" tanya Asha di tengah isak tangisnya.
"Belum tau, Sayang. Mama juga baru datang beberapa menit lalu, setelah dapat telpon dari anak buah papa."
Tak lama datang seorang perawat yang menghampiri Asha dan mamanya. "Permisi Ibu, apakah Ibu keluarga pak Haryanto?"
"Ya, saya istrinya."
"Mari Ibu, ikut saya ke ruangan dokter ya Bu, nanti dokter akan menjelaskan sesuatu terkait hasil observasi sementara para tim dokter."
"Asha tunggu di sini ya, Sayang. Jangan lupa banyak berdoa ya," ucap Marisa, mamanya Asha sebelum berlalu mengikuti perawat itu ke ruangan dokter.
Asha kembali menatap papanya dari luar ICU, tidak berani untuk masuk. Diam-diam air matanya mengucur deras.
***
Asha tertidur dalam keadaan duduk di lantai beberapa saat setelah menangis, dan terbangun begitu ada yang menepuk bahunya. Saat membuka matanya, dilihatnya mamanya dengan wajah sendu yang dipaksakan tersenyum.
"Kita pulang dulu ya, Sayang. Nanti ke sini lagi. Ambil baju untuk ganti, kita akan menginap menemani papa."
"Papa kenapa, Ma? Kenapa belum bangun?" tanya Asha lirih.
"Nanti mama ceritain sambil jalan ya, Sayang. Banyakin doa aja ya." Asha kemudian mengangguk dengan patuh.
Saat Haryanto, papa Asha sedang keliling mengecek sebuah proyek di lapangan, tiba-tiba, Haryanto mendapat serangan jantung. Kepalanya terbentur dengan keras, saat tubuhnya terhempas di atas jalanan, yang sedang dilaluinya dengan beberapa klien dan anak buahnya. Saat itu juga anak buahnya langsung memberikan pertolongan pertama, namun tidak berhasil dan segera membawa Haryanto ke rumah sakit dan menghubungi Marisa, mamanya Asha.
Mendengar papanya mendapat serangan jantung, Asha mengerutkan keningnya. "Tapi papa selama ini kan gak pernah ada keluhan sakit jantung Ma, kok bisa tiba-tiba kena serangan?"
"Itulah yang mama tanya tadi sama dokter. Tapi dokter bilang masih akan observasi keadaan papa. Semoga nanti ada kabar baik ya, Sayang."
***
Asha terkejut saat mobil yang dikendarainya makin mendekati rumahnya. Dari kejauhan dia melihat ada mobil yang tidak asing baginya terparkir tepat di depan rumahnya.
"Duh, tamu siapa itu ya? Kok parkir depan rumah kita," tanya mamanya Asha.
Asha masih mengamati dalam diam, hingga mobilnya melaju dan melewati mobil yang terpakir di depan rumahnya itu. Memang tidak menghalangi pintu masuk rumahnya. Hanya saja Asha bingung, untuk apa orang itu ke rumahnya.
Dilihatnya orang itu masih di dalam mobil seperti sedang menunggu sesuatu ... atau ... seseorang. Dan benar saja, begitu Asha turun dari mobil bersamaan dengan itu, lelaki itu turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Asha.
Asha berusaha memberi kode agar Angga tidak mendekatinya saat itu karena ada mamanya di sana. Namun terlambat dengan aksi Angga.
"Selamat sore, Tante," sapa Angga ramah.
Marisa melirik sekilas pada anak gadisnya yang langsung salah tingkah dan membuang muka. "Cari siapa ya?"
"Tante, Mamanya Asha ya? Cantiknya ternyata menurun ke Asha ya."
'Gombal! Gombal! Gombal! Mati gue, ngapain siy niy anak ke sini pake ngegombal gembel ginih ke nyokap gue!' batin Asha.
Marisa hanya tersenyum dan melirik Asha lagi yang saat ini menunduk dalam. "Oh temannya Asha ya?"
"Iya, Tante. Saya Angga. Tadi sepertinya Asha pulang lebih dulu ya—"
"Angga, udah deh lo pulang aja sana. Gue sama mama lagi buru-buru," potong Asha, yang langsung mendapat lirikan tajam dari mamanya, seolah menegur 'Asha yang sopan dong sama temannya.'
Asha yang merasa ditatap mamanya, langsung melenggang ke dalam rumah.
"Nak Angga ya? Yuk masuk dulu aja. Kita gak terlalu terburu-buru kok."
"Makasih ya, Tan." Seraya mengikuti dari belakang mamanya Asha.
***
"Mama apa-apaan siy nyuruh anak itu masuk?" ketus Asha, ketika mamanya masuk ke dalam rumah.
"Gak boleh gitu Asha."
"Mama gak tau siy, Angga itu ngejar-ngejar Asha terus tau akhir-akhir ini," jelas Asha langsung ke intinya.
"—"
"Kan ... mesti Mama kaget kan," tebak Asha.
"Ya udah Kamu suruh bi Inah buatin minum gih. Trus Kamu ganti baju dulu dan siapin baju buat ke rumah sakit juga."
"Trus Angganya?"
"Ya udah nanti mama yang urus." Asha kembali patuh dan sekaligus lega karena mamanya tidak marah kali ini. Atau mungkin, karena papanya masuk rumah sakit jadi mama nya sedikit melunak soal teman laki-laki anak gadisnya. Ntahlah, Asha juga tidak yakin. Karena dahulu orangtuanya mesti akan marah dan mewanti-wanti Asha agar tidak dekat dengan teman lelakinya, sejak ia mengalami menstruasinya untuk pertama kali.
Banyak sekali wejengan yang diterima Asha saat itu, soal hubungan dengan lawan jenis, apa yang akan terjadi kalau nanti dia berpacaran dan lain-lain yang membuat Asha bergidik ngeri dan memilih untuk patuh.
***
"Cari siapa, Sha?" tanya Marisa, mamanya Asha ketika melihat anak gadisnya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang tamu.
"Hehe ... anu, Ma ...," kekeh Asha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Angga sudah mama suruh pulang. Hayuk kita ke rumah sakit lagi. Mama ingin kita ada di samping papa saat papa siuman nanti."
***
Di rumah sakit, keadaan Haryanto masih belum membaik. Meski tidak dikatakan memburuk. Hari ini, Marisa meminta agar suaminya dipindah di ruang rawat VVIP agar dirinya dan Asha bisa berjaga di sana bergantian.
"Jika kondisinya masih seperti ini terus. Mau tidak mau kita hanya bisa bergantung pada alat-alat bantu pernapasan. Sambil tetap berdoa ya, Bu," tutur dokter yang menangani Haryanto ketika visit.
Asha dan Marisa hanya bisa pasrah dan menanti keajaiban bagi Haryanto, papanya Asha.
"Besok Asha ijin gak masuk dulu ya, Ma?" pinta Asha memecahkan keheningan.
"Ya, boleh. Tapi lusa Asha harus masuk ya Sayang. Bentar lagi kan mau EBTANAS. Mama gak mau Asha gak lulus, gara-gara gak masuk sekolah." Yang ditanggapi oleh anggukan Asha.
***