Acara Pelepasan Siswa SMU A berjalan lancar dan meriah. Meski hanya dilakukan di sekolah demi menghemat pengeluaran. Lagi pula SMU A memiliki sebuah aula yang cukup besar dan memiliki kapasitas sekitar 1000 orang.
Setelah acara resmi dibuka oleh Kepala Sekolah, dilanjutkan dengan penyerahan Piala dan Piagam bagi siswa-siswi yang berprestasi. Kemudian acara yang sangat dinanti oleh para siswa adalah acara hiburan bebas.
Terlihat siswa, wali siswa juga para undangan lain, menikmati acara unjuk bakat. Asha ikut berpartisipasi unjuk kebolehannya di bidang seni bela diri bersama beberapa adik kelasnya. Memperagakan beberapa gerakan dasar dan sparing.
Acara berikutnya adalah pertunjukan drama yang dimainkan oleh siswa kelas 1 dan 2. Terlihat Asha sudah berganti kostum dengan pakaian adat modern, rambutnya yang panjang sebahu sengaja dibiarkan terurai. Terlihat bandana dari brookat berpayet menghiasi rambutnya. Membuatnya terlihat begitu cantik.
Pemandangan ini tak dilewatkan begitu saja oleh Angga. Anak lelaki yang mulai beranjak dewasa itu sempat merasa kecewa. Pasalnya saat acara penyerahan Piala dan Piagam sebagai siswa terbaik sekolah. Netranya tidak mendapati sosok Asha di kursinya. Padahal dia berharap Asha ada di sana untuk melihatnya dan berfoto bersama dengan teman-temannya yang lain yang berprestasi.
Masih teringat jelas olehnya saat pertama kali menyadari bahwa dirinya merasa melihat ada yang berbeda dengan gadis 'culun' di kelas sebelah.
Kala itu pulang sekolah seperti biasa, Angga melewati lapangan bola basket yang menuju parkiran di mana dia memarkirkan kendaraannya.
Tanpa sengaja dia melihat Asha yang kala itu mengenakan Dobok (seragam Taekwondo) sedang melakukan Dubal Dangsang Chagi (tendangan dengan dua target sasaran). Targetnya adalah dua siswa laki-laki, dan dua-duanya tersungkur setelah menerima tendangan telak tersebut.
Tidak tahu mengapa, ekspresi Asha yang serius kala itu terngiang-ngiang di dalam kepalanya hingga keesokan paginya dia bertemu kembali dan berpapasan dengan gadis itu di lorong sekolah dengan kuncir duanya. Benar-benar terlihat berbeda. Terlihat begitu 'kuno' dan 'culun'.
Tidak akan ada yang mengira, gadis 'culun' itu bisa mengalahkan dua orang laki-laki yang terlihat lebih besar dan kuat darinya tempo hari.
Pertemuan ketiga adalah saat Angga melihat Asha berdiri sendirian di halte, selepas di malam pertandingan babak final tim bola basketnya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu Angga langsung menghampiri. Kala itu Angga membawa motor bebek miliknya.
"Hai, pulang sendirian?" tegurnya. Asha yang menunduk langsung menengadahkan kepalanya menatap anak laki-laki di depannya.
"Iya, lagi nunggu angkot niy belum lewat dari tadi."
"Rumahnya di mana? Gue anterin ya."
Tanpa pikir panjang, Asha langsung menerima ajakan Angga saat itu. Meski sedikit terkejut ternyata begitu mudah mengajak Asha, tapi Angga merasa senang.
"By the way, nama gue Angga. Nama lo siapa?" tanya Angga, ketika motor sudah melaju seperempat jalan.
Yang ditanya bukannya menjawab malah tertawa keras. Membuat Angga mengerutkan dahinya dan memelankan motornya.
"Lho kok malah jadi pelan sih bawanya? Kenapa? Bensin lo abis?"
"Gue kan nanya nama lo. Kenapa malah ketawa?"
"Lagian lucu. Lo gak usah kenalin diri juga gue tau lo Angga, Sang Primadona. Haha ... gue Asha. Gue kan sebelahan kelasnya ma kelas lo. Gak nyadar ya?" seloroh Asha geli.
"Gue tau kok." bohong Angga.
"Masa?" tanya Asha tidak percaya. "Gue kan gak sepopuler diri lo. Mana ada yang kenal, haha .... Kelas mana emang gue?"
"IPA 2 kan?"
"Tebakan lo bener! Hebat!"
"Besok lo bakal terkenal. Percaya deh."
"Gak mungkin! Dah lanjut jalan gih ntar kemaleman gue nyampe rumah."
Merekapun melanjutkan perjalanan menuju rumah Asha. Namun tiba di pintu gerbang, ternyata sudah ditutup satpam komplek, akhirnya Asha turun di depan gerbang.
"Maaf ya Sha cuma bisa anter sampai sini."
"Gak apa-apa lagi. Rumah gue gak jauh kok. Dari sini juga keliatan tuh yang pagernya item." tunjuk Asha.
"Ya udah lo jalan gih, gue tungguin mpe lo nyampe rumah."
"Haha tenang aja siy gak bakal ada yang berani ma gue."
"Iya gue tau, lo bisa bela diri kan?" yang disambut kekehan Asha.
Asha pun turun dari motor dan pulang ke rumahnya. Angga terus memperhatikan hingga Asha menghilang di balik pagar rumahnya.
"Woi! Angga!" Terdengar seseorang memanggil Angga yang sedari tadi terlihat melamun.
"Ah lo Man! Gangguin gue aja."
"Lagian dipanggilin ma anak-anak lo diem aja dari tadi. Mo pada foto kelas tuh nanti. Anteng liatin siapa siy?" Pandangan Arman menyelidik mencari sosok yang kira-kira bakal membuat Angga terkesima. "Lo lagi liatin Caca ya?"
Angga mengerutkan dahi. "Caca?"
"Itu si Asha, pan dipanggilnya Caca." Angga hanya mengangguk dan membulatkan mulutnya.
"Lo kenal Asha?"
"Ya kenallah. Ade gue kan ikutan Taekwondo. Kadang suka balik bareng."
"Gue gak tau kalo Sesil ikutan bela diri. Cengeng gitu" Angga terkekeh mengingat dulu adiknya Arman pernah pulang sekolah menangis karena diganggu temannya.
"Itu kan dulu sebelum ikutan. Gegara itu, tuh anak keukeuh pengen belajar bela diri biar gak digangu katanya. Baru sabuk putih kok."
"Lha elo lagian kakaknya bukan jagain siy."
"Ya pan kelas kita pulangnya aja udah sore mana bisa bareng. Dah ah yuk foto-foto dulu sebelum gue tampil."
Tetiba Angga mendapat ide, "Gue ikutan dong."
"Ikut apaan?"
"Nyanyilah."
"Mana bisa, lo kan gak ikut gladi resiknya kemaren."
"Satu lagu aja please. Bilang ma bu Mira gih." bujuk Angga.
"Mo nyanyi apaan siy?"
"Ada deeeh. Dah buruan sono, gue mo cari temen dulu buat duet." dorong Angga.
"Dasar lo ya, dah maksa gak mau kasih tau." Armanpun berlalu mencari bu Mira koordinator acara perpisahan.
Angga mencari-cari seseorang buat diajak duet, dan saat menemukannya, terlihat senyum merekah di kedua sudut bibirnya.
***
"Sha abis ini lo jangan ke mana-mana ya," ucap Nia, sehabis mencicipi makanan yang sudah disiapkan oleh panita untuk para siswa yang baru lulus.
"Iya. Gue bakal nonton mpe abis kok. Tapi nyokap bokap gue kudu balik duluan. Lo tau kan bokap masih masa pemulihan. Gue anter mereka dulu mpe depan bentar ya."
Setelah Asha mengantar kedua orangtuanya, Asha kembali ke dalam aula. Sayup-sayup terdengar suara petikan gitar memulai intro lagu yang begitu familiar. Tak lama terdengar verse suara penyanyi perempuan yang begitu merdu.
[Be still my heart
Lately its mind is on its own
It would go far and wide
Just to be near you]
Asha tertegun dengan suara Nia, ternyata bisa mirip dengan suara penyanyi aslinya, Lea Salonga. Lagu yang pernah populer di era 90-an, kala Asha masih duduk di bangku SMP.
Sambil terus melangkah dia mendengarkan suara penyanyi laki-laki yang berduet dengan Nia. Suaranya juga tidak jauh berbeda dengan suara penyanyi aslinya, Brad Kane.
Angga melihat Asha yang berjalan mendekat. Sambil duduk memetik senar gitar dengan piawai. Tatapan matanya seakan terkunci pada sosok Asha. Tersenyum senang.
Kemudian melanjutkan lirik demi lirik sambil menatap Nia. Ntah mengapa Angga seperti menangkap dari sudut matanya jika Asha terlihat tidak nyaman. 'Apakah dia cemburu? Pada sahabatnya?' pikir Angga.
Apalagi saat lagu masuk ke chorus yang dinyanyikan bersama.
[... and its not just wishful thinking
or only me whos dreaming
I know what these are symptoms of
we could be in love]
Asha lagi-lagi terlihat menunduk. Padahal Angga memperhatikannya lekat saat dia melantunkan bagian lirik yang itu.
Tak lama lagupun selesai dinyanyikan. Tiba-tiba Angga menyebut nama Asha.
"Lagu ini gue persembahkan buat Asha. Semoga kebersamaan kita yang singkat saat persiapan EBTANAS lalu memiliki arti yang lebih buat lo. I Love You Asha," ucap Angga melalui mic yang tadi digunakannya untuk bernyanyi.
Suasana aula hening seketika, beberapa ada yang kasak kusuk menebak apa yang sebetulnya terjadi.
Gosip yang santer terdengar kala itu Nia yang menyatakan cintanya pada Angga, tetiba menjadi dekat. Meski jarang terlihat bersama karena masing-masing sibuk dengan persiapan EBTANAS. Hal ini tidak menyurutkan berita Sang Primadona. Ada yang berasumsi mereka jadian.
Duet mereka berdua makin menguatkan dugaan para fans Angga, namun pernyataan cinta Angga barusan membuat mereka berpikir ada cinta segitiga di antara mereka.
Arman saja yang merupakan sobat terdekat Angga tercengang. Karena selama ini Angga enggan membahas soal kedekatannya dengan Nia. Terlebih soal pernyataan cinta Angga hari ini. Benar-benar di luar dugaan.
Asha masih terdiam, lidahnya kelu. Tatapannya lurus menatap sosok lelaki di atas panggung itu. 'Apa-apaan siy lo, Ngga. Bikin sensasi aja,' batin Asha.
"Sha ...," panggil Angga lagi.
"Maaf Ngga ...," ucap Asha akhirnya dan beranjak dari sana sambil berlari keluar aula.
Nia yang lebih dulu menyadari perubahan raut wajah Asha tadi langsung turun dari panggung dan mengejarnya.
***