Senyuman Citra luntur. Dia tak berminat lagi untuk mengobrol bersama teman-temannya, candaan mereka tak lagi terdengar menarik di telinganya. Dia menanggapi mereka sambil lalu, fokusnya tertuju pada set sofa di bagian kanannya, di mana pemuda yang selama ini berada dalam mimpi dan mengisi relung hatinya, sedang duduk bersama seorang perempuan yang berpakaian terbuka. Citra tak habis pikir, bagaimana mungkin ada perempuan yang –sepertinya– sengaja memamerkan auratnya. Apakah untuk menarik perhatian kaum Adam? Astaga, begitu rendah harga diri seorang perempuan jika memang benar seperti itu. Citra menggeleng tak kentara. Menyebut nama Tuhannya beberapa kali di dalam hati, dia sudah kelepasan. Bukan haknya untuk menilai seseorang, apalagi tadi dia seperti merendahkan seolah dirinya yang pali

