Aku mengikuti ke mana aroma itu pergi. Bak anjing pelacak yang sedang mencari barang bukti dalam suatu penyelidikan. Aku mulai jalan perlahan, itu karena aroma tersebut mulai tercium sangat tajam. Perjalananku berhenti di depan rumah yang berukuran besar, yang dari penampakannnya saja, kita bisa mengetahui bahwa itu adalah rumah orang memiliki status ekonomi tinggi. Namun sayang, sepertinya pemilik rumah itu sedang tidak berada di rumah.
Saat ini, aku berdiri persis di sebarang rumah itu. Dalam posisi berdiri, sambil melipatkan tanganku ke depan d**a. Aku benar-benar ingin menangkap basah pelaku yang telah mencuri uang Arisa.
Kwok … kwok … kwok …
Suara aneh tersebut muncul lagi. Dan itu tandanya, siluman yang berwujud babi ngepet itu telah berhasil menggarap semua uang di rumah targetnya. Perlahan, aku mulai melihat sosoknya. Ia semakin mendekat ke pintu pagar, rumah korbannya.
“Woi, babi!” ujarku.
Babi ngepet itu mematung. Biasanya, ketika ada yang sudah mengetahui wujud aslinya, ia pasti akan lari pontang-panting. Namun berbeda dengan babi satu ini, ia terlihat tenang dan yang anehnya ia tidak bergerak sama sekali dari tempat ia berdiri.
“Lo jangan acting! Gue bisa liat badan lo, meskipun gelap seperti ini.”
Masih belum ada respon.
“Atau … lo mau gue teriak?”
”Kwok … kwok … jangan!” Teriaknya.
Senyum kemenangan tersimpul di wajahku. “Makanya, lo ga usah belagak jadi patung babi. Lo pikir gue bego, apa! Mana ada, patung babi bisa pergi ke mana-mana nyari duit?”
“Kwok … mau lo apa? Jangan ganggu gue! Lo urus aja , urusan lo sendiri! Lagi pula, lo buka warga sini, kwok …” ucapnya.
“Ye … lo tau gak sih, kalau nyari duit tuh harus yang halal. Gak baik tau, lo jadi babi kayak gini. Udah jelek, bau lagi!”
“Suka-suka gue, dong! Dan mau itu halal atau gak, itu semua bukan urusan lo, kwok ...” jawabnya sinis.
“Iya deh, untuk urusan itu gue gak bakalan ikut campur. Tapi, gue mau lo sekarang balikin uang temen gue!”
Siluman babi itu menggerakkan ekornya. “Uang temen lo? Gue gak ingat pernah ngambil uang temen lo. Jangan temen lo, sama lo aja gue gak kenal. Kwook …”
“Ooh … lo gak pernah ingat, yah!” ucapku mangut-mangut. “Baiklah, jadi lo gak ingat dengan dua siswi yang berdiri di depan pintu gerbang, tadi? Hm … berarti babi yang tadi gue liat, siapa? Apa jangan-jangan, ada babi lain yang berkeliaran di perumahan ini?”
“Kwok … gak ada babi lain, selain gue di sini!” ujarnya.
“Nah, kan! Berarti emang lo yang ngambil duit temen gue, sini balikin!”
“Kwok … baiklah, baiklah! Setelah ini, lo harus pergi! Jangan ngikutin gue lagi! Gara-gara lo, gue jadi terhambat mencari rezeki.”
“Ini namanya cari dosa, tau!” ucapku.
Tring … tring … tring …
Ponselku berbunyi, menampakkan nama Arisa di dalam layarnya. Aku pun langsung menjawabnya.
“ Halo Nai, lo di mana? Uang gue udah ketemu—“
Aku memotong ucapannya. “Baiklah! Aku akan segera kesana.” Setelah itu, aku menutup panggilan.
“Kwok … udah, kan? Pergi sana!” ujarnya.
“Baiklah … kalau gitu, aku pergi dulu, yah Kak Bima,” ucapku santai.
“Kwook .. tunggu!” pekik babi itu. “Kok lo tau nama gue?”
“Yah, taulah! Lo kan Kakak pertama Ratna, ‘kan? Meskipun lo berwujud seperti itu, gue masih bisa lihat tubuh asli lo. Gue pergi, yah! Byee …”
Aku pun meninggalkan Kak Bima yang merupakan jelmaan babi ngepet itu, yang juga saudara dari teman kelasku, Ratna. Aku yakin, ia pasti sangat terkejut. Sebenarnya, tadi aku benar-benar ingin meneriakinya atau mengajak warga untuk membekuknya. Namun begitu melihat sosoknya, niatku langsung surut. Itu karena, aku mengenalinya. Aku tidak ingin melihat kakak yang dibanggakan oleh temanku, meninggal karena di keroyok warga.
“Lo dari mana sih sebenarnya?” Tanya Arisa begitu aku sampai.
“Gue ketinggalan sesuatu di rumahnya Ratna. Jadi, gue kembali ke sana,” jawabku.
“Baiklah, kalau gitu kita balik, yuk!” Ajak Arisa.
“Yuk!” Kami pun pergi meninggalkan perumahan itu.
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Beberapa bulan pun berlalu, tidak terasa masa SMA-ku akan segera berakhir. Hari ini merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa dan siswi SMA Patrickorn International. Semua orang yang berkumpul di lapangan sekolah saat ini, tengah menunggu hasil pengumuman yang akan segera diumumkan.
Suara decitan pembesar suara pun berbunyi sangat nyaring. Ketika melihat ke sumber suara, Pak Darwis sudah berdiri di atas podium yang sudah disediakan.
"Selamat pagi, Anak-anak ..."
"Selamat pagi, Paaak!" ucap kami serempak.
"Akhirnya, hari ini telah tiba. Di mana nasib kalian akan di tentukan saat ini juga. Bapak harap— apa pun hasil yang kalian dapatkan—lulus atau tidak lulus, kalian harus bisa menerimanya. Karena ini merupakan hasil dari jerih payah kalian saat mengikuti Ujian Nasional," ucap Pak Darwis. "Baiklah langsung saja, bapak akan umumkan nama-nama siswa dan siswi yang lulus tahun ajaran 2013-2014."
Aku, Arisa, dan Juna saling berpegangan tangan sambil berdoa di dalam hati. Kami berharap, bisa lulus dengan hasil nilai yang baik.
"Yang lulus Ujian Nasional tahun ajaran 2013-2014 adalah ..." Rasa tegangan mulai merasuki tubuh kami. "Selamat kepada seluruh siswa dan siswi SMA Patrickorn Internationa, kalian semua dinyatakan lulus!"
Mendengar pengumuman dari Pak Darwis, sontak kami semua langsung berteriak gembira. Selamat tinggal seragam ...
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
Tiga minggu setelah pengumuman, Juna datang ke rumahku. Ia pamit untuk melanjutkan pendidikannya di Jepang, mengikuti Kakaknya yang juga berkuliah di sana. Meskipun sedih karena Juna pergi, aku tetap merasa senang atas keputusannya.
Setelah kepergian Juna, Aku dan Arisa juga mulai melakukan pendaftaran diberbagai Universitas. Karena sangat ingin melihat anaknya terjun di dunia kesehatan, kedua orangtuaku menyarankan padaku untuk mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat. Dan akhirnya, aku pun mengikutinya.
Sama sepertiku, Arisa juga berminat untuk mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat. Namun bedanya, Arisa memilih jurusan itu murni karena ia menginginkannya. Karena tahu kami menginginan jurusan yang sama, aku dan Arisa sepakat untuk memilih Universitas yang sama pula. Dan setelah melakukan diskusi yang panjang, akhirnya kami memutuskan untuk memilih Universitas swasta terkenal di kota ini yang masih satu naungan dengan SMA kami, yaitu Universitas Patrickorn International.
Seusai melakukan pendaftaran dan juga beberapa tes yang diberikan di Universitas tersebut, Aku dan Arisa tinggal menunggu hasil pengumuman yang akan keluar tiga hari lagi. Setelah menunggu beberapa hari, kami pun membuka pengumuman yang bisa dilihat secara Online. Dan begitu melihat pengumuman, Aku dan Arisa saling berpandangan, sambil tersenyum lebar.
Kita lulus!
ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ
6 tahun kemudian ...
Jum'at, 15 Januari 2020
Truttt .... truttt ... truttt
Suara getaran itu membuatku seketika terbangun. Aku mengambil handphone- ku yang sedari tadi terus bergetar. Ketika melihat ke layar, aku mendapati nama Mama di dalamnya.
"Nai ...," ucap Mama.
"Iya, Mam!" jawabku dengan suara yang masih parau khas orang yang baru bangun tidur.
"Kamu baru bangun, Sayang?" tanya Mama.
Aku langsung memperbaiki stanku. Yang tadinya masih rebahan di atas tempat tidur, sekarang aku sudah dalam posisi duduk di samping tempat tidur.
"Iya nih, Ma."
"Ck ... ck ... ck ... kamu itu udah dewasa, Nai. Tidur sampai siang kayak begitu tuh gak baik untuk gadis perawan seperti kamu. Nanti, susah dapat jodoh bagaimana, Nak?"
Aku menepuk jidat. "Ma ... itu cuman mitos. Jodoh udah ada yang atur, kok!"
"Itu bukan mitos, Nak! Pokoknya, Mama gak mau kamu tidur sampai siang seperti ini lagi, yah!" ujar Mama.
"Iya, Ma ..."
Aku melihat jam yang terpajang di atas meja kecil yang berada tepat di samping tempat tidurku. Waktu menunjukkan sudah pukul 11.00. Pantas saja Mama marah.
"Bagaimana kabar kamu dan adikmu? Mama udah lama gak datang jengukin kalian ke apartemen."
"Baik, Ma. Robin juga sekarang lagi fokus kuliah. Tugasnya banyak banget, Naion bahkan sering liat dia begadang," jawabku.
"Syukurlah, kalau kalian baik-baik saja. Kamu harus perhatiin adik kamu, Nak! Mama takut kalau dia sampai sakit. Kamu juga harus jaga pola makan biar gak gampang sakit," nasehat Mama.
"Iya, Ma! Kabar Papa dan Mama, bagaimana?" tanyaku balik.
"Kami berdua juga sehat kok, Sayang. Ohiya, udah sampai mana ngerjain SKRIPSI-nya, Nak? Ingat, kamu itu udah 6 tahun kuliah. Masa kamu masih betah tinggal di kampus? "
Aku terdiam seribu bahasa. Jangankan mengerjakan, niat untuk memulainya pun aku belum ada.
Hal yang paling ku hindari selama ini adalah ketika Mama dan Papa menanyakan perkembangan SKRIPSI-ku yang sama sekali belum kukerjakan. Pasalnya, sebelum mengerjakan tugas akhir itu, yang harus kulakukan terlebih dahulu adalah bimbingan bersama dosen yang ditunjuk untuk membantuku mengerjakan tugas akhir itu. Aku bukannya malas untuk pergi bimbingan. Intinya, aku belum ada niatan saja untuk kembali ke kampus.
"Nai, kamu denger Mama, 'kan?" tanya Mama dari balik ponsel yang sontak membuatku terasadar dari khayalan.
"I-iya, denger kok, Ma! Naion cuman sedikit melamun, tadi. Aku masih tahap awal banget, Ma. Masih harus bimbingan dulu," ucapku sedikit terbata.
"Mama berharap kamu cepet-cepet bisa sarjana dan bisa mendapat pekerjaan yang bagus nantinya," ucap Mama. "Baiklah Nak, Mama cuman ingin menanyakan kabar kalian. Mama mau lanjut kerja lagi. Bye, Sayang ..."
"Ohiya, Ma. Selamat bekerja, Ma. Bye ..."
Aku pun segera mematikan handphone. Setelah itu, bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Usai melakukan aktivitas di kamar mandi, aku harus langsung melangkah ke dapur untuk memasak makanan karena sepertinya cacing diperutku sudah meronta-ronta ingin diberi jatah.
ῳ_ ῳAUGURY GIRL ῳ_ ῳ