01

1264 Words
PROLOG Dahulu kala, terdapat sebuah eksistensi awal yang absolut di dunia ini. Sebuah keberadaan yang telah ada jauh sebelum kehidupan memahami makna, dan sebelum kematian memiliki nama. Ia berjalan di antara kehidupan dan kematian, menapaki batas yang tidak dapat disentuh oleh makhluk mana pun. Setiap langkahnya seakan mengurangi samudra kehidupan dan kehancuran—namun juga menahannya agar tidak meluap. Segalanya berada dalam pandangannya, tanpa pengecualian. Dan… segala sesuatu berada di dalam genggamannya. Tidak ada yang luput dari penglihatan maupun kehadirannya. Ia adalah sang dewa penghukum. Judrex Varion Dialah lambang hukuman, konsekuensi, dan keseimbangan. Ia tidak mengenal ampun, karena belas kasihan dapat merusak tatanan. Ia tidak mengenal kebencian, karena emosi hanyalah kelemahan. Ia menghukum bukan karena salah atau benar, melainkan karena pelanggaran terhadap keseimbangan dunia. Ia bukan penentu moral. Ia adalah bentuk keadilan itu sendiri dingin, mutlak, dan tak tergoyahkan. Berbeda dengan dua dewa lainnya. Yang pertama adalah Vaelgor Threx, perwujudan kehancuran, The World-Ender, akhir dari segala sesuatu yang pernah diciptakan. Yang kedua adalah Elmyra Caelith, Dewi Pencipta, pasangan dari Sang Penghancur Dunia, yang melahirkan kehidupan tanpa menjanjikan kebahagiaan. Mereka bertiga adalah wujud dari awal, eksistensi sebelum penciptaan dimulai. Dan merekalah yang menjadi tuntunan pertama dunia ini. Dari sanalah, cerita ini pun baru dimulai. UTARA Di arah utara, terbentang sebuah wilayah yang sangat luas dan indah. Keindahan alamnya begitu alami dan liar—tenang, namun mencekam. Dingin di sana bukan sekadar suhu, melainkan rasa, seperti ditusuk dan ditikam oleh pengkhianatan yang membeku di dalam d**a. Begitu banyak keindahan yang tidak dapat diceritakan lewat kata-kata, karena kata-kata tidak pernah cukup untuk menggambarkan kebisuan dan kekejaman tanah itu. Namun kehidupan tetap berjalan. Seperti semut yang merangkak demi mencari makanannya, manusia terus berjuang, bertahan, dan menerjang badai, di antara dingin dan kejamnya kehidupan yang tidak pernah memberi ampun. Wilayah itu dikenal sebagai Northern Frost Continent, terletak di utara kerajaan-kerajaan hijau yang menenangkan. Utara adalah tanah yang bisu dan membeku,karena di sanalah berdiri Kerajaan Valethryn. AREN Pemeran utama kita tertidur di atas ranjang batunya, setelah kalah dalam duel melawan sang kekasih. Namanya Aren Valen. Ia memiliki rambut sebening dan seindah salju, tanda murni keturunan klan Utara. Tubuhnya tinggi dan bidang—ideal bagi seorang kesatria— namun beban hidup yang terlalu berat membuat posturnya sedikit membungkuk. Mata birunya tajam, namun dipenuhi gurat kehidupan dan kesedihan yang telah lama terpendam. Wajah tampannya tampak kusam, seolah kehancuran di dalam pikiran dan jiwanya perlahan menggerogoti dirinya dari dalam. Meski usianya baru dua puluh tahun, wajah itu terlihat seperti telah kehilangan kehidupan. Aren terbangun dari tidurnya. Mimpi tentang para dewa masih melekat kuat di benaknya. “Cih… apa maksudnya ini… kepalaku terasa sakit.” Ucapnya lirih, sambil memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Ingatan tentang kejadian sebelumnya perlahan kembali— tentang duel, kemarahan, dan kekalahan yang pahit. Tiba-tiba, suara ketukan pintu kamar terdengar. Tok. Tok. Tok. “Masuk, sialan!” “Baik, tuan…” Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita dewasa yang indah, berusia sekitar tiga puluh tahun. Rambut hitam panjangnya terurai rapi, dan wajahnya mencerminkan pengabdian—namun juga ketakutan. Namanya Selena Varis. Ia membawa nampan berisi air putih, tangannya sedikit gemetar. Tang! Tendangan Aren menghantam nampan itu hingga terlempar. Selena tersentak kaget, namun tidak berteriak. Perlakuan seperti itu telah menjadi hal biasa, hingga seluruh pelayan istana hidup dalam ketakutan terhadap Aren. “Hentikan perbuatanmu itu, Valen.” Suara dingin itu menyela. “Berani sekali anda menyebutkan nama keluarga saya.” Wanita itu hanya mendesah pelan. Dialah Elira Caelis, tunangan Aren—dan orang yang telah mengalahkannya dalam duel sebelumnya. “Apakah kamu sudah pikun, pewaris Valen?” “Apa maksudmu…” “Kamu melupakan perjanjian kita. Tidak membuat onar, tidak minum obat, dan tidak menyentuh alkohol. Itu kesepakatan sebelum duel.” “Persetan…” “Anda dipanggil oleh Kaedric Valen. Ke ruangannya.” Aren menghela napas kasar. “Baiklah.” Ia bergegas keluar kamar, dengan pikiran yang masih dipenuhi amarah dan kekalahan. MASA LALU AREN Dahulu, Aren adalah simbol keturunan terbaik Utara. Berpendidikan, tegas, perpaduan sempurna antara kesatria dan penyihir es. Namun entah sejak kapan, ia berubah seratus derajat. Dari sosok setenang dan sekokoh bukit es, menjadi bongkahan es rapuh—keras di luar, hancur di dalam. Aren sekarang adalah pribadi yang kasar, keras kepala, tenggelam dalam alkohol, obat-obatan, dan kekerasan. Membuat keluarga dan sang kekasih hanya bisa menggelengkan kepala. “Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Elira. “A-ah… tidak apa-apa, Putri Elira,” jawab Selena gugup. Putri Elira adalah putri sulung dari kerajaan besar yang dahulu pernah menyatukan seluruh wilayah— namun tidak pernah benar-benar menguasai Utara. Di tanah ini, hanya kekuatan yang diakui. Elira membantu Selena berdiri dan membersihkan kekacauan. Namun Selena menolak, karena itu adalah tugasnya. Elira menatap Selena sejenak. “Bagaimana menurutmu tentang Aren… haruskah aku membatalkan pernikahan ini?” Selena menelan ludah, lalu menjawab dengan suara bergetar. “Tuan Aren… bukan orang seperti ini. Aku mengabdi sejak ia lahir. Aku dan Ratu Lyssara Valen yang membesarkan beliau… dia berubah sejak sang ratu meninggal… dengan cara yang aneh.” Selena menunduk dalam. Kenangan itu adalah masa terindah— sebelum semuanya runtuh. Putri Elira hanya bisa menatapnya dengan prihatin. Karena dulu, mereka bertiga adalah teman masa kecil. Aren pun berjalan menyusuri koridor kerajaannya. Langkahnya berat, namun sorot matanya bengis, dingin, dan penuh amarah. Ia hanya bisa menatap wajah-wajah yang memandangnya dengan ketakutan bercampur jijik. Para pelayan yang berlalu-lalang di koridor itu memilih menyingkir. Lebih baik memutar arah, atau menunggu di balik pilar-pilar batu, daripada harus berpapasan dengan monster yang kini dikenal dengan nama Aren Valen. Sepanjang jalan, Aren hanya bisa kesal memikirkan kekalahannya. Ia tak pernah menyangka— bahwa dirinya akan dijatuhkan hanya dengan beberapa serangan oleh kekasihnya sendiri. Kekalahan itu bukan sekadar luka fisik. Ia merobek reputasinya, menjatuhkan nama Aren Valen sejauh-jauhnya ke dasar kehinaan. Padahal, di masa lalu, dia adalah seorang jenius muda yang luar biasa. Bagaikan bunga mawar yang tumbuh indah di tengah badai salju yang dingin, kokoh, anggun, dan tak tersentuh. Tak ada yang mampu menyainginya kala itu. Namun kini, semua itu hanyalah jejak kaki di masa lalu— jejak yang telah tertutup badai, hingga jalannya sendiri tak lagi terlihat. “Bodoh sekali aku….” Aren tertawa getir. Tawa kosong, tanpa kehidupan. “Pedang yang usang saja masih dianggap hebat dan sakral,” gumamnya dalam hati. “Padahal umurnya sudah ratusan tahun. Pemilik yang mengangkat namanya pun telah mati sejak lama.” Namun meski demikian, nama itu masih menggema di jagat raya. Masih dipuja. Masih dihormati. “…Ah, bodohnya aku.” Inikah pandangan manusia sekarang? Atau hanya pandanganku saja yang telah rusak? “Cih…” Nada suaranya berubah saat matanya menangkap sosok yang berdiri di hadapannya. “Jalang sialan itu… kenapa sekarang dia ada di hadapanku.” Seketik itu juga, ekspresi Aren membeku. Di hadapannya berdiri Ratu Maereth Valen — ibu tirinya. Wanita yang merebut kehidupan dan pengaruh di kerajaan ini. Dialah yang, menurut Aren, membunuh ratu pertama, memperdaya Sang Taring Kristal Utara—ayah kandung Aren— dan perlahan mencengkeram seluruh kekuasaan Valethryn dengan senyum palsu. Pertemuan itu menyalakan api di dalam diri Aren. Api yang selama ini tertahan, terpendam, dan membusuk di dadanya. Kepahitan yang tak terhitung. Kehilangan yang merampas segalanya— kehidupan, kebahagiaan, dan masa depan. Sang ratu hanya diam sejenak dan berjalan santai melewatinya. Langkahnya anggun, ekspresinya merendahkan, seolah Aren tak lebih dari noda kecil di lantai istana. Sementara Aren… hanya bisa terpaku. Diam. Tak bergerak. Kesal—tentu saja. Ingin membalas—lebih dari apa pun. Namun dia tahu. Ini bukan tentang siapa yang lebih cepat mengangkat pedang. Bukan tentang siapa yang lebih dulu menghunuskan bilah baja. Ini tentang penyusup. Tentang pengkhianatan. Dan tentang perang yang belum bisa ia menangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD