PART 2

923 Words
Isabela keluar dari mobil pria yang bahkan tak mau menyambut uluran tangannya sambil Isabela mengucapkan terimakasih yang tergesa. Dia berjalan cepat menghampiri kerumunan orang yang berada di gerai Pizza terbesar di Napoli. Delico's Pizza milik usahawan Maurizio Inzaghi. Seseorang yang direkomendasikan oleh Ibunya, Stephanie Rose Jefferson Leandro. Isabela ingin manambah uang saku dengan bekerja di gerai ini. Dan hari ini dia akan menjalani sesi wawancara. Seandainya diterima maka dia akan menyelaraskan pekerjaan barunya itu dengan jadwal kuliah nya. Isabela Jefferson tak hanya menyandang nama Jefferson--seorang Arsitek ternama dan pengusaha yang sukses--di belakang namanya. Dia juga menyandang nama Leandro di belakang nama cantik nya. Jefferson dan Leandro adalah jaminan bagi sebuah kemakmuran yang tak memerlukan sebuah kerja keras kalau hanya untuk menambah uang saku. Semua mengenal gaung nama keduanya. Bahkan di negeri yang berjarak setengah bumi dari New York, di mana perusahaan raksasa Leandro dan Jefferson bermarkas. Tapi itu bukan Isabela. Isabela tak pernah mengandalkan siapapun untuk hal yang sepele. Dia menerima dana untuk kuliah nya semata karena kewajiban nya pada kedua orangtua dan keluarganya, untuk menjadi anak yang terdidik seperti Leandro yang lain. Dan untuk hal sepele seperti uang saku, sewa apartemen atau pun baju yang melekat di tubuhnya sehari-hari, Isabela akan bersuka cita mencarinya sendiri. Walaupun terkadang dia tak sanggup menolak saat Ibunya datang menjenguk dengan setumpuk pakaian mahal. Suasana sedikit ramai ketika seseorang meminta kerumunan muda-mudi di mana Isabela bergabung untuk mengikutinya. Mereka dibawa ke bangunan di samping gerai. Isabela menebak bahwa bangunan itu adalah gedung serba guna. Mereka masuk ke dalam gedung dan benar saja...kursi berderet tertata rapi. Seseorang yang membawa mereka mempersilahkan duduk. Sambil menunggu Isabela menekuri tas nya. Mencari ponsel dan ikat rambut. "Kudengar pemilik gerai ini sangat tampan. Maksudku, pewaris gerai Delico's di seluruh Italia. Dia sangat tampan tapi...dingin. Nyaris tak pernah tersenyum." Seorang gadis yang duduk di samping Isabela berbisik padanya. "Aku Isabela. Panggil aku Bella." Isabela mengabaikan pernyataan gadis itu dan mengulurkan tangannya. "Liona." Gadis bernama Liona itu berbisik membalas perkenalan Isabela. Mereka berjabat tangan. Isabela tersenyum dan mengikat rambutnya ekor kuda. Lalu dia mematikan ponsel nya. "Kau tidak seperti gadis yang butuh pekerjaan." "Kau salah. Aku butuh uang saku, butuh uang untuk membayar sewa apartemen dan lainnya." "Aah...kau sama denganku. Aku juga seperti itu." "Semoga kita beruntung mendapatkan pekerjaan ini, Liona." Gadis bernama Liona itu mengangguk-angguk. Deheman membuat mereka yang bercakap di ruangan itu berhenti bicara. Pria tadi, yang membawa mereka ke ruangan ini masuk dengan membawa setumpuk map. "Kalian akan masuk ke dalam dua ruangan itu sesuai dengan urutan. Dan, semoga beruntung." Dan benar saja. Bergantian pria tadi memanggil mereka yang ada di ruangan itu. Hingga giliran Isabela yang berjalan cepat masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh pria tadi. Ruangan yang lumayan besar dengan nuansa putih perpaduan dengan kayu yang sangat bersih. "Kurasa Delico's tak ingin mempekerjakan gadis ceroboh dan serampangan sepertimu." "Haaaah..." Isabela mendongak dan menatap sumber suara. Dia terpaku lalu tertawa. "Oh Lord. Kaukah pemilik Delico's? Berarti mereka benar. Kau sangat tampan." "Kata-kata itu tak seharusnya yang keluar dari mulutmu saat kau hendak melakukan wawancara kerja Nona." "Aku Isabela." "Well...aku sudah membaca CV mu. Cukup mengesankan..." "Ini jadwal kuliah ku. Di bawahnya ada alamat email ku. Setelah jadwal kuliah dan kerja cocok kau bisa mengirimkannya padaku." "Kau..." "Selamat siang." Isabela berbalik. "Aku tidak menerimamu." "Kalau begitu aku akan bilang pada Paman Maurizio kalau anaknya tidak menerima ku." "Kau..." "Selamat siang Tuan Mateo Inzaghi." Isabela berjalan cepat dan keluar dengan membanting pintu pelan. Dia melihat Liona berjalan gontai dan mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu. "Kau kenapa?" "Bella. Rasanya aku tidak akan bisa diterima di sini. Persaingan sangat ketat." "Apakah kita berteman?" Liona berhenti melangkah dan menatap Isabela lekat. "Kau kelihatannya baik. Tentu saja kita berteman." Liona berteriak hingga membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka. "Kalau begitu kau akan bekerja di sini. Bersamaku. Apa kau kuliah? Berikan jadwal mu padaku." Liona terlihat gugup dan ragu. "Come on...percaya padaku. Hmm...kita minum kopi di seberang sana dan bicara." Mereka berdua berjalan cepat menyeberang jalan menuju sebuah kafe. Isabela tersenyum dan membiarkan Liona memesan untuk mereka. "Pria bernama Mateo itu pasti sedang berpikir darimana aku mengenalnya? Well...rasanya para orangtua di belahan bumi mana pun mempunyai kebiasaan yang sama. Memajang foto keluarga dimanapun mereka bisa memajangnya." Isabela tertawa pelan mengingat bagaimana dia melirik cepat sebuah foto keluarga yang terpasang di dinding di seberang ruangan di mana Mateo menerimanya. Dari sana Isabela tahu, Mateo adalah anak Maurizio Inzaghi. "Bagaimana kau bisa yakin kita...bisa bekerja di sana?" "Tenanglah." "Aku membutuhkan pekerjaan ini Isabela. Ibuku sakit. Jadi aku tidak bisa mengandalkan nya untuk kuliahku semester depan. Segalanya..." Isabela tercenung. Sepertinya Liona mengalami hari-hari yang berat. "Hmm...kau kuliah di mana?" "Universitas Napoli." "Hmm...dekat dengan tempat kuliahku. Aku kuliah di Diora, Interior Design Collage." "Wow...kau pasti dari keluarga kaya raya. Hanya para pesohor yang mampu membayar biaya kuliah di sana." "Tidak seperti itu Liona. Biasa saja." "Hmm..." "Kita bisa menghemat uang dengan menyewa satu apartemen. Maksudku...apa kau setuju berbagi kamar?" Liona menatap Isabela tak percaya. "Kau ini. Kita baru saja saling mengenal. Kenapa kau begitu baik? Apa kau tidak takut? Siapa tahu aku orang jahat?" "Orang jahat tidak akan mengaku Liona." Mereka berdua tertawa. "Bagaimana?" "Hmm...baiklah." "Apartemenku kalau begitu. Kau bisa menempati satu kamar kosong di sana." "Kau punya dua kamar di apartemenmu?" Isabela mengangguk. "Aku curiga padamu." Isabela tertawa. "Sudahlah. Kita nikmati kopi kita." "Orang Italia tidak menikmati kopi di pagi hari Isabela. Itu aneh." "Aku tahu. Tapi aku bukan Italia. Aku Amerika. Well...ada darah Italia di keluargaku, tapi sudahlah...apa salahnya secangkir kopi Liona." "Hmm...baiklah. Aku Liona Allesio." "Isabela Jefferson Leandro." Sekali lagi mereka berjabat tangan dan bersulang. "Tunggu dulu...Jefferson? Leandro? Matilah aku." "Kenapa?" "Apakah Jefferson--Leandro yang itu..." "Ahaa..." "Kau gila." "Lama-lama kau mirip Ibuku. Mengataiku gila." "Serius lah Isabela. Apakah..." "Memang itu. Yang itu...Jefferson--Leandro. Oh...tolonglah Liona. Aku butuh uang saku. Kita butuh membayar apartemen. Percayalah padaku..." "Kau gila. Uang bukan masalah untukmu. Atau aku yang gila?" "Tidak Liona..." Liona menatap Isabela lekat. "Baiklah. Kita gila...dan aku mulai takut padamu." "Hmm...mana jadwal kuliahmu?" Dan Liona hanya mampu terpaku pada sikap Isabela yang begitu spontan. Begitukah seorang Jefferson--Leandro? ----------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD