PART 5

931 Words
Tangan Isabela terulur menyeka bagian d**a Mateo yang terluka dengan antiseptik. Luka sekecil itu nyatanya akan membuat siapapun menahan perih tak terkira, seperti halnya yang terjadi pada Mateo. Wajahnya mengernyit tak suka menahan sakit. "Well...mawar selalu sebanding dengan keindahan yang diberikannya. Durinya siap memberikan rasa sakit yang tak pernah terbayang oleh seseorang." Isabela berujar dalam sambil sedikit menekan luka di d**a Mateo. "Seperti wanita..." Isabela tertegun. Dia mendongak dan menemukan mata Mateo yang entah mengapa menyiratkan sebuah kemarahan yang bertumpuk begitu lama. Membekas bahkan terlihat tanpa Mateo mengekspresikannya. "Entah mengapa aku setuju dengan perkataanmu." Isabela membenahi kotak obat. "Kau? Setuju dengan perkataanku? Apa sebagai wanita kau tidak merasa kesal ada yang menuduh kaum kalian seperti itu?" Isabela menghela napasnya. "Tidak semua sebuah ketidaksetujuan harus diluapkan tanpa sebuah pemikiran terlebih dahulu bukan? Begini maksudku...aku setuju bahwa wanita sanggup melakukan hal seperti itu. Yang perlu digaris bawahi adalah wanita yang seperti apa? Lalu apa kasus yang menyertainya hingga harus membuatnya menyakiti?" Isabela menatap Mateo yang termenung. "Terimakasih sudah membantuku mengantar mawar itu Mateo. Pekerjaku belum semuanya masuk, jadi agak sedikit repot di sini. Bagaimana? Apa masih sakit?" "Tidak." Isabela mengangguk dan beranjak menuju meja kerjanya lalu meletakkan kotak obat di laci. Dengan ujung matanya dia melirik Mateo yang sibuk memakai bajunya sambil berjalan keluar. Isabela menegakkan tubuhnya dan menghela napas pelan. Kepalanya lalu menggeleng. "Rasa sakit bahkan membuatnya menjadi pria yang sulit untuk sekedar mengucapkan rasa terimakasih." Isabela kembali sibuk membenahi beberapa kardus bunga yang baru datang. Dia memindahkan bunga-bunga itu ke dalam bejana-bejana besar berisi air. "Kenapa harus bersusah payah seperti ini? Kau bahkan tinggal menjentikkan jarimu dan semua akan datang padamu." Mateo meletakkan kardus kedua dengan hati-hati. "Karena aku bukan gadis seperti itu. Yang kau bicarakan itu adalah sesuatu selalu nampak di permukaan kehidupan para wanita di keluargaku. Tapi, kami tidak seperti itu. Atau, setidaknya, Ibuku tidak pernah mendidikku untuk menjadi seperti itu. Ada banyak kegunaan jemari dibanding sekedar untuk dijentikkan." Mateo menatap Isabela begitu lama. Merasa heran. Isabela jelas lain dari Antonia... Mateo menggeleng dan hendak berbalik. Namun langkahnya terhenti saat tangan Isabela mengamit lengannya. "Salah satunya adalah ini...koordinasi jari dengan lengan tangan. Bisa dipakai untuk berterimakasih padamu. Duduklah, aku sudah memesan sarapan." "Itu tidak perlu." Mateo menghentikan langkah. "Aku mempunyai mulut yang sayangnya pandai memaksa. Aku menuruni sifat Ibuku untuk yang satu itu..." Tatapan Isabela menerawang seakan membayangkan Ibunya yang suka sekali memaksa atau merajuk pada Ayahnya. Dan itu membuat Isabela seringkali tertawa saat mengingatnya. "Duduklah..." Isabela menekan bahu Mateo untuk duduk. Sebuah meja yang tak terlalu besar dengan empat kursi di letakkan di dekat jendela oleh Isabela untuk menikmati kopi atau bahkan sarapan. Isabela lalu duduk di depan Mateo dan menopang dagu. Menatap Mateo yang juga menatapnya dengan keryitan di dahi. "Kau kenapa?" "Apa kau selalu terlihat tampan seperti ini?" Mateo meluruhkan bahunya. Terlihat sedikit tak percaya dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Isabela. "Pertanyaan macam apa itu?" "Itu sebuah pujian sebenarnya..." Mateo mengendikkan bahu. Isabela beranjak. Seseorang dengan apron hitam panjang terlihat masuk dengan sebuah nampan besar. Pria itu meletakkan dua piring sarapan di depan Mateo dan Isabela. Lengkap dengan minumannya. "Terimakasih banyak." Pria itu mengangguk dan keluar. "Silahkan." Mateo meraih gelas, namun Isabela meliriknya sambil menggeleng. "Tautkan tanganmu untuk sekedar berdoa. Sebuah doa kecil tak akan menghabiskan seluruh waktumu di dunia." Mateo meletakkan gelas dan sedikit mengeluh. "Kau seperti Ibuku." "Pria biasanya mencari calon istri yang memiliki kemiripan dengan Ibunya. Misalnya...tingkah laku." Mateo yang menunduk sambil menautkan jemari dan memejamkan matanya, melirik Isabela cepat. Dan Isabela hanya tertawa pelan sebelum akhirnya dia mengikuti gerakan Mateo. Sesaat kemudian mereka makan dengan diam. "Untuk ukuran gadis jaman sekarang kau cukup...sederhana." "Hmm...aku memang seperti itu. Orang pikir aku akan buta dengan pergaulan dan kekayaan. Tapi...sekali lagi itu hanya permukaan. Aku tidak seperti itu. Aku kuno." "Benar. Kau seperti memegang tradisi dengan teguh." "Dan aku masih perawan." Isabela menyuapkan satu sendok penuh omelet ke mulutnya sementara Mateo urung menggigit rotinya. Roti di tangannnya berhenti tepat di depan mulutnya. Begitu lama karena Mateo begitu tertegun. "Kenapa?" Isabela kembali menyuapkan omelet ke mulutnya. Mengunyahnya dengan bersemangat. Seakan kata-kata yang keluar dari mulutnya tak berpengaruh apapun pada Mateo yang nyata-nyata tertegun dan kaget. "Kau mau menambah sesuatu Mateo?" "Tidak terimakasih." Mateo kembali menyuapkan sarapannya. Tatapannya terpaku pada Isabela yang mengikat rambutnya ekor kuda. Sulur-sulur anak rambut Isabela tertiup angin yang masuk dengan kencang melalui jendela. "Aku harus pergi sekarang." Mateo beranjak tigapuluh menit kemudian. "Terimakasih sudah membantuku mengambil mawar." Mateo hanya mengangguk. "Ibuku memintaku." Isabela mengangguk-angguk faham sambil mengantarkan Mateo keluar. "Akhir pekan...apa kau tidak berkencan?" Mateo yang hendak membuka pintu mobilnya berhenti. "Aku tidak suka wanita." Isabela tertegun. Dia menatap kosong Mateo yang masuk ke dalam mobil. Sesaat kemudian mobil Mateo menjauh. Semakin mengecil seiring Isabela yang mengelus dadanya. "Dia tidak suka wanita? Maksudnya? Apakah dia gay?" Bayangan Mateo yang maskulin. Bersih. Tipikal pria metroseksual yang rajin merawat kebugaran tubuhnya. Melintas cepat di benak Isabela. Kemungkinan itu selalu ada... Isabela menggeleng. "Isabela!" Isabela nyaris terlonjak dan reflek dia menoleh cepat dan mendapatkan Liona yang baru saja mengagetkannya, berdiri tegak di belakangnya. "Kebetulan kau datang. Ada yang ingin aku tanyakan Liona." "Ada apa? Apa ada yang serius?" "Bosmu itu..." "Oh...dia tampan." "Bukan itu. Ayo masuk..." Isabela mendorong Liona yang kebingungan untuk masuk ke toko bunganya. Pembicaraan para gadis... --------------------------- Mateo tergelak hingga dia merasa dia harus memukul kemudi mobilnya. "Gadis itu sangat lucu. Entah bagaimama Ibu dan Ayah bertemu dengannya, tapi gadis itu sangat lucu. Lihat saja betapa dia kaget dengan ucapanku." Kembali Mateo tergelak. Di pikirannya yang mencapai pelupuk matanya, dia membayangkan wajah Isabela yang memerah tanpa gadis itu sadari, saat Mateo mengucapkan bahwa dia tidak menyukai wanita. "Itu balasan karena kau sangat ceplas ceplos gadis kecil." Mateo sekali lagi tergelak. Dia melajukan mobilnya lebih kencang, menuju pusat kota. Matahari kian meninggi. Teriknya tak menyengat. Angin bertiup semilir. Angin dari lautan Liguria yang memberi kabar tentang sebuah kebenaran yang tak disadari oleh seorang pemuda. Kebenaran bahwa hatinya yang telah beku kini tengah tergelitik. Tergelitik hingga dia yang tak pernah tertawa sejak bertahun lalu, kini bahkan dia tergelak. ---------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD