Jejak Kedua – Tanda yang Tak Bernama
Hari ke-27 sejak Senar memulai perjalanannya.
Langit mendung seperti lembar surat yang belum dibuka. Tidak ada hujan. Tidak ada panas. Hanya kelabu yang tenang. Di sisi jalan antara kota yang tak tercatat, seorang anak remaja berjalan perlahan, seolah waktu sudah tak perlu dikejar.
Senar singgah di sebuah warung tua di dekat jembatan.
Pemiliknya seorang perempuan tua yang tidak bisa bicara. Tapi ia menyambut Senar dengan semangkuk sup dan segelas air jahe. Tak ada transaksi. Tak ada pertanyaan.
Hanya kedipan mata yang berarti:
> “Aku tidak perlu tahu siapa kamu. Tapi aku senang kamu datang.”
Senar meminum sup itu pelan. Lalu dari tas kainnya, ia mengeluarkan sepotong pita biru muda, dan meletakkannya di atas meja, di samping mangkuk.
Perempuan itu menatapnya.
Lalu tersenyum.
Dan menggantung pita itu di dinding, di antara puluhan benda lain yang juga tak bernama—kancing, kunci, potongan kayu, bahkan selembar bulu burung yang sudah memutih.
Tempat itu bukan warung.
Ia adalah museum sunyi. Tempat kenangan tanpa cerita dipajang agar tidak hilang.
Sebelum pergi, Senar menulis di secarik kertas dan menyelipkannya di bawah mangkuk:
> “Jika kamu tidak bisa bicara, maka biarkan dunia membaca diammu.”
Dan ia melanjutkan langkah.
**
Di jalan berikutnya, ia bertemu seorang pemuda yang duduk di pinggir danau, menggambar di atas batu dengan arang. Gambarnya tidak jelas—hanya gores-gores melingkar yang tampak seperti pusaran air.
“Apa itu?” tanya Senar.
Pemuda itu tidak menjawab, hanya menunjuk ke air.
“Aku tidak lihat apa-apa.”
“Justru itu,” katanya, “aku sedang menggambar sesuatu yang belum muncul.”
Senar duduk di sampingnya. Tak berkata-kata.
Lalu setelah beberapa lama, ia berkata:
> “Kalau nanti itu muncul, boleh aku titip satu warna?”
Pemuda itu mengangguk, lalu menyerahkan arang padanya.
Senar menggambar garis pendek. Hanya satu. Tapi cukup. Karena kadang, satu garis itu adalah ruang bagi yang belum punya bentuk.
**
Malam ke-30, hujan turun tipis. Senar berlindung di bangunan kosong bekas stasiun yang kini hanya dihuni suara tikus dan sisa bayangan dari papan keberangkatan yang sudah tidak menyala.
Ia duduk di bangku kayu paling ujung.
Menulis di halaman baru buku kecilnya:
> “Jika kamu menemukan tempat seperti ini, jangan takut duduk sendiri. Mungkin aku pernah duduk di situ juga.”
Di meja depan, ia tinggalkan satu liontin kayu kecil—yang keempat yang ia buat sendiri sepanjang perjalanan. Liontin itu berbentuk daun plum, dengan retakan kecil di tengahnya. Ia tak memperbaikinya. Karena ia tahu: yang retak tidak selalu harus disembuhkan. Kadang cukup dikenang.
**
Keesokan paginya, Senar tiba di sebuah desa kecil yang tidak punya nama. Penduduknya sedikit. Rumahnya rendah-rendah. Tidak ada sinyal, tidak ada listrik. Tapi tiap pintu terbuka tanpa kunci.
Di tengah desa, ada satu pohon besar dengan lubang di batangnya. Anak-anak desa bilang lubang itu bisa mendengar suara hati. Mereka menyebutnya: Penadah Bisik.
Senar mendekat, lalu berbisik pelan:
> “Aku tidak tahu aku akan sampai sejauh ini. Tapi aku juga tidak ingin kembali.”
> “Karena ternyata... yang aku cari bukan tempat. Tapi ruang yang tidak mengusir.”
Lalu ia masukkan satu benda ke dalam lubang itu: potongan kertas Mika.
"Kamu adalah suara yang tidak perlu dikeraskan..."
Dan dari balik pohon, seorang anak kecil muncul, diam-diam mengawasinya.
“Apakah kamu yang menanam Halaman Kedelapan?” tanya anak itu.
Senar menoleh, tak menjawab.
Anak itu tertawa kecil. “Ibu bilang, tempat itu tumbuh bukan dari tanah… tapi dari orang-orang yang berhenti takut.”
“Apakah ibumu pernah ke Halaman Ketujuh?”
“Ia tidak pernah bicara tentang itu. Tapi ia selalu meletakkan satu sendok kosong di meja makan. Untuk yang belum pulang.”
Senar menggenggam liontin di dadanya.
Lalu ia berkata pelan:
> “Kalau begitu, mungkin aku sedang menuju rumahmu.”
**
Malam itu, jauh di tempat lain, Mika terbangun dari tidurnya dengan rasa yang aneh.
Ia berlari ke luar, ke pagar utara, ke depan cermin yang embunnya masih membentuk pola-pola baru. Kali ini bukan simbol. Tapi rangkaian kalimat—terlalu samar untuk dibaca, tapi cukup untuk dirasakan.
Elan menyusulnya, mengusap kepala Mika pelan.
“Dia sedang menulis dari jauh,” bisik Elan.
Mika menunjuk cermin. “Kita harus jawab.”
Elan mengangguk.
“Besok, kita kirim Halaman Kedelapan ke arah angin.”
**
Dan benar, keesokan harinya, mereka menyiapkan Kotak Langkah.
Kotak itu kecil, dari kayu ringan, diisi benda-benda yang pernah ditinggalkan Senar. Sebuah liontin pertama. Sebutir garam dari dapur. Selembar kertas dengan puisi pendek. Dan satu catatan baru:
> “Kalau kamu merasa tidak pernah cukup, lihatlah langkahmu. Ia sudah lebih jauh dari ketakutanmu.”
Mereka lepaskan kotak itu di aliran sungai belakang rumah.
Dan di suatu tempat yang tak bisa dipetakan, Senar menemukan kotak itu terapung di danau yang ia lewati hari ke-40.
Ia membuka isinya perlahan.
Lalu ia tahu:
> Ia belum sendiri.
Ia tidak pernah sendiri.
**
Halaman Kedelapan tumbuh pelan-pelan. Bukan dalam satu titik. Tapi dalam jejak.
Dalam rumah-rumah sunyi yang mulai menggantungkan liontin kecil di pintu.
Dalam anak-anak yang menuliskan satu kalimat di bawah tempat tidur mereka.
Dalam bangku taman yang punya ukiran kata: “Silakan duduk. Aku tak akan tanya kenapa kamu diam.”
Karena rumah bukan lagi tempat.
Rumah adalah bahasa.
Yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang pernah... kehilangan suara.
Pagi itu, kabut turun lebih rendah dari biasanya. Bukan dingin yang menusuk, tapi semacam keheningan yang berat. Seperti dunia sedang menahan napas. Senar melangkah melewati hutan cemara kecil di pinggir utara kota yang tak punya nama, mengikuti jalur bekas rel tua yang tertutup lumut.
Di sana, ia menemukan sesuatu yang tak ada di peta mana pun: sebuah Ruang Tunggu Tanpa Tujuan.
Gedung kecil dari kayu usang. Tak ada papan nama. Tak ada jendela. Tapi di dalamnya ada delapan kursi tersusun melingkar. Tidak menghadap ke luar. Tidak menghadap ke pusat. Hanya menghadap satu sama lain. Dan di tengahnya, satu meja batu kecil dengan kalimat terukir:
> “Tempat ini tidak akan bertanya kenapa kamu datang.”
Senar duduk di salah satu kursi.
Lalu diam.
Dan ia menunggu. Bukan karena ia berharap seseorang datang, tapi karena… ruang itu membuatnya merasa ia tidak harus pergi.
Setelah beberapa waktu, pintu terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya masuk. Ia membawa sebuah koper tua. Wajahnya kelelahan, tapi matanya tidak kosong.
Melihat Senar, ia hanya tersenyum tipis dan duduk tanpa berkata apa-apa.
Lalu seorang pria muda masuk. Tangannya membawa boneka rusak. Ia menempati kursi ketiga.
Lalu seorang anak kecil. Lalu seorang lelaki tua dengan kaki pincang. Satu per satu, orang-orang masuk. Delapan kursi terisi, tanpa satu pun pertanyaan diajukan.
Dan selama dua jam berikutnya, tak ada yang bicara.
Tapi tidak ada yang gelisah.
Karena kehadiran tidak perlu dijelaskan.
Ketika kabut mulai menipis, satu per satu mereka bangkit dan pergi. Tidak mengucap selamat tinggal. Tidak saling menyebut nama. Tapi saat Senar bangkit, ia menemukan satu benda kecil di bawah kursinya:
> Sebuah ukiran kayu berbentuk anak tangga, dengan tulisan kecil: “Ruang ini akan mengikuti langkahmu.”
Ia menggenggam ukiran itu dan mengangguk pada udara.
**
Hari ke-59, di sebuah kota yang penuh tembok tinggi dan jalanan yang terlalu bersih, Senar menemukan dinding putih polos dengan satu celah kecil. Di atas celah itu tertulis:
> “Tulis sesuatu yang tidak ingin kamu jawab.”
Senar menyelipkan secarik kertas kecil. Isinya hanya satu kalimat:
> “Kenapa aku selalu merasa bersalah ketika aku mulai bahagia?”
Ia tidak menunggu jawaban. Tapi ketika ia melewati tempat itu keesokan harinya, celah itu sudah dipenuhi ratusan kertas. Semuanya kalimat tak selesai, pertanyaan yang tak pernah diucapkan keras-keras.
Dan dinding itu mulai dikenal penduduk sekitar sebagai Dinding yang Tidak Akan Menyela.
Senar menatap dinding itu lama.
Lalu ia pergi, meninggalkan liontin kayu kecil di atas trotoar.
Di belakangnya, seorang gadis berhenti. Membaca satu kertas. Lalu menangis. Lalu duduk.
Tanpa alasan.
Tanpa takut.
**
Hari ke-64. Kota kelima belas.
Senar singgah di sebuah rumah baca kecil. Bukan perpustakaan, bukan toko. Rumah itu hanya memiliki satu ruangan dan satu penjaga tua yang tidak pernah mencatat siapa yang datang dan pergi.
Di salah satu rak, Senar menemukan sebuah buku yang tidak punya sampul. Di dalamnya hanya halaman-halaman kosong, kecuali satu di tengah yang tertulis:
> “Jika kamu membaca ini, berarti kamu sedang butuh ruang untuk menjadi dirimu sendiri.”
Ia menulis di halaman berikutnya:
> “Aku sedang belajar memaafkan suara-suara dalam diriku yang dulu aku larang tumbuh.”
Dan menutupnya pelan.
Saat keluar dari rumah itu, langit sudah mulai gelap. Tapi ia merasa lebih terang.
Karena ruang yang tidak pernah diminta kadang adalah ruang yang paling penting.
**
Hari ke-70, malam hari.
Senar terjaga di tengah hutan kecil di bawah langit berbintang. Tidak ada api unggun. Tidak ada cahaya.
Tapi di kejauhan, ia melihat puluhan cahaya kecil bergerak perlahan.
Ia mendekat.
Ternyata itu adalah anak-anak dari desa terdekat, masing-masing membawa lentera kertas.
Salah satu dari mereka berkata, “Kami membuat jalan untuk seseorang yang belum pulang.”
“Siapa?” tanya Senar.
“Kami tidak tahu,” jawab anak itu. “Tapi seseorang dari desa kami dulu bilang, kalau kamu tidak tahu ke mana harus kembali, cahaya akan tahu duluan.”
Senar menatap cahaya-cahaya itu menyatu, membentuk lintasan yang anehnya… mirip bentuk liontin ketujuh.
Ia tahu, Halaman Kedepalan sedang tumbuh. Bahkan di tempat-tempat yang tidak ia datangi.
Karena rumah, jika cukup tulus, akan menumbuhkan dirinya sendiri.
**
Hari ke-72, di pinggir laut.
Senar duduk di karang menghadap ombak. Ia menulis satu surat. Bukan untuk siapa pun.
Atau mungkin untuk siapa pun.
> “Jika kamu menemukan jejakku dan merasa lebih ringan, itu bukan karena aku hebat. Tapi karena kamu sudah siap meletakkan bebanmu di ruang yang tidak akan menilaimu.”
> “Dan kalau kamu tiba di sebuah tempat yang membuatmu ingin menangis tanpa sebab… mungkin itu halaman kesembilan.”
Ia melipat surat itu dan menyimpannya dalam botol kaca.
Lalu melemparkannya ke laut.
Dan ketika ia berdiri, ia tidak merasa selesai.
Tapi ia merasa… cukup.
Untuk hari itu.
Untuk langkah itu.
Untuk menjadi ruang bagi yang belum tahu siapa mereka.