Luka

1050 Words

Gibra melangkahkan kakinya menuruni tangga. Di bawah, Omanya sudah menunggu dengan setia kehadiran cucu kesayangannya. Raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kelegaan. Yang terlihat adalah raut wajah sendu dan merasa bersalah. “Ban!“ “Kita pulang sekarang, Oma,” ajaknya. Dia bahkan tidak membiarkan wanita tua itu menanyakan keadaanya lebih dulu. Hanya saja, Gibran tetaplah Gibran. Dia hanyalah seorang anak kecil yang bertingkah dewasa di hadapan Omanya. “Kamu baik-baik aja? Lihat luka kamu.“ Tangannya terulur dan ingin menyentuh luka yang menghiasi sudut bibir Gibran. Hanya saja Gibran lebih cepat untuk mengelak sehingga sentuhannya tidak mengenai luka itu. “Lebih baik kamu istirahat di rumah aja, ya?“ Nada khawatir itu tidak hilang saat Oma mengatakan hal itu. “Gibran nggak kenap

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD