"Ava, tunggu! Aku bisa jelaskan!" seru David tanpa mengenakan kembali pakaiannya dengan baik. Dia hanya menarik selembar selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Sementara itu, Anna merasa ketakutan karena ternyata kekhawatirannya benar-benar terjadi. Istri David memergoki mereka melakukan hubungan badan.
"Apa yang hendak kamu jelaskan? Bukankah sudah jelas kamu melakukan perbuatan nista ini di kamar kita? Di atas ranjang kita? Kau pasti sudah tak sabar ingin mengganti posisiku di rumah ini dengan dia, bukan? Apa perlu aku putar ulang video kalian yang begitu menikmati pergumulan haram kalian? Kurasa itu semua sudah menjelaskan semua kebusukan yang ada dalam hati kalian!" Ava yang tampak semakin meradang seperti siap menjambak rambut Anna. Namun, dia sadar. David pasti akan membela Anna dan dia akan segera disingkirkan dari rumah ini. "Sudahlah! Nikmatilah percintaanmu dengan pelacurmu! Ceraikan aku segera!"
Ava pun mengemasi barang sekadarnya. Hanya membawa beberapa dokumen penting saja. Dia tak ingin lebih lama lagi berada di dalam rumah panas yang menjadi saksi perbuatan nista suami dan pelacurnya.
"Ava, tunggu!"
"Apa? Kau mau mengatakan ini tidak sengaja? Spur of time?" Ava menelan ludah, kemudian dia melanjutkan sambil menuding tubuh bagian bawah suaminya. "Aku tidak bodoh, David! Kamu bahkan melakukan ini semua tanpa rubber! Berarti dia sudah siap dengan kontrasepsi lain karena kalian rutin melakukan ini semua, kan?"
Ava menoleh ke arah wanita yang baru saja disetubuhi oleh suaminya. Wajah Anna tak mengatakan hal lain selain persetujuan atas pernyataan Ava. Dia memang memakai IUD untuk mencegah kehamilan karena takut lupa mengkonsumsi pil. Bagaimanapun juga, dia tak ingin memiliki seorang anak dari hasil perselingkuhan. Itu akan membuat segalanya menjadi sangat kacau.
"Aku pergi! Dokumen perceraian akan segera aku urus!" Ava pun menyeret kopernya keluar rumah. Dengan keadaan yang kurang sehat, wanita itu menyetir mobilnya tanpa arah ke tempat mana pun yang dituju mobilnya.
Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Ava, mengaliri pipi-pipi mulusnya. Dia tak menyangka, harinya akan berubah menjadi seburuk ini. Karena kondisinya semakin tak mengenakkan, akhirnya Ava pun kehilangan konsentrasi dalam menyetir dan menabrak mobil lain yang berada tak jauh di depannya.
Braakkk!
Ava pun tak sadarkan diri. Pemilik mobil lain yang keluar dari mobil saat hendak menegur Ava pun terkejut karena penabraknya justru terluka dan pingsan. Dia pun mengeluarkan Ava dari mobil dan membopong wanita itu ke jok belakang mobilnya untuk dilarikan ke rumah sakit.
Betapa terkejutnya sang pria saat sampai di rumah sakit dan mendapati wanita yang dia bawa ternyata mengalami keguguran. Sesuatu yang sangat traumatis.
"Benar, dia sedang hamil 4 minggu. Sayangnya, kecelakaan ini membuatnya keguguran," jelas dokter yang menangani Ava.
"Ya, Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Apakah keluarganya sudah dihubungi?" Pria itu panik dan merasa bersalah akan nasib yang dialami wanita yang ditabraknya.
"Dia menolak dan tidak mau menghubungi suaminya, Tuan. Mmmm, dia dalam proses perceraian." Dokter muda tersebut mengatakan dengan ragu-ragu karena hal yang dia sebutkan cukup pribadi.
Pria berambut pirang itu pun menghela napas, kemudian mengembuskan perlahan. Tak tahu apa yang harus dia lakukan selain menanggung biaya pengobatan.
Tampak kilatan iba dari mata hijau sang pria. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Pasti itulah yang dirasakan wanita lemah yang terbaring di ranjang rawatnya.
Pria jangkung berbadan atletis itu pun mengusap wajahnya dengan penuh penyesalan. Dia hanya bisa berdoa agar kondisi wanita itu lekas pulih.
***
Selama tiga hari di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa Ava tak mau mengatakan apa pun. Dia hanya termangu di ranjang rumah sakit. Tanpa mau makan dan minum.
"Kami khawatir dia sudah tak memiliki semangat hidup lagi."
Pria berambut pirang yang mengalami kecelakaan dengan Ava itu pun menghela napas. Sangat merepotkan, mengapa dia harus berurusan dengan kekacauan yang tak berujung hanya karena kesalahan yang bukan perbuatannya?
"Aku akan bicara dengannya."
Pria itu kemudian masuk ke dalam ruangan dan menyapa Ava.
"Miss Browns. Saya James Blunt, pria yang Anda tabrak beberapa hari yang lalu. Maaf baru memperkenalkan diri, say—"
"Apa mau kamu? Uang aku tak punya. Aku tak akan bisa memberimu ganti rugi," potong Ava dingin tanpa memalingkan wajahnya ke arah pria yang mengaku bernama James Blunt.
James menghela napas panjang. Dia sangat tak suka gaya Ava berbicara. Sangat tidak sopan dan kasar. Apa dia tak pernah diajari tata krama?
"Baiklah. Saya akan berterus terang. Saya tahu, Anda sangat sedih karena kehilangan bayi Anda. Namun, saya harap Anda tidak menyusahkan saya dengan berdiam diri seperti ini di rumah sakit. Saya orang terkenal. Media bisa memelintir kejadian ini sehingga tampak saya sebagai pihak yang salah."
Ava tak menjawab. Baginya, perkataan James sangat menyakitkan. Bagaimana mungkin dia peduli pada reputasinya pada saat seperti ini?
"Saya tahu bagaimana perasaa—"
"Kamu tidak tahu! Tidak akan pernah tahu!" jerit Ava.
James tak tahu lagi harus berbuat seperti apa mendengar jeritan dan tangis Ava. Dia pun akhirnya menyerah dan berkata, "Okay. Apa yang harus saya lakukan agar Anda menghentikan semua aksi gila ini?"
Ava pun terdiam. Dia menatap James tak percaya. Dahinya berkerut, matanya menyipit memandang lekat wajah James yang serius. Kedua telapak tangan Ava menepuk dan mencengkeram bahu James. "Beri aku bayi lagi! Bisakah kau memberiku bayi lagi?"
James terpaku mendengar permintaan Ava yang terasa absurd baginya. "Anda bercanda!"
Ava menatap tajam dan mencengkeram bahu James lebih erat lagi. "Tidak sama sekali. Aku tidak bercanda. Aku benar-benar menginginkan ganti dari bayi ini!"
Kini, air mata Ava mengalir semakin deras. "Tolong beri aku bayi lagi .... Beri aku bayi lagi ...."
Begitulah terus menerus pernyataan yang keluar dari bibir Ava. Membuat James merasa sangat salah tingkah.
Dahi pria itu berkerut. Sudut bibirnya hendak mengatakan sesuatu. Namun, memutuskan hal serius seperti itu bukanlah perkara gampang. Dia bukanlah hewan peliharaan atau hewan ternak yang akan dengan senang hati memberikan benih tanpa peduli apa yang akan terjadi setelah itu.
"Maaf, saya tidak bisa melakukannya!" Akhirnya, hanya itulah yang keluar dari bibir James.