Setelah perdebatan tadi pagi yang tidak dimenangkan oleh Letta, gadis itu kini berjalan hendak melihat-lihat rumah sakit. Banyak dari dokter-dokter junior maupun senior yang sudah dikenalnya karena Letta termasuk cepat berbaur. Seperti dokter Collin yang sangat tenang akan pembawaannya merupakan dokter senior yang juga disegani seperti Azel, kemudian dokter Byan yang tempramen, dokter Sean yang kaku, dokter Zee sahabatnya yang suka berceloteh sama sepertinya, dokter Freddie yang konyol yang juga merupakan dokter junior karena baru dua tahun bekerja dirumah sakit, dan masih banyak lainnya dokter bedah saraf dengan divisi yang berbeda tentu saja.
"dokter Letta.." Panggil suara laki-laki sambil bernafas tergesa-gesa seolah ada keadaan darurat.
"Ya?" Letta berbalik dan menatap dokter Ben sedang menetralkan nafasnya. "Ada apa dokter Ben?"
"Ada pasien darurat di ICU? Dia kehilangan penglihatan pada mata kirinya, suaranya juga sangat berat hingga tidak keluar saat saya ingin bertanya apa yang terjadi dan sebagian sisi wajahnya tampak turun."
Letta membelalak dan segera berjalan cepat menuju ruang ICU dimana pasien tersebut terbaring lemah diikuti oleh dokter Ben yang merupakan dokter junior di tahun ketiga.
"Apa kau sudah menghubungi dokter Azel?" Tanya Letta sambil terus melangkahkan kakinya dengan cepat hingga sedikit berlari.
Ben mengangguk. "Sudah, dok. Dokter Azel sedang melakukan operasi."
"Operasi?" Letta bahkan tidak tahu jika Azel memiliki operasi. Kenapa pria itu tidak memberitahu apapun pada Letta? Bukankah disini Letta asisten keempatnya? Sepertinya Azel benar-benar memandang remeh dirinya.
"Ya, dok. Operasi pendarahan otak pada wanita lansia."
Letta mengangguk hingga mereka sampai di ruang ICU dengan bunyi berbagai macam alat yang terhubungkan dengan tubuh wanita tersebut.
"Bagaimana hasil CT-Scan?" Letta bertanya sambil memeriksa denyut nadi dan juga mata pada wanita tersebut. Memang terlihat berbeda karena mata sebelah kiri tampak tidak terpengaruh akan cahaya.
"Arterinya tersumbat, hanya saja saya tidak tahu seberapa parah."
"Lakukan USG Duplex Scan. Setelah hasilnya keluar, segera beritahu aku karena semakin lama menahan wanita ini semakin besar kemungkinan dia kehilangan nyawanya."
"Baik, dok."
Letta segera keluar dari ruangan tersebut hendak menemui salah satu dokter senior Sean. "Saya ingin menemui dokter Sean."
"Maaf, dok. Dokter Sean sedang keluar."
"Bagaimana dengan dokter Collin?" Tanya Letta penuh harap.
Suster tersebut kembali menggeleng. "Beliau sedang melakukan operasi, dok."
Letta memijit pelipisnya pelan. kenapa disaat dia membutuhkan dokter senior, tidak ada satupun yang bisa? Bagaimana ini?
"Baiklah, terimakasih."
Letta kembali beranjak menuju ruangannya untuk mempersiapkan diri jika dia yang harus operasi wanita tersebut. Tiba-tiba saja, hpnya bergetar menandakan panggilan masuk dari dokter Ben.
"Bagaimana hasilnya?" Letta bertanya cepat.
"Stenosis berat. 70%-99% arteri yang tersumbat, dok."
Letta menghela nafasnya. "Siapkan ruang operasi, Ben. Siapa dokter yang bertanggung jawab minggu ini?"
"Dokter Azel, dok. Lalu, siapa yang akan mengoperasi wanita itu?"
Dengan helaan nafas terpaksa Letta menjawab. "Aku, Ben."
"Tapi dok-"
"Kita tidak bisa menunggu, Ben. Kondisinya sudah sangat parah. Penggumpalan darah bisa saja terjadi di sepanjang arterinya dan apabila pecah ada kecenderungan penggumpalan darah bergerak ke otak dan akan mengakibatkan stroke. Lantas, setelah stroke terjadi, apakah kau ingin bertanggung jawab?" Potongnya cepat
Ben terperangah mendengar penjelasan dokter Letta yang termasuk baru di rumah sakitnya. "Baik, dok. Saya akan memberitahu anda jika semuanya sudah siap."
"Hmm." Letta segera menutup teleponnya dan mulai beranjak untuk berganti seragam operasi yang berwarna hijau tua.
Setelah mengenakan pakaian operasinya, Letta merenggangkan otot-otot di tangannya sejenak. Menetralkan jantungnya yang berdegup keras karena ini merupakan operasi sulit. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang operasi kemudian mensterilkan kedua tangannya lalu masuk ke dalam ruang operasi untuk yang ke sekian puluh kalinya.
Ya, Letta termasuk memiliki IQ yang tinggi karena ia merupakan dokter senior di rumah sakit milik keluarganya sendiri dan disini dia diperlakukan seolah wanita bodoh yang tidak tahu apaapa oleh pria tampan berhati iblis tersebut.
Disana sudah ada dokter Zee sebagai asisten pertamanya, dokter Ben, dan beberapa dokter junior lainnya.
"Kau yakin?" Zee bertanya sedikit takut karena ia belum pernah melihat Letta melakukan operasi selama beberapa hari bekerja di rumah sakit yang bernaung dibawah perusahaan Zerrald tersebut.
Letta mengangguk mantap. "Kita mulai."
***
Azel merenggangkan kepalanya sehabis keluar dari ruang operasi pada wanita lansia. Cukup memakan banyak waktu namun hasilnya selalu memuaskan. Wajah kerasnya terlihat sedikit lelah, namun tidak mengurangi gurat ketampanannya sedikitpun.
"Selamat, dok. Anda berhasil melakukannya." Tesa seperti biasa akan mengucapkan hal-hal yang membuat Azel untuk memberikan setidaknya sedikit perhatian.
Pria itu mengangguk dan beranjak darisana diikuti oleh Tesa yang merupakan asisten pertamanya.
"Pantau terus keadaannya karena dia akan mengalami serangan disaat-saat tertentu."
"Baik, dok." Jawab Tesa patuh.
"Dimana dokter Letta?" Azel bertanya pada Tesa membuat wanita itu mengerutkan dahi karena tidak tahu dimana dokter Letta. Tesa merasa senang saat dokter Azel tidak mengajak dokter Letta melakukan operasi karena itu mengganggunya. Tesa kesal karena dokter baru itu sepertinya sangat dekat dengan dokter Azel dimana mereka selalu pergi bersama setiap pagi. Apalagi, pagi ini keduanya terlihat mesra dengan Azel yang mengecup kening Letta saat mereka baru turun dari mobil sambil mengatakan beberapa perhatian yang membuat para wanita disekitar mereka patah hati.
"Saya kurang tahu, dok."
"Baiklah." Azel melangkahkan kakinya menuju ruangan ganti pakaian untuk mengganti seragam operasinya kembali.
Hp yang sedari tadi di saku jas dokternya bergetar menandakan panggilan masuk dari dokter Sean.
"Ya, Sean?"
"Kau darimana saja?" Cecar suara disana membuat Azel mengernyit karena tidak biasa Sean menanyakan dirinya.
"Baru siap operasi dan sedang mengganti pakaianku. Ada apa?"
"Asisten pertamaku dan asisten keempatmu sedang melakukan operasi. Yang lebih mengejutkannya lagi, asisten keempatmulah yang memimpin operasi tersebut!"
"Apa?!"
***
"Sayatan ini jangan dibuka terlalu lebar." Letta bergumam sambil terus menyayat di sepanjang arteri karotis. "Terutama di tempat arteri yang menyempit untuk mengangkat kolestrol yang tertimbun."
Beberapa dokter disana mengangguk mendengar penjelasan Letta yang terlihat sangat santai seolah sudah terbiasa.
"Ukuran sayatannya bisa 7-9 cm atau 2,5-4 inchi." Kini Letta sedang membersihkan timbunan kolestrol dibagian rahang dan tulang d**a. "Berikan aku patch."
Zee memberikan sebuah alat untuk menutup kembali rahang dan tulang d**a dengan penutup khusus tersebut.
"Kau terlihat seperti sudah biasa melakukan operasi." Zee bergumam sambil menatap takjub pada temannya.
"Hmm. Aku sering melakukan operasi saat di negaraku dulu." Sahutnya kemudian memasang sebuah tabung untuk menyedot darah yang tersisa yang akan keluar setelah operasi. "Berikan aku shunt." Pintanya kembali kepada Zee.
Shunt merupakan sebuah tabung kecil yang terbuat dari plastik dengan tujuan untuk mengalihkan darah ke otak selama operasi berlangsung. Bila shunt tidak digunakan, arteri karotis hanya akan dijepit untuk membatasi aliran darah hingga operasi selesai.
"Setelah ini, aku ingin kalian memantau keadaannya selama 48 jam karena bisa saja dia mengalami komplikasi dan harap memberitahukannya padaku. Mengerti?"
Keempat dokter tersebut mengangguk mengerti membuat Letta tersenyum lebar dan mulai kembali melanjutkan pekerjaannya.