Setelah kejadian sore itu, akupun menjadi berita hangat di keluarga ayahku dan mendapatkan gelar baru sebagai anak durhaka. gelar yg kuperoleh dari keluarga ayahku karena aku berani mengusir ayahku sendiri dari rumah kami, bahkan tanpa segan memperlihatkan pisau di tanganku pada ayahku saat itu juga dan mengancam jika ayahku berani pulang dan ngotot masuk kerumah akan ada pertumpahan darah. Aku mengancam ayahku dengan 2 pilihan, yg pertama pisau itu akan mengenai ayahku atau aku putrinya sendiri yg akan mati di depannya. Lalu ayahku memilih pergi karena dia sebenarnya paling tunduk sama putrinya yaitu aku. Mungkin ayah takut aku kenapa2 karena aku tipe orang yg nekat dan jika aku sudah berkata sampai seperti itu karena aku sudah benar2 marah pada ayahku.
Sebenarnya aku menyayangi ayahku. Akan tetapi aku juga menyayangi ibuku dan aku benar2 sudah tidak tahan dengan kelakuan ayahku yg keterlaluan selalu saja membuat ibuku menderita, makin hari ibuku makin kurus sampai tulang2nya kelihatan menonjol ibuku pun sering sekali menangis dibuat ayahku. Ayah selalu saja meminta uang pada ibu dan tidak jarang memaksa hingga membentak dan memarahi ibuku habis2an dengan kata2 yg kasar. Ayah pun suka sekali mencuri uang bahkan perhiasan ibu diam2 dan menjualnya. Bahkan ayah pernah mencuri emas nenekku yg saat itu tinggal bersama kami hingga nenek sakit hati dan semua keluarga ibu menyalahkan ibu atas semua perbuatan ayah itu.
Selain aku tidak ada yg berani membela ibu mati2an, sebenarnya aku punya seorang kakak laki2 dan 2 adik laki2 tapi mereka hanya tahunya diam saja tanpa ada tindakan. Bukan mereka tidak benci, mereka benci sangat benci sm ayah kami karena tak jarang ayah pun sering berantem berebut makanan sm saudara laki2ku misal perkara kalau nasi habis itu pasti ayah buru2 makan gk peduli anak2nya mau makan atau tidak? Benar2 ayah yg gk bisa diandalkan bukan? Mengalah untuk anaknya pun tidak bisa... tapi saudara laki2ku hanya diam saja setiap kali aku bertanya pada mereka kenapa gk belain ibu? Mereka hanya bilang malu sm tetangga ribut2 dan itu urusan rumah tangga ayah dan ibu kita gk bisa ikut campur. Tapi kn tetap saja, kenapa mereka kok kayak gk mikirin perasaan dan penderitaan ibu selama ini? Apa memang menjadi seorang wanita “ibu” kita harus selalu ngalah dan diam saja kalau ditindas? Gk adil benar2 gk adil rasanya ini semua.. terutama buat ibu yg sudah berjuang seorang diri demi keluarganya.
Aku sebagai seorang putri satu2nya, mungkin itulah yg bisa membuatku memahami perasaan ibuku karena kami sama2 perempuan. Dan aku tidak menyesal berbuat hal itu “mengusir ayahku dari rumah kami” karena semenjak ayah pergi keadaan ibuku semakin baik, wajah ibu mulai ceria badannya pun mulai berisi dan ibu semakin hari semakin cantik kelihatan awet muda. Aku yakin ibuku bahagia semenjak tidak ada lagi ayah yg selalu membuat masalah di rumah kami.
Dan saudara laki2 kU pun gk perlu berebut nasi lagi dengan ayah, tidak ada lagi suara pertengkaran ayah dan ibuku, tidak ada lagi wajah murung ibuku yg selalu menangis akibat perbuatan ayahku. Yang ada hanya suara pertengkaran2 kecil antar saudara yg berebut remot TV atau sekedar berebut cemilan yg dibawak ibu saat pulang dinas.