PROLOG

411 Words
Lelaki itu mengepal erat kedua tangannya hingga jemarinya memutih, dahinya berkerut, pikirannya melayang akan berbagai macam kemungkinan yang mulai muncul di dalam benaknya. Hatinya menolak, egonya mencoba mengambil alih, mulai berasumsi akan kemungkinan buruk yang akan ia hadapi di depan. Entah sebesar apapun rasa enggan yang bergemuruh di dalam hatinya, tugas adalah tugas. Sebuah kewajiban yang tak dapat ia elak, bahkan bagi seluruh rakyat di Land kingdom. "Bumi? Aku tak mengetahui apapun tentang tempat itu! bahkan aku tak pernah mendengar namanya sekalipun!" Lelaki itu menghela nafas, alisnya yang tebal bertautan, dengan sorot netra tajam yang menandakan bahwa ia sangat serius saat ini. "Pengetahuanku tentang dimensi tersebut sangat terbatas, bagaimana mungkin aku dapat memperbaiki sesuatu yang sama sekali tidak aku mengerti?" Lelaki berambut coklat itu benar-benar bingung, tugas yang akan ia lakukan saat ini tidak mudah. Bahkan terdengar tak masuk akal baginya. Pergi ke dimensi lain. Pergi ke tempat yang tak pernah ia dengar sedikitpun. "Kau akan pergi dengan perwakilan Calux Water dan Calux Air, kau tak akan melakukan semua ini sendirian. Pintu dimensi akan terbuka dan kau bisa kembali ke Epifron setelah semuanya selesai. Entah apa yang akan kau temui di sana, selalu ingat apa tujuanmu dan kemana tempatmu akan kembali pulang. Pergilah, lakukan tugas ini dengan baik" Lelaki tua yang disebutnya dengan panggilan 'Ayah' berujar dengan tegas. Secara perlahan ia bangkit dari singgasananya dengan gagah, baju jirah coklat tebalnya menjuntai hingga menyapu lantai, seakan usia dan tanda penuaan di wajahnya tak dapat membakar semangat yang terpancar dari sorot. "Aku percayakan hal ini padamu Lean," ujarnya. Ia mengangkat kedua tangannya, kemudian menepuk pundak putra lelakinya dengan lembut, memberi suatu kepercayaan dan semangat yang amat mendalam, bersamaan dengan sebuah tanggung jawab dan beban yang harus diemban putranya nanti. "Aku khawatir kekacauan yang terjadi di bumi bukan ulah penghuni bumi sendiri, kegelapan di sana jelas bukan energi yang berasal dari dimensi tersebut. Kita tidak bisa terus menerus diam dan mengabaikan semua yang terjadi. Pergilah sekarang, dan cari tau penyebabnya, perwakilan Calux yang lain sudah menunggumu" "Aku mengerti," ujar Lean, sang putra mahkota. Lean mengangguk dengan melangkah mundur perlahan, membungkuk dengan hormat sekalipun ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan, yang jelas ia akan pergi. Ia akan melakukan tugas ini sebaik mungkin. "Aku pamit Ayah" . . . . . A/N : Selamat datang di cerita Dimension Of Calux. Ini cerita pertamaku di dreame, jangan lupa tap love ya, agar cerita ini masuk ke library kalian. Salam cinta, Sabrinaputi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD