Seminggu berlalu begitu saja. Ayu tidak tahu apa yang merasukinya, alih-alih melarikan diri, dia malah mau dibawa ke rumah yang sebenarnya tidak asing sepulang dari shift malam. Masih, dengan pakaian kerja dan wajah yang terlihat lelah. Pramasta bahkan tidak memberinya kesempatan untuk membuat alasan.
“Aku mau minta izin nikah.”
Dimas nyaris menjatuhkan cangkir kopinya saat melihat siapa yang berdiri di ruang tamu rumah orang tuanya pagi itu.
Pramasta. Adiknya sendiri dengan wajah terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak terpikir akan keluar dari pria yang terlihat tidak akan menikah seumur hidupnya.
“HAH?” Dimas refleks berdiri. “Nikah?!”
Ibu mereka yang sedang menyusun kue di meja makan ikut menoleh. “Nikah sama siapa, Pram?”
Pramasta melirik sebentar ke arah Ayu yang berdiri canggung di dekat pintu. “Sama Kak Ayu.”
Waktu seolah berhenti. Ayu bisa bersumpah ia mendengar suara otak Dimas buffering.
“…Ayu?” ulang Dimas pelan. “Mantanku ini?”
“Pacar kamu,” koreksi Pramasta datar. “Atau… mantan pacar, ya? Kan kamu baru tunangan sama perempuan lain.”
Dimas menunjuk Ayu dengan wajah merah. “KAMU SELINGKUH SAMA ADIKKU SELAMA INI? PANTAS KAMU IYA-IYA SAJA SAAT TAHU AKU TUNANGAN DENGAN PEREMPUAN LAIN!”
Ayu membuka mulut, tapi Pramasta lebih dulu bicara.
“Nggak gitu, kita beda ya,” katanya tenang, tapi tajam. “Dia nggak kayak kamu, yang udah punya pacar tapi malah tunangan sama cewek lain.”
“PRAMASTA!” Muka Dimas makin memerah seperti tomat karena ledakan emosi.
“Aku cuma bertanggung jawab atas apa yang aku lakuin.”
Ibu mereka langsung menutup mulut. “Tunggu. Tunggu.” Ia menatap Ayu dari ujung rambut sampai kaki. “Kamu… hamil?”
“HAH?!” Dimas hampir lompat. “Tuh kan! Aku baru putus dua minggu lalu, Ma. Mana mungkin tiba-tiba dia hamil anak Pramasta?”
Ia menoleh ke Ayu, lalu terdiam sebentar.
“Lagipula… nggak mungkin juga itu anakku,” katanya cepat. “Soalnya aku… nggak pernah pake dia. Dia selalu menolak setiap kali aku minta.”
Hening. Ayu ingin menghilang dari muka bumi. Pramasta bersandar santai ke sofa, menatap kakaknya dengan senyum paling tengil yang pernah Ayu lihat.
“Bener,” katanya ringan. “Karena aku yang pakai dan dia bersedia.”
Dimas membeku.
Ibu mereka menjerit kecil. “ASTAGA!”
“Sebagai manusia dewasa,” lanjut Pramasta tanpa rasa bersalah, “aku bakal tanggung jawab.”
“KAMU GILA?!” teriak Dimas. “Ayu mantan aku!”
“Kamu ninggalin dia,” balas Pramasta. “Secara sadar.”
Ibu mereka duduk perlahan, kipas tangan gemetar. “Jadi… dua-duanya baajingan?”
Ayu menunduk. Ia seharusnya malu. Seharusnya menangis. Entah kenapa, di tengah kekacauan ini… ia ingin tertawa.
Pramasta menoleh padanya. “Aku serius, Aku mau menikah dengannya seminggu lagi.”
“SEMINGGU?!” Dimas dan ibunya kompak berteriak.
“Iya,” jawab Pramasta mantap. “Daripada kelamaan, nanti keburu ada yang nyesel.”
Tatapan itu sekilas jatuh ke Dimas.
Dimas mengumpat pelan. “Gila… keluarga ini gila semua.”
Ayu menarik napas panjang.
Di detik itu, ia sadar, hidupnya resmi berubah jadi komedi paling kacau yang pernah ia jalani.
Bel pintu berbunyi saat suasana ruang tamu masih tegang seperti tali jemuran mau putus.
Semua kepala menoleh bersamaan. Ibu Dimas dan Pramasta menghela napas panjang. “Siapa lagi ini…”
Dimas berdiri. “Aku buka.”
Begitu pintu terbuka—
“Aku bawain sup ayam, Tante!”
Suara ceria itu terdengar duluan sebelum pemiliknya muncul. Selvi dengan dress pastel rapi, rambut tergerai sempurna, dan senyum calon menantu idaman yang langsung membeku begitu matanya menangkap siapa yang berdiri di ruang tamu.
Ayu. Di rumah itu berdiri di samping Pramasta.
Selvi berkedip dua kali. Otaknya sedang menyusun ulang realitas.
“…Ayu?” katanya pelan.
Ayu menegakkan punggung. “Hai, Selvi.”
Dimas menelan ludah. “Selvi—”
“Kok kamu di sini?” Selvi memotong, masih dengan senyum yang belum sepenuhnya runtuh.
Pramasta menyahut santai, “Dia calon istriku.”
Sup ayam di tangan Selvi nyaris dibuang ke lantai.
“Apa?” Selvi menoleh cepat ke Dimas. “Ini bercanda, kan?”
Dimas membuka mulut. Menutup lagi lalu berkata lemah, “Enggak.”
Selvi tertawa kecil. Kaku. “Lucu ya. Aku kira kamu bakal ninggalin aku karena mantanmu datang ke rumah.”
Ia menoleh ke Ayu. “Ternyata… aku malah harus jadi ipar?”
Ayu menahan senyum getir. Ip ar. Kata itu terasa aneh di lidahnya.
“Kamu… kamu mau nikah sama adiknya Dimas?” Selvi bertanya lagi, kali ini nada suaranya mulai berubah.
“Iya,” jawab Ayu singkat.
Selvi menarik napas panjang, lalu duduk dengan anggun di sofa—tepat di samping Dimas. Secara refleks, ia menggenggam lengan tunangannya, seolah mengingatkan semua orang tentang posisinya.
“Aku cuma bingung,” katanya manis tapi tajam.
“Soalnya setahuku… dulu aku yang merebut.”
Hening.
Ayu menatapnya lurus. “Kamu sadar?”
Pramasta menoleh cepat ke Ayu. Oh, ini menarik.
Selvi tersenyum tipis. “Ya apa pun istilahnya, sekarang kan posisinya beda.”
Ia melirik Ayu dari ujung rambut sampai kaki.
“Aku tunangan Dimas.”
Dimas mengangguk cepat, seolah menemukan pegangan hidup. “Iya. Selvi calon istriku.”
“Aku juga calon istri adiknya,” balas Ayu tenang.
Ibu mereka berdeham keras. “Cukup.”
Ia berdiri. “Papa kalian belum pulang. Keputusan besar begini nggak bisa diambil tanpa dia.”
Semua terdiam.
“Sekarang,” lanjut sang ibu, menatap tajam dua putranya, “kalian berempat… duduk. Tunggu.”
Tidak ada yang berani membantah. Ruang tamu berubah jadi medan perang sunyi.
Dimas duduk di tengah sofa, Selvi di sebelah kanannya, Pramasta di kursi tunggal, dan Ayu di ujung sofa lain. Jarak di antara mereka terasa seperti garis tak terlihat yang penuh ranjau.
Selvi menyilangkan kaki. “Jadi,” katanya memecah keheningan, “kalian ketemu lagi di mana?”
“Bar,” jawab Pramasta santai.
Selvi mengangguk pelan. “Oh. Klasik.”
Dimas berdehem. “Itu… kebetulan.”
“Kebetulan itu berujung nikah,” sambung Selvi.
Ayu menatap lurus ke depan. “Kadang hidup suka ekstrem.”
Selvi tersenyum. “Aku setuju. Apalagi kalau mantan tiba-tiba naik status.”
Pramasta terkekeh. “Status itu relatif. Tergantung siapa yang bertanggung jawab.”
Dimas memutar badan. “Kamu nyindir aku?”
“Aku hanya nyebut fakta,” jawab Pramasta ringan.
Selvi menepuk dadaa Dimas. “Udah, Mas. Nggak usah ditanggapi.”
Ia lalu menoleh ke Ayu. “Aku cuma heran. Kamu yakin mau nikah sama Pram?”
Ayu mengangguk. “Yakin.”
“Padahal dulu kamu bilang Dimas cinta sejatimu.”
Dimas tersenyum tipis, bangga.
Ayu menoleh. “Ternyata aku salah. Dia mudah direbut pelakor.”
Senyum Dimas runtuh.
Pramasta bersandar, menatap Ayu dengan ekspresi yang sulit ditebak—antara puas dan protektif.
“Lagipula,” lanjut Ayu pelan, “aku nggak pernah bermimpi jadi istri pria yang ninggalin aku demi perempuan lain.”
Selvi tertawa kecil. “Tapi sekarang kamu jadi istri adiknya.”
“Dan kamu jadi istri kakaknya,” balas Ayu. “Seimbang.”
Udara menegang.
Selvi menggenggam tasnya. “Aku cuma berharap… nanti di keluarga ini, aku nggak harus selalu diingat sebagai ‘yang datang setelah mantan’.”
Ayu menatapnya. “Tenang. Aku juga nggak mau dikenang sebagai ‘yang ditinggal lalu naik level’.”
Dimas menepuk lutut. “Ini absurd.”
Pramasta menyeringai. “Baru mulai.”
Bel pintu berbunyi lagi.
SEMUA MENEGANG.
Ibu mereka berdiri cepat. “Papa pulang.”
Empat pasang mata saling pandang.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Ayu merasa… menunggu justru lebih menegangkan daripada keputusan apa pun yang akan datang. Karena apa pun hasilnya nanti, tak satu pun dari mereka akan keluar dari rumah ini dengan hidup yang sama.