Tatapan aneh masih saja Zilya dapat. Namun, Zilya hanya diam. Apalagi ketika ada murid yang bilang, jika Zilya adalah gadis aneh. Ingin rasanya menangis, tapi ia sadar. Menangis bisa menyebabkan stres, dan ketika stres maka penyakitnya akan kambuh lebih ganas, daripada biasanya. Sebisa mungkin, gadis itu tak mengambil pusing semua ucapan, bahkan lirikan sinis dari orang lain.
Zilya sedang berada di kantin, menunggu antrian untuk memesan makanan.
"Mbak, aku pesan mi goreng pedas, ya? Sama es teh," kata Zilya.
"Siap, neng."
Ketika dirasa cukup, Zilya mencari tempat untuknya duduk. Kebetulan ada meja kosong.
Kini datang Rara, Aurel, dan Fani ke arah Zilya. Mereka bertiga adalah teman seklas Zilya, yang super duper nakal, dan suka membuli. Semoga nasib baik berpihak kepada Zilya. Gadis itu berharap, semoga Rara, dan kawan-kawanya tidak menganggu dirinya.
"Eh... Ada tahanan," kata Rara, begitu menusuk Zilya. Namun, gadis itu mencoba untuk cuek, pura-pura tak mendengar.
Kini Rara, dan kawan-kawan duduk di bangku tepat di hadapan Zilya.
"Eh... Aku mau tanya, dong. Kenapa sih? Tangan kamu kok, bisa diborgol kaya gini? Kamu bukan buronan, kan?" tanya Aurel, sepontan membuat Rara, dan Vina tertawa. Sumpah, kenapa mereka menganggap kekurangan Zilya sebagai bahan lelucon? Tanpa, tahun semua yang dialami Zilya itu menyakitkan.
"Ah... Mungkin dia cuma pengen cari sensasi!" timpal Vina.
"Kalian gak berhak ngomong kaya gitu," ujar Zilya.
"Kenapa? Suka-suka kita, lah. Kan emang dasarnya kamu aneh," bantah Rara.
Mata Zilya berkaca-kaca. Kemudian, bangkit dan meninggalkan ketiga teman kelasnya. Zilya berlari dengan ritme yang cepat. Tujuannya adalah toilet. Zilya menutup pintu rapat-rapat. Menangis sejadinya. Ia membuka borgol yang mengalung di tangan kirinya.
"Gara-gara kamu! Hidup aku jadi kaya gini!" tangan kanan Zilya mengusap pipi yang sudah dibanjiri air mata. Namun, tangan kirinya malah menampar pipi Zilya.
"Iya! Pukul terus, pukul." Suara tamparan begitu menggema di toilet. Seolah ada seseorang yang sedang saling tampar.
"Zilya! Kamu gak boleh lemah! Ucapan mereka memang benar. Kamu aneh, dan beda. Harusnya kamu gak nangis, karena hal seperti ini sudah biasa kamu terima," ucap Zilya berusaha mensuport dirinya sendiri. Namun, lagi-lagi, tangan kirinya berulah. Menjabak rambut Zilya, kadang kencang, kadang sedang. Tangan kanan Zilya berusaha menghentikan, dan memborgol kembali tangan kirinya.
"Plis! Tolong kerja samanya," ucap Zilya sambil menatap tangan Alien nya itu.
*****
Berkumpul dengan keluarga, adalah hal yang menyenangkan. Tapi, tidak menurut Zilya. Selalu diceramahi, tidak boleh ini, dan itu. Tidak boleh keluar rumah kecuali sekolah, tidak boleh bermain dengan teman-temannya, dan masih banyak lagi. Namun, sesuatu pembicaraan menarik perhatian Zilya yang sedang duduk sambil menikmati snack.
"Pokonya, nanti malam. Kamu harus dandan yang cantik. Karena, ini adalah acara peresmian hotel papa."
"Siap, pa. Vanya bakal dandan cantik. Tenang aja, kan ada mama. Iya, kan, ma?"
"Iya, sayang."
Zilya penasaran, apa sebenarnya yang mereka bicarakan. Kenapa? Dia tak diberitahu. Jika, akan ada acara.
Kini Zilya menghampiri kedua orang tuanya, dan juga adiknya. Duduk di samping Vanya.
"Em... Kalian, mau ke mana? Tadi, aku dengar papa mau buka hotel baru?" tanya Zilya dengan sumringah.
Namun, seketika kedua orang tuanya terdiam.
"Iya, kak. Nanti malam ada peresmian hotel baru papa. Nanti kakak ikut, ya?" tanya Vanya. Zilya memandang kedua orang tuanya.
"Aku boleh ikut, pa?" Papa memandang Mama, seolah meminta persetujuan.
"Gak bisa. Nanti kamu malah bikin kacau acara," jawab Papa. Senyum yang tadinya mengembang, kini menciut ketika mendengar ucapan Papanya.
Zilya menunduk sedih. Dalam hati, ia merasa ingin ikut hadir, di acara besar Papanya. Meskipun untuk pertama, dan terakhir.
"Aku pingin ikut, pa. Udah lama banget, aku gak pernah diajak papa, mama jalan. Atau, sekadar makan di luar. Aku kangen momen itu," ucap Zilya dengan nada serak menahan tangis. Mungkin, karena kondisinya yang sekarang. Membuat kedua orang tuanya malu, mengakui Zilya sebagai anak.
"Yaudah. Tapi, kamu janji! Jangan bikin kacau!" pasrah Papa.
"Aku janji, pa." Zilya kembali bersemangat.
****
Malam harinya.
Semua sudah berada di mobil, terkecuali Zilya. Gadis itu masih kesulitan menggunakan heels. Karena, tangan kirinya kini berulah lagi. Malah melepas heels yang sudah terpasang di kaki kanan. Alhasil, membuat Vanya datang, dan membantu Zilya untuk memakai heels itu. Zilya merasa bersyukur, dikala keluarga, dan temannya menjauh. Masih ada adik yang peduli dengan hidupnya.
Kini Vanya menuntun Zilya, dengan mengenggam tangan kirinya. Namun, Vanya terkekeh, ketika tangan Alien Zilya malah menggelitiki telapak tangan Vanya.
"Kamu lama banget. Padahal waktu udah mepet," omel Mama.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di Hotel baru Papa. Para tamu undangan, sudah banyak yang berdatangan.
Kini, sebentar lagi acara akan dimulai. Mc mulai membacakan susunan acara.
"Dan... Acara selanjutnya adalah. Sambutan dari pak Hendra, selaku pemilik hotel bintang lima ini. Kepada pak Hendra, waktu, dan tempat kami persilahkan."
Sorak riyuh menggema, ketika melihat Papa naik ke mini panggung. Papa mulai memegang mic. Dan, mulai menyapa para tamu.
"Terimakasih, atas antisipasi kalian. Sehingga datang, untuk memenuhi undangan kami. Saya sangat bersyukur. Karena, tahun ini cita-cita saya untuk membangun cabang hotel bintang lima, terwujud. Ini, semua berkat istri, dan anak saya. Hellen, Vanya, dan...," ucapan Papa terhenti ketika akan mengucap nama Zilya. Zilyapun gemetar, akankah namanya disebut oleh sang Papa? Atau justru tidak sama sekali?
"Dan... Zilya," lanjutnya.
Sorak riyuh tepuk tangan menggema seisi ruangan. Ketika melihat Zilya yang cantik, dan juga Mama, sekaligus Vanya.
"Untuk mempersingkat waktu. Takut, jika saya berbicara kelewat bablas. Maka, tamu undangan bisa mencicipi hidangan yang telah kami sajikan," ucap Papa.
Ketika semuanya sedang sibuk dengan makanannya. Kini Zilya hanya bisa memandang makanan di depannya, tanpa menyentuh sedikitpun.
Mama, dan Papa mulai tak enak hati. Ketika melihat tingkah putrinya yang seperti itu. Ia merasa sangat salah. Membiarkan Zilya pergi tanpa borgol, dan membiarkan Zilya ikut ke acara penting ini. Papa mulai menatap Zilya dengan waspada.
Di lain sisi, Zilya kesulitan mengambil sendok. Karena fokus, dengan satu titik. Ketika tangan kirinya malah membuka resleting bajunya. Keringat dingin bercucuran. Ingin rasanya menghentikan, tapi rasanya sulit. Berusaha tidak panik, namun malah panik. Sehingga, ia tak bisa mengontrolnya. Ketika Zilya bangun, tangan kirinya malah memporak-porandakan hidangan yang ada di meja. Tentu saja membuat semua tamu terkejut, dan menatap Zilya aneh.
Papanya memijat pelipis. Rasa malu mulai muncul, ketika melihat tingkah Zilya yang seperti orang tak waras.
"Yatuhan. Kenapa harus sekarang? Kenapa gak nunggu sampai acara selesai?" batin Zilya.
Semua orang mulai mendekati Zilya. Papa mulai semakin malu, dan mulai menghentikan tingkah Zilya. Papa menarik tangan kanan Zilya, tapi tangan kirinya malah menampar Papa. Hal itu membuat papa semakin murka. Dan, menyeret Zilya ke mobil. Diikuti mama, dan Vanya.
"Aku sudah bilang! Kalo ada kamu, semua bakal jadi kacau. Mimpi apa aku? Sehingga memiliki anak pembawa siyal seperti kamu?" hardik Papa.
"Lain kali, kamu gak usah ikut aja! Malu-maluin. Kamu itu cacat, seberapa keras kamu nutupin, bakal keliatan juga," timpal Mama.
Sedangkan Zilya hanya menunduk, menangis meratapi kesedihannya. Siapa yang mau dilahirkan menjadi seperti ini? Siapa yang mau hidup cacat? Lagi-lagi, orang tua adalah pematah semangat. Zilya benar-benar sedih kali ini.
*****
Tbc.
Komen next, kalo mau next. ??