Ject

1630 Words
“Apa yang sedang mereka rencanakan?” tanya Isadora pada Karin. “Tentu saja menghancurkan Mašte sepenuhnya. Mereka akan mulai menambah pasukan mereka. Ini mengerikan. Mereka akan bertambah kuat. Makhluk-makhluk dari tanah mulai ikut membelot dan mengkhianati bangsa manusia. Kekuatan roh mereka akan semakin besar,” ucap Karin Osborn sambil menutup matanya. Ia sudah berhasil meramal beberapa kekuatan lawan. Sejauh yang Karin lihat. Kekuatan mereka sudah meningkat lima puluh persen dari beberapa minggu yang lalu. Mereka membunuh semuanya dan mengambil rohnya lalu diubah menjadi jahat. Mereka mencuci otak makhluk-makhluk lain dan memerintahkan mulai mengikuti mereka. “Ini sangat berbahaya. Bangsa manusia yang tersisa tidak akan bisa melawannya. Kuharap Alana dan kelima prajurit itu berhasil menyatukan tiga dunia itu. Mašte harus selamat.” Maribel Osborn menatap ketiga saudaranya dengan tatapan serius. Dia takut memikirkan kehancuran di depan matanya. “Aku sudah berbicara kepada peri-peri di lautan untuk tidak terpengaruh ajakan penguasa gelap. Mereka berjanji akan memegang ucapan mereka dan tidak akan berkhianat kepada bangsa manusia. Mereka sejauh ini dapat dipercaya karena mereka sangat membenci penguasa Daegal. Banyak peri laut yang mati dibunuh oleh makhluk-makhluk pengikut penguasa Daegal. Mereka dendam kepada penguasa Daegal,” ucap Valda Osborn dengan sungguh-sungguh. Valda Osborn adalah ratu peri air, oleh karena itu dia sangat serius mengenai pergerakan penguasa Daegal yang akan menyerang lautan. “Hukum kita memang tidak memperbolehkan mencampuri urusan perang manusia, tetapi kita harus membantu dalam segi strategi dan kekuatan. Semakin banyak kita mencari sekutu untuk bangsa manusia. Semakin tinggi keselamatan Mašte.” Isadora Osborn menghela napasnya. Dari napasnya keluar cahaya-cahaya kecil. Itulah ciri khas bangsa Pixie. Mereka memiliki aura yang berbeda dengan manusia. “Kau benar, kita harus mencari sekutu sebanyak mungkin. Sisanya mereka yang akan menentukan akhirnya. Leo dan keempat petarung lainnya bisa diandalkan. Mereka akan melindungi Alana. Dia pria yang kuat dan pantas jika nasib mempersandingkan mereka berdua,” kata Maribel sambil tersenyum kecil jika mengingat Alana dan Leo. “Teman-teman mereka juga orang yang lucu, tetapi kuat dan hebat. Jika saja mereka satu bangsa seperti kita aku mungkin akan tertarik,” ucap Karin sambil tersenyum malu. Obrolan mereka saat ini telah berubah membahas kelima prajurit itu. “Kau benar, mereka memang menarik serta unik. Karin, jika kau memang tertarik ada satu pilihan yang bisa kau gunakan. Kau jelas tahu apa maksudku?”Karin mengangguk mengerti dengan maksud perkataan Valda. “Jika ada yang bisa menggetarkan hatiku aku tidak akan ragu menggunakannya untuk kebahagiaanku,” keempatnya lalu tersenyum bersamaan. Mereka bangsa peri memiliki sebuah pilihan yang mereka dapatkan semenjak lahir dan hanya boleh digunakan satu kali seumur hidup mereka. ♜♜♜ Leo menghindari beberapa serangan bola api yang datang tiba-tiba dari Beowulf. Alana berteriak-teriak khawatir sambil terus menyuruh Leo untuk berhati-hati. Sean merangkul Alana mencoba menenangkan Alana. Keempatnya tentu saja sama cemas seperti Alana, tetapi mereka tidak menampakkannya. “Leo, hati-hatilah!” teriak Alana dengan raut wajah penuh cemas. Saat ini Leo tengah berusaha menuju ekor hewan itu. Leo rencananya akan menaiki tubuh makhluk itu dari ekornya untuk mencapai puncak kepala makhluk tersebut. Cara itu yang paling efektif Leo pikirkan karena jika melalui bagian depan sama saja dengan bunuh diri. Ia tentu tidak akan berhasil melakukannya karena serangan bola api datang bertubi-tubi ke arahnya. Leo dengan gerakannya yang gesit beberapa kali menghindar dari serangan bola api itu. Beberapa kali pula cakar Beowulf hampir membuat tubuhnya gepeng atau tercabik-cabik. “Alana, sebaiknya kau tenanglah sedikit. Jangan khawatir. Leo orang yang hebat. Dia pasti bisa. Kami percaya kepadanya dan kau pun harus percaya kepadanya.” Aaron menenangkan Alana sambil mengusap punggung Alana. Wajah Alana tegang bercampur cemas. Sungguh! Siapa saja yang melihat pertandingan yang tidak seimbang itu pasti akan merasakan perasaan yang sama seperti Alana. Serangan datang bertubi-tubi. Leo mulai kehabisan napas. Bergerak seperti itu membuat energinya cukup banyak keluar sedangkan Silk Leaf miliknya mulai meredup. Oksigen di sana mulai menipis. Ia butuh setetes air dan seberkas cahaya untuk mengembalikan oksigen di Silk Leaf itu pada keadaan sebelumnya yang mana oksigen di sekitarnya cukup untuk ia bernapas. “Aku harus cepat menyelesaikan ini sebelum aku kehabisan oksigen,” gumam Leo sambil terus mengawasi pergerakan Beowulf. Pedang Leo menangkis beberapa kali semburan bola api. Memang benar pertandingan ini tidak seimbang, tetai bagi Leo apa pun yang tidak mungkin akan menjadi mungkin jika kita optimis dan semangat. Leo mulai mendekati kaki depan makhluk itu untuk melancarkan serangannya. Makhluk itu berputar arah dan siap menginjak Leo dengan kaki belakangnya, tetapi Leo lagi-lagi menghindar. Leo tidak berniat menyerangnya sekarang karena percuma saja, hampir seluruh tubuhnya adalah besi kecuali kepalanya. Leo membuat gerakan acak yang cepat agar membuat penglihatan makhluk itu tidak fokus. Benar saja rencana Leo berhasil, tetapi itu tidak bertahan lama karena makhluk itu dengan cepat menyesuaikan serta membaca taktik Leo. Leo kembali kesulitan karena rencana awalnya terbaca oleh makhluk tersebut. Leo yang sudah menyusun rencana kedua mulai beralih menggunakan rencana keduanya. Dia selalu mempunyai rencana cadangan untuk menghabisi musuh. Kali ini Leo akan membuat makhluk itu menyerangnya dengan ekor lalu setelah makhluk itu menyerang Leo dengan ekornya, pada kesempatan itulah Leo akan berusaha untuk menaikinya. Memang berisiko mematikan, tetapi harus di coba. “Kau pengecut! Hanya menghindar! Kau tidak sehebat seperti yang diperkirakan,” ucap Beowufl dengan seringainya. “Aku memang tidak hebat. Kau tidak perlu terkejut dengan hal itu, sialan. Aku hanya manusia biasa yang memiliki keberanian,” jawab Leo dengan tenang sambil berusaha mencari cela untuk membuat serangan. “Cih! Menjijikkan! Kau tidak lebih dari sampah yang busuk!” ucapnya lagi. Ia lalu mengelilingi Leo dengan tubuh besarnya sambil matanya terus mengawasi. Leo tidak ingin lengah, jika ia lengah sedikit saja maka akan berakibat fatal untuknya. “Aku tidak ingin bermain-main lagi! Keluarkan semua kemampuanmu makhluk sampah!” ucap Beowulf sambil menyemburkan serangan bola api bertubi-tubi kepada Leo tanpa ampun. Leo menghindar, tetapi tidak terelakkan ia kena beberapa kali serpihan api tersebut. Lengan kiri, pelipis kanan, paha kiri Leo sudah memar, tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah. Leo kemudian berlari dengan cepat menuju arah kaki depan makhluk itu. Makhluk itu terus menyerang Leo yang berlari, sayangnya ia tidak bisa menyerang Leo ketika Leo sudah sampai di dekat kakinya. Leo berhasil menaiki satu kaki makhluk itu untuk melancarkan rencananya. Ia dengan cepat memanjat tubuh makhluk tersebut dengan tumpuhan sisik-sisiknya. Leo melakukan cara ketiganya karena cara keduanya juga cukup sulit. Leo berhasil menaikinya. Beowulf menggerak-gerakan seluruh tubuhnya untuk membuat Leo terjatuh. Ia tidak bisa menggapai Leo dengan kaki depannya yang pendek. Leo sekarang berada di punggungnya. Serangan bertubi-tubi Bewoulf tidak akan sampai ke atas tubuhnya sendiri dan jika pun ia nekat maka ia sendiri yang akan terkena serangannya. “Leo!” teriak Alana dengan haru setelah tadi ia sempat berteriak ketakutan karena Leo terkena serangan. “Kau lihat, Alana! Leo sialan itu orang hebat!” ucap Alvin yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada Leo. Sedari dulu ia tahu Leo Vinzel berbeda dari mereka semua. Dia berlatih lebih keras dari mereka. Dia lebih tekun dari mereka dan dia juga lebih tajam dari mereka berempat. “Leo! Cepat selesaikan. Serang dia!” teriak Marco memberi Leo semangat. Namun, di luar dugaan mereka semua makhluk itu tiba-tiba terbang, ia lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat. Punggungnya berada di bawah sehingga Leo hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan. Ia lalu mengempaskan tubuh besinya dengan keras ke awan lembut. Tiba-tiba saat itu sekeliling Alana terasa hening. Ia benar-benar merasa terkejut. Tubuhnya kaku seakan aliran darah pergi meninggalkan raganya. Alana dapat melihat dari sudut matanya Sean, Marco, Alvin, dan Aaron berteriak memanggil nama Leo dengan penuh nada cemas. “Leo!” teriak Alana sambil menangis. Saat itu Alana merasa dia sudah kehilangan sosok Leo Vinzel. Bagaimana Alana tidak merasa kehilangan Leo, Leo terkena empasan tubuh besi makhluk tersebut dan itu sudah bisa dipastikan bahwa Leo pastilah sudah mati. Hatinya hancur, jiwanya hancur saat itu juga. Alana langsung berlari untuk mendekati Leo. Ia tidak peduli kepada semuanya. Hanya Leo yang ada di dalam pikirannya saat ini. Beowulf yang awalnya terlentang sekarang sudah kembali ke posisi semula dan ia melihat tubuh Leo tidak ada di sana. Alana langsung menghentikan gerakannya dan matanya membulat sempurna mengetahui bahwa tubuh Leo tidak ada di sana. Secercah harapan kembali datang pada Alana dan teman-temannya. Apakah Leo berhasil menghindar sebelum serangan empasan itu terjadi? “Kurang ajar! Dia terjatuh ke Mitjà!” ucap Beowulf geram. Tubuh Alana mendadak kaku lagi. Leo terjatuh ke dunianya! Bagaimana mungkin Leo bisa terjatuh. Awan itu memang terihat lembut, tetapi seperti tanah yang bisa dipijak. Semua itu terjadi karena oksigen di sekeliling Leo telah habis. Silk Leaf miliknya tidak berfungsi yang membuat massa tubuhnya hilang. Satu keuntungan karena Leo bisa terjatuh dan artinya empasan itu tidak melukai Leo, tetapi risikonya Leo terjatuh ke dunianya dan terempas lebih kuat ke tanah bumi. “Leo!” teriak Alana lagi kali ini lebih pilu. Alvin langsung mengambil panahnya dan dengan cepat ia memanah mata Beowulf. Ia tidak peduli lagi dengan aturan petarung yang dipegangnya. Dalam kamus mereka, persahabatan yang mereka jalin lebih penting serta lebih kental dari darah. Ia tidak akan membiarkan sahabatnya mati sia-sia. Meskipun makhluk itu adalah lawan Leo, tetapi dia tidak bisa berdiam diri ketika Leo kalah. Leo sudah memberinya izin untuk menyerang makhluk itu. “Ini untuk Leo! Aku tidak akan memaafkanmu!” teriak Alvin sambil terus menyerang makhluk itu dengan panahnya. Rasa marah menguasai Alvin dan ia seperti kesetanan menyerang Beowulf. Sean dengan cepat menyusul Alana dan mengangkat tubuhnya agar Alana menjauh dari serangan Beowulf yang saat ini menyerang mereka berempat. Alana hanya dapat pasrah mengetahui kenyataan Leo terjatuh. Alvin, Marco, dan Aaron berjuang untuk mengalahkan makhluk itu sedangkan Sean melindungi Alana seperti tugas yang diberikan Leo untuknya. Alana kembali histeris. Baru saja ia mengakui kepada hatinya bahwa ia mencintai Leo, tetapi Leo sudah harus pergi. Sean memeluknya erat. Memberikan kekuatan untuk Alana. Ia juga sama seperti Alana, terluka karena kehilangan sahabatnya. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD