Vor

1310 Words
“Aku menyerah! Aku menyerah!” Aaron melambaikan tangannya. Ia sudah tidak mampu lagi mengunyah dan memasukkan makanan ke dalam perutnya. Sekarang dia hanya mampu tergeletak di lantai dekat meja makan. Perutnya membuncit karena terlalu banyak isi. Ia tidak mampu untuk bernapas normal. Ia menyerah karena kekenyangan. Reputasinya sebagai pemangsa makanan sudah tergantikan. “Perutku kembung!” Marco sama seperti Aaron. Mereka berbaring bersebelahan. Perut kotak-kotaknya seakan hilang karena sekarang sudah mulai membuncit berisi begitu banyak makanan. “Aku ingin muntah!” Sean menahan mulutnya agar tidak benar-benar muntah. Ia juga terkapar karena kekenyangan. “Kumohon cacing dalam perutku, cepatlah habiskan makanan di perutku. Aku tidak mampu untuk berdiri.” Alvin juga ikut mengeluh. Ia sama persis seperti teman-temannya saat ini. Berbaring berjejer. Semua prajurit dan pelayan menertawai mereka. Menertawai tingkah konyol mereka hanya demi makanan dan tidak ingin kalah dari sang ratu. Bagaimana dengan Alana? Apakah ia berhasil memenangkan pertandingan makan ini? “Aku sudah seperti wanita hamil. Siapa ayah anakku ini? Perutku membucit. Rasanya aku tidak ingin makan untuk seminggu kedepan. Aku benci melihat makanan,” racau Alana sambil terduduk di lantai. Kelimanya saat ini terkapar karena kekenyangan. Perlombaan konyol itu tidak berujung karena semuanya tidak ada yang bisa bertahan. Para pelayan berusaha untuk menyuruh Alana duduk di kursi, tetapi dia menolaknya. Dia terduduk di lantai karena sudah tidak kuat untuk berdiri. Alana lalu ikut berbaring di lantai. Para pelayan mulai panik dan akan mengambilkan kasur lipat untuk Alana berbaring, tetapi lagi-lagi Alana menolaknya. “Kalian benar-benar bodoh,” ucap Leo sekenanya. Sean langsung menyepak kakinya dan mengenai Leo yang saat ini duduk di kursi menghadap mereka. “Ini kebahagiaan hidup. Kami sedang menikmati sisa-sisa keindahan dunia,” jawab Marco tidak terima. “Benar, kami sedang menyimpan makanan untuk jatah seminggu,” tunjuk Alvin pada perutnya. Leo menghela napasnya. Bagaimana mungkin menyimpan makanan di dalam perut untuk jatah seminggu. Dia terlalu berlebihan pikir Leo. “Dia hanya tahu bagaimana cara bertarung dan tahu bagaimana memanfaatkan situasi,” celetuk Alana sekenanya sambil menyidir Leo. Situasi yang dimaksud Alana tentu saja situasi di mana Leo memeluknya. “Hah, kau hanya memujinya. Kau tidak memuji kami. Kami juga petarung dan tahu bagaimana memanfaatkan situasi!” Alvin tidak terima dengan pembelaan Alana kepada Leo. Ia salah mengartikan makna ucapan Alana. “Kau ratu yang menyebalkan. Sudah membuat susah kami dengan tidak bisa bergerak seperti ini dan sekarang kau menghancurkan hati kami. Bagaimana jika musuh datang tiba-tiba? Kami belum tentu bisa memberikan perlawanan dengan keadaan seperti ini! Begitukah caramu kepadaku wahai ratu?” Aaron mulai mendramatisir keadaan. Leo tidak berniat ikut dalam obrolan mereka yang mulai berlebihan. Ia sekarang kembali menghadap meja dan menikmati minumannya secara perlahan. Prajurit dan para pelayan lain juga mulai bersantai serta menikmati hidangan yang tersaji. Alana yang menyuruh agar tidak mempedulikannya. Ia memberi kelapangan kepada semua anggota kerajaannya. Sungguh ratu yang sangat baik hati. Penasihat kerajaan Alana juga hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol teman-teman Leo dan Alana. Ia tengah menikmati minumannya bersama Leo. “Hei apa yang kau maksud memujinya? Aku tidak memujinya atau membelanya. Aku menyindirnya!” jawab Alana dengan penekanan. “Menyindir dari mana? Kau memujinya. Dia hanya tahu bagaimana cara bertarung dan tahu bagaimana memanfaatkan situasi. Di mana letak kalimat tersebut kau menyindirnya? Itu memujinya!” jawab Sean. Semenjak Leo lebih banyak mendapatkan keuntungan terutama dalam kedekatannya dengan Alana, keempat temannya itu merasa iri. Iri karena kemampuan memikat lawan jenis mereka ternyata jauh di bawah Leo. “Aku menyindirnya!” teriak Alana tidak ingin kalah. Ia bahkan duduk kembali dan memukul lengan Sean. “Sakit!!” teriak Sean sambil mengeliat di lantai seperti cacing kepanasan. “Memujinya!” kali ini Marco mengikuti tingkah Sean, tetapi sebelumnya ia menjauh karena takut mengalami hal yang sama seperti Sean. “Menyindirnya. Sudah kukatakan aku menyindirnya. Dia bertarung sesuka hatinya dan tidak pernah peduli dengan lukanya sendiri dan dia tahu bagaimana memanfaatkan situasi. Memanfaatkan kapan dia bisa memelukku!” teriak Alana kesal. Sebenarnya ia tidak ingin mengatakan ucapannya yang terakhir, tetapi daripada keempat temannya itu terus ribut dengan berat hati Alana mengatakannya. Wajahnya memerah karena malu. Semua yang ada di istana terdiam menatap ratu mereka. Leo menghentikan acara minumnya. Gelasnya seakan menggantung di udara karena Leo tidak melanjutkan minumnya. Penasihat Alana menatap Leo dan Alana bergantian. Yang paling parah tentu saja adalah keempat teman setengah waras mereka. Wajah mereka pucat pasi. Alana menutup mulutnya dan ia melirik Leo yang tidak melihatnya. Leo hanya diam. Entah diam pria itu karena kesal atau karena ia salah tingkah. “Kau lihat, kita bahkan sudah kalah oleh Leo,” ucap Alvin lesu. Ia terbaring kembali di lantai. Harga dirinya seakan dilucuti tanpa hormat. “Sepertinya kita harus belajar memikat wanita dari ahlinya. Aku harus mencari guru yang tepat.” Aaron menjadi sangat sedih. Ia langsung terlentang kembali di lantai mengikuti apa yang Alvin lakukan. “Hatiku hancur mendengarnya.” Marco memeluk tiang meja makan dan menyandarkan kepalanya di sana. “Ini lebih dari yang kupikirkan. Tidak kusangkah pria pendiam lebih memikat dibanding pria tampan sepertiku,” Sean berbaring di pangkuan Marco. Alana heran melihat apa yang terjadi kepada empat temannya itu. Ia bingung. “Hei ada apa? Mengapa dengan kalian?” tanya Alana bingung. “Tidak perlu bertanya. Kau bertanya kepadaku semakin membuat hatiku sakit,” ucap Alvin lesu tanpa memandang Alana. “Benar, hati kami hancur karena kau lebih memilihnya. Kumohon datangkanlah wanita-wanita cantik agar sakit hatiku ini hilang dan terobati,” ratap Marco sambil mengusap-usap tiang meja makan. Penasihat Alana tertawa keras. Bagaimana ia tidak tertawa keras, tingkah mereka dan ratunya tidak mencerminkan seorang ratu yang layak dan seorang prajurit yang layak. Leo meletakkan gelasnya lalu menatap keempat temannya itu. Kondisi mereka memprihatinkan. Kadang ia harus bertingkah tidak peduli saat teman-temannya sudah berbuat hal yang tidak wajar, tetapi kadang ia peduli saat mereka dalam kesulitan. “Apa yang kalian bicarakan? Aku dan dia tidak ada apa-apa. Aku hanya melindunginya karena kalian tidak bisa melindunginya. Yang ada di otak sialan kalian hanya makan, tidur, bermain, bercanda, gadis cantik, cinta, dan terakhir bertarung. Jadi akulah yang turun tangan,” keempatnya langsung menghadap ke arah Leo dan duduk di depan Leo seperti kucing yang siap menerima makanan dari majikannya. “Benarkah? Kau tidak memiliki hal lain?” tanya Sean penasaran. Leo mengangguk. Alana menatap kelimanya dengan wajah bertekuk-tekuk. Alana kesal, semudah itukah Leo membolak-balikkan fakta? “Kami masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hatinya?” tanya Alvin penuh harap. Leo mau tidak mau mengangguk. Kenyataannya memang benar, semua orang berhak mendapatkan hati Alana karena wanita tersebut belum ada yang memiliki dan terikat dengan sebuah pertunangan atau pernikahan. “Kau tidak menyukainya?” tanya Aaron. Leo mengangguk lagi. Alana semakin menatap kelimanya dengan mata yang berapi-api. Pantaskah mereka bertanya seperti itu kepada Leo di depannya dan di depan orang banyak? “Mencintainya?” tanya Marco. Kali ini Leo diam dan ia langsung mengalihkan tubuhnya dari hadapan semua orang dan segera minum. Semua menunggu jawaban Leo. Penasihat Alana menatap Leo yang saat ini minum. Alana yang tiba-tiba merasa situasi berubah dan perubahan itu berdampak kepada tubuhnya yang terasa tidak baik-baik saja. Jantungnya berdegup kencang lagi. Bahkan lebih kuat. Alana berusaha menekan dadanya. “Tidak,” jawab Leo singkat. Keempatnya langsung bernapas lega bahkan mereka berpelukan terharu lalu mereka menatap Leo dan tertawa aneh. Sean menepuk-nepuk bahu Leo dengan senang hatinya. Leo menghela napasnya dengan tingkah keempat temannya. Entahlah Leo sendiri tidak bisa memahami keempatnya yang memang aneh semenjak dari pertama meraka kenal. Ada-ada saja tingkah mereka. Penasihat Alana tersenyum melihatnya lalu ia sekarang menatap ratunya yang hanya berdiri diam sambil memegang dadanya. “Malkia, ada apa?” tanya penasihatnya sambil mendekati Alana. Wajahnya terlihat kekhawatiran. “Tidak, tidak ada apa-apa. Aku masih kekenyangan saja,” jawab Alana dengan senyumnya. Ia kemudian duduk kembali ke bangku meja makannya. Alana melihat rankaian bunga dandelion yang ia letakan di gelas minumnya. Serpihannya beterbangan memenuhi ruangan makan di istana. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD