3. NYONYA BESAR KELUARGA ANGGARA

1267 Words
"Ada apa ini? Aku mendengar, seperti ada keributan di sini!" seru seseorang, yang baru saja datang. Kedatangannya langsung memecah keheningan di ruangan tersebut. Semua mengarahkan pandangannya kepada sumber suara. Sosok pemuda, mengenakan setelan jas hitam lengkap, tampan dan keren, berdiri di sana. "Sayang!" teriak wanita cantik yang sempat bersitegang dengan Amel tadi. Amel beranjak bangun. Seandainya, kalau bukan kedatangan pemuda itu, bisa saja ia menjadi bahan olok-olok semua orang. Wanita cantik yang tidak lain adalah teman sewaktu masih SMA itu, nyatanya masih menyimpan dendam kepada Amel. Lusiana selalu iri dengan Amel, lantaran ia sering menjadi pusat perhatian semua orang karena kepintarannya. Amel kerap kali mendapatkan juara dalam perlombaan yang diadakan di sekolah. Itulah mengapa, para pria memujinya. "Ada apa ini, Sayang? Kenapa wajah dan rambut kamu basah gitu?" tanya pemuda yang baru saja memasuki ruangan. "Wanita miskin itu, yang telah menyiramkan minuman ke wajahku," adu Lusiana, kenapa Galaxy, yang tidak lain adalah kekasihnya. Bukan rahasia umum lagi, Lusiana memang menjalani hubungan spesial dengan Galaxy. Tuan muda dari keluarga Wiguna, yang saat ini popularitasnya sedang naik. Galaxy mengarahkan pandangannya pada satu titik, yaitu Amel. "Kamu lihat dia kan? Itu loh, si Amel, yang paling miskin di sekolah kita dulu. Dia bikin aku malu di depan semua orang, Sayang," rengek Lusiana, seraya menunjuk Amel yang berdiri di sana. Dia juga bergelayut manja di tangan Galaxy. Galaxy tersulut emosi. Kekasih mana yang tidak marah, ketika orang yang sangat dicintai, mendapat hinaan dari orang lain? Dia menghampiri Amel yang masih diam di posisinya. Gadis mungil itu, seakan terjebak dalam situasi yang membuatnya tidak bisa berlari. Namun, dia bisa melawan ketidakadilan ini. Hahaha ... "Ternyata, kamu memang Amel yang waktu itu ya? Cewek miskin yang mengejar cinta seorang pria kaya," hina Galaxy secara gamblang, mengumbar kembali masa lalu yang telah berlalu. Kemudian dia tertawa lepas. Menertawakan nasib Amel yang tak pernah berubah. Dulu miskin, sekarang pun masih miskin. Galaxy melipat kedua tangannya di d**a. Menjatuhkan tatapan mengintimidasi kepada Amel yang menatapnya datar. "Lihat dirinya, Sayang. Dia terlihat seperti ayam kampung yang habis masuk got. Penampilannya saja menjijikkan, yang seperti ini berani melawan kamu? Punya nyali berapa dia ah, membuat kekasih dari Keluarga Wiguna menangis?" Amel membuang pandangannya malas. Beginikah para konglomerat ketika berbicara dengan orang yang berada di bawahnya? "Dia meledek kamu, Sayang. Lihat ekspresinya," tunjuk Lusiana, memanas-manasi suasana. "Sebenarnya dia sedang iri ke kamu, Sayang. Soalnya, cintanya pernah aku tolak mentah-mentah sewaktu sekolah dulu." Galaxy tersenyum penuh kemenangan. Amel berdengus kesal. Marah karena dirinya dulu pernah menaruh hati pada orang yang salah. Amel tersenyum mengejek, ketika mengingat kembali momen saat mengirimkan surat cinta untuk Galaxy, sewaktu sekolah dulu. "Ternyata kamu masih mengingatnya? Aku kira, pria sombong seperti Keluarga Wiguna, tidak akan pernah mengingat orang-orang rendah seperti aku ini," kata Amel balik mengejek Galaxy. Hinaan yang didapatkannya dari orang-orang berduit seperti ini, sudah hal lumrah bagi Amel. Sehingga dia tidak pernah memasukkan kalimat cemoohan itu ke dalam hati. Melainkan masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. "Sini kamu!" Galaxy tak tahan lagi. Dia menarik tangan Amel. Sontak membuat gadis mungil itu tersentak kaget. Sementara Lusiana tersenyum lebar. Di antara pada tamu undangan yang mengisi ruangan itu, hanya Lusiana yang tersenyum puas. Dia senang melihat Amel ditarik paksa oleh Galaxy. "Lepasin aku, Galaxy!" teriak Amel. Dia mencoba memberontak. Menarik tangannya supaya bisa lepas dari cengkraman Galaxy. Namun, usahanya sia-sia. Nyatanya, tenaga wanita tidak sebanding dengan pria. Galaxy melebarkan matanya. Tatapannya nanar. Wajahnya menjadi kelabu, bersamaan dengan emosi yang memuncak. Hinaan Amel terhadap dirinya dan sang kekasih, harus dibalas dengan setimpal. Orang-orang tidak ada yang tidak melihat. Namun, mereka hanya memandangi saja. Tidak ada yang berniat untuk menghentikan tindakan tersebut. Galaxy menarik tangan Amel hingga ke area kolam renang. Keduanya meninggalkan ruangan inti. Lusiana mengekor di belakang. BRUSH .... Galaxy mendorong tubuh Amel hingga terjatuh ke dalam kolam. Pemuda itu, melakukannya tanpa merasa bersalah sama sekali. "Hahaha ... Lulihatlah dia!" tunjuk Lusiana mengejek. Dia tertawa paling keras. Sedangkan Galaxy hanya menyunggingkan bibirnya. Tersenyum miring dan mengejek. "Tolong!" teriak Amel dari dalam kolam renang. Dia tidak bisa berenang. Air itu mulai masuk ke dalam hidung serta mulutnya. Amel mencoba untuk tetap bisa menghirup udara. Dia melambai-lambai tangan, meminta pertolongan. Namun, tidak ada satupun dari mereka di sana, yang mau menolong. Mereka bukan tidak mau membantu. Mengingat, perbuatan itu dilakukan oleh Galaxy. Mereka tahu, status Galaxy di kota ini cukup memiliki pengaruh besar. "Tolong! Siapa pun! Tolong aku!" Amel masih berusaha untuk tetap tenang dan bertahan. Kendati demikian, napasnya sudah ngap-ngapan. "Tidak akan ada yang sudi membantu cewek rendahan kayak kamu. Mereka tidak mau mengotori tangan, hanya demi cewek sampah. Hahaha." Alih-alih memberi pertolongan, Lusiana malah semakin keras tertawanya. Bahkan dia menghina, menghujat, mencemooh Amel, yang sedang berusaha untuk bertahan di dalam kolam renang. Begitu juga dengan Galaxy. Dia puas, melihat wanita yang dulu mengejar cintanya, berakhir dipermukaan di muka umum. "Cukup! Kalian semuanya!" teriak seseorang dari kejauhan. Mereka menoleh serentak ke arah sumber suara berasal. Tidak ada yang tidak melebarkan mata. Dalam satu kali lihat, mereka langsung mengenali sosok pemuda yang baru saja berseru itu. "Apa yang kalian lakukan kepada wanitaku?!" Dia berjalan dengan gagahnya menuju kolam renang. "Nalendra," ucap Lusiana lembut. Dia yang semula bak monster yang tak memiliki hati, kini menjelma menjadi wanita polos. Senyuman merekah indah di wajah dengan polesan make up tebal itu. "Hey, Bro. Akhirnya datang juga. Maaf ni, bikin pesta lu sedikit berantakan," ungkap Galaxy setelahnya. Kedua anak manusia itu, begitu menyanjung Nalendra. Status yang Nalendra miliki, nyatanya lebih tinggi dari mereka. Pesta yang diadakan di hotel ini, Nalendra lah yang membuatnya. Dia adalah Nalendra Putra Anggara. Konglomerat nomor satu di kota ini. Nalendra mengabaikan ucapan Lusiana maupun Galaxy. Bahkan dia sama sekali tidak menoleh, ketika dua anak manusia itu menegurnya. Nalendra melepaskan jas hitam yang dikenakan, lalu dia melompat ke dalam kolam renang. Di sana Amel sudah sangat lemas. Dia yang tidak bisa berenang, tentunya tidak mampu bertahan lama di dalam sana. Nalendra secepat mungkin berenang guna menghampiri Amel. "Bertahanlah, Sayang. Aku akan membawamu pergi dari sini," ucapnya memberi semangat baru bagi Amel. Gadis itu sudah kehilangan setengah kesadarannya. Pandangannya mulai kabur. Namun, dia bisa mengenali suara itu dengan jelas. "Nalen," ucap Amel lirih. Kemudian tersenyum lembut. Nalendra mengerjapkan matanya. Dia berhasil menggendong Amel, sehingga nyawanya dapat tertolong. Nalendra segera membawa Amel berenang ke tepi kolam. Dia menggendong gadis kesayangannya itu meninggalkan kolam renang. Sementara Amel, sudah tidak sadarkan diri. Dia terlalu lemas karena banyak menelan air. Seluruh pasang mata tertuju kepada Nalendra dan Amel. Dalam benak masing-masing orang, bertanya-tanya. Ada hubungan apa Nalendra dengan gadis yang menjadi bahan olok-olokan Galaxy dan Lusiana tadi? "Bro. Apa yang lu lakuin?" tanya Galaxy penasaran. Raut keterkejutannya, tidak mampu Galaxy sembunyikan. Begitu juga dengan Lusiana. "Apa yang gue lakuin?" Nalendra tersenyum mengejek. "Apa lagi, kalau bukan menyelematkan calon Nyonya besar keluar Anggara!" Dia berseru lantang. "Menyingkirkan kalian!" hardiknya kemudian. Setelah berkata demikian, Nalendra pun melenggang pergi, dengan kedua tangannya menggendong tubuh Amel, yang sudah tak sadarkan diri itu. "Apa? Nyonya besar keluarga Anggara?" Napas Lusiana tertahan di ujung tenggorokan. Bagaimana bisa, Nalendra mengatakan hal sebesar itu dengan sangat jelas? Lusiana mencubit pipinya, guna memastikan apa yang barusan didengar hanyalah mimpi. Lusiana pun menjerit. Matanya melebar sempurna. Ternyata, semua ini bukanlah mimpi. Amel? Nyonya besar keluarga Anggara? "Aku enggak salah dengar kan, Sayang?" tanya Lusiana, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terucap dari bibir Nalendra. Galaxy mengabaikan pertanyaan itu. Dia langsung berlari mengejar Nalendra. Bengong saja tidak ada gunanya. Dia juga mempertanyakan soal pengakuan Nalendra. Bukan Lusiana dan Galaxy saja yang penasaran, mereka yang ikut mendengar pun, bertanya-tanya. Benarkah gadis yang berprofesi sebagai pelayan itu, adalah sosok Nyonya Besar Keluarga Anggara?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD