PART. 4 SAHABAT PUTRIKU

1665 Words
Happy readin Emira menatap Tiara yang berdiri di hadapannya, dengan senyum puas terukir di bibirnya. Emira menatap kagum kepada Tiara yang menggunakan kebaya warna broken white, dengan model yang cukup sederhana saja, tapi sangat pas terlihat di tubuh Tiara. Akad nikah sudah dilaksanakan disalah satu mesjid, yang berada tidak begitu jauh dari rumah Tiara. Usai akad nikah, Tiara langsung ikut pulang ke rumah Emira. Kedua orang tua, dan adik Tiara, melepaskan kepergian Tiara untuk mengikuti suaminya, dengan pelukan haru, dan doa, agar Tiara bahagia. Steven menyetir sendiri mobilnya, dengan Tiara dudui di sampingnya. Sedang Emira tidak mau ikut naik satu mobil dengan Ayahnya, dan Tiara, Emira memilih menaiki mobil lainnya. Tiara duduk tak bergerak, ia bersandar pada jok mobil. Matanya lurus menatap ke depan. Rasa sungkan, dan sedikit takut tengah menyergap perasaannya. Ingin sekali Tiara melirik ke arah wajah Ayah sahabatnya, yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Tapi, ia takut akan bertemu pandang dengan Steven. Tiara hanya bisa menjalin jemari di atas pangkuannya. Steven melirik Tiara sekilas. 'Lumayan cantiklah dia hari ini, tidak kelihatan terlalu dekil seperti biasanya' batin steven. Sesampainya di rumah, Steven ke luar dari mobil diikuti Tiara, yang juga langsung membuka pintu mobil, dan segera turun. Bibi menyambut kedatangan mereka, dengan senyum menghias bibir tuanya. Steven menyerahkan tas Tiara yang diambilnya dari bagasi kepada Bibi. "Taruh di kamar yang sudah aku suruh bersihkan kemarin," perintah Steven. Bibi mengangguk, dan langsung masuk ke dalam rumah. Steven menatap ke arah Tiara. "Kita harus bicara, sekarang ikuti saya ke ruang kerja!" Perintah Steven. Tiara menganggukkan kepala, ada perasaan takut di dalam hatinya. Tiara mengikuti langkah Steven, menuju ruangan kerja Steven. Usai Tiara masuk, Steven mengunci pintu ruang kerjanya, dan mempersilahkan Tiara untuk duduk disalah satu sofa yang ada di sana. Steven duduk di hadapan Tiara, Tiara menundukkan wajahnya, tidak berani menatap ke arah Steven. "Kita harus memperjelas hubungan kita. Seperti yang kamu tahu, pernikahan ini berdasarkan keinginan putri saya, saya akan tetap menafkahi kamu, memenuhi semua kebutuhan hidupmu, juga keluargamu. Tapi untuk hal perasaan, saya minta maaf, saya hanya bisa menganggapmu sebagai sahabat putri saya. Saya harap kamu bisa memahami ini," kata-kata Steven cukup panjang. Tiara tetap diam diposisinya, hanya kepalanya yang tertunduk, terlihat mengangguk. 'Sebenarnya Om Steven tidak perlu menjelaskan, karena aku juga tahu Om punya pilihan sendiri,' gumam Tiara di dalam hatinya. Steven membuka laci meja kerjanya, Ia mengambil sesuatu dari sana, lalu barang yang diambilnya diletakan di atas meja di hadapan Tiara. Ada kartu ATM, dan kartu kredit yang diletakan Steven di atas meja. "Ambilah ini, kamu bisa menggunakannya sesuka hatimu," kata Steven. Tiara mengangkat kepala, matanya menyorot tanpa ekspresi ke arah Steven. "Maaf Om, saya kira apa yang sudah Om berikan untuk keluarga saya sudah lebih dari cukup. Saya tidak memerlukan ini." Tiara mendorong kedua kartu itu ke arah Steven. Steven menghela nafas berat, Ia tidak menyangka Tiara akan menolak pemberiannya. 'Jaman sekarang, masa masih ada gadis seusia Tiara yang menolak diberi kartu ATM, dan kartu kredit ... hhh ... satu dalam seribu mungkin ....' "Ambil, dan simpanlah. Terserah mau kamu gunakan, atau tidak. Soal kuliahmu, dan Emira, semua sudah diurus oleh orangku." Steven menyerahkan kedua kartu itu langsung ke tangan Tiara. Tiara akhirnya terpaksa menerimanya, karena ia sudah mendengar helaan nafas bernada kesal dari Steven. "Ada lagi yang ingin Om katakan, kalau tidak, bisa saya tahu di kamar mana saya harus tidur?" Tiara berdiri dari duduknya. "Saya kira cukup untuk saat ini," Steven berjalan menuju pintu, ia membukakan pintu untuk Tiara. Steven terperanjat kaget, saat melihat kehadiran Emira, yang berdiri tepat di depan pintu ruangan kerjanya. Emira nyengir kuda ke arah Ayahnya. Steven hanya menghela nafas melihat kelakuan Putri tersayangnya. "Em, antarkan Tiara ke kamarnya," perintah steven pada putrinya. "Siap Ayah," jawabnya cepat. Tanpa disuruh dua kali, Emira menarik tangan Tiara menuju ruangan atas. "Ayo, Ra, kuantar ke kamarmu." Tiara melangkah mengikuti Emira naik ke lantai atas. Emira membuka salah satu pintu dari empat pintu kamar, yang ada di lantai atas. "Ini kamarmu, Ra. Di sebelah itu kamarku, di seberang kamarmu. kamarnya Ayah. Di sebelahnya ada kamar tidur untuk tamu," cerocos Emira memberitahukan tentang kamar-kamar yang ada di lantai atas. Tiara mengikuti Emira memasuki kamar yang disebut Emira sebagai kamarnya. Ada kelegaan di dalam hatinya, karena ia punya kamar sendiri, bukan sekamar dengan Steven. 'Eh ... Om Steven kan tidak tertarik sama sekali kepadaku, pernikahan inikan cuma untuk menyenangkan hati Emira ... hhh ....' Tiara jadi malu sendiri di dalam hatinya, karena sempat merasa takut akan tidur satu kamar dengan Steven. Setelah di dalam kamar, Emira membuka lemari pakaian dengan empat pintu yang ada di kamar itu. "Ini baju ... underwear, sepatu, tas, dan semuanya, aku yang pilihkan buat kamu, Ra. Semoga kamu suka ya." Tiara memeluk Emira "Ini terlalu berlebihan Em ... tadi Ayahmu juga memberikan ini untukku," Tiara memperlihatkan dua keping kartu yang diberikan steven tadi kepadanya. Emira tertawa "Ayo aku bantu melepas pakaianmu ini, dan juga wajahmu harus dibersihkan dari riasan,"Emira menarik Tiara agar duduk di tepi ranjang. "Tadinya aku protes sama Ayah, karena kamu, dan Ayah tidur terpisah, tapi Ayah bilang kalian perlu saling mengenal dulu, kupikir ada benarnya juga, Ra," cerocos Emira sambil membantu membuka riasan yang ada di atas kepala Tiara. Wajah Tiara jadi merona merah mendengar celoteh sahabatnya, yang sekarang sudah resmi menjadi anak tirinya itu. "Ayah bilang kita sudah mulai masuk kuliah minggu depan, Ra. Aku sudah tidak sabar ingin cepet-cepet masuk kuliah," suara Emira terdengar sangat gembira. Tiara hanya tersenyum saja, dulu baginya bisa merasakan duduk dibangku kuliah hanyalah mimpi, yang mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan, tapi takdir Allah menuntunnya ke jalan ini, Tiara berharap mendapatkan yang terbaik dari jalan yang sudah dipilihnya sendiri. Usai melepas semua riasan di atas kepala, dan wajah Tiara, Emira meminta Tiara segera mandi. "Kamu mandi deh, Ra habis mandi baru istirahat, nanti aku bangunkan kalau waktunya Ashar." Emira berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju pintu. "Selamat istirahat ya Mam,"goda Emira sembari mengedipkan sebelah matanya sambil menutup pintu. Mata Tiara melotot ke arahnya, membuat tawa Emira pecah seketika. Cepat Emira menutup pintu sebelum Tiara melemparkan bantal di tangan ke arahnya. Sesaat masih terdengar jelas suara tawa yang ditinggalkannya. Sepeninggal Emira, Tiara segera melepas kebaya, dan kainnya lalu segera masuk ke kamar mandi untuk mandi. *** Seminggu setelah menikah, steven ditugaskan perusahaan untuk ke luar negeri beberapa minggu. Emira, dan Tiara menghabiskan waktu mereka sebelum masuk kuliah dengan berjalan-jalan ke toko buku, ke salon, nonton, jalan-jalan di mall. Mereka mengajak juga kedua orang adik Tiara. Setelah memulai kuliah mereka disibukan dengan pelajaran mereka. Ternyata Di kampus tempat mereka kuliah, banyak juga alumni dari sekolah mereka di SMA dulu. Melihat penampilan Tiara yang sekarang, mereka tidak lagi menjauhi Tiara. Emira mengatakan kepada teman-temannya, Tiara kini tinggal bersamanya, untuk menemani Emira yang sering ditinggal ke luar negeri oleh Ayahnya. *** Steven, dan Emira baru pulang dari jogging dipagi hari minggu yang cerah. Tiara yang enggan ikut jogging lebih memilih menyiapkan sarapan di dapur karena, Bibi sedang ijin dua hari, untuk pulang ke kampung, karena ada saudaranya yang menikah. Tiara tidak ikut jogging juga sebenarnya karena ingin memberi waktu berdua untuk Steven, dan Emira yang sudah beberapa minggu tidak bertemu. Steven memperhatikan tangan terampil Tiara yang tengah menyiapkan sarapan untuk mereka di atas meja makan. Tangan mungilnya terlihat gesit, dan lincah, dan yang sedikit berbeda. 'Tangan itu tidak lagi sedekil dulu,' gumam hati Steven. Mata Steven beralih ke wajah Tiara, wajah imut kekanakannya kini terlihat lebih bersih, dari saat pertama mereka berjumpa, tapi tetap saja bagi Steven tidak ada yang istimewa dari Tiara, kecuali rambut hitam lurus panjang, dan leher jenjangnya yang terlihat mulus meski tidak seputih leher Emira. Setelah selesai menata sarapan di atas meja, tangan Tiara bergerak menggelung asal ke atas rambutnya, dan semakin memperlihatkan leher jenjangnya. "Om mau kopi, teh, atau yang lain?" suara Tiara menyadarkan lamunan Steven, dari rasa terpana. "Kopi s**u saja," jawab Steven singkat. Emira masuk ke ruang makan, tampaknya ia sudah mandi. "Em, kamu ingin minum apa?" tanya Tiara lembut. "Coklat s**u saja," jawab Emira. "Kamu mau ke mana, Sayang, pagi-pagi sudah rapi?" tanya Steven kepada Emira. "Aku ada janji sama teman Ayah. Ingin jalan-jalan, bolehkan?" Tanya Emira dengan suara manjanya. Tiara mengerutkan keningnya mendengar jawaban Emira. "Aku tidak dikasih tahu kalau kamu mau jalan-jalan, Em. Sama siapa saja?" tanya Tiara penasaran, sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya. "Baru tadi malam mereka mengajak aku pergi, Ra. Aku sengaja tidak mengajak kamu, karena Ayah baru pulang, pasti kalian masih saling kangen" goda Emira. "Uhukk ... uhuukk" godaan Emira membuat Tiara tersedak nasi goreng yang sedang dimakannya, sampai matanya berair. Steven yang ada didekatnya mendekatkan bibir gelas, berisi air putih ke mulut Tiara. Mata Steven melotot gusar ke arah Putrinya. "Kalau menggoda orang lihat-lihat dulu, Em," katanya bernada marah. "Iya ... maaf" sesal Emira. Tiara yang terus-terusan batuk, karena tersedak berdiri menuju tempat cuci piring karena Ia jadi merasa ingin muntah. Steven mengikutinya ke dapur, dan mulai mengusap punggung Tiara lembut. Tiara merasakan sentuhan tangan steven seperti tembus panas, melewati pakaiannya hingga Ia rasakan sentuhan itu sampai ke kulitnya. "Maafkan aku ya, Ra. Aku tidak bermaksud ....," lirih suara Emira yang merasa bersalah. Tiara menggoyangkan tangannya, seakan berkata dia tidak apa-apa. Batuk Tiara tidak juga mau berhenti, Tiara merasa ada sesuatu yang seperti mengulik di tenggorokannya. Wajah Tiara sudah merah padam, air mata membasahi pipinya, d**a, dan perutnya terasa sakit. Steven memberinya minum air hangat, dan setelah meminum air hangat, batuk Tiara mulai berkurang. Steven menuntunnya untuk duduk di ruang tengah. "Ra ... maafin aku ya ...." "Tidak apa-apa, Em, aku tadi cuma keselek saja, tapi karena ada yang nyangkut di tenggorokan, makanya jadi batuk," jawab Tiara. Drrtt ... drrrttt Suara ponsel Emira berbunyi. Emira seperti ingin membatalkan janji jalan-jalannya, karena rasa bersalah nya terhadap Tiara. "Pergilah, Ayah yang akan menjaga Tiara," kata Steven. Emira, dan Tiara sama terkejutnya, mereka saling pandang tapi tentu saja arti pandangan mereka berbeda. Tiara dengan pandangan anehnya. Emira dengan pandangan menggodanya. Tiara melotot ke arah Emira, seakan berkata jangan berpikir yang tidak-tidak dengan ucapan Steven barusan. Emira tersenyum seraya mengangkat kedua bahunya, dan mengedipkan  matanya menggoda. Steven menatap keduanya, Ia bisa melihat, meski tanpa kata Emira, dan Tiara bisa memahami isi hati mereka, hanya lewat tatapan mata mereka saja. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD