Di dekat jendela kayu yang terbuka lebar pada malam itu, angin menusuk melalui celah jeruji ala rumah jadul, menerbangkan sedikit rambut Jean yang sedang termenung menatapi layar ponselnya di sana. Ya seperti tengah mempertimbangkan sesuatu. Sebuah nama kontak tertera di sana, Hazel bocah ilang. Hempasan napasnya melena. “Telepon, nggak, ya?” Jean menggigit bibir bawahnya masih ragu-ragu untuk menghubunginya atau tidak sambil terus berdiri di sisi jendela kamarnya. Terdengar berbagai suara serangga dari luaran sana. “Akh!” Jean mengacak rambutnya frustrasi. “Nggak usah, lah, ya. Dia mungkin lagi memperbaiki hubungannya sama orang tua.” “Mungkin terketuk setelah pembahasan waktu itu,” sambungnya meyakinkan diri sendiri. Ia pun meletakkan ponsel sembarangan ke atas ranjang begitu saja.

