Feris bisa 3 bahasa sekaligus? Hafidhoh juga? Wah lengkap sekali. Tau gak, Feris bisa ada di dunia pesantren ini berkat novel islami Indonesia, loh. Menurutnya, perempuan berhijab yang menjadi tokoh utama dalam novel kesukaannya itu terlihat lebih cantik luar dalamnya. Dulu, Feris adalah nonmuslim, juga orang tuanya. Suatu hari, Feris mampir ke sebuah pameran punya orang Indonesia yang digelar di toko buku terkenal di Prancis. Dari dulu, ia sangat kagum dengan Indonesia. Ia ingin tau, bagaimana bisa keberagaman agama di Indonesia bisa rukun dan tenteram? Di pameran itu, Feris tertarik dengan novel islami Indonesia yang berbasis pesantren. Penasaran, iapun segera membelinya. Ia selalu membaca novel itu ketika senggang. Dia juga perlahan memahami bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Arab untuk membaca novel itu.
Katanya, islam itu indah. Islam mengajarkan kasih sayang dan toleransi pada setiap umatnya, dalam novel itu. Feris sangat suka dan suka berhayal dengan novel itu. Ada kisah persahabatan, pesantren, dan juga cinta tentunya. Andai saja ia bisa menjadi pemeran utama seperti dalam novel itu. Andai saja bisa nyantren beneran. Semakin kuatlah keinginannya untuk nyantren di Indonesia. Sampai-sampai, dari jauh-jauh hari ia sudah mahir bahasa Indonesia sampai diluar kepala. Tekad kuat dan niatlah yang kelak menuntunnya pada kisahnya sendiri.
Feris anak yatim piatu sekarang. Dia tinggal dengan paman dan bibinya di luar negeri. Mereka seorang muslim. Pamannya adalah orang Prancis, dan bibinya adalah orang Indonesia asli. Feris lebih dekat dengan bibinya, karena suka diceritai tentang negara asalnya, Indonesia. Lama-kelamaan, Feris memberanikan diri untuk menyampaikan keinginan dan menanyakan hal itu pada bibinya. Tentang novel yang dibacanya. Feris membawa novel yang sangat disukainya itu dan menyodorkannya pada bibi.
"Bibi, tau novel ini? Aku sangat suka isinya," tanya Feris pada bibi.
"Tentu saja bibi tau, nak. Novel yang sangat populer di Indonesia, juga kancah internasional. Ceritanya bagus. Mengisahkan kehidupan santri. Bibi juga sangat suka novel ini," jawab bibi.
"Kalau novelnya benar-benar bagus, aku ingin jadi seperti pemeran utama di novel itu. Bisakah, bi? Aku benar-benar ingin...,"
Bibi terperangah tak percaya. Benarkan Feris ingin berhijrah? Bibi hanya bisa membelai rambut keponakan kesayangannya itu. Matanya berkaca-kaca melihat ketulusan niat Feris di kelopak matanya.
"Kamu tau, orang tuamu adalah kristiani, nak. Bibi tak ingin memaksakan kehendakmu. Kalau memang kamu mau, coba bilang ke pamanmu itu. Bibi ikut saja. Kamu sangat baik dan tulus, nak. Kamu tau? dalam agama Islam, niat baikmu saja sudah terhitung amal. Apalagi kalau dilaksanakan, pasti ribuan pahala didapat keponakan bibi ini ... ," jelas bibi sambil memeluk Feris.
"Thanks, bi. Bibiku adalah yang terbaik. Aku sayang bibi...,"
Betapa senangnya hati Feris. Spontan, ia langsung mengonfirmasi hal ini pada sang paman. Ia tak memikirkan apapun resikonya nanti. Apakah paman akan setuju atau tidak. Malah langsung melejit berlari menuju ruang tengah, tempat biasanya paman membaca koran.
"Selamat pagi, paman," sapa Feris.
"Pagi, nak. Tumben mukanya ceria. Pasti ada maunya ini. Ada apa?," jawab paman.
"Paman tau novel kesukaanku? Yang biasa k*****a,"
"Tau. Novel islami Indonesia, kan? Yang biasanya makan kau baca, mandi kau baca, tidurpun kau baca,"
"Hehe ... iya, paman. Feris inginkan sesuatu...,"
"Sesuatu apa yang membuat keponakan tercantik paman ini lari, ha?,"
"Aku ingin sekali nyantren di Indonesia. Seperti pemeran utama di novel ini. Gimana, paman?,"
"Kamu yakin, nak? Tidak bercanda?,"
"Iya, paman,"
"Sebenarnya, paman sangat menunggu-nunggu permintaan seperti itu dari keponakan kesayangan paman ini. Baiklah, Insyaallah bisa. Paman dan bibi akan mengantarmu nyantren di Indonesia, nak. Dekat dengan rumah nenek,"
Beberapa minggu kemudian, paman dan bibi mengantarnya untuk nyantren di Indonesia. Tempat yang mereka tuju pertama kali adalah pesantren dekat rumah nenek Feris, di Jawa. Dan ternyata, Ponpes Hijratul Qalbi adalah takdirnya.
Awal di sini, dia hanya lancar bahasa Inggris saja. Ia bingung karena dimana-mana serba lughoh 'Arabiyah dan bahasa Inggris juga. Untungnya, ia punya semangat tinggi untuk berhijrah menjadi muslimah sejati, seperti peran utama novel islami Indonesia yang dibacanya setiap hari itu. Tapi lihatlah aku, anak SMA yang sangat malas belajar, apalagi lughoh 'Arabiyah. Bahkan, aku sama sekali belum dapat motivasi berubah dari siapapun sekarang.
"Alhamdulillah, paman dan bibiku mendukungku untuk nyantren di sini, Nis," kata Feris.
Dia sangat beruntung. Coba lihat aku. Susah sekali beradaptasi di pesantren ini. Apalagi dengan bahasa Arabnya, yang baru saja ku kenal. Kalau bahasa Inggris dulu sih masih pernah diajarkan waktu SMP. Lalu, huruf hijaiyah saja aku baru belajar. Jadi malas untuk mempelajarinya. Kata Feris, aku harus membersihkan hati dulu, dan berniat dengan sungguh-sungguh. Niatnya cari ilmu, bukan cari jabatan dan ketenaran.
"Merubah diri sendiri saja belum bisa jalan. Apalagi cari-cari jabatan. Gak mungkin lah," sangkalku pada Feris.
"Huss ... jangan bilang gitu. Nanti ada wali lewat loh. Kan bisa saja, suatu hari nanti aku akan memanggilmu "Ukhti Nisa", kan??," ejek Feris padaku.
"Apaan coba. Orang kamu yang udah mahir Al-Qur'an saja belum punya jabatan di sini. Apalagi santri baru yang nakal sepertiku ini. Rasanya tak mungkin," Ingat.. Allah lah yang berhak merencanakan semuanya. Dan aku percaya dengan skenario Allah. Itu prinsip utamaku.
"Waduh, waduh. Gak nguatin kata-katanya. Ku bilang apa, udah pantas dan mampu jadi... sie.. apa ya, keagamaan kali ya?"
"Kamu ini, Fer. Sudahlah!," decakku kesal.
Setelah aku mengatakan semua itu, malah kata Feris, aku sudah pantas jadi sie keagamaan. Ngawur dia. BTW, aku gak nyangka bisa bertemu dengan orang asing sepertinya, yang jauh lebih baik dariku dari segi apapun. Padahal, aku seorang muslim dari kecil, yang seharusnya sudah faham dengan Islam. Aku sangat malu pada diriku sendiri, dan juga ... pada Allah. Ampuni hamba-Mu ini, Ya Allah.
Feris sangat baik. Dia mengajariku ngaos, dan membenarkan setiap bacaanku yang kurang sempurna. Dia mengajariku satu per satu huruf hijaiyah sampai benar-benar bisa. Dia mengajariku dasar-dasar huruf hijaiyah. Alhasil, aku jadi bisa memahaminya dengan sangat baik dan dalam tempo yang singkat. Terima kasih Feris. Kaulah pahlawan hijaiyahku.
Feris menjadi sahabatku, ukhti Rida adalah ketua pondok putri yang baik hati, Izza itu teman kecilku, dan ukhti Alif adalah sie keagamaan. Hanya mereka yang baru ku tahu, tak lebih. Aku sadar, dikelilingi orang – orang yang baik. Teringat aku yang dulu tomboy, nakal, urakan, cuwawakan, dedel, keras, dan tak punya sopan santun. Semua orang sini baik, beda jauh denganku. Tapi, bagaimanapun keadaannya dan apapun resikonya, aku akan merangkak keluar dari keterpurukanku. Dan mencoba berdiri tegak tuk berjalan menuju Surga Allah. Kalau Feris saja bisa, kenapa aku gak bisa? Bahkan harus lebih bisa. Aku ingin, suatu hari nanti akan berjalan bersama bapak ibuku serta adik-adikku untuk berbahagia di surga Allah kelak. Inilah tekadku, ku mulai berniat, aku akan berubah, dan aku akan mencapai segalanya. Aku pasti bisa. Percaya dan yakin, Zii.
Bersambung...