Aku semakin merasakan banyak perubahan dalam diriku. Bahasa Arab dan Inggris telah menjadi identitasku. Dengan begini, aku akan melakukan yang terbaik untuk perkembangan bahasa di pesantren. Do'akan kawan. Tak terasa, malampun datang. Aku berjalan sendirian ke taman. Kebetulan, jalan menuju taman itu melewati kantor dewan pengurus. Saat melewatinya, ku lihat banyak pengurus yang berkumpul di sana. Sepertinya ada rapat membicarakan sesuatu yang penting dan rahasia. Ku pandang dari jauh, yang ku kenal, hanya ukhti Rida dan ukhti Alif. Yang lain, belum tau. Ku pandangi sekeliling ruangan itu. Lalu, mataku tertuju ke pintu kantor. Aku melihat papan putih besar di samping pintu kantor. Penasaran, aku segera mendekat dan melihatnya. Ku usap kacamataku, dan ku perjelas pandanganku.
STRUKTUR KEPENGURUSAN
PONDOK PESANTREN PUTRI HIJRATUL QALBI
PERIODE 2019 / 2020
KETUA : FARIDA ZAHRA (ukhti Rida)
WAKIL KETUA : HAFIDZA HAKIMAH (ukhti Fida)
SEKRETARIS : RAFIQA HASIBA (ukhti Fiqa)
BENDAHARA : HALIMA SYAHIDA (ukhti Halim)
SIE KEAGAMAAN : ALIFA FAUZIYA (ukhti Alif)
SIE KEBERSIHAN : SALMA ARAFA (ukhti Salma)
SIE KESEHATAN : ARIQA MULQIYAH (ukhti Riqa)
SIE KETERAMPILAN : AQIDA MUQSITHOH (ukhti Dama)
SIE KEAMANAN : FAUZIYA MUN'IMAH (ukhti Faza)
SIE PENDIDIKAN : RAHIMA MALIKA (ukhti Rahma)
SIE BAHASA : AFIFA HADIYA (ukhti Fifa)
SIE AKHLAK DAN KETERTIBAN : IQRAMA NAFI'AH (ukhti Nafi')
Aku semakin mendekat untuk melihat papan itu. Penasaran, ingin tau satu per satu dewan pengurus yang selama ini menjadi pimpinan dan panutan kami para santri. Aku sangat tau jerih payah dan pengorbanan mereka semua yang mana tanggung jawab besar itu sulit sekali jika dipikul. Sedangkan, aku belum tau namanya satu per satu. Saking fokusnya, tak sengaja aku menyenggol sapu kelud di dekat papan ini sampai sapu itu terjatuh. Sapu itu menimbulkan suara yang cukup keras ke lantai kantor. Sampai-sampai suara bising rapat pengurus itu kini berubah jadi keheningan. Aku takut, bagaimana jika aku dihukum nantinya?
"Siapa di depan?," tegur ukhti Faza.
................................
"Kenapa kamu di sini?," lanjut ukhti Faza yang sudah berdiri di depanku.
"Maaf, Ukhti. Saya tadi ingin sekali melihat papan ini. Saya akan menuju ke taman pesantren," jawabku seadanya.
"Baiklah, pergilah! Kami sedang ada rapat," perintahnya.
Seluruh tubuhku bergetar, masih merasakan amarah ukhti Faza yang terlontar tak terduga sebelumnya. Walaupun tak sengaja menyenggol sapu itu, tapi seharusnya aku tak kepo dengan papan kepengurusan itu. Ahh sial, nasib malangpun menimpaku. Aku segera melangkah menuju taman. Masih terngiang-ngiang oleh perkataannya tadi.
"Siapa, Ukhti?," tanya ukhti Rida pada ukhti Faza.
"Itu. Ada santri putri yang kepoin papan kepengurusan. Lalu, dia menyenggol sapu hingga menimbulkan suara keras. Awalnya, ia ingin pergi ke taman, katanya. Dia berkacamata. Sepertinya santri baru," jelas ukhti Faza.
"Ooo ... pasti Annisa. Taukah kalian? Dia itu gadis yang berkacamata. Aku pernah melihat sendiri pancaran cahaya itu. Cahaya yang mencorong dari wajahnya yang mencerminkan kebersihan hati dan murninya akal. Dan insyaallah, akhlaknya tak diragukan," lontar ukhti Rida pada pengurus.
"Tapi ukhti, menurutku, ada sedikit unsur kenakalan di raut wajahnya," kata ukhti Fifa.
"Itu memang dulu. Ukhti Alifpun pasti juga sudah tau sendiri, kalau Annisa itu susah mengajinya. Tapi Annisa yang sekarang, telah diakui kehebatannya oleh ukhti Alif sendiri. Benar tidak?," tambah ukhti Rida.
"Benar loh, ya akhwati. Perkembangannya sangat cepat dan bagus sekali. Dia benar-benar hebat. Kabarnya, dia terinspirasi oleh para sahabatnya. Positif juga pengaruh persahabatan mereka," tambah ukhti Alif.
"Kalian tau Nisya Mu'izza? Ternyata, Izza adalah teman kecilnya sejak SD. Sekarang mereka membangun sebuah persahabatan bersama Ferissca dan Mazida juga. Awal ku melihatnya, benar-benar ada sesorot cahaya dari wajahnya. Subhanallah, baru pertama kali aku menyaksikan langsung mukjizat terindah pemberian Allah. Karunia yang sangat luar biasa telah dikirim ke pesantren ini. Mungkin sangat sulit dicerna logika. Tapi, inilah faktanya. Yang penting dia sudah mau berhijrah, kan?," tambah ukhti Rida.
Lha ... ada apa ini? Kenapa mataku kedutan terus-menerus? Wah, bahaya ini. Jangan-jangan ada yang kangen, baguslah. Atau jangan-jangan dewan pengurus pada membahasku di rapat masalah kekonyolanku tadi. Waduh, salah kaprah ini. Mau ku taruh mana mukaku ini?
Perjalanan ini sangat berkesan. Ku lihat lampu teras setiap kamar menyala terang. Air mancur tengah taman memercikkan airnya satu per satu. Menikmati angin malam yang selalu ku nanti kehadirannya. Sambil membawa nadhom yang selalu ku bawa kemanapun aku pergi. Aku duduk di bangku panjang sebelah timur yang menghadap ke kiblat. Dawuh abah yai, hafalan menghadap kiblat itu lebih afdhol. Ku lepas kacamataku, dan ku lihat segala sesuatu di sekitarku. Membiarkan angin sepoi-sepoi berhembus di kelopak mataku. Remang-remang, ku lihat 2 santri laki-laki berjalan berdampingan keluar dari masjid. Langsung ku pakai kembali kacamataku, untuk memperjelas pandangan. Wajahnya tak asing. Tiba-tiba, salah satu dari mereka berhenti. Santri bersarung biru itu menoleh ke arahku. Semakin jelas wajahnya. Ya, aku ingat sekarang. Dia adalah Hafidz, orang yang paling menyebalkan itu. Terakhir melihatnya, sekitar seminggu lalu. Lama juga aku tak melihat wujudnya. Dan pastinya, orang yang bersamanya itu adalah Fatah, yang sudah melangkah jauh meninggalkan Hafidz.
"Assalamu'alaikum," sapanya.
"Wa'alaikumussalam...," jawabku dengan keraguan.
"Lama tak jumpa. Mm.. sendirian saja? Sahabatmu yang cerewet itu mana, Ukh?", katanya gak jelas.
..............................................
"Ya sudah maaf kalau menganggu. Saya harus pergi. Wassalamu'alaikum...", katanya terburu.
Apa yang ingin dia katakan padaku? Aneh sekali anak ini. Jadi makin penasaran. Lama tak jumpa katanya. Padahal baru seminggu. Gimana kalau satu bulan? Berkata gak jelas pula. Pentingkah? Alah, mungkin tidak. Sudahlah. Anggap saja angin lalu.
Ujian apa lagi yang Engkau berikan pada hamba-Mu ini, Ya Allah? Mengapa momok
itu datang lagi? Seminggu sudah, ku bisa melupakannya, menghapusnya dalam ingatan dan kebencianku. Dengan menghabiskan waktuku dengan menyibukkan diri untuk perubahan diriku sendiri. Atau, apakah ini hanya sebuah ujian untukku? Semoga saja iya. Dia sama sekali tak berubah. Tetep jahil dan nyebelin. Jika ini memang ujian untukku, berilah aku kesabaran untuk menghadapinya. Tak lupa, berilah kesabaran pada kedua orang tuanya, atas anak yang nyebelin seperti ini...
Tak lama, ukhti Rida datang menghampiriku. Aku menjelaskan segalanya pada ukhti Rida. Maaf, tadi aku mengganggu rapat dewan pengurus. Aku hanya penasaran dengan struktur kepengurusan di papan. Tak sengaja, aku menyenggol sapu sampai jatuh. Ku katakan sebenarnya padanya.
"Bisa saja kamu ini. Oh iya, tadi ada seorang santri putra ke sini menghampirimu. Siapa, Nis?," tanya ukhti Rida.
"Itu ... eh, bukan siapa-siapa ukhti. Orang nggak jelas tuh," jawabku.
"Gak jelas kok sempet jawab salamnya dan melamun. Siapa?,"
"Ukhti tau? Itu, Haf ... eh, maksudku ... akhi Fahmi tadi mampir sebentar,"
"Oh ... akhi Fahmi. Kok bingung bilang namanya saja. Oh ya, dia itu tiga tahun lebih tua darimu. Kamu pasti sudah tau. Lalu, kenapa dia datang? Padahal, semua santri tau, dia itu paling gak suka dideketin apalagi deket-deket sama santri putri. Walaupun jadi idaman, dia tak pernah melihat bahkan tak pernah melirik 1 pun santri putri, dari dulu hingga sekarang. Hebat sekali, kuat sekali ya imannya," celetuk ukhti Rida.
"Entahlah, ukhti. Ukhti tau, dia selalu saja tersenyum jahil jika melihatku hadir di bumi ini. Senyuman yang mengusikku untuk segera pergi jauh-jauh di tempat yang ku pijak. Di manapun dan kapanpun. Ukhti, jangan seperti itulah. Aku sangat risih melihatnya,"
"Dasar santri zaman NOW. Baiklah, semoga beruntung ke depannya, Nis wkwkkwkw,"
"Untuk??"
"Karena kamu berhasil memenangkan hatinya dan mengalihkan pandangan Fahmi padamu ahhaa,"
"Apaan coba. Ada-ada saja, ukhti"
Bersambung..