Chap. 24 || Wake Up

859 Words
Bintang hanya bisa diam menunduk. Tangannya meremas celana SD-nya karena rasa takut yang dia rasakan. Baru saja datang, beberapa temannya sudah mengurubunginya dan membentak minta buku tugas Bintang, untuk mereka salin jawabannya karena tugas mereka memang akan diperiksa pagi ini oleh ibu guru.             “Bin, aku pinjem buku tugas kamu, dong...”             “Jangan pelit Bintang! Kamu mau ya, aku tonjok lagi?”             “Bintang liat tugas kamu!”             Meski begitu, Bintang tetap diam. Dia tidak berani menatap teman-teman yang bahkan lebih ditakutinya dibanding hantu. Bintang masih ingat jika ibu guru melarang anak-anak untuk menyontek karena katanya itu tidak baik. Maka dari itu, Bintang tidak mau memberikan contekan karena itu tidak baik.             “Kalau kamu gak mau kasih kita contekan, kita minta uang buat tebusan karena kamu gak mau berbagi. Ayo cepet!”             “Jangan bilang kamu gak mau kasih kita uang juga, iya?”             Berusaha Bintang tahan mati-matian, tapi nyatanya air matanya luruh juga. Dia menangis. Padahal kata mama, laki-laki tidak boleh nangis.             Teman-teman yang mengurubunginya tertawa.             “Cengeng ih, Bintang!”             “Anak mama dasar. Apa-apa nangis. Ishhh...”             “Bintang orangtua kamu kan, kaya. Pasti uang jajan kamu gede.”             BUGH!             Bintang yang masih menunduk seraya menangis, tiba-tiba jatuh karena pipinya kini ditonjok Surya, anak berbadan paling besar dan gendut di kelasnya. Hampir semua anak takut dengannya. Termasuk Bintang.             “Kamu bukannya kasih uang sama kasih mereka tugas kamu, malah diem terus nangis lagi!” Maki Surya seraya berkacak pinggang. “Cepetan kasih! Aku gak segan-seggan bakal nonjok kamu lagi!”             Bintang tetap diam, isak tangisnya makin keras.             Karena tidak ada pergerakan dari Bintang, Surya melepas dengan paksa tas Bintang sampai tas selempangnya sedikit robek. “Aku nggak peduli kalau tas kamu rusak! Salah sendiri gak mau kasih uang sama buku tugas!”             Setelah Surya mengambil tasnya, kerubungan itu bubar. Mereka datang ke mejanya Surya untuk ikut menyalin jawaban Bintang. Meninggalkan Bintang di depan kelas yang masih menangis. Dia memeluk lututnya, dan ia baru sadar...             Merasa kalau dunia tidak ada yang memihaknya.   ***           Silau. Itu yang pertama kali Bintang lihat.             Bintang mengerjapkan matanya. Dia melihat di sekeliling ranjangnya ada kakek-neneknya, Raffa, Raka, Bobby, dan Ana—gadis itu sudah memakai salah satu kaosnya dibalik jaket bomber punya Bobby tengah, menangis.             “Bintang kenapa?” tanyanya entah pada siapa. Sekarang dia merasa haus. Suaranya terdengar serak. Sudah berapa lama dia begini?             Sara mengusap dahi cucunya. “Kamu pingsan, nak.”             “Udah berapa lama?” tanya Bintang lagi. Seingatnya tadi dia masih ada di sekolah, bukan sudah di rumah.             Bobby melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. “Lima jam lo pingsan, Bin. Lumayan lama. Kita semua panik tadi.”             Raffa mengangguk. “Kita ketakutan juga. Baru kali ini gue liat Bintang yang kalau lari aja gak capek, tau-tau pingsan.”             “Lo sakit, Bin? Kenapa gak bilang ke kita-kita?” tanya Raka.             Bintang hanya diam. Saat dia menyentuh dahinya, memang terasa hangat dari biasanya. Ah, bahkan Bintang tak tahu kalau dia sakit. Yang dia tahu serta masih diingatnya dengan baik adalah, masa lalunya seakan kembali lagi, membuat Bintang merasa dikejar-kejar, panik, ketakutan, sehingga semua menjadi gelap.             “Bintang, aku minta maaf...” cicit Ana pelan. “Gara-gara aku, kamu harus jadi begini. A-aku, minta maaf...” Air matanya luruh. Semenjak kejadian buruk itu sampai saat ini, Ana masih saja nangis.             Ana benar-benar merasa bersalah...             Tadinya, Ana memang tidak mau tau siapa yang sudah menyelamatkannya dari kejadian buruk itu. Badan dan pikirannya masih terguncang. Lalu ketika tiga teman Bintang meneriaki nama laki-laki itu, rasa takut Ana malah menjadi tambah besar karena Bintang sudah terkapar pingsan setelah dia juga menonjok Jordhy.             Bintang memejamkan matanya sekilas. Dia bersyukur Ana tidak apa-apa. Ana tampak lebih baik dari sebelumnya, meski di bibir gadis itu terdapat sobekan dan terlihat sudah diobati juga.             Tanpa sadar tangan Bintang mengepal.             “Lo gak apa-apa?” tanya Bintang. Tenggorokannya terasa perih. Tapi dia ingin memastikan Ana benar tidak apa-apa, walaupun gak bisa dikatakan baik.             Ana menggeleng. Dia mengusap pipinya kasar. “Aku nggak apa-apa kok, Bin. Aku, aku khawatir liat kamu pingsan dan gak sadar-sadar.”             Kalau keadaannya tidak begini, 2R dan Bobby pasti akan menggoda laki-laki yang kini terkapar lemah baru sadar dari pingsannya. Tetapi di situasi seperti ini, tentu saja bukan waktunya untuk bercanda.             Peka di dekatnya ada nakas yang tersedia air putih, Ana mengambil gelas yang sudah ada sedotannya. “Ini Bin, minum dulu. Kamu baru sadar.” Ana juga membantu nenek Bintang menyandar Bintang di kepala ranjang.             Bintang menerima gelas itu, meminumnya hingga setengah gelas. Setelah minum, dia mengembalikan gelasnya yang langsung Ana taruh di tempat semula. “Makasih.” Tenggorokan Bintang terasa mendingan. Gadis itu hanya bergumam, “Iya,” dengan pelan sebagai jawaban.             Air mata Ana kini sudah berhenti mengalir. “Aku minta maaf ya.”             Kini Bintang mendelik pada Ana. “Gak usah berkali-kali minta maafnya.”             Ana tetap diam. Dia memaksakan senyum namun entah kenapa, dia malah ingin menangis lagi melihat sarkasme Bintang sudah keluar.             “Kak Ana ini, dari kejadian itu sampai lu gak sadar, tetep aja nangis. Kita bingung gimana caranya buat Kak Ana gak nangis Bin...” Adu Raffa.             Bintang tersenyum miring yang untungnya tidak dilihat siapapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD