“Kak, kata mama sama papa turun, makan malam dulu. Lo udah beberapa hari ini gak makan malem sama makan sore.”
Hari ini sudah lebih dari tiga kali Arie mengetuk pintu kamar Ana, minta kakaknya untuk makan tapi Ana selalu saja tidak merespon. Sudah beberapa hari Ana seperti ini. Agak aneh melihat Ana yang selalu menantikan makan bersama dengan ekspresi cerianya yang polos, kini malah tidak mau ikut makan. Arie tahu kakaknya itu suka sekali jika mereka makan malam bersama.
“Kak Ana...” panggil Arie. Dia berusaha membuka pintu namun pintunya di kunci.
Untungnya setiap anggota di rumah ini, dibuatkan duplikat kunci masing-masing ruangan. Dengan duplikat kunci kamar Ana punyanya, Arie bisa masuk ke kamar kakaknya.
Dilihat kakaknya tengah tengkurap sambil mengusap-usap wajahnya. Ana baru saja menghapus bekas tangisannya agar Arie tidak tahu.
Arie duduk di pinggir ranjang Ana. “Kak, makan dulu...”
Ana melihat sekilas ke Arie. “Nggak, kakak gak laper.”
Melihat wajah kakaknya, Arie tahu kalau kakaknya itu habis menangis. Ia bisa melihat mata kakaknya yang sedikit bengkak dan merah. “Kakak nangis?”
“Ng-nggak, kok. Ngantuk aja.”
Mata tajam Arie menyipit tajam. “Jangan bohong sama gue, kak. Gue tau lo abis nangis. Bilang, kenapa lo nangis? Ada orang yang bully lo, atau apa?”
Ana memaksakan tawa melihat sikap protektif Arie. “Suer, aku gak nangis apalagi sampai ada yang bully aku di sekolah, dek.” Ujarnya berbohong.
Arie mendesah pasrah. Kakaknya tampak seperti menyembunyikan suatu hal tapi tidak mau dibagikan padanya. “Kita kalau ada apa-apa suka cerita, kan?”
“Iya.” Ana menjawabnya sambil mengangguk.
“Kenapa hal ini gak mau lo ceritain ke gue?”
Butuh waktu lima detik untuk Ana berpikir. Dia lagi-lagi bohong ke Arie.
“Karena gak ada hal yang harus aku ceritain kan, dek.”
Oke, mungkin sebaiknya Arie harus berpikir positif. Dia harus percaya ke kakaknya bagaimana pun juga. “Kalau ada apa-apa, bisa kakak cerita?” pinta Arie tulus. Karena dia tidak ingin kakaknya kenapa-napa.
“Pasti, dek.” Lagi-lagi Ana mengangguk.
“Andai kan gue satu sekolah sama lo, gue pasti tahu kalau misalnya lo ada apa-apa di sekolah, kak.”
Ana dan Arie memang tidak satu sekolah. Harapan Arie untuk satu tempat belajar dengan kakaknya harus pupus lantaran, nilai UN-nya kurang 0,5 point agar bisa di terima di SMAN yang sama dengan kakaknya.
Arie memberikan punggungnya. “Sekarang makan ya, kak? Please, cause I will be your car for you to drive us to dinning room.” Arie meminta Ana untuk naik ke punggungnya.
Ana tertawa. Meski terkadang cuek, dingin, dan kurang respek, Arie bisa menjadi tipikal cowok romantis seperti sekarang.
Akhirnya Ana melingkar lengannya di leher Arie. Perlahan Arie berdiri, dan Arie berjalan membawa mereka ke ruang makan.
“Dek, memang aku gak berat apa, kamu gendong terus?” tanya Ana ketika Arie kini sedang turun tangga.
Sontak Arie berhenti. “Berat?” Arie mendengus geli. “Cewek pendek terus mungil kayak kakak tuh, kaya kapas. Gak ada berat-beratnya.”
Spontan Ana menepuk bahu Arie, membuat adiknya itu tergelak. “Dasar ya, kamu!”
“Memang, kok!”
***
Pelajaran Fisika baru saja selesai. Bu Arini selaku guru Fisika, baru saja keluar kelas. Kini mereka diperbolehkan istirahat terlebih bel juga sudah berbunyi tidak lama setelah guru mereka keluar.
Saat Bintang mau berdiri karena mau ke Kantin, Bobby mencegah teman sebangkunya itu. “Tunggu, Bin...”
Bintang kembali duduk. “Ada apaan? Kenapa kita nggak ke kantin?”
Raka menatap Bintang serius. “Gue harap kali ini lo nggak ngindar kalau kita tanyain hal yang sama. Udah beberapa hari ini kita penasaran, tapi lo ngindar mulu kalau ditanyain.”
Peka hal apa yang dimaksud Raka, Bintang mencoba berdiri tapi lagi-lagi ditahan oleh Bobby. “Please Bin, kok, lo gak bilang-bilang kalau lo udah ada doi, mana kakak kelas lagi.” Kata Bobby agak histeris.
Raffa masih dibangkunya duduk bertopang dagu. “Lo pacaran sama anak PMR yang waktu di kantin...”
“Nggak, dia bukan pacar gue.” Ucap Bintang cepat.
“Terus kenapa pas lo luka, lo malah ke kelasnya dia, narik tangan dia yang jelas lagi di test olahraga? Mana nyeret dia gatau ke mana. Wajah guru olahraga tuh cewek marah banget pas lo bawa muridnya kabur gatau ke mana.” Cerocos Bobby tanpa jeda.
Raffa menyipit melihat Bintang. “Jangan bilang lo mojok ya, sama dia...”
Ucapan Raffa belum selesai karena Bintang menoyor kepalanya. “Asal aja lo kalau ngomong.”
“Elah, kan, nggak bermaksud nuduh lo, Bin.” Raffa meringis sambil terus-terusan mengusap kepalanya bekas toyoran Bintang.
“Jadi kalian ke mana waktu itu?” tanya Raka membalikkan situasi ke yang seharusnya.
Bintang berdeham sebelum menjawab. “Ke UKS.”
“Ngapain lo ke UKS? Gue liat pas lo balik lagi ke kelas, luka lo itu nggak berbalut plester. Gue tau kalau lukanya cuma lo cuci pake air tanpa lo obatin.” Si anak kepo alias Bobby, masih saja seperti mencoba mengulitinya.
Tiga temannya masih menatap Bintang seperti minta Bintang untuk jawab dan kalau nggak di jawab, mereka akan terus menanyakanya.
Lama-lama Bintang merasa jengah. “Intinya itu cewek bukan cewek gue, dan gue juga gak suka sama dia. Buruang ngantin.” Setelah mengatakan itu, tiga temannya melongo melihat kepergian Bintang.
“Para cewek gak jadi patah hati ini, mah.” Celetuk Bobby.