Chap. 03 || Bego

881 Words
Bintang memilih kembali ke lapangan, bergabung dengan teman barunya. Ia ingat jika kelompoknya bernama, ‘Bulan’. Telihat dari papan nama bertuliskan nama kelompoknya di salah satu sudut lapangan, membuat Bintang berlari ke sana untuk bergabung.             Ada yang menepuk bahunya dari belakang. Bintang menoleh, mendapati dua laki-laki yang kini tersenyum sambil melambaikan tangan padanya.             “Lo yang namanya Bintang, kan?” tanya laki-laki yang menepuk bahunya. “Kenalin, nama lengkap gue, Lian Sasraka Widyatmaka. Panggil aja gue Raka. “             Lalu laki-laki di sebelahnya juga memperkenalkan diri. “Panggil aja gue Raffa. Nama lengkap gue Raffardhan Arghani. Kita teman satu mos juga teman sekelas tiga tahun selama di SMA.”             Bintang mengangguk. “Nama gue Bintang. Bintang Arkananta Mahardika. Lo terserah boleh panggil nama gue apa aja.”             Raka terkekeh. “Semua orang, terutama temen sekelas lo, pasti manggil lo Bintang.”             “Sama Kak Jordhy, kakak OSIS yang tanggung jawab MOS kelompok ini, lo ditunjuk jadi ketua kelompok.” Raffa mengatakan itu tanpa beban. “Semua anak di kelas kita manggil lo Bintang jadinya karena Kak Jordhy yang nyebut lo Bintang, bukan Arka, Dika, Nanta or, whatever else...”             Spontan Bintang melotot, menatap dua temannya. “Gue jadi ketua? Nggak jadi ketua kelas juga kan, itu?”             “Ketua kelompok itu merangkap ketua kelas selama satu periode alias satu tahun...” Raffa mengetuk dagunya berusaha mengingat. “Eh, iya bukan sih, kayak gitu? Tadi Kak Jordhy bilang gitu, kan?”             “Iya, ketua kelompok merangkap ketua kelas juga.” Raka membenarkan. “Kenapa? Lo keberatan?”             “Jelas.” Tanpa basa-basi Bintang menolak. “Kok, gue? Padahal gue kan gak ada tadi. Kenapa jadi gue?”             Raka dan Raffa saling tatap sejenak. “Diundi gitu, Bin. Dikocok sama Kak Jordhy, dan yang keluar namanya sebagai ketua kelas, adalah lo.” Jelas Raffa.             Bintang tanpa sadar mengumpat.             “Tenang aja Bin, kelompok bulan alias kelas sepuluh IPA satu bakal ada buat lo, bakal ngehadapin bareng-bareng. Jangan khawatir...” Kata Raka.   ***             Jam istirahat digunakan Ana untuk ke Kantin, makan roti. Uangnya masih belum digantikan bendahara PMR akibat membayar bubur dan membeli roti tadi. Alhasil, dengan sisa uangnya yang tinggal tiga ribu, cuma cukup beli minum air mineral dan sebuah roti.             Sementara itu di salah satu pojokan kantin, Bintang melihat Ana tengah makan roti dengan lahap sendirian. Semenjak matanya melihat Ana, dia tidak begitu memperhatikan Raffa dan Raka yang tengah bercerita.             “By the way, lo tadi kemana, Bin? Gue gak liat lo pas apel pagi.” Raka bertanya lalu kembali memakan mie ayam pesanannya.             Fokus Bintang masih pada Ana.             Sadar Bintang seperti melamunkan sesuatu, Raffa menepuk bahu Bintang yang duduk di sebelahnya. “Bin, tadi lo ke mana?”             Barulah Bintang menatap dua temannya, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Gue mau kabur niatnya. Tapi kepergok.”             Suapan yang akan masuk ke mulut mereka tertahan. Menatap Bintang tak percaya. “Serius lo mau kabur?!” Tanya mereka berdua kompak.             “Eh lo! Iya lo yang lagi makan roti, sini cepetan!” Bentak seorang cowok entah siapa, tapi berhasil menarik atensi Bintang untuk melihat ke sumber suara daripada menjawab pertanyaan dua temannya.             Dari sana, Ana mendekat ke orang yang tadi berteriak padanya.             Cowok itu tertawa meremehkan pada Ana, memberikan tiga tumpuk piring bekas jajanan baso tahu mereka ke tangan Ana yang bahkan masih memegang rotinya. Jika tidak sigap, mungkin piring-piring itu akan jatuh pecah belah.             “Lo kasih ini ke kantin sembilan. Cepet sana. Udah dibayar kok.”             Tanpa ba bi bu atau protes, dari tempatnya duduk, Bintang melihat cewek itu langsung menuruti omongan cowok yang entah kelas 12 atau masih kelas 11. Tangan Bintang mengepal tanpa sadar.             “Hello, Bin.... lo lagi liatin siapa, sih?” Tanya Raffa sedikit menggoda.             Bintang tetap diam. Sampai suara murka ibu-ibu terdengar menggelegar di Kantin. Ibu Kantin itu marah ke Ana.             “Kamu itu! Bilang dong, sama mereka kalau sebenernya mereka itu belum bayar! Gimana sih, mereka udah berapa kali nunggak!”             Ana melihat ke asal bangku cowok yang tadi menyuruhnya. Sudah kosong tidak ada siapapun. Mereka kabur rupanya.             “Kata mereka tadi udah dibayar bu,” jawab Ana gugup.             Ibu itu berdecak kesal seraya berkacak pinggang. “Sekarang gimana? Mau kamu cari mereka?!” tanya ibu itu sengit. “Kalau kamu gak mau susul mereka, ya sebagai gantinya kamu yang bayar!”             Ana menunduk. Kenyataannya dia tidak punya uang sama sekali. Uangnya sudah habis karena tadi dia beli roti.             Melihat reaksi Ana, membuat ibu itu menggeram marah.             “Gak punya uang juga? Kenapa sok-sokan mau-maunya aja balikin piring. Sebagai gantinya, kamu bantu ibu cuci piring-piring ini!” Ibu itu menujuk piring-piring kotor yang lumayan banyak.             Tanpa punya pilihan lain, Ana masuk ke dalam kios itu, langsung mencuci piring-piringnya.             Bintang, Raka, dan Raffa, kini memfokuskan atensinya ke Ana yang sudah melakukan perintah ibu itu untuk mencuci piring tapi masih saja diomeli oleh ibu itu. Baik Raka juga Raffa, merasa iba ke Ana.             “Gue kasian sama tuh cewek. Anak PMR, mana keliatan banget muka dia udah lesu. Apa kita bantuin aja gitu, ya?” tanya Raffa.             Raka mengangguk mengiyakan. “Kuy lah, kasian gue juga. Padahal bukan dia yang beli kan...”               “Gak usah, ngapain bantuin.” Desis Bintang tajam. “Dianya aja yang bego karena mau-maunya aja dimanfaatin terus disuruh-suruh kayak babu.”          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD