Yoga baru saja sampai di lapangan panjat dinding yang ada di sisi utara. Dia melihat ada beberapa temannya sedang berlatih dan bersantai di sana. Yoga duduk tepat di samping Ucok, cowok yang selalu ada jika Yoga membutuhkannya.
“Lapo kok lesu?” tanya Ucok.
“Bab lima revisi, *Cok.”
*[ Panggilan temannya ]
“Owalah, saknoe seh! Yowes ndang dibenakno ae!” ujar Ucok memberi semangat.
Yoga hanya mengangguk, lalu dia berdiri dan melepaskan kemeja flanelnya. Terlihat jelas tubuh atletis Yoga yang bisa dinikmati kaum hawa di sekitarnya. Yoga melakukan gerakan pemanasan, lalu meraih alat-alat yang digunakan untuk memanjat dinding.
“Lemparin harness dong!” ujar Yoga pada salah seorang temannya.
Tidak hanya harness yang digunakan untuk memanjat dinding. Yoga juga membawa kantong kecil berisi bubuk magnesium yang berguna agar tangannya tidak licin saat meraih poin di dinding. Yoga juga menggunakan sepatu panjat, tidak lupa juga untuk memastikan keamanan tali karmentel yang sudah terpasang.
“Udah siap?” tanya Ucok yang menjadi rekannya.
“Yok lah! Tarik yo, *Cok!”
“Oke!”
Yoga mulai meraih poin terdekat, lalu melanjutkan langkah selanjutnya hingga sampai ujung papan teratas. Semua bersorak ketika melihat Yoga melakukan aksi itu, mereka sangat jarang bisa melihat Yoga dengan gaya-nya saat memanjat dinding. Karena terakhir kali dia melakukan itu, tangan kirinya terkilir dan sudah lama dia tidak memegang poin yang ada di dinding panjat.
“Sip, aku kira kamu lupa caranya sampai atas,” ujar Ucok dengan memberikan high five ala mereka.
“Sekali lagi boleh, *Cok?” tanya Yoga dengan meringis.
“Ya udah, buruan naik.”
Sekali lagi, Yoga menunjukkan keahliannya dalam panjat dinding. Setelah selesai dengan kegiatan di sana, Yoga dan Ucok kini berjalan menuju ke kantor secretariat Mapala. Mereka juga memanggil beberapa teman untuk datang, karena mereka ingin merundingkan mengenai kegiatan pendakian.
“Awalnya aku mau berangkat sendiri ke sana, tapi karena ada yang maksa ikutan, ya udah … ayok aja sih kalo aku,” jelas Ucok.
“Lebih baik orang banyak daripada sendiri, lagian di sana itu bukan taman bermain, meski kalian ini sudah sangat sering datang ke sana, kalian itu juga bisa aja terluka. Kalau udah terluka, siapa yang mau nolong?” omel Riska.
“Siap ibu Negara,” jawab Dian.
Pletak!
“Yang bener kalo ngomong!” sahut Riska sembari memberikan satu pukulan keras di kepala Dian.
“Memangnya siapa lagi yang bakal ikutan?” tanya Yoga.
“Belum pasti semua, biasalah anak-anak … sukanya dadakan,” ujar Ucok.
Riska mengeluarkan selembar kertas, dan dia mulai menulis nama anak-anak yang akan ikut dalam pendakian itu.
“Yakin mereka melok?” tanya Yoga.
“Apa itu melok?” Riska tidak mengerti dengan ucapan Yoga.
“Ikutan, Ris. Susah ya kalo ada temen yang udah lama di Jawa tapi gak bisa bahasa Jawa.” Dian lagi-lagi menyahut.
“Di … udah pernah tau rasanya di sengat lebah?” tanya Riska.
“Ojok tala … loro Neng!” jawab Dian.
“Kenapa sih kalian ini? Udah tau aku ini lemah bahasa Jawa, masih aja jadi bahan bully.”
Yoga mendekati Riska, dia mengusap kepala cewek itu dan berjalan keluar dari sana. Ucok mengikuti langkah kaki Yoga sampai di kursi yang ada di bawah pohon besar dekat kampus.
“Kenapa?” tanya Ucok.
“Ini nggak seperti biasa, ada feel buruk buat pendakian besok,” ujar Yoga.
“Jangan gitu, anak-anak udah setuju buat nanjak loh!” Ucok tidak ingin rencananya gagal.
“Iya, tau. Ya udah, mungkin ini cuman perasaan aja.”
Percakapan mereka berlangsung hingga Dian datang dan memberikan dua plastic berisi es teh. Kini mereka bertiga duduk dan membahas perjalanan yang akan dilakukan di Arjuno – Welirang.
“Jadi, mau berangkat kapan?” tanya Dian.
“Hmm, gimana kalo dua minggu lagi? Kita perlu latihan juga karena ada anak-anak yang masih baru, kayak biasanya aja lah, kita nggak mau ada masalah kaki terkilir atau kehabisan napas di sana,” jelas Yoga.
“Kamu sih selalu aja persiapannya kudu matang. Ya kali mereka mau militer, Yo!” sahut Ucok yang sepertinya kurang menyukai rencana Yoga.
“Inget nggak? Awal nanjak sama Riska, itu kan kita nggak ada persiapan, *Cok! Dia hampir aja nggak bisa turun kalau bukan karena pertolongan dari Mas Jemmy.”
“Ya udah deh, terserah kamu aja. Palingan mereka bakal remehin lagi.”
“Di, kamu bantu aku buat kasih tau anak-anak yang mau ikutan ya!”
“Oke.”
Kegiatan di Kampus selesai, dan kini Yoga dalam perjalanan menuju ke kantor FPTI [Federasi Panjat Tebing Indonesia]. Dia akan melihat sesi latihan anak-anak atlet panjat yang dilakukan di lapangan khusus milik KONI [Komite Olahraga Nasional Indonesia] Surabaya.
Yoga memarkirkan motornya di area lapangan, karena di sana tidak ada parkiran khusus, jadi untuk berjaga-jaga, Yoga meletakkan motor itu di dekat papan panjat. Di sana, dia bertemu dengan banyak atlet muda dan juga para pelatihnya. Bahkan ada atlet berusia lima tahun yang sudah menekuni dunia panjat karena orang tuanya yang mendukung.
“Sore, Mas Ari,” sapa Yoga.
“Yo, sendirian aja?”
“Iya, Mas. Anak-anak sibuk di PATAGA.”
“Sini duduk! Kita lagi latihan santai kok, anak-anak juga ada beberapa yang nggak datang karena harus pergi latihan ke Trenggalek,” jelas Mas Ari, pelatih panjat di FPTI.
“Wuih … berarti panjat tebing dong! Wah, tau gitu aku ikutan,” ujar Yoga yang menyesal karena tidak tahu masalah info itu.
“Kamu udah ke BASARNAS?” tanya Mas Ari.
“Belum, ada apa?”
“Kemarin ada anak hilang, tapi untungnya langsung ketemu.”
“Di mana?”
“Penanggungan.”
“Tumben, Mas? Bukannya di sana itu minim anak hilang?”
“Dia kondisi kehabisan air, dan mau cari air di puncak. Karena masih baru, akhirnya tersesat dan temannya itu nggak tau kalau dia newbie,” jelas Mas Ari.
“Hmm, pantesan. Kalau begitu nggak kaget, palingan dia kesasar di batu besar,” celetuk Yoga.
“Nah, bener. Ada pengalaman ya?”
“Hahaha, waktu SMP, Mas. Udah lima kali kalo ke sana kesasar dan baliknya di batu besar itu.”
“Masa?”
“Iya.”
Percakapan santai itu berlangsung hingga seorang cewek datang dan memberikan minuman pada Mas Ari.
“Mas Yo, nggak mau manjat?” tanya cewek itu.
“Tadi udah, Yu.”
Namanya Ayu, dia adalah salah satu artis di FPTI. Atlet perempuan yang berusia delapan belas tahum dan sudah sejak SMP menggeluti kegiatan panjat karena hobi dalam keluarganya. Ayu sudah sangat sering mendapatkan medali emas dalam kompetisi panjat di seluruh Indonesia dan juga sampai di luar negeri.
“Mas, anak-anak mau nanjak.”
“Kapan?” tanya Mas Ari.
“Mungkin dua minggu lagi.”
“Kenapa sama muka kamu itu?”
“Enggak tau, perasaan aku nggak enak aja. Kayak ada yang nahan buat nggak pergi.”
“Doa aja biar nggak ada apa-apa selama di sana. Kamu bukan orang baru yang buta jalan di atas gunung. Kalau bisa, kamu pandu mereka yang masih baru dengan baik. Apalagi kamu anggota BASARNAS.”
“Iya, Mas. Makasih.”
Yoga berada di sana hingga petang, dan semua sudah merapikan barang-barang yang digunakan untuk panjat dinding.
“Alat-alat udah semua?” tanya Mas Ari.
“Sudah, Mas.”
“Yo, mbakso dulu mau?” tawar Mas Ari.
“Weh … iki, skuylah, Mas. Wetengku wes muni iki.”
“Hahaha. Yok budal!”