2

1067 Words
"Om Frans ngak kesini ma? " tanya Julia saat melihat mamanya lagi sibuk mempersiapkan sarapan. "Tidak sayang, untuk beberapa hari kedepan Om Frans ngak bisa datang kesini, katanya sibuk dengan pekerjaannya." Julia hanya mangut-mangut sambil meminum s**u hangatnya. Sudah 3 hari ia tidak bertemu pria itu, rasanya kangen pengen memeluknya. Perselingkuhan antara Frans dan Julia entah bagaimana awalnya bisa terjadi. Yang jelas Julia sudah terpesona akan sosok Frans saat pertama kali mereka bertemu. Pria itu tipenya Julia banget. Dewasa, tinggi, gagah dan tampan. Apa lagi ada sedikit jambang diwajah pria itu. Bagi Julia Frans terlihat sangat keren dan macho. Dan bagi Frans, Julia adalah gadis yang imut menggemaskan. Wajahnya yang baby face membuat gadis itu seperti boneka hidup. Ia sudah menganggap Julia seperti anaknya sendiri. Ia sudah bertekat untuk merebut hati gadis itu supaya bisa diterima sebagai ayah barunya. Awal-awalnya semua terlihat normal dan biasa-biasa saja. Tak ada yang aneh dengan hubungan antara Frans dan Julia layaknya sebuah keluarga. Kadang Frans mengantarkan Julia kesekolah, membantu belajarnya atau mengajaknya ke Mall untuk jalan-jalan. Frans begitu royal membelikan sesuatu yang di inginkan atau disukai Julia. Tetapi berbeda dengan Julia. Semua sikap hangat dan perhatian Frans kepadanya membuat gadis itu semakin terpesona. Ia begitu mengagumi sosok Frans lebih dari kekaguman seorang anak kepada ayahnya. Jantung Julia dari hari ke hari semakin berdegup kencang setiap kali bertemu dengan Frans. Setiap menatap wajah Frans yang penuh senyum itu membuatnya sering lupa akan status pria itu bagi mamanya ataupun dirinya. Julia selalu merasa kikuk dan grogi dihadapan Frans karena debaran hatinya yang tidak bisa dikondisikan waktu dan tempat. Dan Dera yang melihat sikap Julia yang seperti itu menganggap bahwa Julia masih terlalu asing akan kehadiran Frans diantara mereka. Julia yang sudah terperangkap akan pesona Frans, selalu tidak suka bila melihat kedekatan antara mamanya dengan Frans. Apa lagi saat melihat Frans berciuman dengan mamanya, membuat hati Julia terbakar rasa cemburu. Ia ingin diperlakukan Frans seperti lelaki itu memperlakukan mamanya. Ia ingin Frans juga menciumnya seperti itu. Julia semakin jatuh sejatuh-jatuhnya dalam pusaran rasa cinta dengan kekasih mamanya itu, jatuh cinta kepada orang yang kelak akan menjadi papa tirinya. Julia juga sadar bila perasaan itu salah, tetapi ia tidak bisa membohongi hati kecilnya bahwa ia benar-benar menginginkan pria itu. Dan Frans sama sekali tidak menyadari perasaan calon putrinya kepada dirinya. Baginya sikap Julia padanya biasa-biasa saja. Dipikirannya hanya ada Dera dan Dera. Ia sangat mencintai wanita itu hingga tak bisa menyadari cinta calon anak tirinya kepadanya. Kedekatan antara Frans dan Julia berawal dari ketidak sengajaan. Hari itu saat Frans datang kerumah Dera untuk berkunjung seperti biasanya namun dirumah hanya ada Julia. Kata Julia, mamanya sedang pergi kepasar untuk membeli bahan makanan yang sudah habis. Agar Frans tak bosan menunggu, Julia berinisiatif untuk membuatkan lelaki itu kopi dan Franspun tidak menolak. Saat menuangkan air panas kedalam cangkir, secara tidak sengaja air panas itu mengenai jari Julia. Julia memekik kesakitan dan secara refleks melepaskan teko yang berisi air panas dari genggaman tangannya. Tetapi sialnya, air panas itu malah mengenai kaki Julia sebelah kiri. Mendengar teriakan dan suara benda jatuh dari arah dapur, Franspun langsung bergegas berlari mendekati arah sumber suara. Disana ia melihat Julia meringis terduduk sambil memegangi kakinya yang terlihat melepuh. Jari-jarinya juga terlihat memerah dan kelihatannya akan melepuh juga. Dengan sigap Frans langsung megambil es batu yang ada di kulkas dan menempelkannya pada luka Julia untuk mengurangi rasa sakitnya. "Jangan banyak bergerak Julia, om akan menggendongmu ke kamarmu." Frans langsung membopong tubuh Julia dalam dekapannya. Dan seacara refleks tangan Juliapun langsung melingkar di lehar Frans. Jantung Julia berdetak kencang saat ia merasa tubuhnya berada di gendongan Frans. Jari-jari tangan pria itu yang menyentuh tubuhnya terasa mengandung aliran listrik yang membuat Julia merinding. Rasanya senang sekali bisa sedekat ini dengan pria pujaannya itu. Rasanaya sayang kalau kesempatan sebagus ini disia-siakan. Juliapun langsung membenamkan wajahnya kedada Frans sambil menghirup aroma tubuh lelaki itu yang baginya seperti candu. Secara berlahan Frans mendudukkan Julia di atas kasur dengan sangat hati-hati. "Tunggu disni. Om akan obati lukamu." Frans langsung menyambar kotak obat yang berada disamping meja belajar Julia. Dengan telaten Frans mengobati luka Julia. Ia meletakkan kaki Julia di pangkuannya sambil mengolesi cream luka bakar di kaki Julia yang melepuh. "Berikan tanganmu yang luka, biar om obati sekalian." Juliapun menjulurkan tangannya yang memerah kepada Frans. "Biarpun lukanya tidak separah luka yang ada di kakimu, tetapi harus diobati juga." kata Frans sambil terus mengoleskan obat itu. "Makasih om." "Iya Julia. Mamamu pasti khawatir bila melihatmu seperti ini. Lain kali lebih hati-hati lagi, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi." kata Frans sambil mengelus-elus rambut Julia dengan rasa sayang. "Istirahatlah. Om tinggal keluar dulu." Saat Frans akan berdiri dari duduknya, Julia menarik lengan pria itu. Ia memandang lekat wajah pria tampan yang ada didepannya itu. "Ada yang kamu butuhkan lagi sayang? " Julia mengeleng "Om, bisa menunduk dikit." pinta Julia. "Memangnya ada apa Julia, ngapain om harus nunduk? " Frans bertanya, tetapi ia menuruti permintaan Julia tanpa menunggu jawaban gadis itu. Jemari Julia memegang pipi sebelah kanan Frans dengan lembut sambil matanya terus terfokus pada bibir Frans yang tipis. "Om... " "Iya, ada apa sayang. " Tiba-tiba Cup Sebuah ciuman dan lumatan singkat mendarat dibibir Frans. Dan Frans yang secara tiba-tiba mendapat ciuman bibir dari Julia tersentak kaget. Wajahnya memerah entah karena kaget atau marah. "Julia, ini...ini apa maksudnya?" tanya Frans sambil menyentuh bibirnya yang habis dicium Julia. "Bukan apa-apa om. Hanya ucapan terima kasih sudah menolong Julia." jawab Julia sambil menunduk karena malu. "Julia ini tidak benar. Tolong jangan lakukan lagi." kata Frans sambil beranjak keluar dari kamar Julia. Rasanya sedih, orang yang diciumnya ternyata tidak menyukai ciumannya. Ia ditolak secara tidak langsung. "Tidak adakah sedikit saja harapan untukku Om Frans, aku juga menginginkanmu sama seperti mama." monolog Julia. Dan Frans yang saat ini duduk diruang tamu, hatinya mulai kacau. Apa perbuatan Julia yang berani mencium dan melumat bibirnya adalah tindakan yang tak berlebihan. Mana ada calon anak tiri dan papa tiri dibenarkan untuk saling bersentuhan bibir seperti ini. Dan anehnya Frans malah menikmati kecupan singkat dari Julia. Bibir gadis itu terasa lembut dan kenyal. Ia masih bisa merasakan bibir gadis itu walaupun sudah beberapa menit berlalu. Kejadian ini Dera tidak boleh tahu, ia takut Dera akan berfikiran yang tidak-tidak yang membuat hubungan mereka bertiga akan menjadi rengang. Tapi dari kejadian itulah sesuatu yang terlarang itu akan terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD